My Exotic Wife

My Exotic Wife
Perjanjian pra nikah


__ADS_3

Ana terlihat menunggu seseorang di kantim Rumah sakit. Sebenarnya Ana di minta untuk datang ke resto mewah milik Bhumi, tapi Ana menolak karena hari ini full jaga dan pasien akhir-akhir ini banyak.


Roby terlihat datang ditemani seorang laki-laki tinggi besar berbadan kekar dan memakai kaca mata hitam. Roby menghampiri Ana membawa amplop coklat.


"Maaf nona sudah membuat anda menunggu, saya di minta pak Bhumi untuk memyampaikan perjanjian pra nikah kepada anda."


Apa perjanjian pra nikah? apa lagi ini? Ana bertnya dalam hati.


"Sialakan di baca nona," Roby mengeluarkan kertas di dalam nya.


Ana tampak membaca dengan seksama.


Diantara beberapa poin di atas, fokus Ana tertuju pada baris yang tertulis.


Pernikahan ini hanya sebatas kontrak akan segera berakhir apabila Anak dalam kandungan pihak ke dua telah lahir. Maka Anak tersebut harus di serahkan ke pihak pertama.


Deg... Rasanya dunia ini mau runtuh Ana harus menyerahkan buah hati nya pada Bhumi dan mereka akan di pisahkan.


"Bagaiman nona sudah di baca semua?" Roby mengagetkan Ana.


"Nona saya sarankan anda tidak melakukan hal-hal yang membuat pak Bhumi marah,"


"Apa anda mengancam saya?" Ana menimpali ucapan Roby.


"Tidak nona, saya hanya memberi peringatan. Semoga nona bijak mengambil keputusan."


"Saya tidak mau nona membuat keluarga pak bhumi kecewa, apalagi sampai membuat nyonya Besar kecewa."


"Katanya gak ngancam saya tapi ini nada nya juga mangancam." Ana kembali menyindir Roby.


Wanita ini rupanya suka nyinyir juga.


"Baiklah pak Roby saya akan menuruti apapun yang sudah di tulis di kertas ini, tapi saya jg akan menambahkan beberapa point di sini."


"Tidak ada kontak fisik, tidak boleh mencampuri urusan satu sama lain, saya bisa tetap bekerja. Saya tidak mau setelah saya di ceraikan saya jadi pengangguran."


Walaupun uang yang di janjikan Bhumi sangat besar tapi Ana tidak mau hidup dari uang itu.


"Maaf nona anda boleh melakukan apapun yang anda mau asal anda tidak membahayakan Anak dalam kandungan anda."

__ADS_1


Ana hanya menganggukan kepala nya.


Hei mejikom ya kali gue ngebahayain anak sendiri, lama-lama ini orang sinting juga.


"Baiklah nona, ini kartu kredit dan debit untuk anda. Anda bisa membeli apapun yang anda mau."


Baiklah aku gak akan nolak, lumayan bisa hura hura pake uang si sultan itu. Ana menerimanya sambil tersenyum.


"Tolong ya pak Roby itu di edit dulu surat perjanjian nya dan buatin juga untuk saya satu, saya tunggu revisian nya."


Ternyata wanita ini tak semanis senyum nya. Roby melirik Ana.


"Baiklah nona, saya rasa sudaj cukup, saya akan menyampaikan apa yang anda inginkan pada pak Bhumi.


"Oke lebih cepat lebih baik." jawab Ana.


Yaya baiklah mengadu saja sana sama bos mu.


Roby meninggalkan Ana,terlihat masuk kedalam mobil. Ketika Ana akan beranjak dari tempat duduknya. Mia datang, "An, tadi itu siapa? pake bawa body guard segala."


"Oh itu orang gila, gak usah di hiraukan."


"Mia aku kan sudah pernah bilang sama kamu tapi kamu gak percaya."


"Yaudah aku percaya deh sekarang, ayo dong cerita." Mia merengek pada Ana.


"Aku akan menikah, Ana menegaskan pada Mia.


"Wah jadi kamu beneran hamil, hamil anak nya Bhumi Anggara? wahhh daebakkk!!!"


"Ssstttttttt...., kecilkan suara mu," Ana menutup mulut Mia.


Ana bangun dari tempat duduk nya dan meninggalkan Mia, Mia yang terlihat masih berpikir keras mengejar Ana.


"Ciee yang mau jadi nyonya Bhumi Anggara Wijaya."


"Sudahlah Mia ini tak seindah yang kamu pikirkan." Ana memberi penjelasan pada Mia.


Ana kembali mengerjakan pekerjaan nya, terlihat Kiara yang sedang mengobrol dengan pengikut setia nya. Yah seperti biasa dengan kesombongan nya yang tak pernah luntur.

__ADS_1


"Liat tuh si mak lampir, enak banget hidup nya datang cuma duduk gak ngerjain apa-apa, manusia gak guna cuma menuh-menuhin semesta aja." Mia mulai dongkol dan lebay nya pun kambuh.


"Sudahlah, yang waras ngalah," sambil melirik Mia.


"Mi aku pulang duluan yah, capek banget hari ini."


"Baiklah bumil, apa mau aku antar tapi aku masih ada urusan sebebtar."


"Gak usah mi makasih, aku mau naik taxi aja."


"Baiklah kalau begitu, hati-hati ya," Mia melambaikan tangan pada Ana.


Ana merbahkan badannya ke atas kasur, perjanjian itu masih menguasai pikiran nya. Ana mengelus perut nya lembut, Apa benar tindakan nya melakukan hal ini. Apa Ana serela itu menyerahkan Anak nya.


Kalaupun Ana kabur sekarang tapi sudah terlambat, Bhumi itu bukan orang sembarangan dia orang yang beperngaruh di negeri ini.


"Huhhh... kenapa jadi serumit ini?"


Ana menghela nafas panjang.


Mungkin ini memang yang terbaik buat Anak ku hidup yang layak dengan Ayahnya kelak. Ana berusaha memberi pengertian pada diri nya sendiri.


Hp Ana berdering, Ana menjawab dengan sopan.


"Halo selamat sore,"


"halo sayang, ini Oma nak besok kita akan mencoba gaun pengantin mu ya? Oma tau kamu besok libur kan? besok di jemput jam 10.00 yah, sampai ketemu besok sayang."


Ana pun rasanya belum sempat mejawab, sudah di telpon sudah di matikan.


"Apa mereka tau semua jadwal ku, besok aku libur saja mereka tau. Apa semua di pasangin cctv kali ya? huhhh berat banget berurusan dengan keluarga itu." Ana mengusap wajah nya kasar.


Aku harus istirahat sebelum menghadapi kegilaan keluarga itu. Mungkin butuh tenaga yang sangat extra. Ana mulai mencoba untuk tidur, belum juga berhasil memejamkan mata nya. Tampak sebuah pesan masuk.


"Nona besok anda akan mencoba gaun pengantin, anda harus tetap berhati-hati jangan sampai salah ngomong di depan nyonya besar, selamat malam."


"Yaampun si kutu kupret bisa-bisa mengirim pesan selarut ini, apa dia selalu memata-matai ku." Ana mulai kesal.


Ana memejamkan matanya dan mulai tak sadarkan diri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2