
Ana mengetuk pintu apartemen Mia, lumayan lama Ana menunggu di depan pintu samapai akhirnya pintu terbuka tapi Ana kaget dengan orang yang mebukakan pintu untuk nya.
"Kamu ngapain pagi-pagi disini?" Ana melototkan mata nya pada Drake yang penampilan nya masih kacau.
"Ka..kak ipar." Drake juga kaget melihat Ana tiba-tiba datang tanpa memberi kabar sebelum nya.
"Minggir," Ana menerobos masuk ke dalam menabrak tubuh Drake.
Aku curiga sama mereka berdua, dasar mesum.
Ana berteriak memanggil Mia, tapi Mia tidak menjawab nya. Ana masuk ke dalam kamar dan benar saja Mia masih berada di dalam kamar mandi. Ana terlalu tidak sabar menanyai Mia sampai Ana lupa kalau Mia bukanlah Anak SMP yang dulu selalu dia jaga, begitupun dengan Mia yang selalu menjaga Ana.
"Mi buka pintu, cepetan keluar." Ana menggedor pintu kamar mandi dengan tidak sabar. Drake hanya bisa melihat saja tanpa melalukan apa-apa.
"Ngapain lo pagi-pagi udah disini aja." Mia mengeluarkan kepala nya dari balik pintu.
"Cepetan keluar." Ana melotokan mata nya.
Setelah Mia keluar dari kamar mandi, Ana menyuruh Mia dan Drake duduk di ruang tamu, sudah seperti pak polisi yang sedang mengintrogasi tersangka.
"Kalian ngapain berdua-duan disini? abis ngapain coba, hubungan kalian sudah sejauh apa?." Ana melirik mereka berdua dengan curiga.
"Kakak ipar aku sangat mencintai Mia." Drake mencoba menjawab.
"Cinta? ya aku tau kalian sudah dewasa dan bahkan kamu mungkin sudah biasa berbuat seperti ini sebelumnya tapi tolong jangan permainkan sahabatku." Ana sedikit meninggikan suaranya. Mia hanya tertunduk.
"Aku secepatnya akan melamar Mia." Mia terbelalak mendengar kata-kata Drake. Ana pun demikian sangat terkejut mendengar keseriusan Drake.
"Apa kamu serius?" Ana kembali bertanya pada Drake.
"Tentu saja, apa kakak ipar gak percaya sama aku." Drake berusaha meyakinkan Ana. Mia hanya diam saja tau kalau sahabat nya sangat marah.
__ADS_1
"Oke, aku pegang omonganmu walapun status mu saat ini adik iparku tapi aku tidak tidak akan memaafkan mu apabila Mia sampai menangis karenamu." Ana memberi peringatan pada Drake.
Suasana sedikit mancair ketika Drake berjanji akan menjaga Mia dan mencintai nya dengan sepenuh hati membuat Ana sedikit tenang dan tidak marah-marah lagi seperti tadi. Drake berpamitan untuk pergi bekerja karena sudah sedikit terlambat gara-gara mendengar omelan Ana.
"Ngomong-ngomong kamu ngapain kesini secara tiba-tiba pake bawa koper segala."
Mia baru sempat bertanya pada Ana.
"Aku cuma lagi bosen aja di rumah, lagipula kita sudah lama tidak berduaan seperti ini." Ana sedikit berbohong pada Mia.
"Ana kamu jangan membohongiku? Aku tau kamu sedang tidak baik-baik saja." Mia memegang tangan Ana seraya memastikan sahabatnya untuk jujur.
Tanpa menjelaskan panjang lebar Ana langsung berhambur di pelukan Mia. Tangis nya pecah di bahu Mia, tapi Ana masih tetap tidak bisa mengatakan masalah nya. Mia berusaha menenangkan Ana, mengelus rambut Ana dengan lembut.
"An aku tau kamu pasti bisa melewati semua ini. Demi bayi yang ada di perutmu, kamu harus kuat."
Ana malepaskan pelukan nya, menyeka air mata yang jatuh di pipi. Terlihat lebih tenang dari sebelum nya.
"Oh tentu saja tidak, kan gue jadi ada temen gak sendirian lagi. An kita masak yuk gue laper nih." Mia berusaha membuat Ana sibuk agar tidak ingat dengan masalah nya di rumah.
Bhumi menuruni anak tangga satu demi satu, hentakan sepatu yang khas mambuat para pelayan dengan sigap menyiapakan sarapan untuk Bhumi.
"Selamat pagi Tuan." Bu Marni memberi salam pada Bhumi.
Bhumi mengangkat gelas yang berisi susu hangat. Memakan sarapan nya dengan cepat karena hari sudah agak siang.
"Silakan obat anda Tuan." Bu Marni memberikan beberapa jenis obat pada Bhumi sesui intruksi Ana.
"Ana kemana Bu, kenapa tidak dia yang memberikan obat ini pada ku."
"Maaf Tuan, dokter Ana saat ini sedang tidak ada di rumah." Bu Marni menjawab singkat karena sudah mendapat mandat dari Ana kalau Bhumi tidak perlu tau dia pergi kemana.
__ADS_1
"Oh." Hanya begitu itu saja yang Bhumi ucapkan.
Bhumi pergi ke kantor dengan tenang, tanpa harus beradu argumen dengan Ana seperti biasanya.
"Roby kamu tau keman dokter itu pergi."
Bhumi bertanya pada Roby yang duduk di kursi depan.
"Maaf pak saya tidak tau, memangnya dokter Ana kemana pak?"
Baru juga beberapa jam nona tidak ada di samping nya sudah bingung seperti ini.
"Kalau aku tau ngapain aku nanya sama kamu." Bhumi memasang wajah kesal pada Roby.
Roby yang pura-pura tidak tau keberadaan Ana hanya diam tidak menjawab lagi perkataan Bhumi.
Bhumi duduk di meja nya, memeriksa dokumen yang harus dia tanda tangani. Tapi Bhumi merasa ada sesuatu yang hilang, ruangan ini terasa sunyi yang biasanya ada suara Ana belakangan ini. Hari ini Bhumi lewati tanpa adanya gangguan, atau bantahan dari Ana.
Bu Marni mengetuk pintu kamar Bhumi untuk membawakan obat. Karena Ana sudah tidak ada di rumah jadi tugas ini di gantikan oleh bu Marni.
"Permisi Tuan, saya membawakan obat untuk anda."
"Dokter Ana belum balik juga?"
"Belum Tuan," Bu Marni meletakan obat dan meninggalkan kamar Bhumi.
Kemana pergi nya orang itu. Apa dia tersinggung dengan kata-kata ku kemarin malam.
"Ah kenapa aku terlalu memikirkan nya, bagus juga dia sudah tidak di rumah ini, setidaknya aku bebas mau kemana saja tanpa omelan nya." Bhumi berusaha meyakinkan diri nya kalau memang lebih baik tanpa kebradaan Ana.
Bersambung...
__ADS_1