My Exotic Wife

My Exotic Wife
Nyonya Tiara


__ADS_3

Ana berlari menghampiri seorang wanita tak jauh dari tempatnya berdiri yang tiba-tiba pingsan. Terlihat wajah panik beberapa orang yang bersama wanita itu.


"Saya seorang dokter, ijinkan saya melihatnya." Ana berbicara dengan 2 orang laki-laki berbadan tegap di depan nya.


Ana melihat kondisi wanita paruh baya itu kemudian memeriksa denyut nadi nya. Tidak ada yang serius, wanita itu hanya terlihat lemah, mungkin karena efek kelelahan. Wajah nya sangat pucat dan mengeluarkan keringat dingin.


"Nona, bagaimana kedaannya?" Seorang wanita bertanya pada Ana.


"Dia baik-baik saja, ibu ini hanya pingsan karena terlalu lelah." Tak lama berselang ambulance datang untuk membawanya kerumah sakit.


"Sepertinya wanita itu bukan orang sembarangan." Ana kembali masuk ke dalam butik tas mewah tadi karena tas yang akan di beli nya belum sempat dia bayar.


"Mbak mana tas yang saya taruh di sini tadi?" Ana menunjuk meja di dekat etalase sepatu.


"Maaf nona tas yang tadi sudah di beli pelanggan lain saat nona menolong ibu yang pingsan tadi." Seorang pelayan menjelaskan pada Ana.


"Nona bisa memilih model tas yang lain, kalau untuk model itu sudah tidak di produksi lagi." Ujar pelayan itu kembali.


"Gak jadi deh mbak." Ana meninggalkan butik tas mewah itu dengan wajah sangat kecewa.


"Oh tas impian ku!!! Gara-gara nolong orang tas impian ku hilang."


Ana melajukan mobil nya menuju apartemen, kejadian di butik tadi membuat mood nya sedikit tidak stabil. Mungkin berendam air panas sampai di rumah bisa membuat pikiran dan tubuh nya menjdi rilex.


***


"Nyonya apa anda sudah merasa baikan?" Rina buru-buru bertanya pada Tiara yang beru saja berusaha membuka mata nya.


"Dimana aku? kepala ku pusing sekali." Tiara memegangi kepala nya.


"Anda sedang berada di rumah sakit nyonya, tadi anda pingsan." Rina membantu Tiara untuk duduk.


"Aku haus sekali tolong ambil kan aku air." Tiara meminta Rina memgambil air untuk nya.


"Maaf nyonya tadi ada seorang gadis yang menolong anda, kalau tidak ada gadis itu mungkin kami akan sangat panik." Rina meletakan gelas yang masih berisi air setengah di atas meja.


"Siapa gadis itu?" Tiara terlihat penasaran pada Rina.

__ADS_1


"Maaf nyonya saya tidak mengetahui nya, secepatnya akan saya cari tau."


"Akhir pekan ini kosongkan jadwalku, aku akan menumui gadis itu untuk berterimakasih." Tiara melihat tajam ke arah Rina.


"Baik nyonya akan saya lakukan." Rina mengangguk menyanggupi perintah bos nya.


***


Ana tiba di apartemen dengan langkah gontai, berbulan-bulan menabung demi memiliki tas itu kandas begitu saja hari ini. Ana melangkah masuk ke dalam walk in closet nya, membuka blouse dan rok model pensil berwarna hitam. Mengganti nya dengan bathrobe berwarna putih bersih.


"Hari ini sangat melelahkan." Teriak Ana di dalam kamar.


Ana masuk ke dalam kamar mandi tempat favoritnya, dia berdiri di depan cermin besar untuk menghapus sisa-sisa makeup nya. Sesekali dia menunduk mengoleskan krim di kaki namun tiba-tiba Ana menghentikan aktifitasnya ketika dia merasa ada yang memeluknya dari belakang.


Sontak pandangan Ana mengarah ke cermin melihat pantulan bayangan nya. Laki-laki tampan berbadan atletis dengan rambut basah, hanya menggunakan handuk. Wajah yang dia kenal, Ana mencoba melepaskan namun tenaga nya kalah kuat.


"Lepaskan aku, apa yang kau lakukan di apartemen ku? Ana memekik kesal pada Bhumi.


"Ini apartemen ku juga, aku yang membelinya untuk mu." Bhumi terkekeh bisa mengerjai Ana saat ini.


"Gimana cara nya kamu bisa masuk ke dalam?" Ana sedikit berteriak.


"Lepaskan aku." Ana mencoba melepaskan tangan Bhumi yang melingkar di perutnya.


"Tidak akan." Bhumi mengeratkan pelukannya, membuat tubuh Ana terbenam dalam dadanya yang bidang.


"Memohonlah maka aku akan melepaskan mu." Bhumi tak henti mencium kepala Ana.


"Dasar gila, jangan membuat ku marah." Ana masih tidak mau kalah semakin meninggikan suaranya. Namun Bhumi sama sekali tidak bergeming.


Kalau lama-lama seperti ini aku bisa hilang akal. Batin Ana.


"Lepaskan aku." Ana merendahkan suara nya sedikit manja.


"Apa kau sekarang mengalah padaku?" Bhumi terkekeh melihat Ana yang putus asa karenanya.


"Lepaskan aku!!!" Kesabaran Ana sepertinya sudah habis, Ana menginjak kaki Bhumi karena kesal. Seketika Bhumi melepaskan pelukan nya, mengaduh kesakitan.

__ADS_1


"Makanya jangan macam-macam." Ana masuk ke dalam kamar mandi, mengunci pintu dengan rapat.


"Awas kau nanti." Bhumi tersenyum melihat tingkah Ana yang menggemaskan.


Setelah 1 jam akhirnya Ana keluar dari kamar mandi. Dia sedikit mengintip dari pintu apa Bhumi masih berada di sana atau tidak. Setelah aman Ana bergegas mengganti baju kemudian mengeringkan rambut nya. Ana melirik jam di dinding sudah jam 9 malam.


"Aku rasa dia sudah pergi, oke mari kita tidur." Ana melangkahkan kaki nya menuju tempat tidur. Tapi apa yang di lihat seseorang telah membajak tempat tidurnya.


Ana mendekati Bhumi akan membangunkan nya namun tangan nya berhenti ketika melihat wajah polos yang sedang memejamkan mata. Ana mengamati setiap jengkal lekukan wajah laki-laki yang sangat ia rindukan.


"Apa kamu sangat lelah?" Ana mengelus rambut Bhumi lembut. Niat yang awalnya ingin mengusir Bhumi menjadi rasa ingin bersama saat ini.


Ana merabahkan tubuh nya di samping Bhumi mensejajarkan dengan laki-laki di samping nya kini. Ana tersenyum sesekali dia menyentuh hidung mancung Bhumi, dengan sangat hati-hati agar Bhumi tidak terbangun dari tidurnya.


Perlahan Ana memejamkan mata nya, terasa begitu nyaman. Mereka tidur di atas ranjang yang sama sampai keesokan pagi. Sinar matahari sudah terpancar begitu indah memaksa masuk ke celah-celah tirai berwana coklat kamar Ana.


"Siapa yang telpon pagi-pagi begini." Ana meraba-raba meja di sisi nya mencari ponsel yang telah membangunkannya sepagi ini.


"Halo." Suara Ana sedikit berat.


"Selamat pagi nona Ana, saya Rina asisten nyonya Tiara." Suara dari seberang memperkenalkan diri nya.


"Maaf bu, hari ini saya tidak praktek karena hari libur, atau ibu bisa reservasi dulu untuk mencari jadwal berikutnya." Ana yang masih ngantuk mengira kalau yang menelepon adalah pasien nya.


"Maaf nona saya asisten dari nyonya yang anda tolong kemarin. Nanti malam nyonya Tiara akan mengundang anda untuk makan malam. Nyonya Tiara akan sangat senang kalau anda bisa hadir. Saya akan segera mengirimkan alamatnya." Wanita di seberang sana panjang lebar berbicara pada Ana. Ana yang masih belum sadar betul ketika ingin membalas perkataan wanita itu tiba-tiba panggilan nya sudah berakhir.


"Siapa yang menelpon mu pagi-pagi begini?" Bhumi mengagetkan lamunan Ana.


"Bukan siapa-siapa?" Ana melempar senyumnya pada Bhumi.


"Ayo tidur lagi, aku masih ingin bermalas-malasan bersama mu." Bhumi mengeratkan pelukan nya.


"Aku akan membuatkan sarapan untuk mu." Ana berusaha melepaskan dirinya dari Bhumi.


"Tidak usah, melihat mu saja aku sudah kenyang." Bhumi tersenyum sambil mencium rambut Ana. Ana hanya melirik tanpa mengucapkan apapun.


"Ayo kita tidur lagi." Bhumi meletakan kepala Ana di dadanya memudian memejamkan mata, begitu juga Ana yang merasa nyaman seperti itu. Mereka melanjutkan kembali tidur yang sempat terganggu karena suara telpon tadi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2