
Hukuman Ana telah berakhir, dia sudah bebas mau pergi kemana saja. Ana yang sudah ada janji dengan Mia pergi menuju ke sebuah mall terbesar di ibu kota, semua brand ternama ada disana dan tentunya uang Ana tidak akan terjangkau membeli barang-barang di mall itu. Semenjak Ana menikah Mia sangat sulit pergi jalan dengan Ana tidak seperti dulu yang hampir tiap hari mereka pergi berdua. Ana masuk ke dalam mall, di lobby sudah ada seorang wanita berkaca mata hitam melambikan tangan ke arah Ana.
"Anaaaaa...."
Mia berteriak memanggil nama Ana, orang-orang yang berlalu lalang di sana ikut menoleh ke arah mia. Ana hanya melambaikan tangan nya.
"Baiklah tuan putri sekarang mau diantar kemana?"
Ana dengan senang hati mengantar kemanapun yang Mia mau. Walaupun hanya mengantar.
"Kalau aku tuan putri berarti kamu itu Ratu kahyangan hahaha. Kamu tau gak mall ini milik siapa?"
Mia menggandeng tangan Ana masuk lebih dalam menyusuri mall itu.
"Yang jelas bukan milik ku haha,"
Ana tertawa menjawab pertanyaan mia yang kadang gak jelas itu.
"Asli kamu ini kudet banget An, ini mall kan milik suami mu, pak Bhumi yang kaya raya."
Mia mulai berlebihan, Mia gak tau aja gimana kepribadian si Bhumi itu, kelakuan nya tidak setampan wajah nya.
Mall ini juga milik Bhumi, sekaya apa sih orang itu, apa semua hal-hal yang berbau kemewahan adalah miliknya.
Ana terlihat sangat lelah menemani Mia. Rasanya sudah semua store tas mewah dia masuki tapi sepertinya dia belum juga puas. Ana mencari sofa hendak beristirahat sebentar, kaki nya sudah tidak bisa di ajak berdiri lagi. Ana hanya melihat Mia yang sibuk memilih tas yang diinginkan nya. Ana memainkan ponsel nya, merasa sedikit bosan dan sedikit menahan lapar.
"Mbak saya mau tas keluaran terbaru ya."
Suara itu mengingatkan Ana pada seseorang, Ana menoleh kanan dan kiri mencari sumber suara tersebut. Benar saja Ana melihat Angel yang sedang di layani oleh 3 orang pelayan sekaligus.
Kenapa dunia begitu sempit, di mall ini pun harus ketemu sama mak lampir satu ini. Aku akan membuatnya kesal hari ini haha.
"Mbak tolong ambilkan saya tas termahal di toko ini,"
Ana memanggil pelayan toko yang melayani Angel. Mata Angel sekarang tertuju pada Ana, Ana membalasnya dengan senyum sinis. Mia yang mendengar kata-kata Ana segera menghampirinya.
"An kamu gila ya, aku gak punya uang sebanyak itu pake bayarin belanjaan mu."
"Tenang aja Mi, aku ini kan istri sultan haha."
Ana tertawa lepas menunjukan kalau dia bahagia, yah biar si Angel sedikit panas. Angel menunjukan wajah ketidaksukaan nya pada Ana. Angel bangun dari tempat duduk nya mengampiri Ana dan Mia.
"Hai Ana, apa uang mu cukup untuk membayar tas di toko ini?"
Angel secara terang-terangan menyerang Ana. Mia yang mendengar itu menjadi emosi, padahal Mia tidak tau siapa wanita itu.
"Kamu tidak perlu khawatir, mall ini milik suami ku, jangankan hanya satu tas semua isi mall ini pun bisa aku beli,"
__ADS_1
Ana tidak mau kalah dengan wanita penyihir ini. Dia tidak mau harga diri nya di rendahkan oleh orang seperti Angel. Angel merasa terbakar mendengar kata-kata Ana yang begitu percaya diri mengakui Bhumi sebagi suaminya. Ana mengeluarkan kartu debit yang diberikan Roby dulu, kartu keramat yang baru pertama kali Ana gunakan. Seorang pelayan membawakan tas yang di beli Ana, dan mengembalikan atm serta membawa struk belanja Ana.
Wah tas apaan ini harga hampir 500jt sudah seperti harga rumah, besok harus di jual lagi ini tas sebelum Bhumi menyadari nya.
Ana sangat kaget melihat harga tas itu, tapi dia cukup pintar menyembunyikan hal tersebut. Bakat akting Ana lumayan juga, bisa membuat Angel sangat kesal. Ana dan Mia keluar dari tempat itu meninggalkan Angel yang masih mematung melihat punggung Ana.
"An siapa wanita itu?"
Mia penasaran.
"Jangan banyak nanya nanti kalau kamu tau bisa kaget haha."
Ana tertawa merasa menang, apalagi melihat ekspresi Angel tadi yang sangat membuat Ana bahagia.
Nanti pasti dia mengadu sama Bhumi. Silakan saja, aku tidak perduli haha.
Dikantor:
Bhumi senyum-senyum melihat ponsel nya, ternyata Roby mengirim sesuatu ke ponsel bos nya itu. Entah apa yang dipikirkan Bhumi, bukanya dia kesal pacar kesayangan nya di permalukan oleh Ana malah dia senang melihat Ana bisa membuat Angel tidak berkutik.
"Apakah ke dua wanita itu sedang bersaing demi mendapatkan perhatian ku."
Bhumi malah kepedean melihat ke 2 wanita ini saling bersaing. Dia membayangkan sambil tersenyum.
"Maaf pak, anda sudah di tunggu dewan direksi,"
Ana turun dari kamar nya untuk makan malam, Oma sudah menunggu dirinya sejak tadi. Ana mengambil posisi duduk di sebelah Oma.
"Maaf Oma jadi menunggu, Ana tadi masih di kamar mandi,"
Untung saja Bhumi tidak ikut makam malam hari ini kalau tidak bisa saja aku kena semprot karena membuatnya menunggu.
"Ya sudah kita makan dulu yuk,"
Oma tersenyum pada Ana. Ana membalas dengan anggukan, sejak tadi memang dia sangat lapar apalagi energi nya banyak terkuras saat menemani Mia jalan di mall. Tidak biasanya Oma sangat senyap saat di meja makan, biasanya ada saja yang beliau tanyakan. Ana menjadi sedikit canggung, apa ada sesuatu yang membuat Oma tidak enak hati hari ini.
Kegiatan makan malam hari ini sudah selesai, seperti biasa mereka berdua menonton tv di ruang keluarga. Ana yang masih melihat Oma sedikit murung memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Maaf Oma, apa ada sesuatu yang membuat Oma tidak suka? atau Ana sudah mambuat kesalahan pada Oma?"
Oma melihat mata Ana, kemudian memegang tangan Ana.
"Ana, kamu harus lebih sabar menghadapi Bhumi ya, kamu harus kuat bertahan menjadi istri Bhumi, kamu tidak boleh pergi dari sisi Bhumi."
Ini kenapa Oma tiba-tiba jadi seserius ini, apa Bhumi punya rahasia? apa Bhumi mengidap gangguan jiwa? ahhh pikiran apa ini!! Jangan saja sampai ada judul cucuku bukan cucuku.
Ana masih bingung dengan ucapan Oma, Ana kembali bertanya, dia tidak puas dengan jawaban yang mengandung teka teki seperti itu.
__ADS_1
"Maaf Oma Ana tidak mengerti maksud kata-kata Oma tadi,"
Ana nyengir memperlihatkan gigi nya. Oma sampai bisa tersenyum di buat nya.
"Angel." Oma sedikit menghela nafas.
"Oma tau wanita itu telah kembali, Oma tidak suka dengan wanita itu, dari dulu dia mendekati Bhumi karena harta, jadi Oma mohon jangan pernah tinggalkan Bhumi demi wanita itu,"
Oh ternyata Oma tidak suka pada Angel, kalau Oma setuju mungkin saja mereka dari dulu sudah menikah kali ya. Apa Oma tau kalau Angel pernah datang pada ku? Setidaknya aku sedikit lega, heh kenapa aku lega, aku tidak sedang mendekati Bhumi kan?
Wajah Oma terlihat sangat sedih, Ana tidak tega melihat orang yang dia sayang seperti itu. Ana memeluk Oma, Ana berjanji tidak akan meninggalkan Bhumi.
"Oma jangan sedih ya, Ana tidak akan pernah meninggalkan Bhumi demi wanita itu, Ana akan mempertahankan Bhumi,"
Ya untuk saat ini bilang saja begitu, toh kontrak nya masih lama, bohong dikit gak apa-apa kan.
"Sedang apa kalian berpelukan?"
Bhumi seperti biasa datang tanpa suara membuat Ana dan Oma melepaskan pelukan nya. Oma tersenyum menyambut kedatangan Bhumi.
"Oma Bhumi mau naik dulu ya, mau istirahat,"
"Apa kamu mau diam disitu terus,"
Ana dengan cepat melangkah mengikuti Bhumi, dia menoleh Oma dan tersenyum melambaikan tangan nya.
Bhumi duduk di sofa menyandarkan kepala nya, terlihat sangat lelah mata nya sedikit terpejam. Ana yang tidak melakukan apa-apa hanya bengong melihat Bhumi.
"Kenapa bengong? pijat sebentar bahu ku."
Ana memijat dengan sedikit keras, lumayan untuk melampiaskan kekesalan nya pada Bhumi.
"Apa kamu punya dendam pada ku, kenapa pijatan mu sekasar ini?"
Jadi ketauan deh, apa selain dia punya kemampuan teleporstasi dia juga punya kemampuan membaca pikiran? Apa aku harus berguru pada nya.
Ana diam saja tidak menjawab pertanyaan Bhumi, dia masih melanjutkan memijat dengan sedikit lebih lembut.
"Bhumi tadi siang aku membeli tas yang sangat mahal, aku memakai atm yang pak Roby kasi dulu, tapi aku akan menjual nya dan mengembalikan uang itu."
"Tidak masalah beli saja yang kamu suka."
Bhumi menjawab dengan singkat dan beranjak menuju kamar mandi.
Kenapa kamu begitu polos Ana, sekalipun kamu membeli rumah dengan uang itu aku tidak akan permasalahkannya. Kenapa kamu berbeda dengan Angel? Seandainya Angel seperti dirimu mungkin Oma pasti akan menerima nya.
"Besok-besok sekalian saja aku beli rumah, apa dia masih sesantai ini? apa uang segitu tidak berarti untuk nya?" gumam Ana.
__ADS_1
Bersambung...