
Seharian ini Ana sangat sibuk, untuk makan saja rasanya tidak ada waktu. Sudah lewat 30 menit Justin menunggu nya di luar tapi Ana belum juga terlihat. Justin berinisiatif masuk ke dalam mencari Ana. Wajah tampan Justin membuat perhatian tertuju padanya. Dia melangkah bak model catwalk, menebar pesona pada setiap orang yang dia lewati.
"Apa dokter Ana ada di ruangan nya?" Justin melepas kaca mata hitam nya, bertanya pada gadis bermata abu.
"Saat ini dokter Ana sedang berada di ruang operasi." Dengan wajah merona gadis itu tampak terpesona melihat Justin.
"Terimakasih." Justin tersenyum kemudian pergi mencari Ana. Gadis itu hampir saja pingsan melihat senyum Justin yang begitu menawan.
Ana membuka pintu ruang operasi, dia menyelesaikan semuanya sangat cepat. Ana ingat Justin akan menjemputnya sore ini.
"Apa kau sudah selesai?" Justin mengagetkan Ana.
"Kenapa kau datang kesini? Masih ada waktu 1 jam lagi." Ana menutup wajah nya yang sedikit kacau.
"Kenapa kau menutup wajah mu?"
"Aku merasa tidak nyaman, bahkan aku belum sempat mencuci muka." Ana masih menutup wajahnya dengan tangan nya.
"Kamu tetap cantik." Ujar Justin sambil tersenyum.
"Benarkah? apa kecantikan ku berasal dari dalam? atau aku memang benar-benar cantik?." Ana memutar bola mata nya.
"Aku harus mandi, rasanya sangat tidak adil bagi ku. Aku seperti itik buruk rupa berjalan di samping mu haha." Ana tertawa sambil mengoceh. Justin hanya tersenyum melihat Ana seperti itu.
Ana kembali ke ruangan nya untuk mandi dan berganti pakaian. Sementara Justin duduk di sofa sambil menunggu Ana. Justin menyusuri ruangan Ana, melihat meja kerja Ana. Beberapa foto di pajang Ana di sana, yang menarik perhatian Justin adalah foto berwarna hitam putih.
__ADS_1
"Kau sedang melihat apa?" Ana mengagetkan Justin.
"Foto mu sangat cantik." Justin menunjuk foto Ana saat wisuda dulu yang bahkan lebih mendekati kata buruk.
"Aku tau kamu pasti sedang bercanda, ayo kita berangkat." Ana mengambil tas nya berjalan lebih dulu dari Justin.
Saat yang bersamaan Bhumi datang untuk menemui Ana. Banyak yang harus mereka bicarakan, dan Bhumi ingin menjelaskan kesalah pahaman yang dulu membuat mereka berpisah.
"Ana semoga kamu bisa menerimaku kembali." Gumam Bhumi.
Bhumi melihat Ana keluar dari rumah sakit, Bhumi mempercepat langkah nya ingin menghampiri Ana. Tapi langkah nya terhenti ketika seorang laki-laki terlihat bersama Ana. Laki-laki itu membukakan pintu mobil untuk Ana, senyum Ana terlihat begitu bahagia. Mereka terlihat sangat akrab, Bhumi kemudian bersembunyi di balik mobil yang sedang terparkir agar tidak terlihat.
Bhumi hanya bisa melihat Ana berlalu di dalam mobil bersama laki-laki lain. Bhumi melangkahkan kaki nya lemas, fokusnya hilang. Dada nya serasa sesak, tangan nya gemetar tanpa sadar Bhumi meneteskan air mata. Berusaha menerima apa yang dia lihat saat ini.
Bhumi merebahkan tubuh nya di atas tempat tidur, semangat nya hilang melihat kajadian tadi. Keinginan bertemu Ana sudah pupus, tapi Bhumi merasa bahagia bisa melihat wajah Ana dan Ana baik-baik saja tanpa dirinya.
"Apa aku harus benar-benar melupakan mu? Tapi sungguh aku tidak sanggup Ana." Bhumi bergumam dalam hati.
Justin mengajak Ana makan malam di tempat yang sangat romantis. Tempat mewah yang memeprlihatkan pemandangan kota dari lantai 50. Ana tidak menyangka Justin akan memesan tempat seperti ini.
"Justin apa ini tidak terlalu berlebihan?" Ana melihat Justin di depan nya.
"Nikmati saja malam ini." Justin tersenyum memilih menu yang akan di pesan.
Mereka menghabiskan waktu makan malam bersama, Justin bisa membuat Ana tertawa. Bercerita tentang dia melewati hari ini, rasanya beban Ana sedikit berkurang. Justin menjadi pendengan yang baik untuk Ana, saat Ana tertawa Justin ikut tertawa. Saat Ana merasa sedih Justin berusaha menguatkan nya.
__ADS_1
"Ana, ada yang ingin aku katakan pada mu." Justin sedikit lebih serius.
"Kenapa wajah mu serius seperti itu?" Ana menanggapi nya dengan santai.
"Dari awal kita bertemu aku merasakan ada yang berbeda, Ana aku jatuh cinta pada mu." Justin memegang tangan Ana.
Ana hanya diam di hadapkan dengan situasi seperti ini. Jujur Ana belum siap memulai hubungan lagi. Tapi Justin selama ini sudah baik padanya. Ana mencoba berpikir jernih, dia tidak mau akhirnya Justin kecewa pada nya.
Oh jadi ini sebabnya Justin mengajak ku ke tempat ini.
"Justin, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menolak mu tapi aku butuh sedikit waktu." Ana melepaskan tangan nya sambil tersenyum.
"Apa kita tidak bisa mencoba dulu?" Justin berusaha meyakinkan Ana agar menerima nya.
"Justin, tolong mengertilah." Ana kembali menolak.
"Baiklah, aku akan memberikan mu waktu sampai kamu bisa menerima ku." Justin berusaha menerima keputusan Ana.
Ana termenung menatap lampu kamar nya. Dia masih memikirkan kata-kata Justin tadi. Ana mulai bimbang dengan perasaan nya. Tapi sesungguh nya Ana belum merasakan jantung nya berdebar saat bersama Justin. Di sisi lain Ana juga tidak ingin terus di bayang-bayangi oleh Bhumi.
"Apa aku harus mencoba memulai dengan Justin? agar aku bisa melupakan Bhumi?"
"Rasanya kepala ku mau pecah memikirkan semua ini, lebih baik aku tidur saja." Ana menarik selimutnya sampai menutupi kepala.
Bersambung...
__ADS_1