
Hp ana berdering beberapa kali, ana pun terbangun dari tidurnya dan kaget melihat panggilan yang tidak sempat di jawab, ternyata dari adit.
"Ya ampun jam berapa ini ana panik," ternyata udah jam 6 sore ana menelepon balik adit, "halo sayang maaf tadi aku katiduran,"
"ya ga papa ana, oh ya nanti kamu datang langsung ke kafe ya, aku gak bisa jemput soalnya masih ada urusan,"
"baiklah gak apa, santai saja,"
kenapa perasaan ku gak enak ya kok sperti ada sesuatu yang beda, ada apa yaa, mungkin dia mau mengerjai ku, atau mungkin dia mau melamarku haha, pikiran ana kemana mana.
Ana tiba di tempat yang di intruksikan oleh adit, seorang pelayan menghampiri nya dan bertanya,
"untuk berapa orang kak?"
"oh iiaa, untuk 2 orang tapi saya masih menunggu pacar saya,"
"silakan biar kami siapkan tempatnya,"
Ana mengikuti langkah pelayan itu dengan semangat, kemudian ana pun duduk,
pelayan itu kembali bertanya "maaf kak mau pesan apa?"
"minum aja dulu deh mbak, orange juice satu yah," pinta ana
"mohon di tunggu," pelayan itu pun berlalu.
Kemana sih nie orang janjian jam 7 belum juga sampai gak biasanya dia seperti ini, biasanya kan selalu tepat waktu, ana berfikir keras.
Orange juice pesanan ana pun datang,
"silakan kak," pelayan tadi menaruh minuman di meja ana
__ADS_1
"makasih ya," ana menimpali, ana tampak celingak celinguk melihat di sekitar belum juga nampak batang hidup si adit, ana mengambil hp nya hendak menelepon seseorang, tapi sudah terdengar sayup sayup suara laki laki memanggil nama nya.
"Ana," ana menoleh ternyata yang di tunggu tunggu akhirnya datang juga, ana terlihat senyum sumringah melihat pujaan hati nya, yang rasanya sudah 1 abad gk ketemu,
"ana maaf yah aku telat,"
"gapapa sayang, aku juga sering telat kalau janjian sama kamu".
Adit kemudian duduk, dia tampak sedikit gelisah,
"kamu apa kabar dit? sebulan ini sibuk banget ya? pasti capek bgt kan ya? akhirnya kita bisa ketemu, aku kangen banget sama kamu dit," ana penasaran.
Adit diam di berodong pertnyaan dari ana,
senyap beberpa detik,
"ana," tiba2 adit memecah kesunyian menyebut nama ana, aku mau ngomong sesuatu,
"ya udah ngomong aja sih kayak ama sapa aja," ana masih santai,
deg... ana seperti tersambar petir di siang bolong eh bukan deh , ini kan udah malem, seperti di jatuhin batu 1 truk atau kejatuhan meteor, ana gak tau harus ngomong apa, yang di kira nya dia akan di lamar malah yang datang malapetaka, muka ana pucat pasi air mata menetes tanpa di sadari, nih juga air mata ngapain sih jatuh tanpa aba aba, ana berusaha menghapus air mata nya, dan berusaha bicara.
"Kenapa?"
"kenapa sangat tiba tiba?"
"apa yang salah dengan ku? kita sudah pacaran 4 tahun, selama ini baik baik saja gak pernah ada masalah sama sekali, semua berjalan sangat baik, malahan kita termasuk pasangan paling harmonis," ana masih menangis, merasa tidak terima dengan yang adit katakan tadi.
"Ana maafkan aku, aku tidak bisa lagi melanjukan semua ini, aku terlalu sibuk, aku takut kamu merasa bosan atau bahkan merasa tidak dapat perhatian penuh dari ku, aku terlalu sibuk menjalani pendidikan ini, aku mau fokus mengejar gelar ku," (alasan nya lumrah bgt kan ya? semacam anak smp ato sma mutusin pacar bilang mau fokus belajar padahal memang mau menghindar haha).
Air mata ana sudah menganak sungai gak bisa behenti,
__ADS_1
huh ..... ana menghela nafas, "baiklan kalau itu memang mau mu, kalau memang kamu tidak bisa melanjukan ini semua, apalah daya ku toh cinta tidak bisa di perjuangkan oleh satu orang saja, aku menghormati appun keputusan mu, kamu tau yang terbaik untuk mu," suara ana terisak terdengar memilukan.
Adit hanya bisa diam dua ribu bahasa, "baiklah ku rasa sudah cukup, aku mau pulang dulu," ana ingin menyudahi pertemuan yang menyakitkan ini,
"ana jangan pulang dengan keadaan menangis sperti ini biar aku antar sampai kos mu ya?" adit merasa khawatir.
Ya elah kan kamu yang udah bikin aku nangis kayak gini bambang, pake sok nganterin pulang, marasa bersalah ya? untung aja nih kota gak banjir gara gara air mata ku, huaaaaa ana ngebatin.
"Gak usah dit, gapapa aku bisa pulang sendiri," ana berlari meninggalkan adit yang masih berdiri mematung gak tau harus melakukan apa, ana berlari terus tanpa henti meratapi kekecewaan nya, dalam hati dia terus bertanya apa salahku?
apa yang kurang dari ku?.
Sampai akhirnya dia berhenti di sebuah jembatan, bukan mau bunuh diri yes, tapi karena capek lari dari tadi, nafas ana tersengal sengal udah kayak ikut lomba lari 100m, dan mengalahkan pelari profesional, ana merain hape di tas nya, membuka aplikasi ojek online dan memesan driver untuk mengantarnya pulang.
Akhirnya ojek pun datang, tak lupa ana menyapa walapun suaranya agak parau
"selamat malam pak," blm juga di jawab oleh si abang driver, ana kembali melanjutakan kalimat nya,
"pak kalo saya menangis jangan hiraukan ya, saya cuma lg akting aja".
Abang gojek nya telihat bingung sambil manggut manggut, di perjalanan ana menangis sekencang2 nya, sambil mengumpat umpat si adit, abang gojek hanya diam, tangis ana mulai agak mereda, abang gojek memberanikan diri bertanya,
"non mau syuting film apa? kok nangis nya kenceng gitu?"
ana menjawab, "mau meranin karakter kuntilanak pak, judul nya di putusin pacar berubah jadi kuntilanak, kenapa pak? udh cocok belum sih?"
abang gojek nya diem gak nyaut sama sekali mungkin dia jadi tambah bingung ,akhirnya ana sampai di kos.
"Makasih ya pk,"
"sama sama non, ooh ya jangan kenceng kenceng akting nangis nya ya? nti penghuni lain pada takut," ana cuma ngeliatin muka abang gojek nya itu dengan muka kezel.
__ADS_1
Badan ana ambruk di atas kasur dia merasa sangat lelah setelah menangis telalu lama, masih bergejolak di dalam hati kenapa hari ini sangat tidak berpihak pada ana, semakin di pikirkan semakin ana tidak bisa memejamkan mata nya, ana begadang semalaman memikirkan laki laki yang sudah meninggalkan nya tanpa sebab.
Bersambung ...