My Exotic Wife

My Exotic Wife
Hukuman Ana


__ADS_3

Sehari sudah berlalu Ana sudah tidak tahan dengan hukuman nya. Serasa penjara tapi dengan fasilitas mewah, sebenarnya semua ada di rumah ini mulai dari salon, bioskop, gym, masih bnyak lagi, lengkap pokoknya. Tapi karena Ana bukan tipe orang rumahan, jadilah ini merupakan hal berat untuknya.


"Kapan orang-orang itu akan kembali, sudah serasa di penjara,"


Ana bergumam sangat kesal, ini kali pertama Bhumi pergi ke luar negeri sampe lebih dari sehari. Biasanya dia bolak balik pakai jet pribadinya yang sudah seperti bolak balik naik angkot yang ongkos nya cuma 5 ribuan. Ana mengabil hp nya, dia mengetik pesan untuk Roby.


Ana:


Kapan kalian balik? Aku sudah bosan berada di rumah terus!!!!!


Roby:


Silakan nona tanyakan pada pak Bhumi.


Ehh emang beneran sialan nie orang, dia kan sekertarisnya, bisa-bisa nya aku di suruh nanya langsung sama bos nya. Padahal dia tau kalau kirim pesan ke Bhumi itu adalah hal nya angker. Ana menggerutu dalam hati nya.


Rasanya sudah puluhan drakor dia tonton, mulai dari drama lawas sampai drama on going semua sudah dia tonton. Kamar yang biasanya di rapikan pelayan dia rapikan sendri, gosok kamar mandi sendiri. Semua di lap sampai tak ada debu yang berani menepel di kamarnya.


"Aaaaaaaa...... "


Ana teriak-teriak gak jelas di kamar yang kedap suara tersebut, berusaha menyingkirkan ke bosanan nya. Ana mencoba tidur di tempat tidur tapi percuma matannya tidak bisa di pejamkan, kemudain dia pindah ke sofa ternyata sama juga, dia coba tiduran di lantai ternyata tidur di lantai tidak enak, bikin badannya sakit. Ana mencoba berbagai posisi, kalau bisa mungkin posisi jungkir balik tapi percuma mata nya tidak bisa di ajak kompromi.


"Nie mata tidak bisa di ajak kerja sama, diajak tidur siang kok gak mau,"


Ana turun ke bawah mencoba mencari kegiatan lain, dia datang ke dapur ingin mambatu para pelayan tapi malah di usir oleh Bu Marni, karena Ana tidak di terima di dapur Ana pergi ke halaman belakang, beberapa tukang kebun sedang sibuk mencabut rumput liar. Ana ikut berjongkok disana dengan senyumnya yang lebar.


"Pak saya bantu ya?" Mata Ana berbinar.


"Nyonya hentikan itu," dari belakang terdengar suara horor Bu Marni.


Aduh kenapa dia muncul dimana-mana sudah sama seperti Bhumi saja.


Ana melempar rumput di tangan nya dengan kesal. Ana masuk ke dalam rumah sambil melirik-lirik Bu Marni menandakan kekesalan nya.


"Apa yang bisa aku lakukan sekarang," Ana memaksa otak nya bekerja.


Ana melihat ruang kerja Bhumi yang ada di depan nya. Selama dia tinggal di rumah ini dia tidak pernah masuk ke ruangan itu sama sekali.


"Ini kesempatan aku tau siapa Bhumi sebenarnya."


Ana melihat-lihat sekelilingnya, merasa sudah aman dia mengendap-endap masuk ke dalam. Ana masuk ke dalam ruangan itu, yang pertama Ana liat adalah perabotan kayu yang berwarna coklat, di belakang meja terdapat rak buku yang sangat besar dan tinggi. Sangat rapi dan bersih, buku yang tersusun pun sesuai warna sampul nya, kalau di lihat dari jauh seperti deretan crayon haha. Ana menyentuh perabotan satu persatu, dia mendekati meja kerja Bhumi tidak ada yang aneh, hanya ada pajangan saja. Ana iseng membuka-buka laci meja tapi hanya ada dokumen-dokumen penting.


"Apa dia hanya menyimpan dokumen?"


Ana mulai kesal dia tidak menemukan sesuatu tentang Bhumi. Ana melihat-lihat buku yang ada di rak, Ana penasaran Buku apa yang di baca Bhumi sampai segini banyak nya. Koleksi buku Ana saja kalah dengan jejeran buku di rak ini. Ana melihat-lihat buku dari sampul nya semua tentang bisnis, yang Ana tidak mengerti sama sekali. Ana menaruh buku itu kembali ke tempat nya.


Ana tidak sengaja menyentuh sesuatu di rak buku itu. Tiba-tiba rak itu sedikit terbuka, Ana terkejut melihat rak buku sebesar itu bisa terbuka seperti pintu ruang rahasia.


"Ruangan apa ini? masuk gak ya?" Ana penasaran.


Ana memberanikan diri nya masuk ke dalam, ruangan itu sangat gelap untung saja Ana berbekal hp yang bisa di pake senter. Ana mencari-cari keberadaan saklar untuk menghidupkan lampu. Lampu pun menyala sangat terang, Ana mengamati sekeliling nya, ruangan yang sangat luas,rapi dan bersih. Begitu banyak foto terpajang di sana sudah seperti galeri lukisan. Ana mengamati satu demi satu foto tersebut, Ana sangat antusias dengan sesuatu yang baru dia temukan. Ana melihat foto seorang laki-laki dan perempuan menggendong bayi.

__ADS_1


"Apa ini orang tua Bhumi, Ibu nya sangat cantik sekali,"


Ibu nya begitu cantik apalah aku yang hanya setara dengan sendal jepitnya haha.


Ana melanjutkan niatnya melihat-lihat foto itu, Bhumi kecil sangat tampan dan manis, tp memang tidak di pungkiri ekspresi wajah nya sudah terlihat dingin. Beberapa foto penghargaan yang Bhumi terima dari dia masih sekolah sampai dia menjadi seorang pebisnis sukses. Ana bergerak ke tempat lain melanjukan ke kepoan nya. Ana menyentuh medali- medali yang di pajang di sebuah rak kaca.


"Wah ternyata si Bhumi itu pintar juga ya banyak banget medali nya, tapi aku juga pintar," Ana tidak mau kalah.


Penasaran Ana tidak berhenti sampai di situ, Ana melangkah ingin membuka laci yang tersusun rapi di pojok ruangan tersebut.


"Hentikan," Ana mendengar suara Bhumi.


Jeng... jeng... jeng... Aduh aku tertangkap basah. Apa yang akan terjadi pada ku sekarang. Oh Tuhan bantu hamba, menghadapi yang mulia ini.


Ana mundur selangkah demi selangkah pura-pura tidak melihat Bhumi.


"Balikan badan mu,"


Ana membalikkan badan nya dengan muka ketakutan. Ana takut hukuman nya akan bertambah lagi.


"Maaf, aku tak sengaja masuk ke ruangan ini."


Ana hanya bisa minta maaf, siapa tau Bhumi dengan senang hati memaafkan nya walaupun itu mustahil.


"Keluar dari tempat ini."


Bhumi berteriak pada ana, sampai-sampai Ana memejamkan mata nya.


Di depan pintu Ana berpapasan dengan Bu Marni yang terburu-buru masuk keruang kerja Bhumi.


Pasti deh Bu Marni kena marah ini, apa aku iku masuk aja membela Bu Marni ya?


ini kan bukan salah Bu Marni tapi ini salah ku.


Baru saja Ana ingin masuk pintu sudah di kunci oleh Bu Marni. Ana tidak punya kesempatan masuk ke dalam. Ana mencoba menguping di luar tapi sialnya Ana tidak mendengar apapun yang mereka bicarakan.


"Apa mereka bisik-bisik ya, marah kok bisik-bisik, biasanya dia selalu meneriaki ku,"


Ana berbicara dengan diri nya sendiri.


Ana masih mencoba menempelkan kuping nya, tapi sialnya pintu itu terbuka dan Bhumi sekarang sudah ada di depan Ana.


"Sedang apa kamu disini?"


"Tiii-iidaakkk... tidakk apa-apa," Ana berlari ke kamar nya.


Sebelum aku di jadikan ayam geprek mending aku menyelamatkan diri.


Ana duduk manis di sofa, dia tau Bhumi akan segera ke kamar, entah akan meneriaki Ana lagi atau akan mendiamkan Ana. Benar saja, pintu terbuka Bhumi masuk dan membanting pintu dengan keras. Ana memasang muka paling manis walaupun dia sebenarnya sudah sangat manis.


"Siapa yang menginjinkan mu masuk ke ruangan itu?"

__ADS_1


Beraninya kau masuk ke tempat itu tanpa persetujuan ku.


"Maaf,"


Ana masih memasang senyum di wajah nya, dia tidak mau melawan Bhumi seperti tempo hari.


"Apa tujuan mu masuk kesana?"


"Maaf,"


Ana kembali menjawab dengan kata maaf tidak memberi alasan apapun.


Yakali aku ke sana mau maling, lama-lama ini orang sakit jiwa ya. Tapi memang seperti nya sedikit ada gangguan jiwa.


Bhumi merasa kesal Ana tidak melawan sama sekali, biasanya dia selalu melawan. Bhumi jadi merasa ada sesuatu yang kurang dalam perdebatan mereka.


Kenapa dia hanya menjawab dengan kata maaf, apa dia sudah berubah menjadi wanita yang penurut?


Bhumi mendekati Ana, Ana perlahan mengeser posisi duduk nya, Sampai Ana terjebak di sudut sofa.


Hehh gimana ini aku mau geser kemana lagi, kenapa dia mendekat terus ke arah ku.


Bhumi mengunci Ana di sudut sofa, Ana tidak bisa berkutik sama sekali.


Mau kabur kemana kau sekarang haha.


Bhumi merasa puas bisa membuat Ana kebingungan.


Bhumi mendekatkan wajah nya, sekarang jarak mata mereka hanya beberapa inci saja. Ana yang merasa terpojok hanya bisa diam dan menikmati wajah tampan Bhumi.


"Apa kamu senang melihat wajah ku sedekat ini?"


Bhumi berbisik pada Ana.


Ana hanya diam masih tidak sadar dengan ucapan Bhumi.


Kenapa dia begitu tampan, hasrat ku ingin ke korea jadi pupus. Nafasnya sangat sexy, kenapa jantung ini seperti lari maraton.


Bhumi mencoba mendekatkan bibir nya ke bibir Ana, reflek Ana mendorong tubuh Bhumi sampai terhempas.


"Ma..aaf, ma..af aku tidak sengaja,"


Ana yang terlihat gugup, dia kemudian pergi meninggalkan Bhumi.


Seharusnya aku tidak menolak yah, jarang-jarang di cium cowok ganteng. Hahhh jiwa nakal ku meronta.


Bhumi hanya tersenyum melihat tingkah laku Ana.


Hampir saja aku mendapatkan mu, wajah nya begitu sexy, di tambah dengan senyum manis nya membuat ku lupa akan kontrak itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2