
Ana bangun dari tidurnya dia melirik jam yang berada di dinding, masih sangat pagi. Dia mencoba mencubit lengan nya sendiri, terasa sakit.
Syukurlah aku tidak sedang bermimpi.
Dia kembali memandangi wajah Bhumi yang begitu damai, seperti malikat. Pengen rasanya Ana mencium bibir merah muda itu. Ana melingkarkan tangan nya di pinggang Bhumi. Dan Bhumi pun membalas dengan memeluk Ana.
"Kenapa membangunkan ku pagi-pagi sekali?" Bhumi memeluk Ana makin erat.
Sial ternyata dia sudah bangun, apa aku pura-pura tidur saja.
"Kamu gak usah pura-pura tidur gitu,"
Bhumi melihat Ana yang memejamkan mata nya seketika.
"Aku ketauan ya?" Ana nyengir memperlihatkan gigi nya.
Ana mancoba bangun dari pelukan Bhumi menyudahi kecanggungan nya.
"Kamu mau kemana? ini masih pagi sayang," Bhumi berusaha menahan Ana.
Apa sayang? wow apa kemarin aku pakai susuk ya makanya seketika dia berubah? tapi seingatku aku tidak pernah ke dukun.
Ana terpaksa diam mengikuti kemauan Bhumi, dia tidak berkutik di pelukan Bhumi yang terasa sangat hangat.
"Kenapa pagi ini terasa sangat panas," Bhumi menghembuskan nafas nya dalam, melihat Ana yang sudah tidur kembali.
Oma sudah menunggu di meja makan untuk sarapan, Ana yang turun terlebih dahulu memberi salam pada Oma.
"Bhumi mana sayang?"
"Sebentar lagi turun Oma, tadi masih menelepon."
Mereka berdua masih menunggu yang mulia turun karena tidak ada yang boleh sarapan duluan kecuali Bhumi memang tidak ada di rumah.
Akhirnya Bhumi turun juga, tidak ada yang berubah, Bhumi terlihat masih cuek dengan Ana. Tidak seperti keakraban mereka tadi malam.
"Ana besok Oma akan berangkat liburan sama temen-temen Oma, apa kamu mau ikut? biar kamu gak bosen di rumah terus." Oma mengajak Ana pergi liburan.
"Tidak bisa." Belum juga Ana sempat ngomong Bhumi sudah menjawab duluan.
"Maaf Oma, lain kali pasti Ana ikut." Ana tersenyum pada Oma.
"Baiklah sayang, suami mu sepertinya tidak bisa jauh dari mu." Oma melirik Bhumi yang sedang sibuk menyantap sarapan nya.
Ana hanya tersenyum mendengar kata-kata Oma.
Ana yang tiba di IGD memgucapkan salam pada teman-teman nya. Mia yang juga ada di sana penasaran kenapa wajah Ana cerah sekali tidak seperti biasanya.
"An kok wajah mu cerah sekali pagi ini?"
Mia mendekati Ana.
"Oh aku abis pake Pon haha,"
Ana menimpali dengan candaan.
"Bukan itu maksud gue kelesss." Mia terlihat kesal.
Ponsel Ana terus bergetar di dalam saku jas nya yang ada di loker. Ana yang masih berada di ruang operasi mendampingi Adit tidak tau kalau Bhumi dari tadi menelepon nya.
Perut ku rasanya tidak bisa di ajak kompromi lagi.
Dan setelah 3 jam berlalu akhirnya selesai juga, Ana mengambil barang2 nya di loker, dan mengganti baju nya kembali.
Di depan ruang operasi Adit mendekati Ana.
"Makasih ya bantuan nya."
"Sama-sama dok, itu sudah tugas saya." Ana memberi jarak antara dia dan adit.
"Ayo kita sama-sama kembali ke IGD," Adit mengajak Ana berjalan bersama, Ana tidak bisa memberi alasan, terpaksa dia mengikuti perkataan Adit.
__ADS_1
Ana dan Adit melewati lobby dan dia melihat sesosok laki-laki yang dia kenal tapi Ana merasa tidak mungkin.
Bhumi yang sedang duduk di lobby menunggu Ana mencoba menelepon nya kembali.
"Kamu dimana?" Bhumi bertanya pada Ana.
"Maaf tadi aku sedikit sibuk jadi mengabaikan pesan mu." Ana menjawab dengan halus.
"Aku di lobby, ayo kita makan siang."
Apa di lobby? wah wah si bhumi ternyata bucin nya parah tapi aku suka haha.
Ana menutup telepon nya dan sedikit berlari mendekati Bhumi, Adit yang melihat Ana jadi bingung kenapa Ana tiba-tiba berlari ke arah laki-laki yang duduk di sofa. Adit pun mengikuti nya, Bhumi yang sudah menunggu Ana memberikan pelukan pada Ana, Ana yang tidak menyangka akan di peluk ekspresi nya menjadi kaku dan Adit hanya diam saja melihat adegan itu.
"Sayang kamu lama sekali, sudah 1 jam aku menunggu mu disini." Ucapan Bhumi sudah seperti pasangan yang tidak bertemu 1 tahun.
Apa benar dia sudah satu jam disini biasanya nunggu 1 menit saja sudah marah-marah.
"Maaf, tadi aku gak pegang hp jdi gak tau kamu datang." Ana masih berada dalam pelukan Bhumi. Lumayan sedikit membuat Adit panas.
Ana melepasakan pelukan nya dengan Bhumi.
"Oh ia hampir lupa, kenalin ini dokter Adit, dan dok kenalin ini suami saya."
Wajah Adit seketika berubah kebas, dia mengulurkan tangan nya pada Bhumi.
Mereka berdua berjabat tangan dan berkenalan. Dari penampilan saja Adit sudah kalah jauh dari Bhumi, Adit tidak menyangka Ana bisa mendapatkan laki- laki yang jauh lebih baik dari nya. Adit pun berpamitan pada Ana dan melanjutkan perjalanan nya menuju IGD.
"Kamu sedang reuni sama mantan mu?" Bhumi sedikit kesal melihat Ana jalan bareng Adit.
Dari mana dia tau adit itu mantan ku. Oh ya hampir lupa dia maha tahu segalanya. Macam Tuhan saja ckckck.
"Hhhmmm tidak juga dia saja yang masih mendekati ku, mungkin aku terlalu cantik untuk nya haha." Ana tertawa
"Oh begitu rupanya, mungkin besok dia tidak akan bekerja di rumah sakit ini," Bhumi sedikit mengancam Ana sambil tersenyum simpul.
"Jangann."
"Ohh jadi kamu masih ingin berdua sama dia?"
"Sayang ayo kita makan nak, kamu pasti laper ya, mami juga laper sayang." Ana mengalihkan pembicaraan, sambil mengelus perut yang belum terlihat buncit. Dan berjalan keluar meninggalkan Bhumi.
"Awas kamu ya," Bhumi mempercepat langkah nya mengejar Ana.
Adit melangkah mendekati Mia yang tengah memainkan ponsel nya.
"Hai Mia?" Adit mencoba memulai pembicaraan nya.
"Oh ia dok, ada yang bisa saya bantu?" Mia memjawab dengan sopan walaupun dia memang tidak begitu suka dengan Adit.
"Ngomong-ngomong apa benar Ana sudah nikah?"
Adit mencoba mencari informasi dari Mia.
Mia sedikit mengernyitkan alis nya, dia tau maksud adit menanyakan ini.
"Oh tentang itu, iia Ana memang sudah menikah, suami nya pemegang saham terbesar di rumah sakit ini, sudah ganteng, kaya, baik, Ana sangat beruntung menikah dengan pak Bhumi." Mia sedikit melebih-lebihkan omongan nya.
"Oh gitu ya, syukur lah kalau Ana bahagia dengan pernikahan nya."
Wajah Adit sedikit kecewa.
"Ya harus bahagia dong dok, selama ini kan dia tidak pernah bahagia dengan pasangan nya." Mia kembali menyindir.
"Oh ya ngomong-ngomong dokter kapan mau nikah nya nih, masak kalah sama Ana." Mia melanjutkan kejahilan nya.
Adit hanya melempar senyum masam nya ke Mia dan berlalu meninggalkan mia tanpa menjawab apapun.
"Rasain lo sapa suruh sok kecakepan jadi orang." Mia mengumpat kesal.
Ana dan Bhumi sedang menunggu sopir di lobby restoran, Bhumi yang akhir-akhir ini terlihat begitu romantis terus memegang tangan Ana erat. Entah dari mana sahabat kesayangan Bhumi tiba-tiba muncul. Bhumi sedikit kesal bukanya senang bertemu dengan Juna. Berbeda dengan Ana yang kegirangan melihat Juna yang sudah lama tidak dia lihat.
__ADS_1
"Hai Ana, apa kabar? akhir-akhir ini kamu jarang balas chat ku."
"Sorry aku sibuk banget akhir-akhir ini, kamu sendirian aja? yah kita malah sudah mau pulang." Ana sedikit menyesal.
"Sepertinya orang di sebelahmu sekarang sudah jatuh cinta pada mu An? Wah aku kalah lagi dong ini, oh ya kamu masih hutang janji sama aku nonton bareng, awas aja gak di tepati." Juna sedikit tertawa.
"Haha iia jg ya, tunggu ya kalau aku sudah gak sibuk nanti kita nonton." Ana mengiyakan ajakan Juna.
"Siapa yang bilang kamu bisa pergi dengan dia," Bhumi merangkul bahu Ana seakan mengisyaratkan pada Juna kalu Ana adalah milik nya.
Juna hanya tertawa melihat tingkah laku Bhumi yang sangat kekanak-kanakan.
"Jagain Ana baik-baik, kalau lo buat dia sedih lagi gue akan rebut dia bagaimanapun cara nya." Juna sambil tertawa agar terlihat seperti bercanda.
Ana hanya tertawa mendengar candaan Juna.
"Ayo kita pulang,"
Bhumi mengajak Ana pergi dari tempat itu.
"Juna aku pulang dulu ya, nanti aku kabari kalau udah gak sibuk, bye...,"
Juna melambaikan tangan memabalas lambain tangan Ana.
Di mobil Bhumi masih memikirkan kata-kata Juna, dia tau sahabat nya itu tidak sedang bercanda.
Apa Juna sangat menyukai Ana? tapi wajar saja Ana adalah tipe wanita yang berbeda.
Tipe wanita Juna dan Bhumi hampir mirip walaupun Juna lebih menyukai wanita yang manis dari pada yang cantik, dari dulu setiap mereka bersaing pasti yang menang adalah Bhumi, wajar saja pesona Bhumi yang dingin membuat para wanita mengejar nya. Berbeda dengan Juna yang begitu ceria dan sangat perhatian pada orang-orang di sekitarnya.
Ana sibuk mengetik sesuatu di ponsel nya. Bhumi sedikit melirik ponsel Ana, Bhumi curiga Ana sedang chat dengan Juna.
"Kamu chat sama siapa? Bhumi mengambil ponsel Ana.
"Bhumi bawa sini, aku sedang menulis pesan untuk Mia."
"Untuk Mia apa Juna?" Bhumi melihat pesan yang sedang di tulis Ana, dan benar saja untuk Mia.
"Apa kamu cemburu? Ana meledek Bhumi.
"Ngapain cemburu," Bhumi mencoba mengelak.
"Ya sudah kalau gak cemburu, besok aku mau nonton film sama Juna. Akhirnya bisa keluar sama Juna." Ana berusaha menggoda Bhumi agar Bhumi tambah cemburu.
Bhumi masih diam saja sambil melihat-lihat isi ponsel Ana.
"Tuan Freezer, nama siapa ini aneh banget." Bhumi tidak menyadari kalau yang tercamtum disana nomor hp nya.
Ana seketika merebut nya kembali.
"Bukan siapa-siapa," Ana tertawa garing mencoba mengalihkan fokus Bhumi.
Ana merebahkan kepala nya di bahu Bhumi, mencoba melepaskan lelah nya selama ini.
Akankah seperti ini selamanya? atau sampai anak di dalam perut ku ini lahir.
Ana mengelus perut nya dengan lembut di ikuti oleh Bhumi yang meletakan tangan nya di perut Ana.
"Sehat terus ya nak di perut mami," untuk pertama kali nya Bhumi berbicara pada calon bayi nya. Ana tersenyum melihat Bhumi sudah mulai perhatian.
"Kalau pun ini hanya sementara aku sudah cukup bahagia." Ana memelankan suaranya.
"Kamu ngomong apa?"
"Buka apa-apa hehe." Ana mendongakan kepalanya agar bisa melihat Bhumi.
Disusul dengan ciuman hangat dari Bhumi di kening Ana.
Tuhan sekarang aku berdoa bolehkah aku serakah? dan meminta kalau ini selamanya bukan hanya sementara, aku terlalu mencitai ayah dari bayi ku.
Bersambung...
__ADS_1