
"Roby kosongkan jadwal ku selama seminggu ini, atau kamu handle dulu sementara." Bhumi beranjak dari tempat duduk kemudian memakai jas nya.
"Kenapa pak? Minggu ini anda ada banyak pertemuan penting." Roby heran melihat ke arah bos nya.
"Aku akan pergi ke Amerika bersama Ana, tidak tau berapa lama jadi sementara kosongkan saja selama seminggu." Bhumi melirik ke arah Roby.
"Oh ya siapkan pesawat di bandara sekarang juga."
"Baik pak." Roby kemudian menghubungi beberapa orang sesuai perintah bos nya.
"Oke ayo kita berangkat." Bhumi meninggalkan kantor nya bersama Roby dengan tergesa-gesa. Tidak ada persiapan apapun, dia begitu khawatir dengan keadaan Ana.
"Nona anda sudah di tunggu di dalam pesawat." Roby menjemput Ana yang baru sampai.
"Terimakasih Roby, maaf aku merepotkan mu." Ana tersenyum pada Roby.
"Semoga selamat sampai tujuan pak, saya akan kembali ke kantor." Roby berpesan pada bos nya dan meninggalkan bandara sesuai instruksi Bhumi.
20 jam di atas pesawat akan sangat memakan waktu yang lama. Ana terlihat gelisah, pikiran nya sudah tidak fokus. Bhumi merebahkan kepala Ana di bahu nya, memegang erat tangan Ana.
"Ibu akan baik-baik saja." Bhumi mengelus kepala Ana sangat lembut.
"Terimakasih." Hanya kata itu yang bisa Ana ucapkan saat ini.
Setelah perjalanan yang panjang akhirnya Ana sampai di Los Angeles. Ana bersama Bhumi segera ke rumah sakit tempat ibu nya di rawat. Ana sedikit panik terakhir kakak nya bilang kalau ibu nya harus di rawat di icu.
__ADS_1
"Kak dimana ibu?" Dengan nafas masih terputus-putus menghampiri kakak nya di depan ruangan tempat ibunya di rawat.
"Kamu bisa sampai kesini secepat ini?" Adilla terkejut melihat kedatangan Ana.
"Nanti Ana jelaskan, Ana mau ketemu ibu." Ana kemudian di ijinkan masuk ke dalam oleh dokter.
"Kamu siapa?" Dilla melihat ke arah Bhumi . Memang Ana tidak pernah mengajak keluarga nya bertemu secara resmi dengan Bhumi. Mereka hanya tau Ana menikah tapi tidak pernah bertemu dengan suami Ana.
"Saya Bhumi kak, suami Ana." Bhumi mengulurkan tangan nya ke arah Dilla.
"Kamu kah laki-laki yang tidak pernah ada waktu untuk adik ku? terakhir kali aku bertemu dengan nya saat dia menempuh pendidikan spesialis, dia berjuang sendiri, saat aku tanya tentang suaminya. Dia hanya mengatakan kamu sedang sibuk, aku tau adik ku sedang berbohong. Tapi aku tidak mau tau apa yang terjadi antara kalian." Dilla memang selalu over protektif pada adik perempuan satu-satunya.
"Maaf kak." Bhumi menelan ludah nya beberapa kali. Baru saja bertemu dengan keluarga Ana sudah menimbulkan kesan yang tidak baik.
"Hai sayang." Dilla mendekat kemudian memeluk suami nya.
"Siapa laki-laki ini?" Antony bertanya pada Dilla sambil mengalihkan pandangan nya ke arah Bhumi.
"Dia suami nya Ana." Dilla menjawab singkat terlihat masih kesal.
"Selamat datang, maaf saat acara pernikahan mu kami tidak bisa datang." Antony langsung memeluk Bhumi tanpa ragu.
"Senang bertemu dengan mu." Bhumi tersenyum setelah berpelukan dengan kakak iparnya. Mereka berbincang, Bhumi yang biasanya tidak bisa cepat akrab dengan orang lain tapi berbeda dengan Antony.
Setelah sangat lama Ana berada di dalam menemani ibu nya akhirnya Ana keluar. Air mata nya tak berhenti, kemudian dia memeluk kakaknnya dengan deraian air mata. Suasana hening seketika hanya terdengar isakan tangin dari bibir mungil Ana.
__ADS_1
"Kak, ibu sudah pergi." Ana mendekati kakak nya yang terlihat bingung. Tanpa menjawab kata-kata dari Ana, Dilla mendorong tubuh adik nya kemudian berlari ke dalam. Sampai di dalam terdengar teriakan dari Dilla memanggil ibu nya berkali-kali.
Kepribadian Ana dan kakak nya memang jauh berbeda, kakaknya cenderung agresif, tidak seperti Ana yang selalu
kalem. Dari kecil mereka memang selalu saling melindungi, setiap Ana di ganggu oleh orang lain kakak nya selalu melindungi Ana.
Ana menangis di pelukan Bhumi, air mata nya tidak berhenti. Seandainya dia tidak datang, Ana tidak akan bisa melihat ibu nya untuk terakhir kali. Bhumi memeluk Ana erat menjadi sandaran saat Ana mengalami masa sulit seperti sekarang.
"Kenapa ibu pergi meninggalkan ku begitu cepat. Seandinya aku gak datang hari ini pasti ini akan menjadi penyesalan selama hidupku." Ana menangis di pelukan Bhumi.
"Kamu yang sabar ya, aku tau ini pasti sangat berat. Tapi jangan khawatir aku akan selalu ada di samping mu untuk selamanya." Bhumi memegang bahu Ana.
Dilla keluar dari ruangan itu, pandangan nya kosong. Masih belum percaya kalau ibu nya sudah tidak ada lagi. Ana segera menghampiri kakaknya, mereka kemudian berpelukan menangis bersama.
Ana ingat masa-masa ibu nya dulu bekerja tidak mengenal lelah demi menyekolahkan ke 2 anak perempuan nya. Ibu Ana mengalami masa sulit sepeninggal ayahnya. Dilla yang memang pintar setelah selesai kuliah di terima bekerja di perushaan luar negeri, dan membantu membiayai pendidikan Ana sampai menyelesaikan S1 nya. Akhirnya saat Dilla menikah ibu Ana memutuskan ikut dengan Dilla tinggal di Amerika.
"Kak maafkan Ana selalu nyusahin, dari kecil sampai sekarang pun Ana tidak sempat berbakti pada Ibu." Ana tertunduk sambil menangis di depan kakak nya.
"Ibu dan ayah sudah tenang di sana bersama Tuhan. Tapi sangat berat rasanya mengiklaskan semua nya. Apa kakak terlalu egois?" Tubuh Dilla merosot sampai terduduk di lantai.
Kadua laki-laki itu hanya terdiam tidak bisa melakukan apa-apa. Memberikan ruang antara kakak beradik mencurahkan kesedihan mereka berdua. Hanya mereka yang tau perasaan satu sama lain. Bhumi yang sama sekali tidak pernah bertemu dengan ibu Ana merasa sangat menyesal.
Saya berjanji akan selalu menjaga Ana, maafkan saya tidak pernah menemui ibu sebagi menantu. Dan saya baru bisa datang saat ibu sudah pergi meningalkan kami.
Bersambung....
__ADS_1