My Exotic Wife

My Exotic Wife
Sedikit Lebih Baik


__ADS_3

Bhumi pagi-pagi buta sudah berangkat di jemput Roby menuju airport. Hari ini Bhumi ada meeting di luar negeri.


"Rob hari ini ada meeting dengan siapa saja?"


"Ini pak schedule anda, hari ini anda juga ada pertemuan dengan bapak perdana menteri."


"Oke, berarti nanti malam kita bisa balik kan?"


"Maaf pak besok pagi anda juga ada meeting," Roby mengingatkan bos nya.


"Oke baiklah."


Akhirnya hari ini tidak tidur di sofa. Bhumi sedikit tersenyum.


Ana yang terbangun dari tidur nya tidak menemukan siapa-siapa. Ana berpikir kalau Bhumi sudah berangkat ke kantor.


Ana turun untuk sarapan.


"Bu Marni, Oma kapan balik sih?"


"Mungkin minggu depan nyonya,"


"Bu sini deh, deketannnn lagi dikit," sekarang telinga bu Marni sudah berada dekat dengan bibir Ana.


"Bu saya pengen makan Mi instan cabe 10," Ana berbisik pada bu Marni.


"Maaf nyonya anda tidak bisa makan mie instan, tidak baik bagi kesehatan apalagi anda sedang hamil."


"Bu saya kan makan 1 aja, bukan 1 dus! Dulu juga makan mie setiap hari gapapa, masih hidup sampe sekarang kan?" Ana mencoba meyakinkan.


Bu Marni diam saja.


"Ayolahh, Bu saya lagi ngidam nih sedikit aja," Ana merengek.


Akhirnya Bu Marni memerintahkan seorang pelayan membuatkan Ana mie instan.


"Silakan nyonya."


"Makasih ya bu, bu Marni baik banget deh," Ana kegirangan.


Bu Marni hanya diam tanpa ekspresi.


Ana sudah rapi dengan pakaian casualnya. Ana mencari keberadaan bu Marni.


"Bu Marni saya mau keluar dulu ya, tapi gak usah pake sopir, saya di jemput teman."


"Maaf nyonya teman anda laki-laki apa perempuan."


Yampun Tuhan, ini kenapa aku di curigai seperti ini.


"Perempuan kok bu."

__ADS_1


"Maaf nyonya, ada teman anda menunggu di pintu gerbang," satpam yang bertugas di depan mencari Ana.


"Oke , makasi ya pak."


"Bye bu Marni."


Mau ijin keluar aja susah banget, pake di introgasi segala hufttt...


Mia sudah menunggu sedari tadi, tapi Ana belum muncul juga. Mia mencoba menelepon Ana, tapi akhirnya dia muncul dari balik pintu yang sangat besar.


"Sorry ya Mi, lama banget nunggu nya."


"Sudah 30 menit nih, kamu ngapain sih di dalem?"


"Tadi masih di introgasi sama kepala pelayan di rumah,"


"Whattt? ada kepala pelayan nya? memangnya berapa orang pelayan di rumah itu?" Mia tampak heran.


"Entahlah, yang aku tau di rumah saja ada 11 pelayan perempuan."


"Fix lu sudah jadi sultan." Mia mengangguk-anggukan kepala nya.


"Sultan dari hongkong." Ana melirik sinis.


Ana dan Mia menyusuri mall satu demi satu toko mereka datangi, tapi yang belanja hanya Mia.


"An lu gak belanja?"


"Yaelahhh, kamu itu kan istri sultan Ana," Mia merasa tidak puas.


"Gak usah berpikiran yang gak-gak deh Mi,"


"Hahaha, Mia tertawa."


Hari ini cukup membuat suasana hati Ana sedikit lebih baik. Karena dia bisa tertawa lepas tanpa ada tekanan. Sejenak Ana lupa akan segala masalah yang ada di rumah besar itu. Seharian mereka puas jalan-jalan di luar. Mia pun mengantar Ana pulang ke rumah nya.


Roby melaporkan pada Bhumi kegiatan Ana hari ini. Tentu nya jalan-jalan Ana dengan Mia.


"Pak hari ini nona Ana keluar dengan teman nya."


"Teman nya siapa?" baru juga sehari aq tidak ada dia sudah seenak nya pergi." Bhumi merasa tidak suka.


"Nona pergi bersama nona Mia, mereka berdua pergi ke mall." Roby melanjutkan penjelasan nya.


"Apa dia ada memakai kartu kredit?" Bhumi sepertinya ada maksud lain menanyakan ini.


"Tidak pak, nona sama sekali tidak ada berbelanja apapun, makan pun dia di bayarin teman nya."


"Dasar malu-maluin." Bhumi terlihat tidak suka.


Apa si freezer sudah pulang ya? Pasti deh nanti aku di bantak-bentak. Siapkan mental Ana. Ana yang ngebatin sambil membuka pintu kamar.

__ADS_1


"Apa dia belum pulang ya?" Ana melihat sekeliling nya tapi tak ada batang hidung Bhumi.


Wakti sudah menunjukan di angka 11, tapi Bhumi belum juga datang.


Ana merasa penasaran, dia mengambil hp nya dan menghubungi Roby via wa.


Pak Roby apa Pak Bhumi malam ini tidak pulang?


Roby yang membaca pesan Ana sedikit tertawa.


"Kamu kenapa Rob? tertawa sendiri kayak orang gila saja." Bhumi yang memperhatikan tawa Roby tadi.


"Tidak apa-apa pak, nona mengirimi saya pesan via wa menanyakan anda."


Bhumi salah tingkah di buatnya.


Pak Bhumi mungkin besok sore baru pulang nona.


Balasan pesan Roby membuat Ana kegirangan.


"Yess dia tidak ada di rumah, aku bebas mau ngapain aja, mau jungkir balik juga bebas haha."


Keesokan hari nya sekitar jam 9 malam Bhumi datang dengan muka yang pucat dan kemerahan bersma Roby.


"Apa bapak baik-baik saja? sepertinya bapak kurang sehat,"


"Aku baik-baik saja, kamu boleh pergi Rob." Roby pamit pulang dia tidak berani membantah bos nya.


Bhumi yang terhuyun berjalan menuju kamar nya. Dan bruggg... Bhumi menabrak meja di samping tempat tidur nya membuat Ana kaget. Ana buru-buru keluar dari ruang ganti, melihat Bhumi yang duduk di lantai sebelah tempat tidur.


"Pak Bhumi apa anda baik-baik saja?" sambil memyentuh dahi nya.


"Uhhh... Panas sekali," Ana membantu Bhumi berbaring di tempat tidur, dia membantu menggati baju Bhumi. Dengan cepat Ana sudah mengambil air hangat dan sapu tangan. Ana mengompres dahi Bhumi supaya panas nya cepat turun. Setiap satu jam Ana kembali mengencek suhu tubuh Bhumi memastikan kalau panas nya bisa cepat turun. Tapi tidak ada penuruan sama sekali.


Tiba-tiba Bhumi mengigau dia beberapa kali memanggil nama seseorang, tapi karena Ana sedang merapikan koper Bhumi yang tadi dibawa nya pulang dia tidak begitu jelas mendengar nya.


"Iiiisshhh ngomong apa sih dia, ternyata bisa sakit juga selama ini aku kira badan nya terbuat dari besi." Ana ngedumel sambil tangan nya tetap bekerja.


Ana menyentuh dahi Bhumi tapi panas nya belum turun juga.


"Kok susah gini yah, seharusnya kalau dia mau minum obat pasti juga panas nya cepat turun, atau aku seret aja ke UGD haha." Ana masih bisa tertawa kecil.


Ana begadang selamalaman menunggui Bhumi. Rasanya mata nya sudah tidak tahan untuk terpejam. Akhirnya Ana tertidur saking ngantuk nya dengan posisi yang masih duduk.


Matahari mulai masuk melalui celah-celah korden yang masih tertutup. Bhumi merasa sedikit pusing, dia meraba dahi yang masih tertempel dengan sapu tangan yang sudah kering. Bhumi melihat Ana yang masih tertidur dengan posisi yang mungkin sangat tidak nyaman.


Bhumi berusaha memindahkan Ana ke tempat tidur, saking ngantuk nya Ana tidak merasa kalau badan nya di angkat.


Bhumi memandang lekat wajah Ana, entah apa yang ada di pikiran nya atau terbawa suasana, Bhumi mendaratkan ciuman di kening Ana. Bhumi tersenyum setelah melakukan hal itu.


"Makasih ya wanita eksotis," bisik Bhumi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2