My Exotic Wife

My Exotic Wife
Gagal Lagi


__ADS_3

"Apa hari ini berjalan lancar?" Ana membereskan peralatan makan yang telah mereka gunakan.


"Karena kamu datang ke kantor, jadi hari ini berjalan lancar." Bhumi tersenyum sambil memegang tangan Ana.


"Piring kotor sudah menunggu mu." Ana melirik tumpukan piring di washtafel.


"Apapun yang kau inginkan." Bhumi bergegas bangun mengikuti perintah Ana.


Ana hanya tersenyum melihat Bhumi yang sangat jauh berubah, yang dulu nya sangat dingin, tidak pernah perduli dengan skitar namun perlahan Bhumi bisa menyesuaikan diri hidup berdua dengan Ana tanpa pelayan seperti di rumah besar dulu.


"Bhumi aku rasa, aku akan membuka kotak yang ibu berikan pada ku." Ana duduk memangku kotak kayu yang sudah berbulan-bulan di pajangnya di atas meja.


"Buka saja." Bhumi menjawab singkat, sibuk dengan laptopnya.


Ana akhinya mambuka kotak kayu itu, yang pertama di lihat nya adalah beberapa kerta yang sudah usang, mungkin sudah bertahun-tahun tersimpan. Ana mengeluarkan satu persatu surat dan membaca nya.


Terdiam beberapa saat, kemudian terdengar tangis Ana pecah. Bhumi yang mendengar Ana terisak menutup laptop nya kemudian mendekati Ana.


"Ada apa? kenapa kamu menangis?" Bhumi merebahkan kepala Ana ke bahu nya mencoba menenangkan Ana.


Ana kemudian menyerahkan surat yang ibu nya tulis untuknya.


Untuk anak ku tercinta Ana


Apa kamu hari ini baik-baik saja? mungkin saat kamu membaca surat ini, ibu sudah tidak ada menemani mu di dunia ini.


Hari ini ibu akan mengungkapkan rahasia yang tidak pernah kamu ketahui. Maafkan ibu yang terlalu lama menyimpan semua ini. Ibu sungguh tidak sanggup kehilangan mu dan melihat mu memanggil wanita lain dengan sebutan ibu.


Ibu memang sangat egois, ibu terlalu mencintai mu nak. Dari mu lah ibu belajar mencintai anak yang bahkan tidak ibu kandung di dalam rahim ibu.


Kamu mengajarkan ibu menerima seseorang yang tidak ada ikatan darah di antara kita. Kamu mengajari ibu mencintai dan menyayangi segala kekurangan dan kelebihan mu begitu juga kamu bisa menerima ibu sebagai ibu mu dengan mudah.


Ibu sempat ragu ketika ayah membawa mu pulang dan mengatakan seorang teman menitipkan bayi pada nya. Namun ketika ibu melihat mata mu, ibu telah jatuh cinta saat pertama memandang mu.

__ADS_1


Ketika kamu datang, ibu tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Tapi satu yang sangat ibu takutkan kamu akan di ambil oleh orang tua kandung mu.


Namun ibu bersyukur ibu bisa menjadi ibu satu-satu nya untuk mu sampai ibu menghembuskan nafas tertakhir ibu. Terimaksi telah melengkapi keluarga kami, dengan tangisan, tawa mu dan kamu selalu membuat kami bahagia.


Sekarang kamu bisa tahu siapa ibu kandung mu sebenarnya nak. Sudah cukup ibu menyembunyikanmu, sudah cukup ibu membuatmu menjadi milik ibu.


Di kotak ini ada beberapa barang dari ibu kandung mu, yang ayah bawa saat kamu datang ke rumah kami. Semoga kamu bisa segera bertemu dengan orangtua kandung mu nak.


Maafkan ibu tidak bisa memberitahu siapa mereka karena ayah pun tidak pernah bercerita tentang mereka pada ibu. Ibu harap kamu segera bertemu dengan mereka.


Ibu mencintai mu Ana.


Ana sangat shock mengetahui kalau dirinya bukanlah anak kandung dari orangtua yang selama ini membesarkan nya. Ana kembali mengeluarkan isi dari kotak itu, terdapat sebuah kalung yang sangat cantik dengan ukiran nama MAHARANI.


"Kenapa harus seperti ini Bhumi? Aku tidak rela mereka bukan orang tua kandung ku." Ana kembali menjatuhkan kepala nya ke bahu Bhumi.


"Orang tua mu pasti mempunyai alasan di balik semua ini sayang." Bhumi mengelus kepala Ana.


"Tapi kenapa orang tua kandung ku membuang ku? apa mereka tidak menginginkan ku." Ana masih terisak pikiran nya sangat kalut.


"Ayo kita tidur." Bhumi merebahkan tubuh Ana, kemudian menyelimutinya.


Ana pun tertidur karena kelelahan terus menangis dari tadi. Bhumi memandang wajah Ana tampak gurat kesedihan walaupun mata itu sudah terpejam.


***


Seminggu telah berlalu, Ana tidak pernah membuka kotak itu dan tidak pernah ingin tau siapa sebenarnya orang tua kandungnya. Dia masih belum bisa menerima kenyataan yang telah terjadi rasanya seperti mimpi.


Namun jauh di lubuk hati nya paling dalam sebenernya Ana ingin sekali tau keadaan orang tua nya kadung nya. Apa mereka masih ada, apa hidup mereka baik-baik saja. Apa mereka sangat kekurangan sampai-sampai harus menipkan Ana pada orang lain.


Terkadang pikiran itu datang tapi hilang begitu saja saat Ana kembali mengingat dia adalah anak yang di buang.


"Bhumi apa aku harus mencari orang tua kandungku?" Ana memandang langit-langit kamarnya.

__ADS_1


" Apa kamu sudah siap beretemu dengan mereka?" Bhumi mengelus lembut kepala Ana.


"Ah sudahlah, semakin aku pikirkan semakin aku frustasi." Ana menenggelamkan wajah nya di dalam selimut.


"Bhumi apa kamu lelah menunggu ku?" Ana membuka selimut yang menutup wajahnya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Sebagai laki-laki normal tentu aku lelah menahan semua ini." Bhumi memasang wajah penasaran.


"Apa kamu menginginkan sesuatu? atau kamu saat ini sedang menggodaku?" Bhumi melanjutkan kata-kata nya.


Tidak terdengar jawaban dari Ana, namum bibirnya tepat mendarat di bibir Bhumi. Mendapat ciuman yang begitu tiba-tiba Bhumi hanya diam masih tidak percaya, Ana bisa agresif seperti ini.


"Kenapa kamu diam, apa kamu tidak menginginkan aku?" Ana merengek kesal kemudian berbalik memunggungi Bhumi.


"Harusnya kamu bilang dari awal, setidaknya aku bisa bersiap." Bhumi menarik tubuh Ana, kini tepat berada di bawah nya.


"Ah sudahlah lupakan saja." Ana memalingkan wajahnya.


"Aku mencintai mu." Bhumi menyentuh pipi Ana dengan lembut.


Mendapat respon baik dari Ana, Bhumi mencium bibir Ana perlahan. Nafas yang memburu bersama dengan suasana yang semakin romantis. Namun baru beberapa saat rupanya ada yang mencoba menggaggu mereka.


Terdengar suara bel berbunyi beberapa kali dari lantai bawah.


"Bhumi ada yang datang." Ana mejauhkan wajahnya dari Bhumi.


"Sial, siapa yang berani-berani nya memgganggu malam pertamaku." Bhumi terlihat kesal.


Bhumi berusaha tidak mempedulikan suara bel yang berkali-kali telah terulang.


"Bhumi sepertinya kita harus membuka pintu." Ana menjatuhkan tubuh Bhumi, merapikan piyama nya kemudian melangkah keluar dari kamar.


"Ahh sial, sedikit lagi." Bhumi memekik kesal.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2