My Exotic Wife

My Exotic Wife
Pergi ke kantor


__ADS_3

Ana keluar dari toilet dia melihat sesosok wanita sedang merapikan dandanan nya yang sangat menor di depan cermin. Dari postur tubuh nya Ana seperti tau siapa wanita ini, dan benar saja itu adalah Angel. Ana mencuci tangan nya di washtafel, berusaha tidak mempedulikan keberadaan Angel. Tapi Angel selalu saja mengganggu nya.


"Ternyata ada istri yang tak di anggap." Angel dengan sengaja nyinyir pada Ana.


Ana masih diam tidak mempedulikan Angel, rasanya buang-buang energi saja meladeni orang seperti dia.


"Oh apa mungkin anak itu bukan anak nya Bhumi."


"Plakkk..., Ana menampar pipi Angel dengan penuh Emosi.


"Jangan sekali-kali kamu menyebut Anak ku dengan mulut kotor mu itu, jangan lupa aku masih istri sah dari Bhumi dan aku mengandung anaknya. Apapun yang aku inginkan aku bisa lakukan, termasuk menyakiti mu. Aku bukanlah perempuan murah*n seperti mu yang tidur dengan banyak lelaki."


Angel memegangi pipi nya, tangan nya di cengkram kuat oleh Ana sampai-sampai Angel meringis kesakitan.


"Oh ya satu lagi, nikmatilah kebersamaan mu dengan Bhumi sebelum kau di lempar lagi kejalanan seperti dulu."


Ana mendorong tubuh Angel sampai terperosok ke sudut ruangan itu dan meninggalkan nya begitu saja. Ana sudah muak dengan wanita jal*ng itu, setiap melihat wajah nya rasanya Ana ingin menyiram nya dengan air keras.


Jangan kira aku tidak berani pada mu, dasar wanita murah*n.


Ana kembali ke tempat duduknya masih menyisakan wajah yang merah padam. Juna melihat Ana sedikit kebingungan.


"Kamu abis ngapain? cuci muka pake air panas?" Juna melihat wajah Ana yang masih merah karena emosi.


"Tadi ketemu setan di toilet." Ana menjawab seadanya.


"Siang bolong begini ada setan, dasar ngaco," Juna terkekeh mendengar alasan Ana.


"Aku mau pulang, kamu masih mau disini?"


Ana mengambil tas dan beranjak dari tempat duduknya, melihat Juna yang masih betah di tempat ini.


"Ehh, tunggu... tunggu,"Juna sedikit memepercepat langkah nya menyusul Ana yang sudah 5 langkah di depan nya.


"Ana tunggu, jangan tinggalin aku dong, Juna sedikit berteriak memanggil Ana. Tapi Ana tidak mempedulikan nya, Ana terus saja memepercepat langkah nya. Tapi seketika langkah Ana terhenti ketika dia berpapasan dengan Bhumi dan Angel.


Ana menghela nafasnya, keinginan nya kesini cuma sekedar makan enak, kenapa malah konflik di rumah juga ada di tempat ini. Angel dengan sigap memasang muka manja di depan Ana, rupanya tamparan tadi tidak membuatnya jera.


"Hay bro," Juna menyapa Bhumi dari belakang.


"Lo disini juga, kalian datang berdua?" Bhumi pura-pura tidak tau, padahal pas sampai di tempat ini Bhumi sudah melihat Ana dan Juna.


"Tadi kebetulan saya bertemu pak Juna di tempat ini." Ana mencoba memberi alasan supaya tidak terjadi salah paham.


"Juna aku balik dulu yah, lagi gak enak badan." Ana berjalan keluar sambil memegangi perut nya yang akhir-akhir ini sering kram.


"Oh ya, gue juga mau balik bye..," Juna melambaikan tangan nya meninggalkan Bhumi dan Angel karena Juna juga tidak menyukai prilaku Angel.


Kalau mereka suami istri kenapa sikap dokter itu hanya seperti teman pada Juna. Bhumi kembali penasaran di buat nya.


Malam hari nya, seperti biasa Ana membawakan obat untuk Bhumi ke kamarnya. Ana mendapati Bhumi sedang duduk di sofa dengan laptop di pangkuan nya.

__ADS_1


"Maaf pak waktunya minum obat." Ana mendekati Bhumi menyodorkan segelas air dan obat.


Tanpa melihat Ana, Bhumi mengambil obat itu dan meminum nya, untung saja tuh laptop gak kesiram air.


"Makasi ya." Bhumi mengucapkan terimkasi pada Ana.


Salah makan apa dia tadi, tumben-tumben nya bilang makasi.


"Saya akan balik ke kamar, apa ada yang anda butuhkan lagi,"


Ana menawarkan bantuan pada Bhumi.


"Duduklah disini sebentar, ada yang ingin aku katakan." Bhumi masih fokus pada layar laptop nya.


Ana duduk di sofa agak jauh dengan Bhumi, dia memperhatikan wajah Bhumi. Ana sangat merindukan pelukan dari suami nya. Sudah 2 bulan tepat nya Ana menjadi orang asing untuk Bhumi. Ana bengong melihat wajah Bhumi sampai Ana tidak tau kalau Bhumi melihat nya.


"Apa aku setampan itu sampai mata mu tidak berkedip." Bhumi mengagetkan Ana.


"Emm, maaf pak saya cuma sedang banyak pikiran." Ana mencoba mengelak.


Sial aku lupa kalau dia orang yang selalu tau apapun walapun mata nya terpejam.


"Oh ya besok aku akan mulai bekerja lagi, aku sudah bosan berada di rumah terus toh saat ini sudah tidak merasakan sakit atau apapun, lagi pula kamu juga akan terus mengawasi ku."


Bhumi menjelaskan panjang lebar agar di berikan ijin pergi ke kantor.


"Baik pak, besok saya akan atur semua nya." Ana menjawab dengan sangat meyakinkan supaya terlihat profesional.


"Ada yang ingin kamu katakan lagi?" Bhumi menoleh Ana dengan ekpresi datar nya.


"Tidak pak, kalau begitu saya permisi."


Mau nya apa sih tadi dia yang nyuruh duduk sekarang gue malah di usir, dasar gila, kemana kah cinta ku dulu, kenapa sekarang jadi ngenes gini.


Ana bangun dari tempat duduk nya, entah karena hilang keseimbangan Ana hampir jatuh terjungkal. Untung saja Bhumi dengan sigap menangkap Ana.Sepersekian detik mereka saling memandang, Ana mendapat kesempatan bisa berada dekat dengan Bhumi. Dengan sengaja Ana tidak melepaskan pandangan mata Bhumi.


Kalung berlian itu, sepertinya aku pernah melihatnya tapi milik siapa?. Bhumi melihat kalung yang melingkar di leher Ana.


"Makanya kalau jalan liat-liat." Ternyata Bhumi sadar duluan dan melepaskan pandangan nya pada Ana.


"Oh iiaa maaf pak, saya hilang keseimbangan."


Akkkk... Padahal aku belum puas berada di pelukan mu suami ku sayang.


Bhumi melepaskan pelukan nya, dan Ana berpamitan kembali ke kamar untuk istrhat.


Pagi hari di meja makan, Ana sudah duduk dengan pakaian rapi sudah seperti seorang sekertaris. Ya memang Ana akan ikut ke kantor Bhumi hari ini, pikir Ana ini memang sangat membosankan tapi mengingat Angel yang selalu nyelonong datang kesana, jadi Ana menerima saran dari Oma.


"Selamat pagi nyonya," Bu Marni menyapa Ana yang sedang menyiapkan sarapan.


"Bu, apa penampilan ku tidak terlalu formal?" Ana bertanya karena sebelumnya dia tidak pernah berpenampilan seperti ini.

__ADS_1


"Tidak nyonya, anda sangat cantik sekali."


"Ah bu Marni bisa aja." Ana terkekeh melirik Bu marni sambil mencubit lengan nya.


Bu marni tersenyum melihat Ana bisa tertawa, biasanya Ana selalu murung.


"Bu kapan Oma pulang? Aku sangat bosan meladeni Bhumi yang sudah seperti bocah." Ana menyampaikan keluhan nya pada bu Marni.


Belum sempat Bu Marni menjawab, Bhumi kini sudah ada di depan meja makan. Dengan tatapan tajamnya.


"Se-selamat pagi tuan." Bu Marni kaget melihat Bhumi tiba-tiba datang tanpa suara.


Ana masih fokus dengan sarapan nya dan tidak mempedulikan Bhumi atau menyapa nya.


Mau kemana dia pakai baju kayak gitu. Apa jangan-jangan dia mau ikut ke kantor ku.


Tidak beberapa lama Roby datang, dan sudah siap menjemput bos kesayangan nya.


"Pak Roby anda sudah sarapan? Ayok sini ikut sarapan bareng." Ana dengan senyum nya yang khas menawarkan sarpan pada Roby.


Seenaknya ngajakin orang, sudah seperti rumah nya sendiri. Bhumi berkata dalam hati.


"Tidak usah nona, saya sudah sarapan tadi di rumah."


Sadar akan panggilan Roby pada nya nona, Ana mengerjap-ngerjap kan mata nya pada Roby untuk memberi kode. Ah tapi Roby kan gak peka dengan kode seperti waktu dulu di Rumah sakit.


"Ehemmm..." Bhumi mendehem menyadari kalau orang kepercayaan nya itu sedang main mata dengan Ana.


"Ayo kita berangkat." Bhumi beranjak dari tempat duduk nya begitu juga Ana.


"Heh kamu mau kemana?" dengan sangat tidak sopan Bhumi berbicara dengan Ana.


Ana masih berjalan tanpa mempedulikan Bhumi, dia merasa tidak ada yang memanggil nama nya. Bhumi menarik tangan Ana, dan menghentikan langkah nya.


"Oh anda ngomong sama saya? kirain ngomong sama siapa, gak nyebut nama sih." Ana dengan santai nya menyindir Bhumi.


"Mau kemana?" Bhumi melotokan mata nya ke arah Ana.


"Mau ke kantor lah, kan saya ini dokter pribadi anda, jadi harus ikut kemanapun anda pergi." Tukas Ana pada Bhumi.


Bhumi tidak bisa mengelak, Bhumi tau ini pasti kerjaan Oma yang terlalu khawatir padanya. Padahal tujuan Oma sih bukan itu haha.


"Kamu jangan ikut di mobil ku." Bhumi menunjuk jidat Ana.


"Siapa juga yang mau ikut, percuma banyak mobil tapi malah numpang." Ana melanggang begitu saja meninggalkan Bhumi menaiki mobil putih yang biasa dia gunakan.


Bhumi melihat Ana dengan kesal.


Ahh sial kenapa dia harus ikut padahal hari ini aku akan pergi dengan Angel.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2