
"Sawn, Rachel mabuk dan dia sudah di antar pulang oleh Axcel ke apartementnya. Axcel sendiri sedang dalam perjalanan pulang."Assisten Liu memberi tahu Sawn.
Tanpa pikir panjang Sawn langsung bergegas pergi mengemudikan mobilnya sendiri di jalanan yang lengang membebaskannya mamacukan kecepatan sesuka hati hanya untuk cepat sampai di tempat Rachel.
Setibanya di sana dia masuk memencet tombol kunci pintu digital apartement Rachel. Sawn hapal persis passwordnya karena dia sendiri yang mereset ulang saat kejadian Rachel tak sadarkan diri karena demam. Tanpa takut kalau Rachel melihatnya, Sawn nekat membuka kamar Rachel. Sawn menemukan Rachel tertidur pulas dengan pakaian yang masih dipakainya tadi.
Aroma alkohol memang masih tercium dari dirinya. Wajahnya seperti diselimuti oleh kegelisahan yang mendalam.
Sawn memandangi wajah Rachel sangat lama.
"Bagaimana dia seperti ini, harusnya dari pertama aku menyingkirkan lelaki itu. Dia membuatmu sangat tertekan. Maafkan aku, aku akan melindungimu, membuatmu merasa nyaman walaupun kamu tak mengetahuinya."Ujar Sawn seraya menyibakkan beberapa helai rambut Rachel yang menghalangi wajah cantiknya.
Malam itu Sawn memeriksa beberapa persediaan makanan di lemari Rachel, dia tidak menemukan apapun. Makanan berat bahkan untuk camilan pun tidak ada.
"Wanita ini memang ceroboh, Sama seperti dulu tidak ada yang berubah. Biasanya kalau yang lain selalu membeli bahan makanan yang banyak untuk dirinya sendiri. Bagaimana kalau tengah malam dia lapar dan terbangung. "Sawn berbicara pada dirinya sendiri.
Dia berinisiatif pergi ke swalayan terdekat untuk membeli beberapa bahan makanan dan kebutuhan lainnya untuk Rachel. Berpikir bahwa Rachel tidak akan cepat tersadar secepatnya.
Sawn membeli beberapa bahkan banyak sekali dan cepat kembali ke apartement Rachel.
Membereskannya ke lemari dan menata serapi mungkin. Rachel tidak akan pernah tahu kalau dirinyalah yang membeli perlengakapan itu semua dan dia bergegas untuk cepat pergi meninggalkan apartement Rachel setelah semuanya selesai.
Hati kecil Sawn berkata kalau dia masih ada rasa untuk Rachel, rasa yang dahulu masih tertata rapi di hatinya. Rasa yang tak pernah hilang. Rasa yang ingin dia berikan tapi terkungkung dengan sendirinya.
Sawn merasa lega melihat wanita itu dalam keadaan baik walau hatinya rapuh. Setidaknya dia bisa melakukan apa yang dia bisa kali ini tanpa rasa gengsi yang menghalangi.
-------------------------------------
Alarm jam di kamar Rachel berbunyi sangat nyaring, mampu membuat Rachel terhenyak dari tidur pulasnya.
"Hoooaamm...."
Rachel melihat jam menunjukan pukul 06.00..
"Astaga... aku harus pergi ke kantor."
Tapi langkahnya terhenti ketika hari itu adalah weekend. Menghempaskan dirinya kembali ke tempat tidur, kepalanya masih merasakan sedikit pusing, dia ingat semalam dia mabuk dan di antar pulang oleh Axcel. Betapa malunya dia kalau nanti harus bertemu kembali dengan lelaki itu. Wajahnya tetiba merona.
"Ooooohhhhhh....."Sesalnya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa aku begitu bodoh harus pergi ke bar dan minum.. mabuk.. diantar oleh Axcel. Dan Sawn pasti dia akan tahu kejadian semalam...."
Setelah beberapa lama dia beranjak dari tempat tidur, melangkahkan kaki ke arah dapur. Dia ingat kalau tidak ada stok makanan, dia berencana pagi ini akan pergi untuk membeli stok bulanan. Tapi...
"Hah... siapa ini yang membeli makanan sangat banyak.. ??."
Rachel terkejut melihat banyak sekali stok makanan di lemarinya.. Lalu membuka lemari es.
"Astaga di sini juga...."
Rachel terperangah lemari atas dan lemari esnya dipenuhi oleh banyak stok makanan, bahkan untuk dirinya sendiri pun akan lama habisnya. Dia mengingat semalam Axcel hanya mengantarnya sampai luar apartement jadi mana mungkin Axcel... Lalu siapa..
Dia mulai memasak makanan untuk sarapannya sendiri. Ketika menunggu makanan matang, pandangannya teralihkan pada segelas cangkir putih di meja dekat Tv, dia heran karena tidak pernah menggunakan cangkir itu. Ada bekas sisa cappuccino.
"*Hah.. cappuccino..."
"Siapa yang meminumnya, biasanya orang-orang yang ada di sekelilingku hanya Sawn yang suka cappuccino... Aah mana mungkin dia. Dia lelaki sombong. Lagi pula untuk apa dia datang ke sini."Imbuhnya dalam hati*.
Setelah makanan matang, dia menyantap makanannya dengan penuh perasaan. Seperti sudah lama dia tidak merasakan benar-benar mencerna makanan dengan santai. Hari-hari yang sibuk dengan urusan kantor memaksanya untuk melakukan hal dengan terburu-buru. Bahkan untuk sarapan sekalipun. Weekend kali ini berbeda, kali ini dia memasak sendiri sesuai dengan yang diinginkan karena sudah tersedia di lemari. Sedangkan biasanya dia hanya membeli makanan cepat saji atau hanya roti sandwich saja.
Cukup lama menikmati sarapannya, dia berencana untuk pergi ke luar sekedar jalan-jalan atau membeli barang baru yang dia butuhkan seperti tas atau sepatu. Dan dia berencana untuk mengahbiskan waktunya dengan perawatan diri di salon.
"Axcel... "Rachel sedikit terpana dengan ketangan Axcel.
"Iya Rachel ini aku.. kenapa apa aku menganggumu. Sepertinya kamu akan bersiap untuk pergi?."Axcel ingin tahu kemana tujuan Rachel.
"Oh iya aku berencana untuk sekedar jalan-jalan, sekedar belanja kebutuhanku. Ya namanya perempuan..."Rachel menyeringai.
"Apakah aku boleh menemanimu.. Siapa tahu kamu butuh seorang sopir untuk mengantarmu."Axcel menawarkan dirinya.
"Apa itu tidak akan merepotkanmu?."
"Tentu saja tidak, malah aku senang bisa menemani wanita cantik untuk jalan-jalan."Seru axcel dengan senang hati penuh semangat.
"Baiklah kalau begitu, mari kita berangkat."
Ketika di perjalanan menuju ke sebuah pusat perbelanjaan, Axcel menerima panggilan dari Sawn untuk pergi dengannya beserta assiten Liu ke bandara.
Axcel melirik Rachel.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kamu ikut denganku dulu?."Tanya Axcel.
"Baiklah aku akan ikut, kemana?."Rachel balik bertanya.
"Ke bandara, Sawn menyuruhku ke sana untuk menemaninya menjemput seseorang."
"Sawn.. oh kenapa weekend seperti ini harus bertemu denganya lagi. Setelah sekian berpuluh-puluh jam dalam sepekan harus melihat wajahnya. Kenapa tidak membiarkan kali ini sedikit melihat pemandangan lain. Aku tak bisa menolak ajakan Axcel, sudah kepalang mengiyakan."Hati Rachel berbisik.
"Rachel..."Pannggil Axcel lagi.
"Iyaaa...."Rachel sedikit terkejut.
"Bagaimana apakak kamu bisa ikut ke bandara dulu, setelah itu kita pergi sesuai rencana awala?."Tanya Axcel mengulang.
"Tentu saja.. baiklah kita akan pergi ke bandara dulu."Rachel tersenyum paksa.
Sesampainya di bandara internasional.. koridor kedatangan dari luar negeri. Tampak Sawn dan assisten Liu sudah menunggu terlebih dahulu. Sawn melihat Axcel datang dengan Rachel bersamaan. Seketika seperti ada rasa terbakar di hatinya.
"Sepertinya Axcel memang tidak main-main dengan ucapannya untuk mengejar Rachel."Bisik assisten Liu mencoba untuk memanasi Sawn.
"Sawn kalian sudah lama?."Tanya Axcel.
"Tidak kita juga baru sampai."Assisten Liu menimpali.
"Tidak apa-apa aku ajak Rachel? Tadinya kita akan pergi tapi tiba-tiba aku dapat panggilan darimu."Axcel menjelaskan.
"Tidak apa-apa."Jawab Sawn singkat.
Sawn memandang sedikit tidak suka ke arah Rachel, kenapa dia harus datang dengan Axcel.
Padahal mereka baru kenal tidak lama tapi seperti sudah sangat akrab.
Dipikiran Rachel, dia mengingat memori tempat itu adalah tempat waktu pertama kalinya dia bertemu dengan Sawn.. memori kopi tumpah.
*Bersambung*....
__ADS_1