
" Maksudmu dengan hak yang sama?."
" Semua ini.. Yang ayahku punya pasti aku juga berhak memilikinya.."
Sawn masih dengan sikap yang dingin tapi masih tetap berpikir.. Sudah bisa menduga bahwa lelaki yang ada dihadapannya sekarang tak lain adalah anak dari ayahnya..
"Kau salah besar tentang penilaianmu.. Aku membangun ini semua dengan usahaku sendiri. Tidak ada campur tangan ayahku.. Atau siapa kamu tadi ayahmu?."
" Dan aku tidak tahu dari mana kamu berasal.. Dan kau lain kali jangan mengaku-ngaku ada hubungan denganku.. Kita berdua berbeda.. Jauh berbeda.."
" Hahahaha..."Lelaki itu tertawa sarkas.. bercampur emosi mendengar omongan Sawn yang dinilainya sombong. Benar kata semua orang tentang penilaian semua orang, Sawn seorang yang angkuh dan tak tersentuh.. Memang semua terbukti dan benar adanya, Sawn Arthur pantas untuk itu, dia punya segalanya untuk disombongkan..Dan kini tiba-tiba ada yang datang meminta bagian... Sangat lucu jerih payahnya selama ini untuk keluar dari bayang-bayang ayahnya, bisa saja semua orang mengaku-ngaku saudara.. Pikiran picik.. Pikir Sawn saat itu.
" Aku tahu dirimu dan semua cerita keluargamu.. Jangan harap kalian secuil pun mengambil sesuatu dariku.. Tapi aku tidak peduli dengan apa yang kau ambil dari ayahku.. " Sawn menegaskan agar lelaki itu tahu akan posisinya.
" Kau terlalu sombong Sawn... Aku akui kau memang bukan orang sembarangan. Sampai kapanpun kau akan selalu berurusan denganku. Kecuali ayahmu mau mengakui ku di depan publik."
__ADS_1
"Haha.. Jadi kamu butuh pengakuan? Aku tidak menyangka kau mengemis bukan hanya pengakuan tapi juga hartaku.."
" Kau...." Lelaki itu hampir saja mengangkat tangannya untuk memukul Sawn tapi dengan sigap dua orang pengawal Sawn menahannya serta membawa lelaki itu angkat kaki dari villa kediaman mewah Sawn.
Cukup keras Sawn berpikir tentang saudaranya itu.. Saudara yang baru diketahuinya. Saudara yang nantinya bisa mengancam ketentramannya. Tapi Sawn yakin ayahnya takkan mengambil langkah salah untuk kedua kalinya.
Sawn menyilangkan kakinya di ruangan depan. Tatapannya bisa membunuh bagi musuh yang mendekat. Tidak perlu mengatur strategi yang cukup rumit, hanya perlu memainkan sedikit saja bisa menumbangkan musuh.
"Tuan.. Menurut tuan Liu kelompok GFG memata-matai jaringan kita.. "
" Dengan kata lain bila ada yang berurusan dengan kita, kalaupun itu adalah mafia sama dengan mereka bunuh diri, begitu tuan?." Red menyimpulkan setiap kalimat yang dilontarkan Sawn.
" Tepat sekali.. Jadi jangan khawatir.." Sawn menutup pembicaraan mereka malam itu.
Rachel masih menyibukan dirinya di depan meja rias, membersihkan sisa-sisa make up yang menempel di wajahnya.. Usianya memang belum menginjak 30 tahun.. Tepatnya kurang setahun untuk mencapai angka itu.
__ADS_1
" Apa ini kantung hitam di mataku semakin terlihat jelas.." Rachel semakin mendekatkan dirinya pada cermin.
Sawn memperhatikan tingkah lucu calon istrinya itu..
" Dan ini oh.. Tidak ada kerutan halus.. Tidak kenapa ada ini? Aku tidak pernah memiliki ini sebelumnya.."
Sawn semakin terkekeh mendengar celotehan manis itu.. Terdengar jelas suara kekehan seseorang, Rachel mengintipnya dari cermin terlihat Sawn berdiri menyenderkan badannya di pintu kamar.
" Tidak usah khawatir.. Umurmu tidak dapat membohongi kerutan itu.." Goda Sawn
" Teruslah meledekku Sawn... !!" Rachel mendengus kesal.
" Apa kamu ingin melihatku seperti ini.. Aku butuh perawatan.."
" Lakukanlah semua yang kamu mau... Bahkan perawatan terbaikpun bisa aku dapatkan untukmu. Apa kamu masih meragukanku..."
__ADS_1
Rachel memang mengakui semua yang dimiliki Sawn.. Semua akses dan hartanya semua tak kan pernah habis.. Ia bagaikan mesin uang yang bisa menghasilkan uang yang banyak.