
" Jangan terlalu tinggi nanti bisa jatuh." Kata-kata Liu yang ia dengar sebelum mendengar berita dari televisi bahwa sedang terjadi unjuk rasa berujung cheos di kotanya.
Unjuk rasa menuntut pemerintah setempat agar menaikan upah buruh berakhir berutal sehingga menyebabkan penjarahan toko-toko makanan sampai pusat perbelanjaan menjadi korbannya juga.
Belum dipastikan berapa banyak kerugian karena sampai saat ini protes unjuk rasa masih terjadi sehingga pihak keamanan diturunkan.
Liu teringat saat satu jam lalu Rachel memberitahukan bahwa dirinya akan mengunjungi Sawn di kantor. Rachel marah karena rupanya suaminya itu lupa untuk segera pulang agar bisa cepat-cepat berangkat ke rumah keluarga besarnya, De Jong.
Liu memberitahukan hal itu pada Sawn, sehingga membuat Sawn juga begitu sangat khawatir, dengan kondisi Rachel sedang mengandung menambah rasa ke khawatirannya.
" Harusnya dia sudah sampai di sini." Ujar Sawn sembari menghubungi ponsel Rachel karena sedari tadi ponselnya sulit tersambung.
" Dia kemari dengan siapa Liu?."
" Sendiri naik taksi."
" Ooh tidak.. Jangan sampai!."Sawn terlihat kalut memikirkan keberadaan istrinya sekarang.
__ADS_1
" Aku akan menyuruh orang kita melacak lokasi ponselnya sekarang!." Assisten Liu tak kalah sibuknya ikut mencari keberadaan Rachel.
Beberapa menit kemudian Liu mendapatkan kabar keberadaan Rachel sedang berada tepat di lokasi utama unjuk rasa berlangsung sekarang.
" Oh tidak... Liu lakukan sesuatu, istriku sedang berada di sana!." Sawn marah semarah-marahnya merutuki dirinya sendiri bagaimana ia bisa lengah untuk memperhatikan istrinya saat ini.
" Tenanglah Sawn, kita akan menghubungi pihak keamanan yang sedang diterjunkan di sana. Untuk mencari Rachel berada." Tukas Liu memberi ketenangan agar Sawn bisa lebih tenang.
Di lokasi unjuk rasa taksi yang ditumpangi Rachel terjebak di tengah-tengah sampai mengakibatkan mobil tidak bisa bergerak lagi. Rachel ketakutan karena tepat di depan matanya teriakan-teriakan minta tolong sampai suara tembakan terjadi begitu saja. Suasana mencekam menambah ketakutannya semakin menjadi. Apalagi drap langkah serdadu-serdadu keamanan terdengar jelas di telinga Rachel. Kekuatan masa yang begitu banyak membuat pihak keamanan sedikit kewalahan, aksi berutal seperti itu memang digadang-gadang ada yang memotorinya.
Tangis Rachel semakin pecah tak kala ia mobil taksi yang ia tumpangi di goyang-goyang dan jadi sasaran empuk pelemparan batu. Sopir taksi sudah tentu terluka parah karena tepat keningnya terkena batu besar dari salah satu pengunjuk rasa. Sedangkan Rachel bersembunyi di bawah jok mobil belakang sopir.
Perutnya terasa kram dan rasa sakitnya semakin menjadi, Rachel bangkit walaupun rasanya sudah tidak kuat lagi tapi ia memutuskan untuk meneruskan langkah kakinya tapi sakit di perutnya semakin terasa. Hingga terasa ada cairan hangat keluar dari balik celana dalam yang ia kenakan. Ia melihat darah segar mengalir melalui betis sampai pangkal ujung kakinya. Rachel histeris sampai ia tidak sadarkan diri lagi.
Ketika ia membuka matanya, ia sudah berada di IGD Rumah Sakit, di sana sudah ada Sawn dan Liu menunggui di sebelahnya.
Tatapan rasa bersalah terpancar jelas dari wajah suaminya. Rachel bersyukur dirinya masih bisa selamat dari kekacauan yang terjadi saat ini.
__ADS_1
Sawn menggenggam erat tangan Rachel dan tidak ingin melepasnya, air matanya menetes, lidahnya kelu bagaimana ia harus memberitahukan hal yang bisa membuat istrinya terguncang hebat.
" Bagaimana apakah sudah dibicarakan dengan pasien tuan?." Seorang dokter laki-laki datang menghampiri bed IGD tempat Rachel berada.
" Ada apa? Apa yang harus dibicarakan?." Rachel heran dengan perubahan sikap Sawn sedari tadi.
Sawn menunduk menciumi tangan Rachel berkali-kali. Sesungguhnya ia juga tidak ingin tapi demi kesalamatan semuanya tidak ada jalan lain lagi.
" Maaf sayang.. calon bayi kita harus di aborsi. Maafkan aku!!." Rachel menangis sejadi-jadinya mendengar penuturan Sawn.
" Kenapa?." Lirihnya.
" Pendarahan hebat dan sekarang saatnya maafkan aku."
" Maaf tuan, kalau tidak segera akan tidak baik bagi keadaan pasien sendiri." Ujar dokter tadi menimpali perkataan Sawn pada istrinya.
Rachel meraung-raung tidak menerima jika harus kehilangan calon bayi yang sudah ia tunggu selama dua tahun ini.
__ADS_1
-----
Haiii.... Minta dukungannya ya.. Dengan menambahkan komen, like san votenya.. Makasih 😍