
"Suka dengan makanannya?."
" Aku suka sekali.. Ini enak sekali.."
Sawn tersenyum melihat tingkah lucu Rachel dengan lahapnya menyantap makanan yang tersaji.
" Aku akan memesan makanan yang lain kalau kamu mau."
"Oh.. Jangan.. Jangan!. Perutku sudah tidak bisa menampungnya lagi.. Aku sangat kenyang. Bagaimana nanti kalau berat badanku naik.. Kamu pasti tidak akan menyukaiku.."
Mereka tergelak bersama.. Sikap polos Rachel dan juga sikap dingin Sawn membaur jadi satu saling melengkapi. Canda tawa selalu ada ditengah-tengah mereka.
Pasangan pengantin baru itu sangat puas sekali dengan semua yang mereka temui di Jerman. Tak lupa mereka juga menyempatkan diri untuk bertemu dengan Axcel saat itu juga.
" Kalian kenapa baru menghubungiku sekarang?."
" Aku baru ingat... "
"Kau ini Sawn... Kita sudah lama tidak bertemu pun kau masih selalu bersikap begitu padaku.."
" Tak lama bertemu? Bukankah kalian bulan kemarin baru saja bertemu.. Benarkah itu Sawn?." Rachel merasa ada yang janggal dengan ucapan Sawn waktu itu.
Tapi masih dengan menunjukan wajah datarnya seolah perkataannya benar Sawn memberikan kode alami pada Axcel agar membenarkan apa yang dikatakan Sawn.
__ADS_1
" Aku memang bertemu dengannya.. Tapi hanya sebentar.. Urusan bisnis saja.."
" Benar Rachel.. Apa kamu curiga dengan suamimu?."
" Bukan.. Bukan curiga hanya saja-."
" Sudahlah jangan membahasnya.. Aku datang kesini sekalian untuk membawakan Sawn obat dari dokter Anet." Axcel menyodorkan sebuah bingkisan kecil pada Sawn.
" Ya .. aku memang tidak punya waktu kesana.. Karena besok kami sudah harus kembali pulang. Bulan madu kami benar-benar diluar dugaan.. Kacau.." Tampak raut wajah kekecewaan mendalam di wajah Sawn. Rachel memegang erat tangan Sawn mengisyaratkan ia tak kenapa-napa.
" Obat apa itu?."
" Obat untuk lukaku.. Masih harus diobati. Racunnya masih ada.. Dulu aku minta sama dokter Anet tapi belum ada.. "
" Iya.. agar aku bisa dengan leluasa menggerayangimu..." Goda Sawn kembali pada istrinya.
" Hmm...." Axcel berpura-pura batuk mendengar kicauan sepasang suami istri yang mesra itu, melupakan kehadirannya di tengah-tengah mereka.
" Hahaha.. Maaf Axcel aku lupa.."Rachel memegang pundak Axcel sehingga mata Sawn tertuju kesana..
Tidak senang...
" Oh ya.. Kenapa kamu tidak datang saat pesta pernikahan kami.."
__ADS_1
" Aku minta maaf Rachel, saat itu aku benar-benar tidak bisa.. Ada sesuatu yang penting tidak bisa aku tinggalkan.."
" Bagaimana mungkin aku datang ke pernikahan orang yang aku cintai Rachel.."
" Apa rencana kalian setelah kembali dari sini.."
" Membuat anak .."
" Sawn.. Apa kau sedang memancingku..." Axcel benar-benar tak habis pikir dibuatnya..
"Makanya kau segera menikah.. Jangan terus-terusan bermain dengan banyak perempuan.." Assisten Liu tak kepalang ajar menambahkan olokan buat sahabatnya.. Malam itu mereka menghabiskan waktu sampai hari mulai larut.
-----
Sawn sudah menyusun banyak rencana ketika mereka kembali dari Jerman. Pekerjaan yang tak habis-habisnya memang sudah sepantasnya ia kerjaan, tapi untuk urusan lain menyangkut keselamatan ia dan keluarganya sudah harus diselesaikan secepatnya.
" Jangan terlalu banyak berpikir sekarang.. kita nikmati hari kita disini.." Rachel mulai menarik tangan Sawn agar mengikutinya ke tempat tidur.. Bibirnya terus menempel di bibir Sawn, nafasnya mulai memburu. Sawn mulai melucuti pakaian yang ia kenakan, hanya satu kali tarikan yang ia butuhkan untuk melepaskan pakain Rachel...
" Dari mana kamu belajar menggodaku?." Bisiknya di telinga Rachel sampai tengkuk wanita itu merinding..
"Aku belajar darimu... Kamu yang membuatku seperti ini...
" Kamu mulai nakal...."
__ADS_1
"Ahh..." Rachel menggeliat suaminya mulai beraksi untuk malam panas mereka.