
"Liu... Bagaimana tanggapanmu tentang Sawn dan Rachel?."Axcel membuka pembicaraan di saat mereka sedang sama-sama berada di sebuah restoran. Axcel sengaja ingin bertemu dengan assisten Liu.
"Sawn menyukainya dan kamu pun tahu itu kan.. Axcel kalau aku boleh memberikan saranku, mengalahlah untuk Sawn."
Axcel menghela nafas panjang...
"Liu aku ingin memberitahukan satu hal padamu, aku hanya ingin memberi Sawn umpan agar dia bergerak maju. Tapi aku tak menyangka kalau di malah bergerak mundur."Timpal Axcel.
"Maksudmu?."Assisten Liu penasaran dengan apa yang diucapkan sahabatnya itu.
"Kalau Sawn ingin mengejar Rachel, aku yang akan mengalah. Awalnya Aku bersimpati padanya, tapi setelah mendekatinya aku jatuh cinta."
"Tapi apapun itu demi Sawn akan aku lakukan. Bahkan perasaan ku sendiri akan ku korbankan. Aku tahu Rachel menyukainya. Tapi kalau aku niat untuk mengejarnya tanpa memperdulikan Sawn, adalah hal yang mudah untukku."Sambung Axcel.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan?."Tanya assisten Liu.
"Aku akan memberikan pilihan pada Sawn. Maju atau mundur..."
"Ide yang bagus,, mari kita lihat apakah Sawn berani".
Mereka berdua pun tertawa lepas dan menikmati hidangan yang telah disajikan.
Sore itu sebelum jam pulang kantor. Rachel menyodorkan sebuah draft perjanjian yang harus ditandatangani oleh presdir. Rachel dengan perasaan bercampur aduk berdiri di sebelah Sawn. Ketika Sawn sedang menandatangani draft itu, dia mengajukan sebuah pertanyaan.
"Kau menyukai Axcel?."
Rachel tertegun sejenak.
"Apa?."
"Kau menyukai Axcel?."Sawn kembali mengulang.
"Siapa yang tidak menyukainya, dengan keramahannya pasti siapapun akan suka."
"Bagaimana denganku? Apa kau menyukaiku?."Pertanyaan menohok yang di ajukan Sawn. Sejurus kemudian Sawn menarik tangan Rachel dan menggenggamnya.
Sekilas tampak wajah kulit putih mulusnya terlihat merona.
"Ada apa denganmu? Tidak biasanya seperti ini.. Aku takut tiba-tiba ada Vivian datang pasti dia akan salah paham."Rachel mencoba menghempaskan tangan Sawn darinya, tapi Sawn menggenggam sangat erat.
"Aku tak peduli dia ada atau tidak."
Sawn berdiri lalu menarik tubuh Rachel ke pelukannya. Rachel mematung, jantungnya berdegup kencang.
"Sawn.. aku tak bisa bernafas..."Erang Rachel. Sawn melepaskan Rachel dari pelukannya dan menatap mata Rachel dengan tatapan penuh arti.
"Rachel, aku tak bisa membiarkanmu ke pelukan Axcel.."Sawn terkulai lemas dan memejamkan matanya. Rachel terdiam tak tahu apa yang harus diperbuatnya.
-------------------------------------
__ADS_1
Malam selalu ditandai dengan datangnya gelap, cahaya bulan pun mulai menampakan sinarnya. Tapi tak begitu dengan apa yang dirasakan Rachel.. Hatinya yang hampa selalu menyapa. Terkadang derai air mata, tak lama datang bahagia. Ingin rasanya merasakan bahagia selamanya....
Di waktu yang sama...
Di Villa kediaman Sawn
Sawn sedang berbincang dengan koleganya melalui video call berkenaan dengan bisnis yang akan mereka rintis bersama.
Sementara itu Axcel bersama assisten Liu sedang berada di ruang santai.
Axcel mencoba menghubungi ponsel Rachel.
"Iya Axcel..."Sapa Rachel
"Kamu belum tidur?."
"Belum... malam ini entah kenapa aku susah sekali untuk tidur."Timpal Rachel.
"Apa kau memikirkanku?."Goda Axcel
"Hahahaha.. kenapa aku harus memikirkanmu?."
Sawn yang melihat Axcel berbicara dengan Rachel di telepon memperhatikan dari lantai atas.
"Rachel, ada yang harus aku bicarakan padamu."Tetiba Axcel ingin berbicara dengan serius.
Rachel terperanjat dengan apa yang dibicarakan Axcel padanya.
"Aku tahu ini terburu-buru. Kita akan membicarakannya besok. "Sambung Axcel lagi.
"Baiklah.. kita akan bicara besok."Rachel menutup pembicaraanya dengan Axcel.
Sawn mendengar apa yang di utarakan Axcel pada Rachel begitu sangat teramat marah, cemburu buta mengahantamnya bagaikan ujung tombak mengenai dada. Sakit sekali..
Sawn berdiam diri di ruang bacanya memikirkan apa yang barusan terjadi.
"Axcel, kau keterlaluan."Ucap assisten Liu.
"Apa dia mendengarnya?."
"Ya .. aku lihat Sawn berada di atas waktu kau berbicara dengan Rachel."
"Ini akan menjadi puncaknya Liu. Aku harap apa yang aku rencanakan akan berhasil."
Sawn tidak juga terlihat keluar, Axcel berhasil membuatnya mengurung diri. Sampai pagi buta belum menampakan dirinya.
-------------------------------------
""Bibi An, apa Sawn sudah terlihat bersiap-siap?."Tanya assisten Liu dengan sedikit cemas melihat waktu sudah menunjukan jam 7.30.
__ADS_1
"Belum.. tuan belum terlihat sejak semalam."Timpal bibi An, assisten rumah tangga Sawn.
Liu bergegas untuk naik masuk ke kamar Sawn, tapi tidak terlihat di sana.
"Mungkin di ruang baca."Gumamnya dalam hati.
Ketika pintu ruang baca di buka tampak Sawn tertidur di sofa ruang baca, beberapa botol minuman beralkohol tergeletak di meja.
Assisten Liu terperangah melihat keadaan Sawn yang baru pertama dilihatnya. Dia menggoyang-goyang pundak Sawn beberapa kali, kemudian Sawn membukakan matanya.
"Kau begitu berantakan Sawn..."
Sawn bangun.. melihat jam tangan yang masih menempel, pakaian kemeja dengan beberapa kancing terbuka dan rambut yang kusut. Bukan Sawn yang biasanya terlihat tampan rupawan.
"Liu kau atur saja urusan di kantor beberapa hari ke depan. Aku ingin diam menenangkan diri dulu."Tatapan mata Sawn kosong.
"Sawn ceritakan padaku ada apa denganmu? Seorang presdir Moon.. Sawn Arthur.. Apa ini tentang Rachel lagi?."
"Aku tak mau membahasnya."Sawn menolak untuk berbicara.
"Kalau kau mencintainya. Maka kejarlah, bukan menjadi pengecut seperti ini."Assisten Liu yang tak biasanya marah kini mulai menunjukan taring untuk pertama kalinya.
"Sawn, ini bukan dirimu."Sambungnya lagi.
Sawn tetap tak bergeming.
"Kalau masalahnya adalah ibumu, maka kau harus bicara baik-baik dengannya. Katakan sejujurnya. Apapun yang terjadi hadapi!!"Assisten Liu menghardik Sawn dan meninggalkannya sendiri.
Sawn berpikir dengan keras tentang apa yang dikatakan assisten Liu.
Rachel terheran-heran mengetahui kabar bahwa Sawn tidak akan masuk beberapa hari ke depan. Bertanya-tanya dalam hatinya apa yang terjadi. Assisten Liu mengutarakan hal yang sebenarnya terjadi dengan Sawn dan meminta Rachel untuk datang menemui Sawn.
"Sawn seperti itu karenaku, mungkin dia berpikir bahwa aku dan Axcel sudah mempunyai status. Kenapa Sawn tak menanyakannya terlebih dahulu padaku."Gumamnya dalam hati.
Perasaan bersalah terus menggerogoti jiwanya, dia tak berdaya ketika harus berhadapan dengan Sawn, apalagi untuk mendatangi dan melihat keadaannya.
"Aku dan Axcel sudah bertemu tadi pagi, dia mengantarkanku ke sini. Kami membicarakan hal yang tadi malam dia sampaikan. Kami sudah sepakat untuk berteman. "Rachel menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya pada assisten Liu. Assisten Liu bernafas dengan lega mendengar pengakuan Rachel.
"Syukurlah kalau begitu keadaannya. Sawn dan Axcel sahabatku. Aku tidak memihak pada salah satunya. Tapi aku yakin kali ini Sawn tidak bermain-main dengan perasaannya padamu."Assisten Liu meyakinkan akan diri Sawn.
"Aku akan mengantarkanmu menemuinya setelah jam makan siang selesai, temuilah dan temani dia."
Rachel menganggukan kepalanya dan menuruti apa yang diperintahkan padanya.
*Bersambung*....
__ADS_1