
"Sawn.. Apakah Red selalu bersikap formal seperti itu??" Rachel memelankan suaranya ketika berbicara dengan Sawn melalui telepon.
"Ya semua pengawal pasti begitu.. Apa ada masalah..?."
" Tidak hanya saja.. aku merasa kikuk."
"Kamu akan terbiasa nanti... Sebentar lagi aku pulang.."
" Baiklah.. Apa kamu akan makan malam dirumah?."
"Ya.. Katakan pada Bibi An buatkan aku makanan favoritku.."
" Aku yang akan membuatkannya..."
Selesailah Rachel membuat fettuccine alfredo setelah menanyakan beberapa resepnya pada Bibi An.. Bibi An menyuruh Rachel mengulangnya. Perlu dua kali Rachel membuatnya, karena rasa yang pertama tidak sesuai dengan kriteria " enak " Sawn.
"Ini makanan favoritmu..."Rachel menyajikannya di meja makan, masih dengan celemek dipakainya.
" Kamu yang memasaknya?." Sawn bertanya sambil memakan sedikit pasta itu dengan garpu.
" Jangan bertanya seperti itu.. Aku sudah bersusah payah hanya membuat ini untukmu.."
Sawn terkekeh..
"Rasanya tidak buruk.. Ini enak.." Timpal Sawn.
" Benarkah?."
" Ya.. Aku akan menghabiskannya.. Kamu jangan terlalu banyak bicara.."
Rachel menunggui Sawn menghabiskan makanannya..
" Aku tidak melihat Agnes.."
" Dia sedang berbicara dengan Red di belakang.."
"Rachel.. Besok pagi aku akan pergi ke luar negeri.. "
" Hah.. Pergi.. ada urusan apa?."
__ADS_1
" Ada urusan dengan Axcel.. dua hari. Dua hari aku akan kembali lagi."
" Aku tidak akan bertanya tentang Axcel, itu akan membuat kami bertengkar lagi."
"Baiklah.. Aku akan menunggumu kembali.."
" Red akan melaporkan semua tindak tandukmu.."
"Ya.. Kau bisa lakukan apapun padaku Sawn.."
----------------------------------
Rachel tak mendapati Sawn pagi itu..
" Nona.. Anda mencari tuan muda?." Bibi An bertanya pada Rachel yang tampak bingung mencari Sawn.
"Ya.. Apa dia sudah berangkat?."
"Iya nona.. Tuan sudah berangkat 20 menit yang lalu.."
" Bahkan dia tidak pamit padaku.." Rachel berkata sambil berlalu dari hadapan Bibi An.
"Ada di depan sudah siap mengawal nona ke kantor.."
" Baiklah.."
----------------------------------
"Nona.. Selamat pagi. Saya akan mengantar anda ke kantor.." Red mempersilahkan Rachel untuk masuk ke dalam mobil.
"Aku akan duduk di depan.." Rachel menolak untuk duduk di belakang ketika Red membukakan pintu mobil belakang.
" Tapi ini sudah aturannya nona.."
"Aturan dibuat untuk dilanggar.." Rachel mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum ke arah Red.
Red hanya menuruti kemauan Rachel. Masih terbilang normal pikir Red.
Dalam perjalanan ke kantor..
__ADS_1
"Red, apa kamu tadi sempat bertemu dengan Sawn sebelum berangkat?."
" Iya Nona.. Tadi saya bertemu dengan Tuan.."
"Dia tidak mengatakan apapun?."
"Tidak nona..."
" Tuan Sawn tidak memperbolehkanku untuk memberitahu nona Rachel kalau tuan akan menemui seseorang di penjara."
Rachel mendengus kesal..
Sampai di perusahaan Rachel diikuti terus oleh pengawalnya... Hal itu membuatnya sedikit risih. Apalagi ketika pergi ke toilet pun Red terus mengikutinya.
"Red, bisakah kamu tidak mengikutiku ke kamar mandi?." Pinta Rachel
" Maaf nona.. Ini sudah bagian dari tugas."
" Aku tahu.. ini tugasmu.. Tapi agar tidak jadi perhatian semua orang kau harus mengikutiku dari jarak jauh.."
" Maaf nona.. Ini sudah perintah Tuan Sawn.. Anda harus mengerti itu.."
▪ Pusat perbelanjaan
Jam 7 PM..
Rachel curiga seperti ada seseorang yang memperhatikannya dari jauh.. Red yang sudah mengetahui itu berusaha untuk tetap tenang dan tidak lengah sedikitpun pandangannya pada Rachel..
Rachel semakin melihat jelas seseorang itu tengah memperhatikan Rachel dengan berpura-pura memilih-milih pakaian. Seorang lelaki tinggi berbadan besar dan memakai topi hitam.
Rachel memberi sebuah isyarat pada Red untuk terus menempel padanya..
"Tenang.. Ciri seperti ini tidak akan menyerang di keramaian.."
Rachel menarik nafas panjang.. Wajahnya terlihat sedikit takut..
*Bersambung*.....
__ADS_1