
Sawn mengeram merubah posisinya menjadi di atas, menindih tubuh Rachel setelah itu lima menit kemudian berada di puncak pelepasan.. Keringat membasahi tubuh keduanya..
Nafas Rachel terdengar terengah-engah setelah suaminya selesai menggaulinya selama berjam-jam..
" Kamu cape?." Sawn mencondongkan tubuhnya sehingga ia bisa melihat jelas wajah istrinya itu.
" Ya aku sangat cape sekali.. Kita sudah melakukannya sebanyak tiga kali. Apa kamu belum merasa puas?."
" Aku merasa puas dengan mu.. Sampai-sampai aku ingin lagi dan lagi.."Sawn mencoba menggoda Rachel kembali dengan ciuman yang ia daratkan di pundak Rachel.
" Aku akan memuasakanmu nanti, kamu belum sekalipun keluar kan?."
Wajah Rachel memerah bagaimana Sawn bisa membicarakan hal vulgar dengannya.
" Aku sekarang suamimu.. Jangan sungkan berbicara hal seperti ini, ini wajar bagi sepasang suami istri.."Sawn seakan tahu apa yang tengah ada dipikirannya saat ini.
" Belum.. "
Sawn terkekeh..
"Wajar sayang.. Kali pertama pasti akan terasa sakit, belum nyaman tapi nanti kalau sudah terbiasa akan terasa nikmat.. Bahkan kamu yang akan memintanya duluan padaku.." Kecupan demi kecupan di berikan Sawn di bibir Rachel sebelum mereka berdua benar-benar tertidur karena kelelahan.
*****
__ADS_1
Pagi-pagi setelah selesai mandi, Rachel mendapati Sawn sedang duduk membaca koran dengan santai masih dengan bathrobe nya.. Segelas cappucino panas menemaninya pagi itu.
Sawn memandangi Rachel dari ujung bawah sampai ke ujung atas, tentu saja hal itu membuatnya risih.. Apalagi Rachel masih belum terbiasa dengan aktivitas yang sering ia lakukan setiap hari tapi kali ini berbeda dengan seorang lelaki di kamarnya.
Satu atap dengan Sawn sebelumnya tak lantas memberikan lelaki itu ruang untuk melihat pergerakan bebas Rachel. Ia tahu betul bagaimana menjaga diri dari seorang lelaki.. Cinta tak lantas membuatnya buta. Sampai pada hari dimana Rachel utuh menjadi milik suaminya kini.
" Hari ini kamu ada acara apa?."
" Hari ini aku akan mengurus segala keperluan kita.."Sawn menyeruput cappucino panasnya pelan-pelan.
" Keperluan apa?."
" Bulan madu ke luar negeri."
Rachel terperangah.. Bukan karena belum merasakan pergi ke luar negeri. Tapi selama kembali dari Paris dirinya memang belum pernah sedikitpun merasakan yang namanya berlibur.
Sawn sangat puas apa yang ia lakukan sangat membuat istrinya bahagia, dengan semua yang ia punya.. Harta, tahta bahkan kasih sayang tulus hanya untuk Rachel seorang.
----------------------------------
Beberapa jam kemudian..
" Rachel.. Kamu akan pergi terlebih dahulu denganku, aku akan mengantarmu menuju bandara pribadi Sawn.."
__ADS_1
" Lalu Sawn?."
"Dia ada urusan penting, ada beberapa hal yang akan ia urus sebelum pergi berbulan madu denganmu.."
"Baiklah tuan Liu.. Kita akan berangkat sekarang, Semua barang-barang sudah ada di mobil. Apakah Red akan ikut?."
" Tentu saja.. Demi kesalamatan kalian.. Aku juga akan ikut."
"Oh begitu.. Baiklah..."
-----
" Ya Tuhan.. Apa ini tidak salah? Ini pesawat pribadi? Kepunyaan siapa ini?."
Rachel begitu takjub dengan apa yang ia lihat, pesawat pribadi mewah dengan semua fasilitas mewah tersedia di dalamnya.
"Aku kira kita akan pergi dengan pesawat komersial.."
Assisten Liu tertawa..
"Suamimu paling tidak suka dengan hal-hal yang berbau keterlambatan.. Harus mengurus ini dan itu, pengecekan ini dan itu.. Tahu sendiri kan..."
Rachel terkekeh.. Ya.. Iya sangat tahu betul tabiat Sawn, semuanya harus sesuai rencana.. semua harus sempurna...
__ADS_1
Tak lama kemudian datanglah Sawn dengan seikat bunga mawar merah di tangannya, ia persembahkan untuk sang istri tercinta..
" Sungguh romantis.."Rachel memberikan kecupan hangat di bibir suaminya dengan sangat mesra.