
▪Apartement Marinna
"Aku akan menjemputmu besok pagi, kita berangkat bersama."Ujar Sawn di depan pintu masuk.
"Baiklah,, "Rachel mulai tersenyum.
"Senyuman yang nakal, apa kau mulai menggodaku?."Sawn menarik tangan Rachel.
"Tidak.. aku tidak menggodamu.."
"Baiklah kalau kau tidak mau mengakuinya, ingat jangan berani-berani untuk tersenyum seperti itu pada lelaki lain."
"Iya.. aku tidak akan tersenyum sedikitpun. Bahkan pada tuan Liu sekalipun."
"Dasar...."Sawn memencet hidung mancung Rachel.
"Masuklah, aku pulang."Sawn mencium lembut pipi Rachel, baru pertama kalinya Sawn melakukan hal itu padanya.
-----------------------------------
▪Jam 11.30 PM
"Kring... kring..."Ponsel Rachel berdering.
Rachel terbangun dari tidurnya, mengambil ponsel dan melihat nama pemanggilnya.
"Nomor tak dikenal.. Siapa malam-malam meneleponku.. "
Rachel tak memperdulikan panggilan itu, dia melanjutkan tidurnya. Tapi rupanya ponselnya kembali berdering, merejectnya berulang kali tapi tetap berdering lagi.
"Hallo.. Kenapa malam-malam mengganggu orang sedang istirahat."Rachel mulai kesal.
"Rachel...."Suara lelaki itu...
"Rachel keluarlah... Aku ingin bicara. "
"Luccas."Rachel masih mengenal suara Luccas.
"Ada apa lagi. Urusan kita sudah selesai."
"Aku ingin bicara sebentar. Aku menunggumu di depan pintu masuk lobi,,"
"Tidak aku tidak mau, aku tidak akan keluar, pergilah!"
"Pilihlah, aku yang akan masuk atau kamu yang keluar. Aku akan masuk dan membuat kegaduhan di dalam."Bentak Luccas.
"Kau sakittt....."Rachel memutuskan sambungan teleponnya. Dia berpikir untuk keluar dari pada membuat kegaduhan pasti penghuni yang lain akan merasa terganggu.
Rachel melangkahkan kakinya menuju depan pintu keluar lobi apartement Marinna. Nampak seorang lelaki menunggu di depan mobil yang sedang terparkir. Rachel ragu untuk melanjutkan langkahnya, dia takut Luccas akan melakukan tindakan yang melukai dirinya. Rachel melihat ada 2 orang petugas sedang berjaga di lobi apartementnya, pikirnya Luccas tidak akan berbuat macam-macam.
"Ada apa kamu menggangguku lagi?."Tanya Rachel dengan sinis.
Luccas mulai mendekat dan mencoba untuk meraih tangan wanita di depannya.
"Jangan sentuh aku."Rachel menepiskan tangannya.
"Kenapa kamu sekarang begitu galak?."Gelak tawa Luccas membuat Rachel semakin takut.
"Rachel, dari dulu waktu kita masih bersama aku tak pernah berbuat macam-macam padamu, karena kamu tak pernah menginginkannya. Aku terjebak dengan perselingkuhanku. Dia hamil, dia mengancamku untuk memberitahukannya pada semua orang kalau aku tidak bertanggung jawab, yang ada dipikiranku saat itu adalah nama baik keluargaku. Itu sebabnya aku mengakhiri hubungan kita. "
"Maaf aku sudah tidak tertarik lagi dengan masa lalu, apapun alasannya kamu tetaplah lelaki bejat.!"
"Maafkan aku Rachel, aku juga tak berniat untuk menghinamu waktu itu. Aku tertekan."
"Terlambat.....!"Rachel bergegas melangkahkan kakinya dengan cepat masuk ke dalam apartementnya, meninggalkan Luccas yang terpuruk.
Rachel mengatur nafasnya perlahan...
__ADS_1
"Glek.. glek...."Segelas air minum telah dihabiskannya. Rachel masih tak percaya Luccas nekat untuk mengusiknya kembali. Dia merasa iba melihat keadaannya yang sekarang tapi pikiran itu segera ditepisnya. Baginya Luccas adalah masa lalunya yang kelam, sekarang hanya Sawn yang berhak atas masa depannya.
----------------------------------
Keesokan harinya...
▪Perusahaan Moon
"Dari tadi selama di jalan kamu diam terus, kenapa?."Sawn memandangi wajah syahdu Rachel.
"Tidak ada apa-apa... Cuma perasaanmu saja."
"Benarkah? Apa istirahatmu cukup?."
"Semalam...."Rachel memegang tangan Sawn...
"Semalam Luccas menemuiku.. Dia minta maaf."
Sawn terdiam.
"Kalian bertemu dimana?."
"Dia datang ke apartement, nunggu di depan lobi. Tapi hanya itu saja, tak ada yang lain."
"Lebih baik kamu berkemas dan pindah dari sana!."
"Pindah kemana?."
"Tinggal denganku."
"Tapi Sawn.. "
"Kamu tidak boleh menolak, kamu sekarang calon istriku. Aku tidak mau kamu sembarangan bertemu dengan lelaki lain di belakangku."Sawn mulai sedikit kesal.
"Tapi aku tidak ada maksud lain bertemu dengannya, dari pada dia ribut di apartement ya lebih baik aku menemuinya."Rachel menyanggah.
Rachel merasa bingung dengan situasi yang tengah dihadapinya, watak Sawn yang keras tak memungkinkannya untuk menolak. Dibalik wataknya yang keras, Sawn sangat perhatian dan lembut. Dia tidak akan segan menunjukan rasa cinta dan kasih sayangnya untuk wanita yang dia cintai.
"Ini sudah jam makan siang, dia malah belum kembali."Rachel menggerutu dalam hati.
Rachel memutuskan pergi sendiri untuk istirahat makan siang. Dia pergi ke Caffee dekat kantor, hanya berjarak 50 meter berjalan kaki. Ketika sedikit lagi akan sampai di Caffee, Rachel melihat Sawn dan Vivian sedang berbincang-bincang di Caffee yang sama, terlihat dengan jelas di balik kaca Caffre yang sekeliling tempatnya dari kaca transparan.
"Ternyata dia dengan Vivian, lama menunggunya tapi dia malah asyik mengobrol di sana."Rachel mendengus kesal.
"Tiiiiiinnn......."Suara klakson mobil terdengar jelas di telinga Rachel.
Terlihat Axcel dari balik kaca jendela mobil itu.
"Axcel....!"Seru Rachel.
"Heiii...."Axcel dengan senyumannya yang khas.
"Masuklah...!."
Rachel dengan cepat masuk ke mobil Axcel.
Mobil melaju dengan kencang membawa Rachel ke sebuah restoran chines.
"Ayo turun, kita makan siang dulu. Aku tahu tadi kamu mau makan siang kan..."
"Kamu memang selalu tahu.... Ayoo..."
Mereka memesan beberapa makanan dan juga hidangan penutup.
"Aku tidak melihatmu beberapa hari ini. Apa kamu sibuk?."Dengan lahap Rachel menyantap makanannya.
"Aku memang baru kembali dari luar, ada keperluan mendesak. Rencananya aku dan Sawn akan membicarakan bisnis kami. "
__ADS_1
"Aku dengar cerita kalian dari Liu. Tak disangka ya..."
"Oh soal perjodohan itu..."
"Ya... "Axcel mengangguk.
Rachel hanya tersenyum..
"Bip....Bip...."Suara pesan masuk di ponselnya Rachel.
"Kamu dimana?."Pesan dari Sawn.
Rachel diam sejenak dan menjawab pesannya.
"Aku sedang makan siang dengan Axcel."
Sawn tidak membalas pesan dari Rachel. Rachel tidak peduli Sawn marah padanya atau tidak, yang jelas Rachel kecewa melihat Sawn dengan Vivian bersama.
"Sawn?."Tanya Axcel, melihat perubahan rona di wajah Rachel.
"Iya.. Sawn."
"Marah?."
Rachel mengangkat bahunya.
"Kita akan terus kemana?."Tanya Axcel ketika mereka telah selesai makan siang.
"Aku akan kembali ke kantor, masih banyak pekerjaan yang harus selesai hari ini."
"Kamu ini... kalau aku jadi Sawn, aku akan melarangmu bekerja."Axcel tersenyum manis ke arah Rachel.
"Aku mengantarmu di sini saja ya... mungkin besok aku menemui Sawn."Axcel mengantarkan Rachel di depan tempat semula dia bertemu Axcel.
"Iya.. disini saja. Aku tidak mau kalian salah paham nanti."
"Bye...."Rachel melembaikan tangannya ke arah Axcel.
Seperti biasa ketika Rachel melewati kerumunan karyawan yang lain, mulai samar-samar terdengar kabar-kabar miring tentang dirinya.
"*Tuh sudah di antar sama tuan Axcel. Bagaimana bisa ya.. Presdir dan tuan Axcel kan bersahabat.."
"Bisa-bisanya ya.."
"Aku tadi liat presdir dengan nona Vivian loh di caffe sebelah*.."
Hati Rachel mulai kesal dengan semua orang yang membicarakan dirinya. Dia diam termangu di meja kerjanya. Sawn melihat Rachel yang sudah datang, mengetuk kaca jendela kekasihnya itu.. mengisyarat untuk masuk ke ruangan menemuinya. Dengan wajah kesal dia menemui Sawn.
"Ada apa denganmu,,? Harusnya aku yang menunjukan wajah seperti itu."Sawn merasa aneh melihat wajah cemberut Rachel.
"Aku mulai tidak nyaman, orang-orang di kantor ini membicarakanku.. Bergosip punya hubungan dengan presdir mereka dan juga Axcel."
"Mereka benar tidak ada yang salah."Sawn membenarkan orang-orang yang membicarakannya.
"Kamu membela mereka?."Rachel meninggikan suaranya.
"Aku bukan membela, tapi seharusnya kamu bisa menjaga jarak dengan laki-laki lain, termasuk Axcel. Pantas mereka membicarakanmu, kamu dekat denganku dan juga dengan Axcel."Sawn menyentuh dagu Rachel.
"Mereka juga membicarakanmu dengan Vivian.. Apa itu juga salahku?."
Sawn tersenyum kecil.
"Kamu sudah salah paham padaku. Aku tahu kamu butuh status dari orang-orang, tadi aku bertemu dengan Vivian untuk memberitahukan tentang kita."
"Vivian tidak akan semudah itu menerima."Rachel menatap Sawn..
"Aku tahu.... memang tidak mudah."
__ADS_1