
"Selama itu bisa membuatmu tenang aku tidak keberatan."Axcel mengusap air mata Rachel yang membasahi pipinya.
"Seandainya kamu bukan milik Sawn, aku pasti sudah merebutmu."Axcel tidak bisa menyembunyikan perasaannya terhadap Rachel.
Axcel membiarkan Rachel terus menangis setidaknya itu bisa membuat hatinya sedikit lebih tenang. Mereka berdua tinggal di sebuah Villa di pulau kecil itu. Pulau Mutiara, pulau kecil namun sangat indah dan eksotis. Banyak wisatawan asing yang datang untuk menikmati indahnya tempat itu. Jauh dari pusat kota namun segala sesuatunya sudah tersedia di sana, mulai dari restoran, pasar tradisional, pasar ikan dan dari namanya mutiara, di sana terkenal dengan penghasil mutiara yang indah. Banyak kerang mutiara yang di budidayakan dan dijadikan sumber mata pencaharian bagi warga sekitar.
Sudah hampir 2 jam Rachel tertidur di sofa mini Villa itu, posisi tubuh yang meringkuk dan tangan menopang kepalanya. Axcel tak tega hati untuk membangunkan Rachel. Dia terlihat sangat nyenyak sekali.
Suara petir terdengar sangat keras sekali, sehingga Rachel terbangun dengan sendirinya.
Tercium aroma masakan dari dapur, terlihat Axcel sedang sibuk memasak. Beberapa makanan sudah tersaji terlihat sangat enak sekali.
"Axcel, kamu yang membuat ini semua?."Rachel seolah tidak percaya Axcel sedang membuat makanan.
"Aku spesial membuat ini semua untukmu. Kamu pasti sangat lapar sekali kan?."
"Mmmm... ini sepertinya enak sekali. Aku akan makan banyak."Rachel duduk menanti makanan untuk cepat dihidangkan.
"Ini sudah selesai.. Mari kita makan."
Rachel terlihat sangat lahap memakan makanan di hadapannya. Axcel sangat senang melihat Rachel seperti itu.
Selesai menyantap makan malam, mereka berdua berbicara di halaman Villa itu, dengan diiringi oleh gemericik hujan.
"Sudah sedikit membaikah?."
"Ya.. lumayan. Perasaanku sudah sedikit membaik."Rachel menatap penuh air hujan yang membasahi bumi.
"Aku ingin.. Bisakah kau ceritakan apa yang terjadi?."
Rachel menganggukan kepalanya.
"Kejadiannya berawal ketika Aku melihat Lusy keluar dari ruang pribadi Sawn di kantornya. Terlihat wanita itu seperti sudah tidur dengan Sawn, ditambah lagi banyak yang bergosip kalau Sawn dan Lusy sudah beberapa kali berdua di kantornya."
"Lusy? Siapa Lusy?."
" Dia staff baru, dari divisi perencanaan."
Axcel tertawa.. Seperti menertawakan sesuatu yang salah pada Rachel.
"Apakah kamu tidak merasa ini sebuah konspirasi?."
"Konspirasi apa maksudnya?."Rachel tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Axcel.
"Lusy staff baru itu, kenapa bisa dengan mudah masuk ke kantor Sawn? Terus Sawn sendiri ketika kamu memergoki mereka, apa yang di lakukannya?."Axcel mencoba menemukan titik terang.
"Aku juga tidak yakin kenapa Lusy bisa masuk ke kantor Sawn. Baru terpikir ... Sawn tidak bereaksi apa-apa dia seperti sedang tertidur pulas."Rachel tiba-tiba sadar seperti ada yang aneh dengan Sawn.
"Nah itu yang harus dicurigai..."Axcel menyeruput kopi panasnya.
"Terus dari mana orang-orang di perusahaan bisa tahu kalau Lusy dan Sawn berduaan. Kamu bilang Lusy itu staff baru kan?."
Rachel tertegun dengan apa yang dibicarakan Axcel.
"Axcel, sepertinya aku sudah salah.. Kenapa aku tidak bertanya terlebih dahulu pada Sawn..."Rachel seperti menyesali apa yang sudah diperbuatnya.
"Aku yakin itu semua hanyalah konspirasi yang dilakukan untuk mempersulit hubungamu dengan Sawn. Aku tahu Sawn orang seperti apa. Dia tidak akan pernah berbuat demikian. Kamu tahu Sawn lebih dingin dari pada gunung es."
Malam itu Rachel benar-benar sangat menyesali dirinya sendiri. Hanya termenung dan menangis.
-------------------------------------
__ADS_1
▪ Perusahaan Moon
Di Waktu yang sama
"Apa kamu akan menjemput Rachel ke pulau mutiara?."Assisten Liu dengan setia menemani Sawn yang masih bertahan di kantornya.
"Aku tidak akan menjemputnya kembali. Apa yang dia lakukan membuatku marah."
"Apa karena Axcel?."
"Aku tidak marah pada Axcel, aku kecewa dengan apa yang dilakukan Rachel. Kenapa dia lebih mencari Axcel dari pada meminta penjelasanku."Masih terlihat amarah pada dirinya.
"Kring...Kring..."Terlihat nama Axcel memanggil di ponsel Sawn.
Sawn membiarkannya sebentar dan menjawabnya.
"Sawn, kau pasti tahu kalau Rachel bersamaku. Apa kamu berencana untuk menjemputnya?."
"Aku tidak peduli. Terserah dia mau berada dimana. Bukan urusanku."Sawn menutup sambungan teleponnya.
Axcel termenung mengira Sawn pasti sudah salah paham padanya.
"Rachel, malam ini kita bermalam di sini. Kamu tidurlah di kamar. Biar aku yang tidur di sofa. Nanti besok kita akan pulang."
"Baiklah... Selamat malam Axcel."Rachel berjalan menuju kamar yang berada di pojok ruangan.
Sementara Sawn dia menghabiskan waktunya dengan bermalam di kantor bersama assisten Liu.
-------------------------------------
Pagi-pagi sekali Axcel berangkat untuk segera pulang, Karena jarak yang ditempuh untuk ke kota lumayan memakan waktu yang lama. Sekitar 2 jam perjalanan.
Rachel memutuskan untuk langsung berangkat ke kantor, sementara koper yang di bawanya di antarkan oleh Axcel sepulangnya nanti Rachel dari kantor.
Menggebrak mejanya dan sedikit mengancamnya.
"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi kenapa kalian kemarin membuat gosip tentang presdir dan Lusy. Katakan yang sebenarnya atau kalau tidak aku akan menyuruh presdir untuk memecatmu."Ancam Rachel
"Maaf nona Rachel, tolong jangan pecat saya. Saya dan yang lainnya di beri imbalan oleh Lusy untuk membuat gosip itu."
Rachel lega sekaligus penyesalan kembali datang menghampirinya. Axcel kagum dengan Rachel yang keberaniannya sudah mulai muncul.
Setelah itu mereka berdua menuju ke kantor presdir. Tampak Sawn sudah mulai dengan beberapa pekerjaannya.
"Sawn, aku ingin bicara."Rachel memberanikan diri untuk mulai berbicara dengannya.
"Bicaralah."Sawn tetap terfokus pada pekerjaannya tanpa menoleh sedikitpun.
"Aku minta maaf dengan apa yang terjadi kemarin, tidak seharusnya aku pergi. Seharusnya aku meminta penjelasnmu kemarin."Raut wajah Rachel terlihat dengan penuh penyesalan.
"Sudah selesai?."
"Kamu marah?."
"Maaf aku tidak punya waktu untuk membahasnya."Sawn meninggalkan Rachel seorang diri di ruangan itu.
Rachel terkulai lemas terduduk di sofa.
Axcel memutuskan untuk pulang terlebih dahulu dari tadi, karena dia masih harus menyelesaikan pekerjaannya.
Ternyata Sawn pergi untuk menemui Vivian di rumahnya.
__ADS_1
"Sawn.. apa aku tidak salah melihatmu datang kemari. Aku tahu kamu akan merindukanku.."Vivian mencoba sedikit menggoda Sawn dengan melingkarkan tangannya di pundak lelaki itu.
"Singkirkan tanganmu."Sawn tetap menunjukan sikap dinginnya.
"Aku akan langsung bicara pada topiknya. Apa yang kamu rencanakan?."Selidik Sawn.
"Maksudmu.. Rencana apa?."
"Kamu berusaha untuk menjebakku?."
"Sawn, aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu."
"Kamu mengirim seorang wanita untuk bekerja di tempatku dan menjebakku..."Sawn mengamati gestur tubuh Vivian.
Sawn tahu ketika Vivian sedang berbohong atau tidak. Tampaknya memang Vivin jujur dengan apa yang dikatakannya. Setelah mendengar pengakuan Vivian, Sawn pergi meninggalkan tempat itu tanpa sepatah katapun.
"Oh siapa yang berada dipihakku.. Aku akan sangat berterimakasih sekali padanya."Vivian bergumam dalam hati.
--------------------------------------
Sudah hampir lima hari Sawn mogok bicara pada Rachel. Bahkan di Villa kediaman Sawn pun Rachel masih didiamkan. Sawn lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang baca tak kala berada di Villa. Bekerja di kantor pun seolah menganggap Rachel tidak ada.
Rachel tidak patah arang dengan perlakuan Sawn padanya. Hingga pada malam hari itu, Rachel memberanikan diri untuk berbicara pada Sawn agar perselisihan diantara mereka cepat selesai.
▪Ruang Baca jam 8.09 PM
"Ceklek..."Rachel membuka gagang pintu ruang baca itu.
Sawn menoleh.. melihat siapa yang datang.
Rachel berjalan ke arahnya tapi Sawn segera bergegas melengos dari hadapan Rachel, Rachel dengan refleks menarik tangan Sawn agar tetap diam tidak beranjak. Sawn menunjukan wajah tak senangnya.
"Apa kamu sudah tidak perduli denganku?."Rachel menatap tajam wajah Sawn.
"Aku tidak peduli denganmu, jadi biarkan aku pergi."
"Sawn, kenapa kamu berubah.. Padahal aku sudah minta maaf padamu."Rachel memohon dengan penuh iba.
"Padahal? kamu bilang padahal? Kamu sudah tidak mempercayaiku lagi, kamu dengan mudah pergi meninggalkanku.. kamu pergi dengan Axcel, bahkan sampai bermalam berdua. Aku rasa ini cukup untuk kita untuk tidak bersama..."
"Maksudmu? Kita selesai? Sawn kita sudah bertunangan...."Teriak Rachel.
"Aku tidak peduli."
tiap kata yang keluar dari mulut Sawn bagaikan bola api yang menghantam dirinya.
Rachel berjalan mundur dan berbalik lalu berlari, mengemudikan lambo putihnya menyusuri jalanan.
Sawn yang sadar bahwa Rachel mengemudikan lambonya dengan sangat ngebut takut terjadi apa-apa pada dirinya, tersadar lalu dengan cepat pula Sawn mengejar Rachel menggunakan mobilnya melaju melesat sampai lambo putih itu terlihat bagian belakangnya semakin dekat.. Tapi tiba-tiba terdengar bunyi.
"Ssrttttttt...... Praaakkk... Booommm."
Lambo putih itu terseret beberapa meter, ternyata dari perempatan arah kanan jalan lambo putih itu dihantam habis mobil truk besar.
Alangkah terkejutnya Sawn melihat kejadian itu di depan matanya. Mobilnya melaju mendekat ke arah lambo yang penyok bagian kanannya dan mengalami kerusakan yang cukup parah.
Menghentikan mobilnya, lalu dengan segera menolong Rachel yang terjebak di dalamnya. Tubuhnya gemetar tak kala melihat Rachel tidak sadarkan diri dengan penuh darah dari kepala dan hidungnya. Bau darah segar tercium.
Sesegera mungkin Sawn mengangkat tubuh Rachel di sebelah kiri kemudi. Membawanya ke dalam mobil yang dia bawa, meletakannya di kursi belakang mobil. Dengan segera membawa Rachel ke rumah sakit terdekat untuk di beri pertolongan pertama.
__ADS_1
*Bersambung*.....