
Keesokan harinya Bibi Marry sibuk membantu kegiatan masak memasak di dapur bersama Bibi An. Selain memasak Bibi Marry berniat membuatkan ramuan minuman yang dipercaya untuk membantu Rachel supaya cepat hamil.
" Rachel, bibi mau membuatkan ramuan berkhasiat untukmu. Apa kamu tidak keberatan?."
" Ramuan berkhasiat apa bi?." Rachel begitu antusias menunggui bibi Marry di dapur.
" Maaf sebelumnya.. Ramuan untuk membuatmu agar cepat hamil. Apa kamu mau?."
" Benarkah.. Kenapa harus bertanya dulu bi, bibi buatkan saja aku akan meminumnya."
" Oh baiklah kalau begitu, bibi akan membuatnya. Kamu duduk saja."
" Dengan senang hati Rachel aku akan membuatkannya untukmu bahkan setiap haripun aku sanggup sampai kamu tidak bisa punya anak selamanya."
-------------------------------------
" Sawn, bibi membuatkan aku ramuan berkhasiat.."
"Ramuan apa?."
__ADS_1
" Ramuan agar aku bisa cepat hamil.. Ya kan bi?."
"Iya Sawn, dulu waktu Jeny belum punya anak bibi yang buatkan ramuannya. Ternyata berhasil." Bibi Marry tersenyum sumringah penuh dengan kepura-puraan.
"Oh ya bagaimana kabarnya Jeny?."
" Jeny... Jeny entah dimana dia sekarang?."
Wajah palsunya selalu dibuat-buat hanya untuk menarik perhatian Sawn.
" Kenapa dengan Jeny?." Sawn penasaran apa yang terjadi pada wanita yang pernah mengejar-ngejarnya dahulu.
" Jeny sudah berpisah dengan suaminya dan dia membawa anaknya, bibi terus memikirkannya Sawn. Ponselnya tidak bisa dihubungi, bibi jadi susah mencari tahu dimana keberadaannya."
Senyum licik bibi Marry menyungging samar, rencananya berhasil. Sawn mulai masuk ke dalam perangkap buayanya.
" Makasih Sawn, bibi akan memberitahunya ketika ponselnya aktif."
Sawn mengangguk pelan, kemudian ia menikmati kembali sarapan paginya.
__ADS_1
Sawn sudah bersiap untuk segera berangkat bekerja, sementara Rachel sudah tidak bekerja lagi sejak lama. Sebenarnya ia merindukan sekali hari-hari yang dilaluinya bersama Sawn di perusahaan. Sudah beberapa kali Rachel meminta pada Sawn untuk kembali ke perusahaan. Tapi selalu dan selalu Sawn menolaknya dengan keras.
*****
" Jeny, bersiaplah.. Kamu bawa Sally bersamamu. Ibu akan menyambutmu dengan senang hati."
Bunyi pesan Bibi Marry pada anaknya Jeny. Ambisi Bibi Marry dan Jeny untuk masuk dan menguasai harta kekayaan keluarga Moon menampakan hasil lumayan. Bahkan Bibi Marry dengan sangat mudah tinggal lebih dulu di kediaman Sawn. Ia menjadi dalang utama supaya Jeny bisa mendekati Sawn.
Cinta lama yang tak bertepi membuat Jeny terus berusaha dan menghalalkan segala cara mendekati Sawn. Entah sekarang ia menggunakan cara apa lagi, bukan Jeny namanya kalau tidak punya seribu akal. Jeny akan terus mendekati Sawn sampai jadi miliknya.
" Tentu ibu, aku akan segera membawa Sally sebagai pionku.." Balas Jeny
Jeny janda beranak satu, ia adalah saudara jauh ibunya Sawn, Nyonya Park. Sejarah Nyonya Park dan Bibi Marry sebenarnya kurang begitu baik. Nyonya Park tahu betul sifat kedua ibu dan anak itu. Makanya saat Nyonya Park tahu bahwa Bibi Marry tinggal di kediaman Sawn, ia sangat marah. Seperti cenayang, Nyonya Park tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada keluarga anaknya.
*****
" Bibi An.. Tolong awasi Marry! Jangan sampai kamu lengah. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada hubungan anakku."
" Baik Nyonya.. Saya akan mengawasinya. Anda tidak perlu khawatir."
__ADS_1
" Baik, aku percaya padamu.. Aku pergi dulu Bibi An." Nyonya Park memakai kembali kaca mata hitamnya, ia menyuruh sopir pribadinya untuk pergi dari seberang jalan kediaman anaknya.
Nyonya Park sengaja datang kesana hanya untuk memastikan tidak ada yang dilakukan Bibi Marry. Ia meminta Bibi An untuk menemuinya di seberang jalan dekat kediaman Sawn. Seolah tidak ingin terendus kedatangannya oleh Bibi Marry.