
"Apa rencanamu Sawn?."
Sawn masih terdiam memikirkan suatu rencana yang akan dia lakukan.
"Tidak.. aku tidak bisa melakukannya. Aku akan memberikan presdir Dong pelajaran."
"Aku bisa menjalin kerjasama dengan grup G dengan tidak mudah, aku dengan susah payah membangun usahaku tanpa bayang-bayang ayahku. Sekarang malah ada orang yang memandangku dengan picik."
"Liu, selidiki gerak-gerik presdir Dong. Jangan sampai dia berbuat hal di luar dugaan kita!."
"Baiklah aku akan mulai dengan mengcancle semua kerja sama kita."
Sawn menyetujui langkah pertama yang di ambil assisten Liu.
------------------------------------
"Rachel, pilihlah pakaian yang kamu mau...!."Sawn dan Rachel tiba di sebuah tempat perbelanjaan elite di kota itu.
"Aku akan pilih beberapa saja.."
"Pilihlah yang banyak, pakaianmu belum di bawa semua di apartement."
"Aku lupa.. bisakah nanti aku mengambilnya?."
"Nanti saja, sekarang kamu beli yang baru."
Rachel memilih beberapa pakaian untuk di kenakannya sehari-hari dan beberapa pakaian untuknya bekerja.
"Pilihlah yang tidak terlihat terbuka!."
Rachel menengok ke arah Sawn.
"Kamu suka yang tidak terlalu terbuka? Bukankah lelaki biasanya suka pada wanita yang berpakaian sexy?."
"Aku tidak suka wanitaku dipandang oleh lelaki lain karena berpakaian sexy,, ."Jawaban Sawn pertanda dia tak menginginkan Rachel berpakaian sexy terbuka.
Selesai berkeliling untuk membeli pakaian, Rachel meminta Sawn untuk mengantarnya ke tempat Spa.
"Aku akan mengantarmu ke tempat Spa yang bagus."
"Apa kamu juga mau?."Tawar Rachel.
"Kamu mau wanita di tempat itu melihat tubuhku?."
"Aahh... sebaiknya kamu tunggu saja. Aku tidak mau ada orang lain yang melihat dan menyentuhmu."Rachel menarik tangan Sawn dan menggandengnya.
"Daftarlah aku akan menunggu di sini."
"Tapi ini akan lama.. apakah kamu mau menunggu selama itu?."
"Tidak masalah, aku akan menunggumu."
2 jam berlalu...
Rachel keluar dari ruangan Spa, terlihat wajahnya lebih segar dan badannya terasa lebih rilex dibandingkan sebelumnya.
"Sawn, kamu terlihat sangat lelah. Apa karena terlalu lama menungguku barusan?."Rachel mencemaskan Sawn yang terlihat sedikit tidak segar.
"Aku hanya cape saja. Makanya tadi aku berbaring di kantor juga. Terlalu banyak yang dipikirkan."Jawab Sawn.
"Kalau begitu kita langsung pulang ya.. Kamu bisa langsung istirahat."
Mobil bergerak dan melaju dengan kecepatan sedang ke arah Villa.
Sawn selesai membersihkan dirinya dan berganti pakaian, berbaring di tempat tidurnya dan bersiap untuk istirahat.
Rachel menengok ke kamar Sawn. Lalu pergi setelah melihatnya tertidur.
-----------------------------------
"*Kabarnya presdir sekarang dekat dengan staff baru itu ya.. dari bagian mana dia?."
"Itu yang berkacamata dari bagian perencanaan."
"Katanya staff baru itu sering dipanggil kalau nona Rachel sedang tugas luar dengan tuan Liu."
__ADS_1
"Berarti sengaja dong presdir menyuruh nona Rachel tugas luar biar bisa berduaan*."
Rachel sangat terusik mendengar staff wanita berkumpul saat jam makan siang untuk membicarakan dirinya.
Rachel dan assisten Liu memang sudah 3 hari ini tugas luar kantor, karena Sawn akhir-akhir ini terlihat tidak cukup baik. Untuk itu Sawn mengutus Rachel dan assisten Liu sebagai perwakilannya.
Hatinya penuh amarah dan keraguan dengan gosip-gosip itu.
Sepulangnya dari tugas luar, Rachel memang tidak langsung menemui Sawn. Dia pergi ke kantin kantor untuk memesan beberapa makanan untuk di makan olehnya bersama Sawn. Walaupun Sawn seorang presdir, tapi Sawn tidak berkeberatan dengan makanan yang dipilihkan Rachel untuknya bahkan dari kantin kantor sekalipun.
Dia lupa untuk membeli makanan dari luar ketika perjalanan pulang tugas luar, karena assisten Liu tergesa-gesa untuk segera membuat laporannya.
"Kenapa hatiku ragu .. Sawn tidak mungkin seperti itu, lagi pula kenapa Lusy bisa masuk keruangan presdir. Sani yang tahu.. Sani pasti tahu..."Batin Rachel dalam hati.
Segera dia menuju tempat Sani.
"Kemana Sani? Oh aku lupa ini kan jam makan siang. Aku akan menanyainya nanti."Ucap Rachel pada dirinya sendiri.
Ketika dia berjalan menuju ruang presdir alangkah terkejutnya dia melihat Lusy keluar dari ruang pribadi tempat presdir beristirahat, Kantor presdir memang terdapat fasilitas pribadi untuk beristirahat. Sebuah ruangan yag tidak terlalu besar tapi memuat satu ranjang besar dan juga lemari pakaian. Biasanya digunakan kalau presdir menginap di kantor.
Lusy keluar menutup pintu ruangan itu, sebelum benar-benar tertutup tampak Sawn sedang berbaring dengan keadaan beberapa kancing kemejanya terbuka.
Lusy seolah-olah terkejut dengan kedatangan Rachel yang memergokinya dalam keadaan berantakan. Pakaian yang dikenakan Lusy sedikit lecek, kancing yang terbuka setengahnya memperlihatkan pakaian dalamnya terlihat serta rambutnya juga berantakan.
"Kau.. apa yang kau lakukan di dalam?."Bentak Rachel.
"Nona maafkan aku..Aku tidak bermaksud melakukannya."Lusy bersimpuh di kaki Rachel dengan berurai air mata.
"Apa maksudmu?."Suara Rachel semakin meninggi. Untunglah saat itu jam makan siang, sehingga staff yang lain sedang pergi untuk beristirahat.
"Tuan presdir.. memaksaku nona.. Aku tidak bisa menolaknya."Derai air mata Lusy semakin deras.
"Aku tak percaya apa yang kamu katakan. Sawn tidak mungkin seperti itu."
Rachel menyingkirkan Lusy dari kakinya, dia pergi ke ruangan dimana Sawn sedang terbaring. Sekilas tampak ruangan itu terlihat berantakan dengan keadaan sprei yang terkoyak seperti bekas pakai.
Assisten Liu yang mendengar tangisan juga teriakan dari kantor presdir segera beranjak untuk melihat apa yang terjadi.
Assisten Liu pun juga terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia mencoba menenangkan Rachel, tapi anehnya Sawn tidak juga terbangun dari tempatnya.
Rachel yang sudah termakan emosi dan cemburu buta tidak bisa lagi menahan dirinya. Dirinya pergi dari kantor presdir dengan keadaan sangat kacau. Makanan yang sudah di belinya di geletakan begitu saja di ruangan presdir. Assisten Liu tidak bisa menahan Rachel untuk pergi.
Lusy pun pergi dari kantor presdir dengan senyumannya yang licik.
Assisten Liu yang heran dengan keadaan Sawn, mencoba membangunkan Sawn berulang kali.
"Ada apa denganku.. kenapa kepalaku sakit sekali."Sawn terbangun dan melihat assisten Liu berada disampingnya.
"Sepertinya ada yang menjebakmu Sawn."Assisten Liu mengangkat gelas berisikan setengah cappucino yang masih tersisa.
"Menjebakku? Apa maksudmu?."
"Kamu tertidur cukup lama, sepertinya di gelas ini terdapat obat tidurnya. Rachel melihatmu dengan wanita itu."
"Rachel ? wanita siapa?."Sawn mulai tidak mengerti.
"Bagaimana kancing pakaianmu bisa terbuka?."Assisten Liu menunjuk pakaian Sawn.
Sawn terheran-heran dengan beberapa kancing pakaian yang terbuka.
"Rachel sudah salah paham. Lusy staff baru itu dia menjebakmu, seolah-olah kalian sudah tidur bersama."
Sawn terperanjat seolah tidak percaya dengan apa yang disampaikan assisten Liu.
"Sejak kapan Rachel pergi?."
"Sekitar satu setengah jam yang lalu."
Sawn pun segera merapikan dirinya.
"Urus wanita itu. Aku akan mencari Rachel."
Sawn bergegas pergi dengan mengendari mobilnya sendiri, mobil mewah itu melaju sangat cepat..
"Tin...tin..."Klakson mobil yang menandakan mobil lain untuk menyingkir memberinya jalan.
__ADS_1
▪Villa Kediaman Sawn
Sawn menerobos masuk dengan kasar
"Tuan ada apa?."Bibi An sedikit ketakutan melihat Sawn tidak biasanya.
"Dimana Rachel, apa dia pulang?."
"Nona muda 30 menit yang lalu sudah keluar lagi, berkemas dan membawa koper pergi."Bibi An sangat hati-hati berbicara.
Sawn tampak sangat kecewa mendengarnya. Rachel pergi tanpa mendengar penjelasannya.
Segera Sawn memacu mobilnya kembali bergerak menuju apartement Marinna.
Tapi nihil.. Rachel pun tidak ditemuinya di sana.
Sawn menghubungi ponsel Liu.
"Liu, cepat cari tahu dimana Rachel berada!!."Secepat kilat Sawn menutup sambungan teleponnya.
Terdiam beberapa saat di parkiran apartement Marinna.
Dia sudah bisa mengontrol diri dan pikirannya. Memutar balik mobilnya kembali ke perusahaan Moon.
"Sani... Masuk ke ruanganku!."Perintah Sawn ketika melewati Sani sewaktu akan masuk ke ruangannya.
Sani pun segera masuk ke ruangan presdir dan duduk di hadapannya.
"Kamu tahu staff baru yang bernama Lusy?."
"Hanya sekilas saja tuan, dia selalu menyuruhku untuk mengantarkan minuman untuk anda. Katanya di suruh nona Rachel. Kebetulan nona Rachel sedang tugas luar bersama tuan Liu."
"Jadi wanita itu yang membuatkan minumannya?."
"Iya tuan, maafkan saya tidak teliti."
"Baiklah kamu boleh keluar. Redam semua isu yang beredar di kantor.!."
Lusy yang sementara di tahan di ruangan assisten Liu mengirim sebuah pesan pada seseorang.
"Nona, rencana kita sudah berhasil. Aku sudah membuat mereka dalam perang besar."Bunyi pesan yang kemudian di hapus secepatnya untuk menghilangkan jejak.
Sawn beranjak dari tempatnya menuju ke ruangan assisten Liu yang bersebrangan dengan ruang presdir.
"Siapa yang menyuruhmu?."Tanya Sawn dengan kasar.
"Ti.. tidak ada yang menyuruhku tuan." Sanggah Lusy.
"Benarkah? Lalu apa motifmu yang sebenarnya?."
"Tidak ada tuan, aku hanya menyukaimu, aku ingin mendapatkanmu."
"Menjijikan....!!."Sawn menggebrak meja di depannya.
"Kamu tidak terlihat polos,, Jangan harap kamu bisa lepas dariku."
"Liu.. singkirkan wanita itu kalau tidak aku akan menyakitinya.!"Perintah Sawn, dengan kasar lalu membanting pintu ruangan assisten Liu.
Assisten Liu mendatangi ruangan Sawn untuk memberitahukan keberadaan Rachel.
"Sawn... Rachel sedang bersama Axcel di Pulau Mutiara."
Sawn mengepal tangannya, tak habis pikir kenapa Rachel sampai pergi dengan Axcel.
"Kamu jangan khawatir, aku yakin Axcel tidak akan melakukan apapun pada Rachel."Assisten Liu mencoba menenangkan Sawn.
Tampak guratan kekecewaan di wajah Sawn. Rasa kecewa dan cemburu menjadi satu.
------------------------------------
▪ Pulau Mutiara
"Axcel, maafkan aku. Disaat aku sedih atau sedang kesal, aku selalu merepotkanmu. Aku tak tahu harus menghubungi siapa. Yang ada dipikiranku saat itu adalah kamu..."Isak tangis mewarnai wajah Rachel saat itu.
__ADS_1
*Bersambung*.....