My Presdir I Love You

My Presdir I Love You
Bimbang 1


__ADS_3

Pertemuan dengan perusahaan lain selesai tanpa menunggu lagi Sawn ingin segera melihat keadaan Rachel. Agenda yang padat tak memungkinkannya untuk pergi.


"Semua agenda penting hari ini."Batinnya.


Assisten Liu yang menangkap rona wajah Sawn seperti bingung memikirkan sesuatu, membuka-buka ponsel kemudian melihat lagi ke arah luar dimana mobil sedang melaju.


"Apa tentang Rachel?."Assisten Liu mencoba menebak, karena hanya Rachel yang bisa membuat seorang Sawn menjadi kebingungan, gelisah, bimbang, dan tersenyum.


"Ya kamu paling tahu aku."


"Oke aku akan mengatur ulang agendamu untuk hari ini. Pergi dan lihatlah Rachel, mungkin akan sedikit membuatmu tenang."


Sawn tersenyum kecil mendengar assisten Liu memudahkan keinginannya.


Setelah bersepakat Sawn terlebih dahulu di antarkan ke Rumah Sakit, sementara assisten Liu kembali ke kantor.


"Ruang perawatan VVIP No.46."Pesan masuk dari Axcel, Sawn mengabarinya kalau dia akan melihat keadaan Rachel.


Dengan langkah pasti segera menuju tempat yang dimaksud. Terlihat Axcel sedang berbicara dengan perawat yang memeriksa Rachel.


"Hanya kelelahan, terlalu banyak beban pikiran. Setelah 1 infusan habis boleh lansung pulang. Tidak usah rawat inap."Pesan dari perawat itu membuat Sawn lega.


Sawn dan Axcel menunggui Rachel yang tengah beristirahat. Mereka berdua mengobrol di kursi depan ruang perawatan.


"Sawn apa kau menyukainya?."


"Siapa?."


"Rachel...."


Sawn terdiam dengan pertanyaan Axcel, sejurus kemudian menjawabnya.


"Kalau iya... Bagaimana?"


Giliran Axcel yang terdiam...


"Mari kita bersaing..."Ajak Axcel.


Sawn menatap Axcel dalam-dalam..


"Aku tidak suka berebut atau bersaing, apalagi dengan sahabatku sendiri."Jawaban Sawn menohok.


"Baiklah tapi kalau dia jadi milikku, maka kamu jangan menyesal."


"Kau ingin memukulku telak?."Sawn tersenyum sinis.


"Tidak juga.. Kau harus memikirkan Vivian. Mau kamu apakan dia??"


Sawn menggelengkan kepalanya lalu berdiri, melihat Rachel dari kaca pintu ruang itu. Kemudian dia berpamitan pada Axcel untuk kembali ke kantor.

__ADS_1


"Kabari aku."


"Aku akan mengabarimu."


Langkah Sawn membawanya pergi dari tempat itu, sebenarnya dia ingin berlama-lama menemani dan membawanya pulang. Tapi Axcel selalu bergerak cepat mengalahkannya.. Hanya karena sebagai sahabatnya dia bergerak mundur.


Lubang jarum sedikit terlihat di tangan kiri Rachel, Kini dia sudah berada di apartementnya. Axcel sudah tidak terlihat di sana agar untuk Rachel bisa beristirahat dengan tenang.


-------------------------------------


Pagi yang jernih dengan mentari yang bersinar lembut membuat hati sejuk.. Sekonyong-konyong seperti memberikan sebuah harapan. Harapan bagi manusia yang berharap akan datangnya suatu kebahagiaan.


Hari yang tidak pernah terkira akan datangnya sesuatu, suatu kabar dari orang tuanya Rachel. Seseorang di utus untuk menyuruhnya kembali.


"Katakan pada ibuku, nanti aku pasti akan kembali tapi tidak sekarang."


Orang utusan itupun kembali dengan tangan hampa tanpa membawa putri dari keluarga De Jong itu pulang.


Rachel merasa bosan harus diam berlama-lama di apartementnya. Dia diperbolehkan mengambil cuti bekerja.. Ada desiran rindu di dada.


Melihat-lihat ponsel, melihat kontak Sawn untuk menghubunginya tapi niat itu di urungkannya. Sampai tiga kali dia melakukan hal yang sama menekan dan mengurungkannya kembali. Tapi...


"Kring.. Kring.."Ponselnya tiba-tiba berdering


Tertulis jelas nama pemanggilnya... SAWN


Rachel sontak saja terkejut kenapa Sawn tiba-tiba memanggilnya.


"Oh.. maaf itu tidak sengaja hanya salah tekan saja."


"Seperti itukah tidak ada yang lain?."


"Ya tidak ada yang lain... Sebenarnya aku hanya ingin tanya apa boleh aku kembali kerja besok?."Rachel salah tingkah seperti lelaki itu sedang berada di hadapannya.


"Sebaiknya kamu istirahat saja dulu sampai merasa sembuh total.."Ujar Sawn melarang dengan lembut.


"Sawn makanlah.. aku membawakanmu makan siang."Terdengar ada suara wanita sedang bersama Sawn.


"Tap..."Rachel tak meneruskan pembicaraannya, dia mendengar seseorang di sana. Lalu dia memutuskan sambungan teleponnya dengan Sawn.


Meneteslah air matanya ... Rasa cemburu yang menggerogoti jiwanya.


"Pantas saja dia melarangku untuk kembali bekerja. "Batinnya.


Sawn yang sedang bekerja di datangi oleh Vivian, dia membawakannya makanan untuk di makan bersama siang itu. Tapi rupanya Sawn kurang senang dengan kehadiran Vivian di kantornya. Sawn sudah menduga kalau Rachel menutup pembicaraannnya tak kala dia mendengar Vivian bersamanya.


"Sawn kamu kenapa? Dari awal aku pulang kamu terus bersikap dingin padaku?."


"Vivian, kamu sudah tahu kan jawabannya. Aku hanya bisa sebatas ini terhadapmu."

__ADS_1


"Tapi Sawn.. Aku mencintaimu. Sekeras apapun kamu menolakku. Aku tidak akan pernah berhenti."


"Apa kau mencintai orang lain?."


"Itu bukan urusanmu.. Sekarang pulanglah. Aku sibuk hari ini. "


Vivian pergi dengan sangat geram menaham amarahnya. Assisten Liu yang melihat Vivian pergi dengan wajah masam menduga bahwa mereka berdua telah bertengkar.


"Ada apa dengan Vivi?."


"Seperti biasa .. Aku tidak suka di tekan."


"Baiklah.. aku mengerti. Sawn besok malam adalah malam pemberian donasi. Dan kita akan pergi ke sana sebagai salah satu donatur. Kamu harus berpikir akan pergi ke sana dengan menggandeng siapa?."Tanya assisten Liu.


"Oke akan aku pikirkan.."Jawabnya singkat.


Sawn tertegun cukup lama. Dia berpikir untuk mengajak Vivian Ke acara pemberian donatur itu dengan terpaksa. Vivian sudah terbiasa dan bisa di andalkan bila ada masalah yang terjadi di keluarganya, terutama ibu Sawn.


Vivian juga salah satu putri dari rekanan bisnis Sawn.


"Apa kau yakin mengajak Vivian? Bukan Rachel?."Selidik assisten Liu.


"Aku tidak bisa membiarkan ada masalah yang terjadi pada Rachel kelak.. "


"Kau kan bisa mengajak Rachel dengan dalih dia adalah assistenmu.. "


"Aku sudah mempertimbangkan semuanya.."


"Sawn, aku akan mengajak Rachel pada malam pemberian don**asi."Pesan singkat yang dikirim Axcel. Sawn harus menelan pil pahitnya kembali karena Axcel sudah selangkah lebih maju dari dirinya.


------------------------------------


Axcel yang sudah memberi tahu Rachel untuk mengajaknya ke malam donasi, membawakan seorang designer khusus untuk mendandani Rachel di apartementnya.


"Padahal tidak usah seperti ini, ini merepotkan. Aku bisa pergi langsung untuk mencoba gaunnya. Kamu malah menyuruhnya secara langsung datang kemari."Rachel seakan tak percaya Axcel khusus mendatangkan designer dan stylis untuknya.


"Aku harus mendatangkannya langsung, kamu kan tidak boleh kemana-mana."Ucapnya lembut


Rachel merasa tersanjung dengan semua perlakuan Axcel. Berbeda dengan yang dilakukan Sawn padanya.


"Kamu sangat cantik sekali."Puji Axcel melihat Rachel begitu cantik dan mempesona di balut gaun merah membentuk tubuh indahnya, gaun tanpa lengan dan terbuka di bagian pundak sampai punggungnya. Begitu indah di pandang.


"Ini semua karenamu juga."


"Baiklah kita akan berangkat sekarang."Axcel yang tak kalah tampan bersanding dengan Rachel.


Sawn yang sudah berada di tempat acara yang diselenggarakan itu begitu terpukau dengan keanggunan diri Rachel. Hatinya begitu ingin memeluknya dan tak melepasnya. Tapi tak begitu dengan apa yang dirasakan Rachel sendiri, melihat Sawn bersanding dengan Vivian.


 

__ADS_1


*Bersambung*....


 


__ADS_2