
"Rachel, aku hanya akan mengantarmu saja, karena masih banyak hal yang harus aku urus. Setelah kau selesai, aku akan menyuruh pak An untuk mengantarmu kembali."
"Baiklah.. "Rachel segera turun dari mobil begitu assisten Liu telah sampai di kediaman Sawn.
"Bibi An, apa Sawn sedang sibuk?."Assisten Liu masuk di ikuti Rachel.
"Tuan muda seperti biasa sedang berada di ruang baca, silahkan..."Bibi An kemudian mempersilahkan Rachel untuk menunggu di ruang tamu. Ruang tamu yang terlihat begitu megah, dihiasi dengan aksen bergaya eropa.
"Aku sudah menemui Sawn, sebentar lagi dia akan turun. Bicaralah dengannya, siapa tahu suasana hatinya membaik. "Assisten Liu kemudian pamit untuk kembali menuntaskan pekerjaannya.
Terlihat Sawn turun dari lantai atas.. Melirik kemudian menghampiri Rachel, untuk pertama kalinya wanita itu datang menemui Sawn secara pribadi.
Duduk dengan menyilangkan kakinya, mereka berdua berhadapan yang terhalangi oleh meja besar terbuat dari marmer. Secangkir cappucino dan teh panas sudah tersaji.
"Bagaimana keadaanmu?."Rachel yang merasa canggung harus berhadapan dan berbicara dengan lelaki angkuh itu.
"Seperti yang kau lihat, aku baik."
"Syukurlah kalau begitu.. Aku kira kamu sakit."
"Apa yang membawamu kemari?."Selidik Sawn.
"Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu..."
"Tentang Axcel? Lupakanlah kalaupun kalian bersama aku tak masalah."
"kenapa Sawn berbicara seperti itu, apa itu tandanya dia memang tak benar-benar menyukaiku. Rachel.. kenapa kau bodoh sekali... Kapan Sawn bilang dia menyukaimu... "Rachel membatin dengan semua yang terjadi padanya.
"Aku tahu.. Kamu tidak pernah mengutarakan perasaanmu. Tapi setidaknya aku melihat isi hatimu dari matamu.. Walaupun kamu sering bersikap angkuh padaku, aku masih bisa merasakannya. Aku tahu antara kau dengan Vivian hanya ...."
"Cukup Rachel..."Sawn menyela pembicaraan Rachel.
"Kenapa.. apa aku salah?."Desak Rachel
Sawn berdiri dan menghampiri Rachel.. Menyentuh wajahnya... memgusapnya...
"Tidak ada yang salah... Apa yang kamu katakan semuanya benar.. Aku hanya ingin kau tidak terluka..."
"Katakan sejujurnya ada apa sebenarnya..?."Rachel memohon pada Sawn.
"Ibuku memaksaku untuk menikah dengan wanita pilihannya. Itu yang dia inginkan sejak dulu. Semua wanita yang dekat denganku tak ada satupun yang disukainya. Ibuku bukan perempuan biasa, dia melakukan segala cara untuk menjauhkanku dengan wanita-wanita itu."Sawn menghela nafas dan melanjutkan ceritanya.
"Sampai suatu hari, aku punya rencana untuk mengencani seorang gadis dari keluarga Lu, itu aku lakukan hanya agar ibuku berhenti untuk menyuruhku menikah. Tapi ibuku melakukan sesuatu yang tak bisa ku maafkan. Dia membuat usaha keluarga Lu jatuh dan gadis ditemukan bunuh diri."
"Sawn... "Rachel memegang pundak Sawn... Dia mencoba merasakan semua yang dirasakan lelaki itu.
"Sejak saat itu aku keluar dari rumah besar keluargaku.. Sampai sekarang. Aku hanya memgunjungi mereka sesekali."
"Tapi ibumu tidak melakukan apa-apa pada Vivian..."Rachel merasa heran.
"Ibuku tahu kalau Vivian hanya sebagai pion untukku. Itu sebabnya Rachel, aku tidak ingin ibuku tahu kalau aku mencintaimu.. dia bisa melakukan apapun untuk menyusahkanmu."Sawn mencoba memberikan pengertian pada wanita yang dicintainya itu.
"Aku masih belum mengerti kenapa ibumu sangat berambisi untuk menikahkanmu dengan wanita itu?."
"Mereka punya kepentingan masing-masing...aku tidak mau tahu siapa wanita itu, dari keluarga mana dia. Aku tidak tertarik. Jelaskan... apa yang aku maksud? Aku bukan tak ingin bersamamu, aku hanya ingin ibuku menyerah dengan sendirinya. Bersabarlah..."Sawn menarik kepala Rachel ke pelukannya dan mencium keningnya dengan lembut.
"Percayalah apa yang aku lakukan semata-mata hanya untukmu."
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Sore jam 4.50 PM Apartement Rachel
"Ting tong... ting tong...."Bel berbunyi Rachel segera beranjak dari tempat tidurnya untuk membuka pintu ketika dia baru saja tiba dari kediaman Sawn.. Rachel sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
"Ibu... kau...."Seketika tangis Rachel pecah tak kala melihat ibunya berdiri di depan pintu. Mereka bahkan sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu. Rachel memeluknya dengan sangat erat.. Rindu yang di rasakan akhirnya bisa terobati.
"Masuklah bu... mari duduk disini."
Ibunya terlihat cantik dengan senyuman yang selalu memancar pada dirinya. Rachel membuatkan secangkir teh manis panas dan menyajikan beberapa camilan di mejanya.
Ibunya melihat-lihat sekeliling tempat yang ditinggali oleh putrinya itu, berkelas.. setidaknya putrinya tidak mengalami kesusahan ketika dia jauh dari keluarganya.
"Ibu sangat merindukanmu nak..."Air mata mulai membasahi kedua sudut mata wanita itu.
"Maafkan aku bu, aku tidak langsung menemuimu ketika pulang ke sini. Bagaimana kabar ayah?."
Ibunya menunjukan ekspresi sedih yang mendalam..
"Itulah sebabnya ibu datang menemuimu langsung... Ayahmu sakit. Sakitnya semakin parah.. "Isak ibunya itu.
"Sakit...."Rachel terenyuh ketika mendengar ayahnya dalam keadaan tidak baik.
"Mungkin terlalu banyak yang menjadi beban pikirannya... "Imbuh ibunya.
"Lalu perusahaan siapa yang mengurus?."
"Kakakmu yang mengurus.. Dia kembali dari Jerman.."
"Anakku... ikutlah ibu pulang temui ayahmu. Dia sangat merindukanmu..."
"Tapi bu.... aku malu menginjakkan kakiku lagi di rumah itu, aku tahu.. aku salah dengan meninggalkan kalian dulu."Rachel bersimpuh dan memeluk kaki ibunya.
"Sudahlah nak.. semua orang pernah melakukan kesalahan.. ibu tak menyalahkanmu sepenuhnya."
"Baiklah aku akan ikut pulang denganmu bu... Aku ingin melihat ayah..."
Rumah masa kecilnya yang selalu dirindukannya, akhirnya hari itu dia kembali..
"Ayah....."Rachel memeluk ayahnya, menciuminya dan memeluknya kembali.
"Maafkan aku ayah... Maafkan aku..."Isaknya lagi.
"Sudahlah.. apa putriku kemari hanya untuk menangis."
Rachel mulai tersenyum... Mereka saling melepas rindu, menyuapi ayahnya sambil menceritakan masa-masa kecilnya dulu.
"Rachel, ayahmu punya satu permintaan darimu.."
"Apa itu ayah?."
Rachel menghela nafas pangjangnya..
Mendengar permintaan ayahnya.. kalaupun dia menolak, kesehatan ayahnya ditakutkan akan menurun. Kesepakatan antara ayah dan anak itu akhirnya disepakati keduanya.
-----------------------------------
Di waktu yang sama....
"Dimana anak itu?."Nyonya Park masuk ke Villa kediaman Sawn dengan terus berjalan sampai berhenti di depan pintu kamar Sawn.
"Maaf nyonya besar.. Tuan muda sedang beristirahat."Bibi An menundukan kepalanya.
"Aku dengar dia tidak pergi ke kantor. Apa dia sakit?."
"Sepertinya begitu.."
"Ceklek....." Suara pintu kamar Sawn terbuka, mendapati ibunya dan bibi An berada di depan kamarnya.
__ADS_1
"Ada apa ibu mencariku?."
"Apa kau sakit nak.."Ibunya dengan sigap langsung meraba kening anak tunggalnya itu.
Sawn menepis lembut tangan ibunya..
"Tidak bu.. aku hanya sedikit tidak enak badan saja."
Nyonya Park menunjukan wajah tidak senang dan menuju ke sofa di dekatnya, disusul dengan langkah Sawn.
"Nyonya saya akan membuatkan minuman untuk anda."Bibi An undur diri untuk membuatkan minuman.
"Ada apa ibu mencariku?."
"Aku tak tahu lagi harus bagaimana menghadapimu.. Aku tahu kau sudah bisa berdiri di atas kakimu sendiri tanpa bantuan dari orang tuamu lagi." Nyonya Park melihat ke arah Sawn.
"Langsung saja bu, apa yang ibu maksud.!"
"Turutilah kemauan ibumu ini."
"Menikah dengan wanita pilihanmu?."Sawn menatap tajam ibunya.
"Ya.. hanya itu yang aku inginkan darimu. Bukan hartamu dan bukan yang lainnya."
Sawn berdiri tampak guratan kecewa di wajahnya.
"Aku akan menikahi Vivian."Jawabnya.
Nyonya Park langsung berdiri dan memegang wajah anaknya itu.
"Apa kau mencintai Vivian?."
"Aku tidak mencintainya, tapi setidaknya aku pernah menyukainya.. Dari pada aku harus menikahi wanita yang sama sekali tidak aku suka."Penolakan meluncur dari mulut Sawn.
Nyonya Park memalingkan wajahnya membelakangi Sawn.
Cukup lama mereka terdiam membisu...
"Baiklah.. Aku akan menuruti kemauanmu. Tapi dengan satu syarat."
"Bu, kau tahu aku tidak suka bernegosiasi dalam hal seperti ini"
"Terserah padamu. . .!!"Nyonya Park segera melangkah meninggalkan Sawn...
"Apa syaratnya..."
Menghentikan langkah lalu berbalik tersenyum kecil..
"Ikutlah denganku pada acara perjamuan nanti malam."
"Apa yang ibu rencanakan?."
"Aku akan tetap mempertemukanmu dengan wanita yang ibu pilih, tapi kalaupun kau tetap pada keputusanmu, tidak suka dengan pilihan ibu. Ibu akan turuti kamu menikahi Vivian."
Sawn tertegun sejenak mencerna setiap kata yang di ucapkan ibunya. Ibunya tidak akan pernah bisa dilawan, ibunya adalah salah satu kelemahannya.
"Baiklah.. Aku akan turuti keinginanmu. Tapi kenapa baru sekarang ibu memaksaku untuk ini? Bukankah sudah sekian lama kau merencanakan semua ini."
"Putrinya sudah kembali.. Aku tidak punya waktu lagi. Aku akan pergi sekarang..."Nyonya Park pergi dengan melambaikan tangannya.
*Bersambung*....
__ADS_1