
Seorang wanita muda datang dari arah koridor kedatangan internasional, wanita yang cantik tinggi semampai tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Sawn dan yang lainnya.
Yang pertama wanita itu hampiri adalah Sawn, mencium pipinya dan memeluknya. Sawn tidak membalas perlakuan apapun malah Sawn menunjukan ekspresi kurang senang, menyapapun tidak.
Wanita itu menyapa assisten Liu dan juga Axcel.
"Apa kabarmu?."Sapa assisten Liu.
"Cukup baik Liu. Senang melihatmu."
"Axcel, kapan kamu datang?."Wanita itu bertanya pada Axcel.
"2 hari yang lalu.. Vivian."
Wanita yang bernama Vivian itu melirik ke arah Rachel.
"Dan ini?."Tanya Vivian.
"Dia Rachel, assisten pribadinya Sawn."Axcel menimpali. Rachel hanya tersenyum pada Vivian.
"Oh rupanya Sawn punya assisten pribadi yang cantik.."Ucap Vivian.
"Oke kalau sudah cukup mari kita pergi."Sawn berjalan lebih dulu diikuti oleh yang lainnya.
Vivian ikut masuk ke dalam mobil Sawn dan assisten Liu, mereka berencana untuk menjamu kedatangan Vivian.
"Sawn, aku tidak bisa ikut. Aku sudah berjanji untuk mengantar Rachel. Lebih baik kalian saja."Axcel berpamitan pada Sawn dan masuk ke dalam mobilnya..Rachel menatap Sawn merasa serba salah tidak enak hati, disisi lain dia adalah assistennya.
Sawn terdiam sejenak lalu pergi untuk menjamu Vivian.
"Kenapa tidak ikut menjamu nona Vivian?."Tanya Rachel membuka pembicaraan.
"Haha.. Jujur saja aku hanya kurang suka pada Vivian."
"Kenapa?."Rachel mengernyitkan dahinya.
"Dia terlalu banyak memanfaatkan Sawn. "
"Hubungannya dengan Sawn?."
"Apa kamu tidak tahu? Vivian adalah mantan kekasih Sawn. "
Rachel langsung terdiam.. Seperti ada sesuatu yang menusuk hatinya.
"Kenapa kamu diam?."
"Ah tidak, aku hanya ingat sesuatu."Rachel berasalan.
"Jadi nona Rachel sekarang kita akan pergi ke mana dulu?."Axcel dengan senyuman manisnya.
"Terserah tuan Axcel saja.. haha."
__ADS_1
Mereka berdua pun menghabiskan sepanjang hari berdua. Ternyata Axcel adalah seorang lelaki yang baik, dia bisa membuat Rachel merasa nyaman di dekatnya. Seorang lelaki humoris, sehingga membuat Rachel terhibur.
"Terimakasih untuk hari ini.. Kamu sudah mengantarku seharian. Dan untuk malam itu, aku minta maaf sudah merepotkanmu menemaniku dan mengantarkanku pulang."Rachel merasa malu ketika dia mabuk.
"Harusnya aku yang berterima kasih, sudah mau menemaniku. Sudahlah aku tahu kamu akan merasa malu dengan mabuk waktu itu. Makanya aku tidak membahasnya kan.."Seloroh Axcel ketika dia mengantarkan Rachel pulang ke apartementnya.
Malam itu Axcel pergi ke Villa Sawn. Tidak terlihat batang hidungnya pun.. Hanya ada assisten Liu sedang duduk di taman belakang.
"Dimana Sawn?."
"Syukurlah kamu datang, aku hampir seperti patung di sini.. "Ujar assisten Liu merasa lega dengan kedatangan Axcel.
"Apa yang terjadi? Apakah dia sedang bersama Vivi?."
Assisten Liu menggelengkan kepalanya.
"Justru itu, setelah menjamu kedatangan Vivian. Sawn langsung pergi, jadi aku yang menemani Vivian. Sawn baru tadi datang, sekarang dia di ruang baca. Tak mau ada seorang pun yang mengganggu."
"Kenapa dia seperti itu? Bukankah dia senang Vivi datang?."
"Kalaupun dia senang, mana mungkin dia menghindarinya."
Terlihat ada seseorang yang menuruni tangga dan berjalan ke arah mereka.
"Kapan kamu datang?."Tanya Sawn tiba-tiba.
"Barusan.."Jawab Axcel dengan gayanya yang sedikit cuex.
"Tenang saja, dia sudah aku antarkan kembali ke apartementnya. Apa kau keberatan aku mengajaknya jalan?."Tatap Axcel ingin tahu.
"Tidak, tapi kalau kau mengajaknya di hari-hari kerja aku takut dia tidak bisa fokus bekerja."
Assisten Liu tertawa kecil mendengar jawaban Sawn.. Jawaban yang terkesan melarang tapi dengan cara halus.
"Oh iya aku lupa kalau dia assistenmu.."Timpal Axcel.
"Dia gadis yang baik, aku tertarik padanya dari pertama kali bertemu."
Jawaban Axcel membuat Sawn sedikit terhenyak. Assisten Liu menarik nafas panjang melihat ekspresi Sawn. Di banding Sawn, Axcel memang lebih terbuka terhadap perasaannya dari dulu bahkan sekarang pun.
-------------------------------------
Hari-hari padat mulai dilaluinya lagi. Padat dengan segala rutinitas yang ada. Jalanan pagi hari itu selalu ramai, rayapan kendaraan berlalu lalang. Sebenarnya Rachel sangat malas sekali untuk berangkat ke kantor. Rachel merasa kepalanya sedikit pusing dan badannya lemas. Tapi semalam dia mendapat panggilan dari Sawn untuk ikut dalam acara pertemuan dadakan dengan perusahaan lain.
Axcel yang menjemputnya untuk pergi bekerja melihat Rachel sedikit kurang bersemangat itu menyuruhnya untuk memeriksakan diri ke dokter.
"Wajahmu pucat, apa kita pergi ke Rumah Sakit terlebih dahulu?."
"Tak apa... aku tidak kenapa-napa. Nanti juga akan baikan setelah minum vitamin. "Tolak Rachel.
"Aku akan bilang pada Sawn untuk tidak memberikanmu pekerjaan yang berat."
__ADS_1
"Tenang saja.. Sawn tidak terlalu kejam seperti itu."
Rachel dan Axcel tertawa renyah seperti sudah lama saling mengenal. Rachel yang merasa Axcel memperlakukannya dengan berbeda, mulai mempertimbangkan keberadaannya. Tapi ada rasa berbeda. Perasaan yang dia rasakan pada Sawn berbeda dengan perasaan pada Axcel.
Sawn melihat Rachel diantarkan oleh Axcel, membukakan pintu mobilnya dan mengantarnya masuk. Sekalian memang ada yang harus Axcel bicarakan dengan Sawn.
Rachel segera bergegas untuk memulai pekerjaannya pagi itu, biasanya dia datang terlebih dahulu dibandingkan Sawn. Baru kali ini dia melihatnya sudah berada di dalam ruangan. Dengan wajah datar dan dinginnya seperti ingin menerkamnya.
"Sawn, kemarin malam setelah aku pulang dari kediamanmu Vivian mendatangiku. Dia bilang padaku agar kau mempertimbangkan dirinya."Axcel memulai pembicaraan dengan nada yang serius.
"Kenapa dia tidak langsung bilang padaku?."
"Bagaimana dia bilang padamu, kamu seperti ingin menghindarinya. Apa kamu berniat untuk kembali padanya?."Axcel balik bertanya.
"Akan ku pikirkan lagi."Sawn yang melihat Rachel sedang menyusun dokumen untuk pertemuan nanti di rak lemari ruangannya hanya ingin tahu reaksi dari wanita itu. Rachel mendengarnya dengan begitu jelas, jawaban itu pertanda ada kemungkinan untuk Sawn dan Vivian kembali merajut jalinan sebagai sepasang kekasih.
Tetiba pandangannya sedikit kabur dan hilang keseimbangan, tapi Axcel dengan sigap langsung menahan agar tubuh Rachel tidak terjatuh. Sawn pun berdiri dan menghampirinya. Tangannya mengepal tak kala melihat Rachel dengan Axcel seperti itu. Rasa panas dalam hati kembali membara. Berniat ingin melihat Rachel cemburu, malah dia yang dibuat cemburu bahkan dihadapannya langsung.
"Aku tidak apa-apa."
"Sudahlah jangan keras kepala, bukankah tadi pagi kamu bilang sedang tidak enak badan. Sekarang istirahatlah sebentar."Axcel merangkul tubuh Rachel menuju ke sofa di ruangan presdir itu.
Sawn tidak tahu harus berbuat apa, dia merasa seharusnya yang berada di sisi Rachel itu adalah dirinya. Tapi setidaknya dia pun ingin melakukan sesuatu untuk wanita pujaannya itu
"Sani, buatkan teh manis secepatnya."Sawn dengan panggilan internalnya.
Tak lama kemudian Sani membawakan secangkir teh manis yang dipesan presdirnya itu. Sani melihat Rachel dengan wajah pucatnya.
"Tuan Sawn lebih baik Rachel berobat dahulu. Lihatlah wajahnya pun pucat."Sani merasa khawatir dengan keadaan Rachel.
Sawn yang khawatir dengan keadaan Rachel juga sependapat dengan Sani.
"Sani, hubungi Liu. Suruh dia untuk kembali terlebih dahulu ke kantor. Biarkan dia saja yang pergi ke pertemuan itu. Aku akan membawa Rachel ke Rumah Sakit!!."Perintah Sawn
"Sawn sepertinya pertemuanmu sangat penting. Lebih baik aku saja yang mengantar Rachel ke Rumah Sakit. Kamu jangan khawatir."Axcel langsung mengajak Rachel untuk pergi dengannya ke Rumah Sakit. Sawn hanya diam melihat kepergian mereka berdua dari hadapannya. Seperti kehilangan sesuatu yang berharga dari dirinya. Seperti ada yang merampas dari genggamannya.
Hanya perlu kata untuk mengungkapkan
Kalaupun bukan kata
Mungkin tindakan bisa mewakili
Cinta hanya perlu seperti itu
Bukan DIAM...
Bersambung*.....
__ADS_1