
Happy Reading guys... !!
-----
" Aku sungguh tidak mengira anak itu." Nyonya Park masih saja terus menggerutu saat mereka kembali tiba dirumah kediaman Sawn.
Sementara Rachel tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya yang begitu mendalam, yang lebih membuatnya kecewa adalah saat Sawn meragukan kehamilannya.
"Braaakk...." Pintu dibuka oleh Nyonya Park dengan kasar, ia berteriak memanggil-manggil Bibi Marry.
" Marry.. Marry.. Dimana kamu?."
Bibi An terhuyung-huyung mendatangi Nyonya Park yang datang dengan keadaan sangat marah.
" Ada apa nyonya?."
" Dimana komplotan keluarga brengsek itu?."
" Maksud nyonya apakah...?."
" Ya.. Dimana Marry?."
Dengan santai Marry berjalan menghampiri Nyonya Park di ruang tengah sambil tersenyum merasa penuh kemenangan.
" Ada apa besan mencariku seperti itu, marilah kita duduk."
" Ciih... tidak sudi aku berbesan denganmu."
" Ibu sudahlah.. Kita tidak pantas berbicara denganya." Rachel mencoba meraih tangan ibu mertuanya itu.
__ADS_1
" Sudah Rachel, aku tidak bisa bersabar lagi. Dia dan anaknya memang bersekongkol untuk membuat rumah tanggamu berantakan. Dia sudah mencoba membuat rahimmu rusak."
Mendadak wajah Bibi Marry berubah pucat.
" Bagaimana dia tahu aku pernah membuat rahimnya rusak."
" Apa maksud ibu?."
" Dia sudah membuat ramuan jamu untuk penyubur kandungan tapi nyatanya dia mencoba meracunimu Rachel, Red saksinya."
" Red?." Tatapan Rachel beralih pada Red yang berdiri tegap di dekat pintu ruang tengah.
" Benar nona.. Itu semua benar, saya sudah memeriksanya ke lab. Assisten Liu dan dokter Teddy juga mengetahuinya."
" Apa?." Rachel terduduk lemas.. Ia tak mengira kebaikan Bibi Marry selama ini padanya ada maksud tertentu.
" Sudahlah Rachel.. Sekarang semua itu tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah Sawn akan segera menikahiku karena aku hamil anaknya." Kedatangan Jenny menyela pembicaraan panas didalam kediaman itu. Membuat hati Nyonya Park semakin dipenuhi amarah.
" Uhh.. Ibu mertuaku. Jangan galak-galak, nanti janin yang didalam sini kaget loh..."
Suara decitan mobil terpakir dihalaman, sudah dipastikan itu adalah Sawn yang terburu-buru datang dari kantor.
Ia masuk dengan Wajah tanpa ekspresi, melihat keseluruh isi ruangan dimana semua orang sedang berkumpul.
" Sawn... " Jenny mencoba berlindung dibalik punggung Sawn.
Rachel sudah tidak mengharapkan apa-apa lagi, bahkan tak berharap suaminya akan membela dirinya saat itu.
" Apa kamu tetap tidak mengakui kehamilan istrimu Sawn?." Nafas Nyonya Park naik turun menanti jawaban dari anaknya itu.
__ADS_1
" Maaf.."
" Haha... " Nyonya Park tertawa sarkas, ia sudah mengira jawaban yang keluar dari mulut anaknya itu akan membuat hati Rachel sakit.
" Dasar bodoh.. Melihat istrimu berselingkuh pun kamu belum pernah dan sekarang kamu berani berkata seperti itu."
" Baiklah jangan menyesali keputusanku. Rachel kemasi barangmu sekarang juga!." Nyonya Park tidak sedang bermain-main dengan ucapannya sekarang, ia memperlihatkan taring asli yang sesungguhnya.
" Ibu... Kenapa harus mengemasi barangku?."
" Lihatlah suamimu.. Secara tidak langsung dia sudah tidak memperdulikanmu. Sekarang kamu ikut ibu.. Bibi An, bantu Rachel mengemasi pakaiannya."
"Ba-baik Nyonya..." Bibi An segera menyusul Rachel yang sudah terlebih dahulu pergi kedalam kamarnya. Tak henti-hentinya tangisnya keluar, kini Rachel merasa berada dititik terendah dalam hidupnya. Ia harus keluar dari rumah suaminya saat sedang hamil muda. Tidak pernah sedikitpun ia bayangkan sebelumnya.
Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut Sawn, ia hanya diam tanpa menatap kepergian Rachel saat itu. Walaupun hatinya sakit, kini ia tetaplah Sawn yang dulu berhati dingin dan sekeras gunung es.
" Sawn... Bukannya Bibi memanasimu tapi alangkah baiknya kalau seorang istri tetaplah tinggal dan tidak pergi tanpa seizin suaminya. Langkah Rachel saat ini sama dengan membenarkan bahwa ia hamil bukan anakmu."
Sawn mengepalkan tangannya, nafasnya terasa sesak saat Bibi Marry mengatakan itu semua.
Tanpa berkata-kata lagi Sawn segera naik ke lantai atas menuju kamarnya tapi tiba-tiba langkahnya terhenti.. dan tanpa menoleh sedikitpun.
" Jenn.. Dan jangan kamu pikir aku akan mempercayai begitu saja tentang kehamilanmu." Kata-kata Sawn cukup menohok hati Jenny dan ibunya.
" Ibu... Bagaimana ini?." Jenny terlihat cemas.
" Tenang saja.. Setidaknya Rachel sudah keluar dari rumah besar ini.."
-----
__ADS_1
Haii.. Berikan cinta kalian dengan memberikan komen, like dan votenya ya.. Thanks 💕💕💕