My Surgeon My Hubby

My Surgeon My Hubby
Memilikimu


__ADS_3

Tok..tok..tok....


Pintu ruang rawat Jess diketuk.


"Masuk.." kata Jess yang baru saja bangun tidur. Ia pun menoleh ke arah pintu unuk melihat siapa yang datang.


"Jesslyyyynnnn......" teriak pemilik suara itu.


"Sisil..." kata Jesslyn berbinar melihat sahabat yang memiliki tuduh berisi itu datang.


"Jess...kamu sakit kok nggak kasih tau aku? Apa kamu sudah nggak anggap aku sahabat lagi? "kata sisil heboh. Sahabat Jesslyn yang satu itu memang gampang sekali baper.


"Maaf..aku tak mau merepotkanmu..aku sendiri juga nggak sempat kasih kabar kamu dengan kondisiku ini." jawab Jesslyn.


"kamu selalu gitu kan dari dulu..kagak mau ditolong..apa apa maunya diselesaikan sendiri. Trus gunanya aku sebagai sahabat kamu apa?" protes Sisil. Jesspun hanya tersenyum.


"Ngomong ngomong kamu tau aku sakit darimana?" tanya Jesslyn.


"Dari dave, dia juga taunya kalau kamu sakit baru kemarin. Katanya dia tau dari dokter yang ngrawat kamu." kata Sisil.


"Hah?!dokter yang ngrawat aku? maksud kamu Justin?"tanya Jesslyn sedikit kaget.


"Iya mungkin, soalnya aku juga nggak tau.Tapi kayanya bentar lagi Dave sampai kok. Katanya dia tadi masih dijalan."kata Sisil.


"Jess ruangan kamu luas banget ya....kaya di drakor drakor gitu?Emang gini ya fasilitas yang didapat karyawan rumah sakit kalau ada yang sakit?eh Jess aku sampai lupa mau tanya ke kamu. Kamu sakit apa sih?kok bisa dioperasi segala?kayaknya kamu sehat sehat deh selama ini?" tanya Sisil penasaran.


"kalau tanya satu satu Sil..aku jawabnya gimana?"


"Ya jawab aja....aku kan penasaran tuan putri.." rengek Sisil.


"Kamu tahu kan aku sejak SMP dulu selalu pingsan kalau pas datang bulan?kemarin aku gitu. Setelah diperiksa, ternyata di luar rahim ku ada tumornya, makanya aku dioperasi."jelas Jess.


"Oo..gitu ya...by the way tahu nggak..Dave tu khawatir banget lhow dengar kamu lagi sakit..."kata Sisil.


"ah masa sih..?" tanya Jess.


Belum sempat Sisil menjawab, Dave datang membawa keranjang buah dan buket bunga lily kesukaan Jess.


"Hai Jess..."sapa Dave sambil tersenyum manis.


"Hai juga Dave.."


"Bagaimana keadaan kamu? kenapa tidak bilang aku kalau kamu sakit."


"Maaf dave, aku nggak mau kalian semua khawatir dengan ku..lagipula aku sudah tidak apa apa."Jawab Jess.


"Iya syukurlah kalau kamu tidak apa apa. Mungkin kalau Kak Justin tidak memberitahuku kemarin sore, aku juga tidak tahu kalau kamu sakit."jelas Dave.

__ADS_1


"Justin?? Kamu kenal dia Dave?"tanya Jess.


"Dia sahabat kak Daniel. Kemarin dia meneleponku.mengabarkan kalau mungkin kamu nggak bisa bekerja lagi dalam waktu dekat karena kamu lagi sakit." jawab Dave


"Hah?! dia bilang gitu?"tanya Jess kaget.


"Iya aku merasa ikut bertanggung jawab akan kondisimu gadis keras kepala.!" sahut Justin yang tiba tiba sudah berada di pintu kamar rawat Jess.


"Kamu? Kenapa kamu nggak bilang aku dulu sih..?"kata Jess tak terima.


"Karena aku ingin kamu fokus dulu dengan kesehatanmu. Bukannya bulan depan kamu mau kuliah?"kata Justin.


" Aku nggak mungkin lagi bisa kuliah, biaya rumah sakitku terlampau besar. Tabunganku juga pasti habis atau bahkan kurang hanya untuk biaya rumah sakitku." kata Jess bersedih.


"Aku kan sudah bilang kamu nggakbusah mikir itu semua, kamu tinggal dirawat, sembuh, kuliah itu saja."kata Justin


"Tapi bagaimana bisa? memang kalau kuliah bisa dibayar pakai daun?" jawab Jess.


cetaaakk!!! lagi lagi Justin menjentikkan jarinya di dahi Jess hingga menimbulkan bekas kemerahan.


"aaugghh..sakit"keluh Jess.


"Makanya jangan keras kepala. Kamu hanya perlu menurut kata kataku. Mengerti?" kata JUstin.


Sisil yang melihat perdebatan keduanya hanya terkikik. Dia heran bagaimana bisa seorang dokter dan pasien seperti kucing dan tikus di kartun Tom And Jerry.


Sedangkan Dave merasa kalau Justin juga menyukai Jess, dan itu membuat rasa sesak di dalam hati Dave. Dave yang menyukai Jess sejak mereka duduk dibangku SMP tidak berani mengungkapkan perasaannya, karena dia takut kehilangan Jess sebagai sahabatnya. Persahabatan mereka bertiga memang sangatlah kuat.


"Tikus??kamu bilang aku tikus?"kata Jess tak terima.


"Habisnya badanmu kecil tapi kamu sangat keras kepala, makanya aku panggil saja kamu Tikus." Kata Justin sambil menyeringai jahil.


"Enak saja..!"kata Jess menyebik.


"Memang enak..."goda Justin.


"Juuussstiiiinnn......Augghh..."teriak Jess tapi seketika ia merasa kesakitan. Justin pun segera menghampiri Jess.


"Jess..!!Jangan banyak bergerak dulu..jangan mengangkat kepalamu. Darahnya bisa keluar lagi!" kata Justin dengan nada khawatir.


"Maaf.."kata Jess sambil meringis.


"Jess..kami berdua pulang dulu ya..karena sebentar lagi kafenya mau buka. Kamu cepatlah sembuh. Biar kita bisa berkumpul lagi." kata Dave berpamitan.


"Iya Jess..nggak seru kalau kamu sakit seperti ini...benar kata Dokter Justin kamu itu memang kaya tikus kecil, keras kepala. Kita pulang dulu ya Jess, cepatlah sembuh.Preman di perempatan gang kamu udah kangen kamu gebukin tuh. "kata Sisil dengan nada menggoda.


"Iya..iya..makasih ya kalian sudah jenguk aku." kata Jess smbil memeluk Sisil.

__ADS_1


"Iya Jess sama sama...kita pulang dulu..bye bye honey.." kata sisil sambil melambaikan tangan.


Akhirnya di ruangan itu tinggal mereka berdua. Selang beberapa menit, datanglah makan siang milik Jess. Justin pun segera memutar ujung brangkar agar menjadi posisi setengah duduk.


Justinpun menyuapi Jess dengan telaten. Tapi belum sampai makanannya habis..Jess sudah merasa kenyang.


"Aku sudah selesai.."kata Jess.


"Kenapa makanmu sedikit sekali?" tanya Justin.


"Aku sudah kenyang. Perutku sedikit mual setelah tak sengaja mengangkat kepala tadi."jawab Jess.


"Maaf.."kata Justin penuh sesal.


Jess pun hanya tersenyum.


Justin memanggil perawat untuk membantunya memeriksa Jess. Selang beberapa menit, merekapun datang.


"Jess..aku akan membuka bajumu." kat Justin


"Apa?!"tanya Jess kaget.


"Aku bilang aku mau buka bajumu..apa kamu tidak dengar?"


"K-kenapa harus buka baju?apa yang akan kamu lakukan?" tanya Jess gugup.


"Ya..aku akan memeriksamu.."kata Justin serius.


"Tidak..aku tidak akan buka baju.."kata Jess.


"Tenang saja Jess...aku sudah lihat semuanya..kamu tak perlu malu.." kata Justin menggoda.


"Apa Kamu bilang??" tanya Jess marah.


"Makanya aku kemarin mengoperasimu sendiri dibantu dokter dan perawat wanita, karena aku tak mau milikku di lihat orang lain selain aku."


"Ada tahi lalat hitam besar dibawah p*****ra kamu kan? lalu ada juga tanda lahir mirip luka memar di bawah perutmu tepat di bekas luka operasimu sekarang, bahkan aku sendiri yang.."


"Sudah cukup!! jangan diteruskan. Kamu pikir aku ini wanita seperti apa??Bahkan kamu sudah berani melihat tubuhku!". Kata Jess marah. Air matanya pun sudah lolos di pipinya.


"Hmm...aku seorang dokter honey..tapi aku menangani pasien karena profesional semata bukan karena lainnya. Tapi untukmu aku tak rela jika orang lain yang melihatnya. Karena hanya aku yang boleh memiliki tubuhmu dan juga hatimu." Ujar Justin posesive


" mak...maksudmu..?aku milikmu??bagaimana mungkin..!? Apa karena kamu yang menanggung biaya rumah sakitku kamu bilang seenaknya kalau aku ini milikmu?" kata Jess dengan penuh kemarahan.


"Keluar dari ruangan ini.Keluar!!" ucap Jess yang sudah tak bisa menahan emosinya lagi.


"Kamu tidak mengerti Jess.. aku memilikimu sebelum kita bertemu di kafe seminggu yang lalu."

__ADS_1


" Bahkan ketika kamu masih sangat kecil aku sudah memutuskan untuk menjadikanmu milikku.."


"Biar perawat yang memeriksa lukamu aku pergi dulu. Maaf telah membuatmu marah" ucap Justin sambil beranjak pergi.Meninggalkan Jess yang masih dikuasai amarahnya.


__ADS_2