
"Jess...ada apa denganmu?!" kata Justin.
Jess menggeleng lagi.
"Mengangguk...menggeleng..mengangguk lagi..?apa kamu tidak bisa menjawab pertanyaanku dengan ucapan?apa yang membuatmu bersikap aneh..? Katakan..!" kata Justi mulai frustasi.
"Aku hanya malas bicara saja, aku sangat lapar juga haus sekali, tapi bahkan kakak tidak menawari makan atau minum, dari tadi terus bertanya kondisiku sambil menciumi ku..memang aku bisa kenyang dengan ciumanmu?" kata Jess tanpa rasa bersalah.
"Hah..?!Apa?" Justin melongo.
"Astaga..Jess..aku pikir kamu marah denganku, sampai aku frustasi, karena kamu tak mau bicara, dari tadi kamu hanya memakai bahasa tubuh saja. Jess...kamu benar benar membuatku ingin memakanmu sekarang.."kata Justin sambil mencubit pipi Jess hingga merah. Kemudian Justin segera mengambil minum untuk Jess.
" Auuhhh....sakit tau kak.." pekik Jess.
"Habisnya kamu hari ini benar benar membuat jantungku seperti naik rollercoaster. Kamu ingin makan apa sekarang?"tanya justin.
" Apa saja kak..yang penting enak." jawab Jess impulsif.
"aku ingin makan dibawah saja kak..." lanjut Jess.
" Jess..bukannya tak boleh tapi kalau kamu banyak bergerak perutmu akan semakin sakit." jelas Justin.
"Ya ..sudahlah..aku mau tidur aja..aku jadi males makan.."Jawab Jess kembali membaringkan tubuhnya dan membelakangi Justin.
Justin hanya menggeleng kan kepalanya. Ia benar benar heran dengan tingkah Jess.Kemarin seharian dia marah marah tak jelas hanya karena Justin telat 5 menit menjemputnya di kampus. Hari ini, dia ngambek gara gara tak dituruti makan dibawah.
Justin segera keluar untuk meminta tolong mengambilkan makanan pada seorang pelayan.
Sementara itu, di kamar Jess menangis sesunggukan,setelah keinginannya di tolak oleh Justin.
"Aku hanya lapar..dan ingin makan di bawah..kenapa Kak justin tega sekali..hiks..hiks..aku bosan di kamar...aku ingin jalan jalan..walaupun hanya di lantai bawah..hiks..hiks...huaaaaa........" kata Jess sambil menangis.
"Nyeri haid ini benar benar membuatku ingin marah terus..hiks..hiks....huaaa...." Jess menangis semakin keras.
"Lebih baik aku tidur saja...tak ada yang peduli denganku..."kata Jess masih sesunggukan di bawah selimutnya.
Tak lama kemudian, pintu kamar dibuka oleh Justin yang membawa nampan berisi makanan dan segelas susu coklat kesukaan Jess.
Ia mendengar suara sesunggukan di bawah sel³imut tebal itu. Justin segera menghampiri.
__ADS_1
"Jess ayo makan dulu..aku membawakan makanan kesukaanmu." kata Justin.
"Huuuaaaa........." tangis Jess semakin keras.
"Jess..kenapa kamu menangis begitu? apa perutmu sangat sakit..? kita akan ke rumah sakit sekarang! tapi kamu harus makan dulu.." kata Justin sangat khawatir.
"Kakak...kak Justin itu tidak peka apa terlalu pintar untuk seorang dokter?apa sulit untuk menuruti permintaanku makan diluar kamar?!bahkan kakak tidak peka bagaimana perasaanku saat ini...?" kata Jess mengeluarkan semua uneg uneg di hatinya.
Justin menggeleng sambil menghembuskan nafas kasar. Sudah dari kemarin ia mencoba untuk bersabar menghadapi mood Jesslyn yang naik turun. Tapi kali ini Justin benar benar tak habis fikir hanya karena makanan Jess sampai seperti itu.
"Huft..apa semua wanita seperti ini ya kalau sedang PMS?Aku seorang dokter bedah hebat, tampan pula tapi terlihat sangat bodoh di depan gadis ini...Tuhan..berikan hamba stok sabar yang berlimpah Tuhan...." kata Justin dalam hatinya.
"Ok Fine....sekarang apa maumu?kamu ingin makan dimana?aku turuti." kata Justin pada Jess.
"aku ingin makan di luar kamar kak.." jawab Jess.
"Baiklah.."
"Bibiiiii....tolong siapkan kursi roda Jesslyn.."panggil Justin pada pelayan.
"Baik..Tuan Muda..."jawab pelayan itu.
"Turuti aku atau tidak sama sekali?" lata Justin tegas.
"Iya..iya...aku mau makan di balkon belakang saja Kak..tak usah turun kebawah." Kata Jess masih sedikit kesal.
Tanpa menjawab, justin mengangkat tubuh Jess dan mendudukkanya di kursi roda miliknya.
Setelah meletakkan nampan makanan di pangkuan Jess, Justin mendorong kursi roda itu menuju balkon belakang yang langsung menghadap ke taman belakang rumah.
Justin segera duduk dihadapan Jess dan mulai menyuapinya.
"Honey...bukalah mulutmu,Aaaa..."kata Justin sambil memperagakan gerakan membuka mulut.
"Aku mau makan sendiri.." kata jess ketus.
"Tapi tanganmu masih diinfus." kata Justin
"Aku bisa." jawab Jess singkat.
__ADS_1
Justin yang sejak tadi mencoba sabar tidak bisa lagi menahan emosinya.
" Ok.. Fine...terserah padamu, aku sudah berusaha menuruti maumu, apa yang minta ku lakukan, bahkan dari kemarin aku juga sudah terus bersabar dengan semua tingkahmu. Kamu anggap aku ini apa, Hah?!"
"Jess..aku juga pusing, aku lelah, apa kamu tahu? kesabaranku juga ada batasnya Jess, sikapmu kemarin dan hari ini sudah sangat keterlaluan, apa kamu tahu, kemarin aku bahkan melewatkan rapat dengan klien penting dan membatalkan kerjasama dengannya hanya untuk menjemputmu ke kampus, tapi apa? kamu tak bisa mengerti. Sekarang terserah padamu lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Sikapmu hari ini sudah sangat keterlaluan."
"Hari ini aku ada visit ke rumah sakit.aku akan pulang malam atau bisa saja tidur di rumah sakit.Jangan menungguku."
Justin yang sedang marah meninggalkan Jess mendorong kursi yang tadi didudukinya sampai kursi itu terguling.
Jess belum pernah melihat Justin marah sampai seperti itu tercengang. Air matanya perlahan keluar, ia menangis, ia menyesal sudah bersikap seenaknya dengan orang yang dicintainya itu. Sambil menangis Jess memakan makanan yang disiapkan Justin untuknya.
"Mengapa aku begitu bodoh..?" kata Jess pada dirinya sendiri.
"Apa yang sudah aku lakukan..aku bodoh..aku bodoh..hiks..hiks.." kata Jess sambil memukul mukul kepalanya.
" Bahkan dia sampai membatalkan kerja sama dengan kliennya dwmi menjemputku,tapi apa yang sudah ku lakukan..?
"Maafkan aku Kak...aku memang tidak berguna..hiks...hiks.."kata Jess pada dirinya sendiri.
Jess kembali ke kamarnya lagi setelah ia selesai makan.Kepalanya terasa pusing karena terlalu banyak menangis.
"Aaaauuu..." pekik Jess saat melepas jarum infusnya sendiri. Terlihat darah mengalir deras dari punggung tangannya, tapi dia tak peduli. Ia menuju ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, karena badannya sudah sangat lengket.
Sementara itu, Justin yang sedang dikuasai oleh emosinya, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit. Baginya Jess sudah benar benar menghabiskan stok kesabaran Justin. Sebenarnya ada rasa khawatir dia meninggalkan Jess tadi. Tapi lagi lagi emosi mengalahkan rasa khawatirnya.
Justin mengambil headset blootothnya dan segera menyambungkan ke telepon rumah.
"....."
"Halo Bi...tolong awasi Nona Jesslyn, pastikan dia minum obatnya dengan baik. Dan jangan biarkan dia beraktifitas berat."
"...."
"baiklah..bilang padanya tak usah menungguku, kalau ada apa apa hubungi say"
".....".
Justin kembali berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.
__ADS_1