
Malam itu, sekitar pukul 19.00 Jess sudah sampai di mansion milik Michael. Tapi Justin belum pulang saat itu. Jess langsung menuju kamarnya dan menyurih Vano untuk menunggunya di bawah. jess menulis pesan pada Justin.
Jess: Kak..pulanglah aku sudab ada di rumah untuk beres beres pakaianku.
Justin: Maaf akubtakntahu kami menelepon Honey..tadi aku masih ada pasien darurat. Aku akan segera pulang tunggu 20 menit.
Jess: Iya hati hati tak usah terburu buru. aku menunggumu.
Jess meletakkan lagi ponselnya. Ia memandang sekeliling kamar yang ditempatinya selama ini. Kamar ini penuh dengan kenangan tentang Jess maupun Justin.
"Ayolah Jess...jangan bersedih..kamu masih bisa bertemu dengannya..seminggu lagi kalian menikah" Kata Jess pada dirinya sendiri.
Entah mengapa ia begitu berat meninggalkan rumah ini.
"Huft..sepertinya aku memang akan sangat merindukan rumah ini..." kata Jess dalam hati.
Ia masih tenggelam dalam pikirannya saat Justin sudah sampai didepan kamar yang sebentar lagi akan ditinggalkannya.Ia tidak menyadari kehadiran Justin yang sudah hampir 5 menit bersandar di gawangan pintu.Perlahan Justin memeluk tubuh Jess yang sedang melihat ke taman belakang.
"Kak...sejak kapan kakak datang? mengapa aku tak mendengarnya?" kata Jess.
"Sejak kamu bicara sendiri kalau kamu sedih meninggalkan rumah ini..." kata Justin yang mempererat pelukannya pada Jess dan menyandarkan dagunya di bahu Jess.
"Kenapa Kakak pulang semalam ini..apakah sangat mengkhawatirkan?terus mengapa ayah Mike tidak ikut pulang?"tanya Jess.
"Iya..pasiennya memang sangat penting sampai sampai ayah ingin menanganinya sendiri. Besok kamu harus ikut aku ke rumah sakit." kata Justin.
"Untuk apa Kak...?"tanya Jess.
"Tentu saja aku ingin kamu bertemu dengan pasienku tadi...Apa kamu bersedia?"tanya Justin.
"Baiklah..kalau itu yang kakak mau..." Jawab Jess.
"Jess apa kamu benar benar akan meninggalkan rumah ini...?"tanya Justin.
"Iya kak...itu hanya sementara..sampai hari kita menikah..." kata Jess.
__ADS_1
"Rumah ini pasti akan sepi jika tidak ada kamu.." kata Justin.
"Kita masih bisa Video call kakak..Ini hanya beberapa hari..selanjutnya kita akan bersama terus.." kata Jess.
Justin langsung menyambar bibir ranum milik Jess. Ia mengecupnya dengan sangat lembut.Perlahan ia mulai menyesap bibir itu.Jess membuka mulutnya, pertanda ia mengizinkan Justin untuk mengabsen setiap sudut mulutnya. Mereka saling bertukar saliva dalam waktu yang cukup lama.
"Kamu semakin pintar Honey.."Justin melepas ciumannya sebentar untuk menutup pintu kamar agar tak ada yang melihat mereka berciuman. Jess hanya tersenyum. Justin kembali menyesap bibir ranum itu. Tapi kali ini ciumannya lebih menuntut. Perlahan ia mendudukkan Jess diatas sofa kamar tanpa melepaskan pagutannya.
Perlahan Justin melepas kancing kemeja Jess dan memasukkan jari jarinya ke dalam situ.Tubuh jess bereaksi saat jari jari Justin menyentuh area bukit miliknya itu dan memainkannya. Kini ia tak tahan lagi untuk mengeluarkan suara.
"Bersuaralah Honey..Nikmatilah..." kata Justin. Ia terus memainkan kedua bukit itu dan melepas tali pengait yang menutupi keduanya.Ia merasakan kepemilikannya di bawah sudah terus meronta ronta.
Tok..tokk...
" Jess kenapa lama sekali..ayo kita segera pulang...ini sudah malam..papa sudah menunggu kita...!" kata Vano dengan sedikit keras dari luar kamar.
"I..iya Kak sebentar sedikit lagi." kata Jess yang pipinya sudah benar benar memerah karena malu.
"Shhitt....dasar author lucknut...aku sudah keenakan misi si jenot malah di gagalin lagi" umpat Justin pada author yang sangat baik hati ini.ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
"Maaf ya bang dokter..kan belum waktunya...jado author kasih cicilan dulu aja ya....Peace....✌✌😘😘"
15 menit kemudian Jess keluar kamar dengan membawa 1 koper besar pakaiannya. Ia sengaja tidak membawa semua baju bajunya. Karena setelah menikah kelak ia pasti akan bolak balik dari rumahnya maupun ke rumah Michael.
"Jess..mana si Justin?" kata Vano.
" Sedang mandi Kak...kita tunggu sebentar lagi." jawab Jess.
"Baiklah...mungkin mandinya akan sedikit lama Jess." kata Vano dengan senyum penuh arti.Jess langsung menunduk karena malu.
"Nah..itu dia sudah selesai.." kata Vano yang melihat Justin sudah turun dari kamar atas.
"Cepet amat mandinya.."kata Vano sedikit meledek.
"****..kalau kau bukan calon kakak iparku pasti sudah ku suntik mulutmu dengan penenanv syaraf. Bisa diam nggak tuh mulut kakak?" kata Justin yang masih kesal karena misi jenotnya gagal.
__ADS_1
"hehehe..harusnya kalian berterimakasih padaku dan pada author yang menyelamatkan kalian." Kata Vano sambil terkekeh.
"sudah..sudah..kalian kalau ketemu selalu saja ribut.."kata Jess yang wajahnya sudah seperti tomat matang.
"Iya ..jess ayo kita segera pergi dari sini..agar setan setan tidak menghampiri kalian.."kata Vano dengan senyum devilnya.
" Bro aku bawa adikku pulang dulu...karena jika kalian berduaan terus akan semakin berbahaya.." kata Vano sambil menepuk bahu Justin.
"Kau..!" umpat Justin.
"Kak..aku pergi dulu jaga diri baik baik..nanti setelah tiba di rumah aku akan menghubungimu." kata Jess.Mereka berpelukan singkat.
"Jaga dirimu baik baik Honey..sampai bertemu besok..besok pagi aku akan menjemputmu" kata Justin mengelus kepala Jess.
Jess dan Vano meninggalkan rumah Justin. Dan kini tinggalah Justin sendirianbdi dalam rumah. Karena Michael menunggui ayahnya di rumah sakit.
"8 hari lagi...kenapa lama sekali..." kata Justin sambil melihat kalender meja di ruang kerjanya. Ia langsung menyelesaikan pekerjaannya malam ini juga karena untuk seminggu ke depan ia akan cuti dark pekerjaanya untuk persiapan pernikahan.
...****************...
Sementara itu di rumah sakit, dua orang pria dewasa,yaitu ayah dan anak saling membujuk satu sama lain. Karena mereka memang telah berbaikan beberapa jam yang lalu. Tak dapat dipungkiri, ternyata sifat Michael memang mirip dengan sang ayah yang juga sedikit "gesrek".
"Son..."rengek Oscar.
" Jangan memanggilku seperti itu Pa..aku bukan anak kecil, bahkan sebentar lagi aku akan punya menantu. Apa kata menantuku nanti jika mendengarnya." kata Mike.
"Son...please...papa ingin sekali makan masakanmu.." Rengek sang ayah.
"Pa...selesai operasi besok papa boleh makan makanan apapun yang ku masak..asal papa mau tinggal di mansionku."kata Mike.
"Tapi kamu maukan meneruskan perusahaan papa..kamu satu satunya penerusku Son..." kata Oscar memelas.
"Ok..baiklah..aku bersedia..tapi jangan harap aku mengizinkan papa sendirian di mansion utama.Kalau papa masih bersikeras akan ku jual saja semua saham di perusahaan papa.Jadi Papa tak bisa bekerja lagi " Ancam Michael. Karena sejujurnya Mike belum bisa melupakan kenangan buruk yang ia alami di tempat tinggal ayahnya. sedangkan ia juga tak tega bila membiarkan orang tua itu hanya tinggal bersama pelayan pelayannya.
"Mike..perusahaan itu kubangun dengan susah payah tapi jika mengelola bisnis papa hanya akan membuatmu terluka lagi, papa akan menjualnya.Karena saat ini tak ada lagi yang papa inginkan selain berkumpul denganmu dan Justin dan menebus semua kesalahan papa." kata oscar dengan tulus.
__ADS_1
"Papa tak usah berpikir macam macam ya...aku yang akan meneruskan bisnis papa, yang terpenting,sekarang papa harus jaga kondisi, karena besok pagi papa menjalani operasi transplantasi ginjal. Justin sudah menemukan ginjal yang cocok untuk papa."Kata Mike.
Mereka pun terus berbincang sampai larut malam untuk melepaskan kerindun ayah dan anak itu. Dan Michael memutuskan untuk tidur di rumah sakit untuk menemani ayahnya.