
Justin memandang seseorang yang duduk di kursi roda dengan seksama. Sejujurnya ia takut ini semua hanyalah mimpi. Namun ia merasa semuanya terlalu nyata untuk sebuah mimpi. Ia berusaha untuk bergerak menggapai perempuan itu. Ia tampak lain, tak seperti saat terakhir ia bersamanya. Perutnya sudah terlihat sangat besar. Ia begitu bahagia hingga tak terasa air matanya mengalir begitu saja tanpa izin.
"H-ho..ney..."ucapnya yang hanya menghasilkan sebuah bisikan.
Belum sempat perempuan tadi menjawabnya, seorang dokter yang sangat ia kenal bersama dengan ayahnya dan beberapa perawat datang keruangan penuh alat alat penunjang kehidupan itu. Mereka memeriksa keadaan Justin yang sudah hampir 4 bulan koma.
Satu persatu alat alat itu dilepas dari tubuhnya, hanya tersisa elektrode yang tertempel di dada nya dan ventilator yang tadinya masuk ke tenggorokannya diganti dengan sebuah selang oksigen yang menempel di hidung.
"Syukurlah kondisi Anda sudah stabil...tinggal pemulihan saja, mubgkin 2 sampai 3 hari lagi Anda sudah diperbolehkan pulang." kata Dokter tadi sebelum ia keluar ruangan.
"Ho...ney...apakah itu benar benar kamu?" tanya Justin sambil menggapai wajah istrinya yang mendekat.
"Iya By....aku dan bayi bayi kita selamat...."kata Jess dengan mata berkaca kaca.
flashback.
Jess mendapat telefon dari Jhoni agar segera keluar dari mobil, karena dari alat pendeteksi bom terus menerus berbunyi dan mengarah ke mobil yang ditumpangi Jess. Ia pun segera berlari menyelamatkan diri. Dan benar saja belum sampai 10 langkah ia berjalan, bom tersebut meledak. Jess sempat terlempar beberapa meter dari lokasi ledakan itu dan mendarat di semak semak yang ada di dekat sana. Seketika ia tak sadarkan diri dan mengalami pendarahan.
Jess ditemukan oleh Vino yang langsung mencarinya setelah ledakan itu terjadi. Saat Vino akan memberi tahu Justin, ternyata Justin juga sudah tak sadarkan diri karena luka dalam yang dialaminya cukup parah. 3 tulang rusuk patah dan salah satunya menuruk paru, ia juga mengalami gegar otak dan pendarahan dalam tempurung kepalanya karena pukulan benda tumpul. Yang membuatnya koma selama hampir 4 bulan.
Beruntung luka yang dialami Jess tidak terlalu parah, ia hanya mengalami dislokasi pergelangan tangannya. Dan yang lebih ajaib, walaupun ia mengalami pendarahan yang lumayan parah, ketiga janinnya selamat. Benar benar bayi bayi yang keras kepala.
Flashback off.
Justin yang sudah lebih baik, langsung di pindahkan ke ruang rawat inap VVIP. Sebelumnya ia tak menyangka sama sekali kalau kandungan Jess akan selamat dari tragedi itu. Ia merasa sangat bersyukur atas keajaiban yang diberikan Tuhan pada keluarganya.
"By....apa masih pusing sekarang?" tanya Jess.
Justin hanya menggeleng sambil tersenyum.
__ADS_1
"Lebih pusing kepalaku yang ada di bawah Honey...karena harus benar benar puasa sampai kamu selesai melahirkan...." kata Justin dengan mimik muka yang dibuat buat.
"Hehehe...sabar suamiku...nanti setelah melahirkan aku akan membayarnya berkali kali lipat..." Kata Jess terkekeh. Namun ada rasa takut jika tak kesampaian menepati janjinya.Ia pun langsung tertunduk.
Justin yang menyadari segera memeluk istrinya dengan erat.
"Honey...percayalah...tak akan terjadi apa apa denganmu maupun anak kita...kalian pasti akan baik baik saja." kata Justin sambil melepaskan pelukannya dan menciumi wajah Jess. Kemudian ia memeluknya kembali.
"By..berjanjilah..apapun yang terjadi nanti tetaplah bahagia...tak boleh setetes pun air matamu yang keluar..oke...."kata Jess yang membuat Justin semakin merapatkan pelukannya.
...----------------...
Tiga hari kemudian, Justin sudah diperbolehkan untuk pulang kerumah. Namun sebelum itu, ia mengajak Jess untuk memeriksakan kandungannya. Ia melakukanncek kehamilan seminggu sekali karena memang kondosi Jess yang sangat mengkhawatirkan.
Dokter mulai menggerakkan transducer setelah ia mengoleskan gel diperut Jess yang membuncit. Justin hanya menghela nafas saat melihat gambar USG itu.
" Honey...kamu bisa keluar dulu sebentar, Bunda Karina sudah menunggumu" kata Justin menyembunyikan kegelisahannya. Jess pun mengangguk dan keluar ruangan itu.
"Saya tahu Dok...nyawanya juga mungkin akan terancam. saya minta sebagai seorang suami dan seorang ayah, tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya...Saya berjanji,jika istri saya baik baik saja setelah melahirkan Anda akan mendapat promosi jabatan dinrumah sakit ini. Tolong pertimbangkan Dok..."pinta Justin.
"Tuan Justin...sekalipun Anda tak menjanjikan apa apa, saya akan melakukan yang terbaik untuk pasien saya. Karena itu adalah sumpah seorang dokter. Dan anda pasti juga tahu...kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, untuk hasilnya, semua kembali pada kehendak Tuhan.." kata dokter Lisa.
"Saya tahu dok..mungkin karena saya terlalu takut kehilangan istri saya...jadi saya berpikiran aneh aneh.." kata Justin.
"Seorang dokter paling jeniuspun, akan kehilangan semua kemampuan yang pernah ia pelajari saat pendidikan jika sudah menyangkut dengan orang tercinta." kata Dokter Lisa sambil tersenyum
"Semangat dokter Justin..karena ada dua anak perempuan dan 1 anak laki laki yang sedang berjuang di rahim istri Anda..." imbuhnya. Yang langsung membuat Justin tersenyum.
Setelah berpamitan, ia pun langsung keluar dari ruangan dokter Lisa untuk menemui Jess yang sedang menunggunya di lobi rumah sakit ditemani oleh Karina.
__ADS_1
"Sudah By?"tanya Jess.
"Sudah...sekarang kamu harus semangat karena ada dua orang tuan puteri dan seorang pangeran yang sedang tumbuh.."kata Justin sambil mengacak rambut Jess.
"Benarkah....padahal setia USG tak pernah terlihat mereka laki laki atau perempuan.Kalian ini benar benar anak Daddy...mau kasih tahu aja nunggi Daddy..."kata Jess.
"Anak mommy juga lah..kan yang nggendong kemana mana Mommy.." kata justin sambil mengecup dan mengusap lembut perut Jess. Tiba tiba Jess merasakan tendangan yang cukup kuat dari dalam perutnya.
"Hubby....!" pekik Jess. Karina yang baru saja dari toilet langsung berlari mendekati Jess yang berteriak.
"Kenapa sayang...mana yang sakit?" tanya Karina dengan nada khawatir. Sedangkan Justin hanya tersenyum.
"Mereka memberika tendangan keras setelah Kak Justin mengajak mereka bicara Bun..." jawab Jess.
" Itu sangat bagus sayang..berarti bayi kamu sangat sehat..." kata Karina.
"Benarkah Bun..? " tanya Jess berkaca kaca.
"Iya sayang...kalau kamu selalu bahagia, maka mereka juga akan tumbuh jadi bayi bayi yang tumbuh dengan sehat dan bahagia Nak.." kata Karina.
"Jadi kamu harus selalu bahagia untuk mereka ya Sayang..." lanjutnya.
" Iya Bun....Jess akan selalu bahagia demi mereka..." kata Jess.
"Sampai nafas terakhir Jess..." batin Jess sambil menghela nafas.
...****************...
enaknya di bikin sad ending apa happy ya gengs....😪😪😪
__ADS_1
komennya yaaaaaa.......