My Surgeon My Hubby

My Surgeon My Hubby
batal


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu, sejak Revan datang menemui Justin. Acara pertunangan Jess dan Jesslyn akan dilaksanakan akhir pekan ini, berarti acara akan diadakan 2 hari lagi, mereka memilih akhir pekan karena, bagi pegawai kantoran akhor pekan adalah saat santai dan tidak terlalu memikirkan pekerjaan, jadi mereka bisa menghadiri acara pertunangan itu tanpa memikirkan pekerjaan yang membebani mereka.


Hari ini Jess dan Justin berencana untuk men-survey tempat acara berlangsung seklaigus gladi bersih. Mereka mengadakan acara tersebut di hotel milik keluarga Revan, karena Revan lah yang memaksa Justin untuk mengadakan pertunangan disana. Bahkan EO terbaik juga didatangkan Revan sebagai hadiah pertunangan untuk sahabat sekaligus kakaknya itu.


Justin dan Michael masih menunggu Jess turun untuk sarapan bersama sebelum mereka berangkat.Sudah hampir setengah jam mereka menunggu, tapi Jess belum juga turun.Justin sedikit khawair, ia pun naik ke lantai atas menuju kamar Jess.


Justin pun mengetuk pintu Jess. Tapi tak ada sahutan. Ia pun mencoba membuka pintu itu. Ternyata tidak dikunci.


"Jess...kenapa kamu belum bangun juga?" kata Justin mendekati Jess yang masih meringkuk dibawah selimut tebalnya.


Selimut itu terlihat bergetar, Justin semakin khawatir.


"Jesslyn..." panggil Justin lagi.


Tapi tetap tak ada sahutan. Justin membalikkan tubuh Jess, Ia sangat kaget melihat Jesslyn dengan wajah yang sangat pucat dan matanya terpejam, keringat dingin membanjiri wajah Jess. Jesslyn terus menggigil dengan mata terpejam.


"Jesslyn...Jesslyn...apa kamu bisa mendengarku?" tanya Justin sambil menepuk nepuk pipi Jess.


Justin pun segera menempelkan punggung tangannya ke dahi Jess.


"Tidak demam..tapi telapak tangannya sangat dingin, seperti menahan sakit." gumamnya.


"Jesslyn...kakak tanya apa kamu mendengarku..??" kata Justin mulai panik.


"Biiii.....bibi......Ayaaahh....Yahhh....." teriak Justin dengan suara panik.


Tak lama kemudian,Michael dan salah seorang pelayan senior masuk ke kamar Jess.


" Ada apa Son? Kenapa kau..." tanya Michael belum sempat menyelesaikan kalimatnya, ia langsung berlari menghampiri Justin yang sedang memeluk Jess.


" Tenanglah Son..ada apa ini ?"tanya Michael mencoba untuk tenang.


"Jess tak sadarkan diri Yah..waktu aku masuk ke kamar dia sudah menggigil dengan keringat dingin yang terus keluar." kata Justin sambil terus mengusap tangan dingin Jess, berharap tangannya sedikit menghangat.


" Apa kamu sudah memeriksa denyut nadinya..?tenanglah..jangan panik.."kata Michael.


" Sudah yah tapi sangat lemah,"jawab Justin.


"Bi...yolong ambilkan stetostop, tensimeter dan termometer di ruang kerja saya..cepat ya bi..."perintah Michael.

__ADS_1


Michael paham Justin saat ini tidak dapat berfikir jernih dengan keadaan kekasihnya.


"Son..apa Jess sedang datang bulan sekarang?" tanya Michael. Sambil memeriksa Jess.


"Aku tidak tahu Yah..aku kurang paham dengan jadwal menstruasi Jess." kata Justin jujur.


"Bi..tolonv cek apa Jess saat ini sedang menstruasi atau tidak." kata Michael kepada pelayan itu.


"Baik tuan...bisa tian keluar sebentar saya cek dulu" kata pelayan itu.


Michael dan Justin pun segera keluar dari kamar Jess. Tak berapa lama kemudian, pelayan tersebut keluar.


"Bagaimana Bi..?" tanya Michael.


" Nona Jesslyn sepertinya memang sedang menstruasi Tuan.."kata pelayan itu.


"Baik..terimakasihbya Bi..."kata Michael.


Mereka pun segera masuk ke kamar Jess lagi. Michael memasangkan selang infus dan menyuntikkan beberapa obat melalui intravena Jess.


"Ayah sudah menyuntikkan pereda nyeri untuk Jess, mungki dia akan tidur beberapa jam, nanti kalian tidak usah ke gedung acara, biar ayah saja yang kesana, Jess tidak boleh kelelahan.akan sangat berpengaruh dengan kondisinya." jelas Michael.


"Ah..iya ayah juga akan ke rumah sakit hari ini, jadi kamu dirumah saja, jaga calon istrimu baik baik..ingat dia princess Ayah.!" kata Michael sambil menepuk pelan bahu Justin.


"Nanti sebelum makan siang juga sudah pulang, kamu bisa ke rumah sakit setelah jam makan siang,...ya sudah ayah pergi dulu, hati hati di rumah.." kata Michael sebelum meninggalkan kamar Jess.


Justin kembali merebahkan diri disamping Jess yang masih memejamkan mata, wajahnya sangat pucat.Dengan pelan ia mengusap lembut wajah halus Jess, kemudian mengecup bibir Jess pelan.


Justin meletakkan lengannya di bawah kepala Jess dan memeluk tubuhnya.


"Jess, aku begitu mencintaimu, cepatlah sembuh..lusa adalah hari pertunangan kita...apa kamu begitu kelelahan hingga dimenore mu kambuh..?" Kata Justin sambil terus mengelus rambutvpanjang Jess.


Tak terasa Justin pun ikut tertidur sambil memeluk Jess.


Jess membuka mata saat ia merasakan tubunya tertindih sesuatu. Ia pun melihat ke bawah, ada tangan kekar yang sedang memeluknya. Ia melihat di tangannya sudah tertancap jarum infus.


Yang dia ingat tadi pagi, saat ia berganti pembalut di kamar mandi, perutnya tiba tiba kram dan nyeri hebat pada luka bekas operasinya tempo hari, bahkan untuk melangkahpun pangkal pahanya terasa ngilu. akhirnya denga sisa tenaga Jess kembali ke kasur,perutnya sangat sakit, kepalany seperti berputar putar. Ia masih mendengar suara Justin yang memanggilnya tapi akhirnya suara itu seperti hilang.


Dan kini ia terbaring dengan selang infus dan tangan kekar yang memeluknya, Jess mendongak ke atas dan melihat wajah tampan Justin yang sedang tertidur. Jess pun tersenyum, Ia merasa sangat nyaman dalam pelukan Justin. Ian semakin menenggelamkan kepalanya di dada bidang Justin. Jesspun kembali tertidur, karena efek obat pereda nyerinya belum sepenuhnya hilang.

__ADS_1


Suara ponsel berdering, membangunkan dua insan yang sedang berpelukan. Sudah hampir jam makan siang mereka baru terbangun. Jess menggoyang kan tubuhb Justin agar terbangun.


"Kak..bangunlah..ada telfon untukmu,.."


"Eh..iya...kamu sudah bangun, bagaimana apa masih sakit, apa kepalamu pusing, lalu bekas sayatan diperutmu apa masih sakit?" tanya Justin saat baru membuka mata.


"Nanti saja aku jawabnya, sekarang angkat telfon dari kak Revan, sspertinya sangat penting. Sudah beberapa kali dia menelepo."Jawab Jess.


"Iya..iya..aku angkat telfon dulu." kata Justin sambil mengecup kening Jess.


"Halo..."kara Justin.


" Hei...darimana saja kau ditelfon sampai puluhan kali tak ada satupun yang kamu angkat" kata Revan diseberang.


"Maaf aku baru bangun tidur..hehehe..."jawb Justin terkekeh.


"Dasar Cu Pat Kai kerjaannya ngorok terus! Kau tidak ke hotel untuk melihat persiapan pertunanganmu?" kata Revaan dengan nada kesal.


" Aku tadi pagi sudah mau kesana, tapi Jess tiba tiba sakit aku tak bisa kesana." Jawab Justin.


"Hah?! sakit? bagaimana bisa? bukankah tadi malam dia masih baik baik saja,Jangan jangan kamu apa apa kan dia? tak mungkin kan tiba tiba sakit?" Kata Revan.


"Dismenore nya kambuh. Sudah puas??"kata Justin langsung menutup telfon Revan.


Justin kembali menghampiri Jess yanag masih terlihat lemas.


"Bagaimana apa masih sakit?"Kata Justin sambik menciumi wajah Jess. Jess pun menggeleng pelan.


"Sebentar aku ambil alatku di meja dulu."kata Justin beranjak mengambil peralatannya.


" Aku periksa dulu, aku buka bajumu ya..."Jesspun mengangguk.


Justin menempelkan stetoskopnya di dada dan perut Jess. Kemudian dengan tangannya sedikit menekan perut Jess bagian bawah.


" Aauuhh..."pekik Jess pelan sambil meringis.


"Sakit sekali ya...? " tanya Justin, Jess pun mengangguk.


"Jess bicaralah...kenapa kamu hanya menggeleng dan mengangguk saja dari tadi..?apa kamu marah denganku."

__ADS_1


Jess menggeleng lagi..


"Jess..ada apa denganmu?!"tanya Justin


__ADS_2