
Pagi itu, di sebuah rumah megah di kompleks perumahan elit, sepasang suami istri sedang sarapan bersama. Mereka hanya berdua menikmati kemewahan tersebut, karena puteri mereka telah bekerja dan tinggal sendiri di apartemennya.
" Pa...hari ini papa transfer 500 juta ke rekening mama ya...mam mau hunting tas C.D keluaran terbaru pa.."kata Dianka pada suaminya.
" Hah...500 juta lagi, bukannya kemarin baru saja papa transfer 500 juta?apa sudah habis?" tanya Felix.
"Pa...harta keluarga kamu tuh nggak akan habis..Mama cuma minta 500 juta aja pelit banget sih...emang uang papa mau papa kasihkan siapa?"tanya Dianka dengan nada tinggi.
"Kamu tuh sukanya hambur hamburkan uang terus, investasi kek..jangan buat shoping sama pesta dengan teman teman sosialitamu itu."kata Felix dengan kesal.
"Aku kan jua investasi pa..aku beli Tas branded juga buat investasi, kan bisa dijual lagi kalau aku bosan.."kata Dianka tanpa dosa.
" Ma..sebulan ini Mama sudah hampir menghbiskan 10 milyar hanya untuk kesenangan mama saja.Jangan pikir papa nggak tahu ya, kalau mama punya simpanan berondong di luar sana!" kata Felix yang sudah mulai emosi.
" Papa jangan nuduh macam- macam ya...mama bisa bongkar kejahatan papa kalau sampai papa nuduh mama macam macam di luar sana."kata Dianka
plaakk!!!
Felix menampar Dianka dengan keras.Dianka memegangi pipinya dengan raut muka penuh kemarahan. Ia kan membalas tamparan suaminya, tapi salah satu pelayan menghampiri mereka.
"Tuan..Nyonya...Maaf ada yang bertamu di luar.." kata pelayan itu.
"Siapa yang berkunjung pagi pagi begini?"tanya Felix.
"Tuan Revan, tuan.." kata pelayan itu ketakutan.
"Pak Revan..ada apa dia pagi pagi sudah bertamu?"gumam Felix. Ia langsung bergegas menemui Revan yang sudah berada di ruang tamu.
"Selamat pagi pak Revan"kata Felix sembari menjabat tangan Revan.
"Selamat pagi Tuan Felix.apa kabar pagi ini, maaf saya sudah lancang pagi pagi mengganggu waktu sarapan Anda." kata Revan dengan senyum misterius.
"Ada apa gerangan Pak Revan sampai pagi pagi begini menywmpatkan diri datang kemari?"tanya Felix.
" Pak Felddix, saya kesini hanya ingin memberikan ini."Kata Revan sambil menyodorkan amplop berwarna coklat berlogo kepolisian. Felix yang membaca isi amplop tersebut mengernyitkan dahi.
" Apa maksudnya Pak Revan..saya tidak mengerti..kenapa Anda mennyerahkan surat penangkapan kepada saya?" tanya Felix dengan nada panik.
"Pak polisi Anda boleh masuk." Kata Revan dengan tatapan mata tajam.
Para anggota kepolisian masuk ke rumah untuk menangkap Felix dan Dianka.
__ADS_1
"Bapak Felix Anda ditangkap pihak kepolisian atas tuduhan pemalsuan dokumen pengalihan aset dan status adopsi Nona Alexa, pembunuhan berencana terhadap Tuan Frans dan Istrinya, serta percobaan Pembunuhan terhadap Nona Jesslyn. Silahkan Anda ikut kami untuk menjelaskannya di kantor kepolisian." Kata komandan polisi.
"Apa maksud kalian? kalian tidak bisa membawaku tanpa bukti!" Kata Felix dengan nada tinggi.
"Kami semua sudah mempunyai bukti lengkap, Tuan Felix Gunawan.." kata Alexa yang tiba tiba masuk ke dalam rumah.
"Alexa..apa maksudmu menyerahkan orang tuamu ke kantor polisi.Ha?! Dasar anak durhaka kamu!Benar benar tak tahu diri." kata Dianka dengan kasar.
"Mama bilang Alexa tak tahu diri? Kalian tmyang tidak tahu diri, Om Frans dan Tante Feli begitu baik dengan kalian, tapi apa balasan kalian? mama dan papa malah membunuh mereka yang tidak berdosa demi merebut harta yang bukan hak kalian. Bahkan kalian berusaha membunuh Jesslyn yang tidak tahu apa apa. Apa itu yabg disebut tahu diri?"kata Alexa dengan emosi yang sudah tak bisa ditahan lagi.
"Kurang Ajar kamu!" teriak Dianka.
"Aku memang anak kurang ajar,Ma..tapi itu untuk melindungi adikku yang hendak kalian bunuh, Pak polisi segera bawa mereka!" teriak Alexa dwngan air mata berurai.
"Maafkan aku Ma..pa...aku hanya ingin mengembalikan apa yang seharusnya bukan milik kita...Semoga apa yang ku lakukan benar." batin Alexa.
Para petugas kepolisian, membawa Felix dan Dianka menuju kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.
Di depan rumah Felix, banyak wartawan dari berbagai media untuk meliput berita penangkapan mereka. Berita ini begitu mengejutkan di kalangan para pengusaha. Karena selama ini sosok Felix mempunyai citra yang sangat baik, Ia sering mengadakan acara amal,maupun bakti sosial bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah. Ia dan Istrinya dikenal sebagai sosok yang dermawan dan baik hati. Dan kini semua orang tahu bahwa kebaikan dan kedermawanan Felix dan istrinya hanya kedok untuk menutupi semua kejahatan yang telah mereka lakukan.
Jess melihat semua itu dari kejauhan, karena Justin melarang Jess untuk mendekat. Justin khawatir Jess tak dapat menahan emosinya yang berakibat fatal untuk kesehatan Jess. Ia tak henti hentinya menangis, Jess tak menyangka bahwa kematian kedua orang tuanya bukan kecelakaan biasa. Tapi karena perbuatan pamannya yang sudah digelapkan oleh harta.
"Honey..sadarlah..honey..buka matamu..Jesslyn?" panggil Justin sambil menepuk nepuk pipi Jess.
Tangan Jess menjadi sangat dingin, dan denyut nadinya melemah. Justinpin menjadi panik, ia langsung meninggalkan tempat itu dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi.
"Jess..bangunlah sayang ..."kata Justin. Yang ia khawatirkan akhirnya terjadi. Ia langsung menghubungi UGD Ganendra Medichal Center.
20 menit kemudian,Justin sampai di rumah sakit dan langsung menggendong Jess. Para perawat sudah bersiap menyambut mereka dan membawa tubuh Jess dengan brankar.
Justin segera menghubungi dokter spesialis jantung dirumah sakit itu. tak lama kemudia Dokter itu datang dan segera menangani Jess.
Setelah 30 menit Jess ditangani, Dokterpun keluar dari ruang tindakan.
"Bagaimana dengan Jesslyn,Dok? apa ada masalah serius dengan jantungnya?" tanya Justin.
"Dokter Justin tidak usah cemas, Nona Jesslyn hanya shock saja, memang cardiomiopati yang dialami sedikit berpengaruh terhadap kesehatan Nona saat ini. Tapi saya sudah memberikan Digoxine dalam dosis rendah untuk menguatkan jantung nona Jesslyn. Ia akan segera sadar." jelas dokter itu.
"Terimakasih Dokter.."kata Justin.
" Sama sama dokter Justin, saya permisi dulu."Dokter itu berpamitan. Justin hanya mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
Justin yang segera menemui Jess yang masih belum sadarkan diri. Selang oksigen masih menempel di hidungnya. Dengan pelan ia mengelus wajah Jess yang pucat.
"Jesslyn...jangan seperti ini sayang...kamu membuatku takut.." kata Justin sambil menciumi punggung tangan Jesslyn.
Tak lama kemudian Jess terlihat mengerjapkan mata, dan denganlerlahan ia membuka matanya. Tapi ia hanya diam dengan tatapan mata kosong.Justin yang melihat perubahan sikap Jess terlihat mulai khawatir.
"Jesslyn..honey...apa kamu baik baik saja?" kata Justin sambil menggenggam tangan Jess. Tapi Jess hanya diam sambil membuang muka.
"Jesslyn..apa kamu mau makan? kakak minta suster siapkan makanan ya..?" tanya Justin.
Tapi lagi lagi Jess hanya diam, seperti tidak merespon pertanyaan Justin.Justin mulai bingung dengan apa yang terjadi dengan Jess.
" Jess apa kamu mendengarku? kenapa kamu jadi seperti ini?Jesslyn..!!"teriak Justin sambil mengguncang tubuh Jess.
Jess masih saja diam. Di tengah tatapan matanya yang kosong, bulir bulir air mata Jess jatuh di pipinya.
"papa...mama...mengapa kalian begitu tega..aku hanya sendirian sekarang" lirih Jess.
"Jess..dengarkan kakak,honey..kamu nggak sendirian sayang..ada banyak orang yang menyayangimu.." kata Justin ikut menangis.
"Papa...mama...Jess hanya sendirian..."lirih Jess lagi.
Justin yang tak tega melihat keadaan kekasihnya berlari keluar, di depan pintu UGD dia menangis sejadi jadinya.
"Mengapa begini Tuhan...mengapa...hiks...hiks..Aaaarrrggghhhhhh...." Justin berteriak frustasi. Ia lalu membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.
Michael dan Alexa yang baru datang langsung menghampiri Justin yang sedang frustasi.
"Justin apa yang telah terjadi? bagaimana dengan Jess?Ia baik baik saja kan?" tanya Michael panik.
" Jess tidak baik baik saja Yah..." kata Justin lesu.
"Apa maksudmu?"tanya Michael bingung.
Alexa yang sudah tidak sabar, segera masuk ke ruang tempat Jess dirawat. Ia melihat keadaan sepupu angkatnya sangat memprihatinkan. Alexa langsung berlari memeluk Jess yang hanya diam dengan tatapan mata kosong. Ia menangis sejadi jadinya.
"Jess..jangan seperti ini..kita baru saja berkumpul..aku akan sendirian jika kamu seperti ini...sadarlah Jess.." Alexa histeris dengan keadaan Jess.
Michael yang baru masuk langsung menenangkan Alexa.
" Nak Alexa..jangan seperti itu..Om tau perasaanmu..tapi kita harus terus mendukung Jess agar kondisi psikologisnya pulih.." kata Justin menasehati Alexa.
__ADS_1