My Surgeon My Hubby

My Surgeon My Hubby
Kejutan Jeje


__ADS_3

" Bang..besok susullah kami ke Lombok. Bawa Jeje sekalian, ada hal yang penting.." kata Justin saat menelepon Vano.


"Apa? kamu gila? masa harus nyusulin kalian honeymoon ke Lombok?" kata Vano kesal.


"ini ada hubungannya dengan Jeje. Tapi kita harus tetap hati hati." kata Justin.


"Maksudmu?"tanya Vano.


Justin menceritakan apa yang terjadi di pesawat. Dan siapa yang ia tolong kepada Vano.


"Baiklah malam ini juga kami berangkat. Lebih cepat lebih baik."kata Vano di seberang telepon.


****************


 


PERINGATAN UNTUK DUNIA PERBOCILAN DAN YANG DIBAWAH 21 TAHUN,


HARAP SKIP BAGIAN INI YA..KARENA KALAU NEKAT BACA, AUTHOR TIDAK BERTANGGUNG JAWAB ATAS APAPUN DAN RESIKO HARAP DITANGGUNG SENDIRI.


SEKALI LAGI HARAP BIJAK DALAM MEMBACA PART INI!!🤐🤐🧐


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Justin menutup telepon nya dan beralih pada Jess yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin. Ia memeluk Jess dari belakang .


"Honey...bobo yuuukkk..."kata Justin sambil menyelipkan jari jarinya ke balik kimono Jess.


"Geli by..."kata Jess yang sudah menggeliat karena kegelian.


"Tapi enak kan? Honey...I want you right now.." bisik Justin.


"Let's do that hubby..." kata Jess dengan setengah mend*s*h.


Justin langsung mengangkat tubuh Jess ala bridal style dan membantingnya pelan di ranjang.


Justin mulai mengecup leher jenjang Jess dan membuat stempel kepemilikan disana. Mulut Jess yang membuka tak disia siakan oleh Justin. Ia langsung mendaratkan bibirnya disana dan memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Jess. Dengan sekali tarikan tali pengikat kimono Jess sudah terlepas dan Justin pun melepas pakaian yag dikenakan istrinya. Ia juga melepas pakaian miliknya.


Justin melepaskan pagutannya dan mulai mencari dua bukit favoritnya dan memainkan tangannya disana.


"Mmmhhh.....My Hubby..I like it..." ucap Jess. Ia menggigit bibirnya untuk menahan geli sekaligus nikmat atas perlakuan Justin.

__ADS_1


"I wanna taste it Honey.."kata Justin sambil memegang bawah tubuh Jess.


Tanpa menunggu jawaban Jess, ia langsung membuka kaki Jess lebar lebar dan menyesap ****** milik Jess.


"stop it Hubby...please..."rintih Jess. Ia ingin menghentikannya, tapi juga menginginkan lebih.


"Enak sekali Honey...."ucap Justin sambil terus memainkan lembah milik Jess.


"Mmmhhh....let's do that by..aku sudah tak tahan lagi..." erang Jess.


"Keluarkan saja Honey...."kata Justin tanpa menghentikan permainannya. Dan tak lama kemudian Jess merasakkkan sesuatu meletus dan mengeluarkan lava bak gunung berapi.


"I love you my surgeon...kamu benar benar membedahku malam ini..."racau Jess.


"Honey..aku mulai ya..." Justin segera memasukkan samurainya yang telah menghunus sempurna. Dan memulai aksi tusuk menusuknya dengan gerakan cepat.Mereka pun melakukan pelepasan sampai beberapa kali. Dan berakhir terkulai lemas karena kelelahan.


****************


Saat tengah malam, dering ponsel Justin membangunkannya. Ia melihat nama Vano terpampang di ponselnya.


"Adik ipar..apa sudah selesai olahraganya? sudah 10 kali aku telepon, tapi tak kau angkat! jemput aku sekarang. aku sudah di bandara.." omel Vano di seberang.


"Hehee...makanya cepat menikah jadi kau tau rasanya?Tunggu 10 menit aku sampai disana." kata justin ia segera memakai pakaiannya dan mengambil kunci mobil yang disewanya.Justin hanya mengenakan celana training panjang warna abu abu dan jaket hitam.


"Ayo Bang..." kata Justin.


"Ck..lama sekali...untung aku tak sampai berakar karena kelamaan menunggumu." Kesal Vano.


"Hehe..maaf...aku kan judulnya honeymoon jadi ya begitulah..." kata Justin yang lupa kalau ada Jeje bersamanya.


"Eh...mulut loe...ada bocil hoe..!" kata Vano.


"Maap nggak ingat Bang.." kata Justin terkekeh. Sedangkan Jeje yang sudah kelelahan hanya diam saja.


"Kita langsung ke hotel Bang aku sudah pesan kamar untuk kalian." kata Justin. Hanya dijawab anggukan oleh Vano yang sedang sibuk dengan ponselnya.


Sesampai di hotel, Vano langsung menuju ke kamar untuk meletakkan barangnya dan menyuruh Jeje untuk langsung tidur. Setelah selesai mereka memeutuskan untuk mencari kafe untuk membicarakan tentang Jeje.


"Apa kau yakin yang kau tolong itu orang tua kandung Jeje?" tanya Vano.


"Kita tak bisa percaya begitu saja dengan sembarang orang. Saat ini, Jeje adalah orang yang paling dicari oleh Red Tiger. Karena hanya dia yang punya akses rahasia klan itu." jelas Vano.

__ADS_1


"Kalau yakin 100 % belum bang. Tapi laki laki yang bernama John itu sangat mirip dengan Jeje.Kebetulan, aku punya foto mereka yang tadi siang sengaja diambil Jess siang tadi. Barangkali kita bisa tunjukkan pada Jeje besok pagi.." kata Justin.


"Oh My God....Justin bengek...kenapa Loe nggak bilang dari tadi sih kalau punya fotonya..kan tau gitu gue sama Jeje nggak perlu jauh jauh kesini buat nemuin loe. Loe tinggal kirim fotonya,beres.." omel Vano dengan kesal.


"Kalau abang nggak kesini kan nggak seru Bang.." kata Justin enteng.


"Bengek loe..!"


Keesokan paginya, Justin dan Jess sarapan bersama dengan Vano dan Jeje.


"Je..kakak ingin menunjukkan sesuatu padamu..." kata Jess saat mereka selesai sarapan.


"Apa kamu mengenal mereka berdua?" tanya Jess sambil menunjukkan foto sepasang suami istri yang mereka tolong kemarin.


Seketika mata Jeje berkaca kaca saat melihat foto yang tak asing bagi Jeje.


"Mom..Dad..."kata Jeje lirih.


"Mereka mommy dan Daddy kak..apa kakak bertemu mereka?"tanya Jeje.


"Kamu ikut kakak ya Je...mereka sangat merindukanmu." kata Jess.


"Iya Kak...tapi mereka baik baik saja kan?"tanya Jeje.


"Mereka baik baik saja Je..sangat baik..Mungkin akan menjadi hal yang membahagiakan untukmu." kata Jess dengan senyum penuh arti.


Tanpa menunggu lama, mereka pun mengantar Jeje bertemu dengan kedua orangtuanya.


"Kak..mengapa di rumah sakit?apa yang terjadi pada Mommy dan Daddy ku?"kata jeje cemas.


"Kamu akan tahu nanti." kata Jess.


Jess terus menggandeng tangan Jeje menuju ke ruangan tempat ibunya dirawat. Tangan Jeje terasa sangat dingin. Ia merasa sangat bahagia akan bertemu dengan kedua orangtuanya yang setahun lalu terpisah darinya.Tapi di lain sisi ia juga merasa khawatir, karena Jess membawanya ke rumah sakit.


Bagi Jeje, jalan menuju tempat orang tuanya sangatlah jauh dan lama. Mungkin karena ia merasa tidak sabar untuk bertemu dengan mereka.


"Je...jangan tegang gitu napa?" goda Justin. Karena semenjak tadi, Jeje hanya diam.


"Siapa yang tegang sih Kak..biasa aja.." jawa Jeje dengan nada datarnya.


" Ck..anak ini..benar benar.." gumam Justin kesal. Ia sering merasa kesal sendiri saat menggoda Jeje. Mungkin karena sikap Jeje yang terlalu dingin dan dewasa untuk anak seumurannya.

__ADS_1


Tiba di depan pintu sebuah ruangan,Justin menepuk bahi Jeje pelan.


"Jeje..ini adalah ruangan ayah dan ibumu. Apa kamu siap untuk bertemu mereka?"


__ADS_2