My Surgeon My Hubby

My Surgeon My Hubby
Imej CEO


__ADS_3

Justin turun dari motor yang dikendarai Jess dengan gemetar, begitu turun ia langsung terduduk di depan pintu rumah. Imej sebagai dokter bedah jenius dan CEO Rumah sakit Terbaik di negara ini hilang sudah. Penampilannya begitu berantakan.


Para bodyguard yang berjaga di rumahnya langsung menghampiri Justin. Mereka tak tahu apa yang terjadi dengan tuan mudanya.


"Tuan muda apa yang terjadi dengan Anda?" tanya salah satu bodyguard menghampirinya.


"Aku tidak apa apa. Aku baik baik saja" jawab Justin dengan nafas tersengal.


Michael dan Revan yang kebetulan sedang mengujungi rumahnya mendengar suara Justin di luar segera keluar rumah.


" Hei...Son...kenapa apa yang terjadi denganmu?" tanya Michael dengan nada khawatir.


"Ayah pasti tak akan percaya dengan apa yang kuceritakann"jawab Justin.


"Maksudmu?Lalu dimana Jess, apa terjadi sesuatu dengannya?"tanya Michael.


"Hah?! Harusnya yang ayah cemaskan itu aku, bukan Jess..aku bisa selamat sampai dirumah ini itu adalah suatu keajaiban." kata Justin terlihat kesal.


"Ayah semakin tidak mengerti...Ayah bertanya dimana Jess kamu malah marah marah?kan kamu tahu Jess sedang sakit..."kata Michael bingung.


" Jess pulang Ayah...."kata Jess yang berjalan dari arah carport mereka. Jess langsung menghampiri calon mertuanya itu dan mencium punggung calon mertuanya dengan senyum bahagia.


Michael semakin bingung dengan apa yang terjadi, begitupun Revan. Sedangkan Justin masih terduduk di lantai dengan posisi bersandar di tembok.


"Hei..kakak ipar..apa kau tidak ingin menjelaskan sesuatu..." tanya Revan.


Jess langsung terkekeh, dan menceritakan kejadiannya.


Flashback On


Sepulang dari Mall Jess lah yang menyetir motor sport warna hitam itu, sosok Jess yang begitu anggun seakan hilang saatbia mengendarai motor besarnya. Seperti anak yang kecil yang baru mendapat mainan baru, Jess sangat bersemangat ketika ia menancapkan kunci motor dan mulai men-starter nya bunyi keras khas motor sport pun seperti menghidupkan kembali jiwa pembalap Jess yang hampir padam.


"Ayo..naik Kak.."seru Jess pada Justin.


"Ok..baiklah.." kata Justin yang kemudian naik di belakangbJess.


" Pegangan Kak..."kata Jess.Justin pun langsung merangkul pinggang Jess dari belakang.

__ADS_1


Jess merasakan sensasi seperti tersengat listrik saat tangan Justin merangkul pinggang ramping Jess.


"Kakak sudah siap?" tanya Jess.


"Sudah siap Honey" kata Justin santai karena ia mengira Jess yangvseorang wanita mengendarai motor itu pelan.


Tapi tak disangka Justin, Jess melajukan motor itu dengan sangat kencang. Bahkan ia lihai menyalip kendaraan kendaraan yang malam itu jalanan memang sedikit ramai.


"Honey...pelan pelan sayang.." teriak Justin yang mulai ketakutan.


"Ini sudah pelan Kak..makanya kakak pegangan."Jawab Jess santai.


"Motor besar kalau disetir pelan akan terasa tidak nyaman kak.." teriak Jess agar terdengar oleh Justin.


" Aku hanya mengingatkan saja 2 hari lagi kita tunangan sayang..jangan sampai lusa kita tinggal nama saja.." jawab Justin sedikit berteriak.


" Kakak tenang saja serahkan padaku." jawab jess santai.


" Tenang gundulmu itu Yang..Ini aku sudah senam jantung dari tadi" batin Justin sambil memeluk erat tubuh Jess.


Di jalan menikung, Jesspun tidak berusaha memelankan motornya, ia malah sedikit memiringkan kendaraan besar itu.Justin dibelakang hanya pasrah dengan cara menyetir Jess. Karena setiap ia menyuruhnya pelan, Jess malah memacunya lebih kencang.


Jarak dari Mall ke rumah mereka yang dalam kecepatan normal harus ditempuh selama 45 menit, jika Jess yang menyetir hanya di tempuh kurang dari 30 menit.


Flashback off.


Revan dan Michael tertawa terbahak bahak mendengar cerita Justin. Mereka tak menyangka bisa seperti ini. Justin yang seorang pria tampan, gagah, dan berotot kekar, takut ketika naik motor yanh dikendarai perempuan.


Tapi mereka juga heran dengan sisi lain Jess yang baru mereka ketahui. Berbeda dengan Justin dan Revan yang masih keheranan, Michael malah terlihat berkaca kaca karena ia melihat sosok Feli yang ada di dalam Jess. Terlihat ia sangat merindukan kedua sahabat dekatnya itu


"Princess...kamu benar benar mirip dengan mamamu waktu muda dulu. Ia juga sangat lihai naik motor gede. Dulu bukan ayahmu yang membonceng mamamu, tapi mamamu lah yang membonceng papamu. Ah..aku jadi merindukan mereka,...semoga mereka tenang di sana." kata Michael sambil menghapus air disudut matanya.


"Yah...yang Jess kendarai tadi adalah motor kesayangan Jess dulu hadiah dari papa dan mama Jess. Jess sudah menjualnya setelah mama dan papa meninggal, karena waktu itu Jess butuh uang untuk hidup, setelah semua aset keluarga dibekukan kecuali motor Jess."


" Entah dari mana Kak Justin tahu tentang motor itu, ia membelinya dan memberikan lagi padaku."ungkap Jess pada Michael.


"Benarkah Nak..berarti motor itu sekarang adalah milikmu,kamu haris menjaganya, anggap saja papa dan mamamu mengembalikan motor itu untukmu."kata Michael sambil memeluk Jess.

__ADS_1


"iya..terimakasih Ayah.."kata Jess.


"Ya..Tuhan..aku benar benar melihat Feli didalam diri Jess, terimakasih Tuhan karena sudah mengobati rinduku pada mereka drngan hadirnya Jess."Batin Michael sambil menahan air matanya agar tidak keluar.


"Ayah mau istirahat dulu, kalian lanjutkan saja..tapi untuk Princess jangan malam malam, kondisimu belum begitu baik. Justin nanti sebelum tidur pastikan lagi kondisi Jess." kata Michael sebelum masuk ke kamarnya.


Sekitar pukul 10 malam, Revan berpamitan. Karena ia harus menyelesaikan pekerjaan kantor yang dibawanya ke rumah. justin pun juga sudah merasa lelah.


Sebelum tidur, justin memeriksa kondisi Jess terlebih dahulu, ia masuk 4⁴ke kamar Jess yang memang tidak terkunci. Jess terlihat masih memainkan ponselnya.


"Honey..kenapa belum tidur?"tanya Justin sambil mengeluarkan peralatan kedokterannya dari tas.


"Aku menunggumu Kak..."jawan Jess polos.


"Apa kamu menungguku untuk memakanmu?"goda Justin.


"Ih..dasar dokter mesum, aku menunggumu memeriksaku."jawab Jess kesal.


Justin pun terkekeh.


"berbaringlah, aku melihat perutmu dulu, apa tadi masih kram?" tanya justin sambil menaikkan kaos Jess sebatas perut dan menekan perut bagian bawahnya.


"Iya sedikit kak kalau aku menahan sesuatu,.."kata Jess, tapi ia taak mengatakan saat mengendarai motor tadi sebenarnya ia menahan kram perutnya.


"Apa saat mengendarai motor tadi perutmu kram?soalnya kakak merasa perutmu agak keras waktu kakak memelukmu."tanya Justin.


" Hehe..iya..tapi cuma sebentar kok.."kata Jess terkekeh.


"Dokter memang tak bisa dibohongi"kata Jess dalam hati.


"Jess...kamu tidak boleh lagi seperti itu, akan sangat berbahaya...aku tak mau terjadi apapun lagi padamu...aku terlalu mencintaimu honey.."kata Justin dengan hati hati karena takjt Jess akan marah


"Maaf Kak...aku hanya ingin mengendarai motorku setelah sekian lama...aku janji besok aku tak akan memaksakan diri lagi."


"Bagus sekarang tidurlah, aku menyuntikkan obat pereda nyerimu lewat intravenamu, jadi efeknya segera terasa."


Jess meringis kesakitan saat Justin menyuntikkan obat pereda nyeri lewat pembuluh darahnya.

__ADS_1


Justin tersenyum, setelah selesai ia langsung menindih Jess dan mencium bibirnya, dengan lembut. Jess membalas ciuman itu dan merekapun saling bertukar saliva, seakan tak ada yang mau kalah mengabsen sudut rongga mulut pasangannya.


Justin pun mengakhiri ciuman tersebut saat sesuatu di bawahnya mengeras. Ia lun kembali ke kamarnya untuk tidur setelah mengecup kening Jess.


__ADS_2