My Surgeon My Hubby

My Surgeon My Hubby
Dokter juga manusia


__ADS_3

Operasi transplantasi ginjal kakek Oscar berjalan sekitar 4 jam. Justin sendiri yang menjadi asisten dokter bedah luar negeri tersebut. Karena kebetulan ia adalah dosennya saat masih kuliah. Walaupun dokter ahli itu sudah tak muda lagi, ia sangat cekatan dan teliti. Untuk seusia kakek Oscar operasi trnsplantasi itu sangat beresiko jika dilakukan. tapi di tangan dokter itu operasi berjalan lancar tanoa terjadi apapun.


Tepat pukul 13.00 Justin keluar dari ruang operasi.Sedangkan Kakek Oscar masih berada dalam ruang observasi ditunggui oleh Mike untuk menunggunya tersadar dan memantau kondisinya.


Jess yang melihat Justin begitu kelelahan langsung menghampirinya.


"Honey...hati hati." kata Justin sambil mengecup kening Jess.


"Kak...bagaimana kondisi Kakek Oscar?" tanya Jess.


"Operasinya berjalan lancar, bahkan ginjal barunya langsung bisa memproduksi urine.Berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kondisi kakek, karena biasanya baru 1 atau dua minggu ginjal baru bisa meproduksi urine.Jika lebih dari itu akan sangat berbahaya. Tapi syukurlah ginjalnya langsung bekerja." kara Justin menjelaskan pada Jess.


"Apa kakak lapar?" tanya Jess


" Iya honey aku lapar sekali,bahkan ingin makan sekarang juga.."kata Justin dengan senyum menggoda.


"Kalau begitu ayo kita makan dulu." kata Jess yang tak tahu maksud Justin.


" Baiklah..kita ke ruanganku saja..aku akan memakanmu."bisik Justin sambil memeluk pinggang Jess.


"What?dasar mesum!" pekik Jess, ia langsung berlalu menghindari Justin yang juga mengejarnya. Tingkah mereka menjadi perhatian semua orang yang ada di rumah sakit


"Jeslyn wait me...I'm Just kidding.." kata Justin sambil mengejar Jess seakan tak peduli dengan tatapan orang orang di situ.


Mereka berdua tiba di kantin rumah sakit, saat akan memesan makanan Justin teringat sesuatu.


"ya..ampun Jess kakak hampir lupa, harusnya kamu menjalani MCU siang ini. Sebelum kita check up harusnya kamu puasa dulu selama 3 jam. apa kamu tak keberatan jika makannya setelah kamu cek kesehatan?" kata Justin.


"Yahh...padahal aku sudah sangat lapar...tapi besok kita sudah tak boleh bertemu.. ya sudah ayo kak kita makan nanti saja, tapi kalau kakak lapar makanlah dulu.." kata jess.


" Nanti saja kita makan sama sama, tadi di ruang operasi aku sudah makan kue jadi tak begitu lapar." kata Justin berbohong.


Justin langsung membawa Jess ke ruang medichal check up. Disana ada beberapa petugas yang sudah siap. Justin mendampingi semua prosedur check up yang dijalani oleh Jess. Setelah hampir 1,5 jam akhirnya semuanya selesai. Jess dan Justin memutuskan untuk makan siang sambil menunggu hasil laboratoriumnya keluar.


Saat mereka menuju ke sebuah kafe di pinggiran kota, Jess melihat seorang anak laki laki berusia sekitar 10 atau 11 tahun yang dikeroyok oleh sekelompok pemuda. Jess yang merasa kasihan meminta Justin untuk berhenti. Justin pun meminggirkan mobilnya.Jess langsung keluar.


"Hei..apa yang kalian lakukan?" teriak Jess.


"Eh..loe nggak usah ikut campur urusan kita. Pergi loe dari sini!" kata salah seorang pemuda.


"Kalian cuma berani sama anak kecil kroyokan pula. Dasar pengecut!" kata Justin yang kali ini ikut bicara.


"Eh..bangsat Loe!!" kata pemuda itu langsung menyerang Justin. Mereka langsung menyerang bersamaan.Justin pun melayani serangan mereka. Jess yang sudah lama tidak bergelut dengan preman, merasa tangannya sudah gatal untuk menghajar orang.


"Honey..kau nanti terluka biar aku saja yang menghadapi mereka!" teriak Justin


" Tanganku sudah gatal kak..ingin sekali mematahkan leher mereka" jawab Jess yang sudah menumbangkan beberapa dari mereka.


Justin sangat heran melihat Jess dengan mudah menumbangkan para pemuda itu dengan jurus taekwondonya.Karena Jess memang pemegang sabuk hitam taekwondo. ternyata teman teman mereka yang baru datang juga ikut menyerang. Tak sampai setengah jam, Jess dan Justin sudah menumbangkan para preman pemula itu.


"Honey..aku benar benar tak percaya kamu bisa mengalahkan mereka, rupanya calon istriku memang bukan wanita biasa.." kata Justin dengan bangga.


" Ah..kakak..mereka cuma preman pemula..lumayan buat pemanasan sudah lama aku tidak bertarung." kata Jess.


Jess segera menghampiri anak laki laki yang dipalak oleh para pemuda itu.


"Adek...kamu baik baik aja kan?apa ada yang terluka?" tanay Jess sambil memeriksa bagian tubuh anak itu.


"Nggak apa apa kak..udah biasa kok dipalak sama mereka..terimaksih kakak sudah membantuku." kata anak itu.


"Adek ngamen disini?Apa kamu sudah makan?" tanya Jess.


"aku ngamen disini kak...kalau kalau orangtuaku menjemputku."jawab anak itu.Justin melihat ada yang berbeda dengan tatapan anak itu.Entah apa itu,tapi ia merasa kalau anak itu bukan berasal dari kalangan biasa.


" Sejak kapan kamu ngamen disini?Orang tuamu dimana?"tanya Justin yang sedari tadi diam.


"Aku dibawa pergi oleh pengasuhku,mataku ditutup dan ditinggal disini. bahkan aku tak tahu ada dimana." kata anak itu.


" Namamu siapa dek?" tanya Jess.

__ADS_1


"Namaku Justin Jacob Smith. Aku dipanggil Jeje oleh orang tuaku." jawab anak itu dengan nada datar.


"Wahh...namanya sama seperti Om itu.perkenalkan nama kaka Jess dan om ini namanya Om Justin." kata Jess.


Justin terperanjat saat mengetahui nama anak itu. Seperti dugaannya anak itu memang bukan dari kalangan biasa. Terlihat dari cara bicara dan sikapnya.


"Kak sebaiknya kita ajak Jeje makan dulu ya...pasti dia belum makan. Aku juga sudah sangat kelaparan Kak.." kata Jess.


"Iya...ayo..aku akan menghubungi Vano agar bisa bertemu dengannya dan kita bisa mencari tahu asal usul anak ini." kata Justin.


"Adek ayo ikut kakak makan dulu..percayalah kakak orang baik" kata Jess meyakinkan Jeje.


"Aku sudah tahu..ayo Kak..." jawab Jeje datar.


"Ck...sombong sekali anak itu.."kata Justin dalam hati.


Mereka pun mencari restoran terdekat. 15 kemudian sampailah mereka di sebuah restoran seafood.


"Jeje mau makan apa sayang?"tanya Jess.


"Apa saja Kak asal jangan udang, aku alergi dengan udang." kata Jeje.


Tak lama kemudian Vano pun datang.


"Hai adik ipar apa sudah lama?" kata Vano.


"Ck...usiaku dan usiamu sama jangan memanggilku seperti itu." Kata Justin kesal.


"Ada apa katanya kamu mengenalkanku pada seseorang..." kata Vano.


"oh ya..Kenalkan ini Jeje..aku menemukan anak ini di jalan." kata Justin. Vano dan Jeje pun bersalaman. Vano pun merasakan ada aura lain dari anak ini. Ia sama seperti Justin yang juga merasa anak ini bukan dari kalangan biasa.


"Justin aku akan mencari tahu tentang anak ini...Jeje..apa kamu ingat siapa nama orang tuamu?" tanya Vano.


"Dad bernama Johnson Smith dan Mom bernama Aurella Smith.Tapi aku tak tahu dimana mereka" kata Jeje.


"Sepertinya kalian orang baik..baiklah aku mau." jawab Jeje.


" Sip mulai hari ini kamu tinggal di apartemen bersamaku. Tapi kamu harus janji akan rajin belajar." Kata Vano.


" Siap Om..." Jawab Jeje dengan mata berbinar.


"Terimakasih Kak..mau menampung Jeje..karena sejujurnya aku tak tega jika membiarkan anak ini di jalanan..karena mungkin sebelumnya ia tak pernah terbiasa." kata Jess dengan berbinar.


" Membantu orang lain tak akan membuat kita rugi Jess..." kata Vano.


"Setelah selesai kita beli beberapa pakaian dulu untukmu, selanjutnya kita langsung pulang..Ok boy..?" kata Vano.


"Siap boss...." kata Jeje yabg membuat semuanya tertawa.


" Van..bagaimana dengan perkembangan kasus Felix apa sudah ada titik terang?" tanya Justin.


"Menurut penyelidikanku, ada sebuah klan besar yang melindungi Felix sehingga ia dapat dengan mudah lolos dari kita. Baru sekarang ini aku tak dapat membobol sistem keamanan klan itu."kata Vano.


"Percayalah semua pasti ada jalan keluarnya."kata Jess meyakinkan Kakaknya.


Karena hari sudah sore merekapun memutuskan untuk pulang. Vano pun membawa pulang Jeje setelah membelikan beberapa pakaian untuknya.


Sementara itu Jess dan Justin memutuskan untuk jalan jalan dulu. karena selama seminggu ke depan mereka tidak diizinkan bertemu.


"Kak..aku ingin itu.." kata Jess ketika melihat penjual batagor.


"Itu tidak bersih Jess.." kata Justin sesikit bergidik.


"Selalu begitu...itu sangat enak Kak..." kata Jess dengan kesal.


"Terserah kalau kamu mau beli, tapi jangan mengeluh kalau kamu sampai sakit perut gara gara makanan itu." kata Justin.


"Ya..sudah aku beli sendiri kalau kakak tidak mau." kata Jess langsung menghampiri penjual batagor itu. Ia membeli untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kakak cobalah..." kata Jess sambil menyodorkannya pa Justin.


"Tidak mau.." tolak Justin.


"Ayo Kak...ini enak sekali.." paksa Jess.


"Aku tak bisa makan itu Honey.." kata Justin sambil menjauhkan mulutnya dari batagor yang disodorkan Jess.


"Kakak..coba dulu...kakak mencintaiku kan..kalau kakak menolak berarti kakak sudah todak mencintaiku lagi!" ancam Jess dengan mulut yang manyun.


"Baik lah..baiklah..."Justin akhirnya menyerah dengan ancaman Jess. Ia berusaha menelan makanan itu. Tapi seketika ia merasa perutnya seperti di aduk aduk.


Justin segera berlari mencari tempat untuk memuntahkan semua isi perutnya. Ia mengeluarkan isi perutnya hingga habis tak tersisa.Jess yang khawatir langsung memijat tengkuk Justin hingga ia benar benar merasa lega.


Jess merasa sangat bersalah, ia menyesal telah memaksa Justin yang tidak bisa memakan sembarang makanan.


"Kak...maafkan aku...aku sangat menyesal telah memaksamu makan makanan tadi.." kata Jess sambil menyodorkan air mineral pada Justin.


"Tak apa Honey..mungkin aku memang sedang tidak fit...ayo kita pulang saja, badanku sangat lemas sekarang.." kata Justin yang sudah sangat pucat.


"Kak..maafkan aku..." kata Jess sambil memapah Justin.


"Jangan terus menyalahkan diri seperti itu..nanti setelah istirahat juga akan baikan.." kata Justin.


" Honey apa kamu tidak keberatan jika harus menyetir mobilku?" lanjutnya.


"Tentu saja tidak Kak..tanpa kakak minta pun aku yang akan menyetir mobilnya." kata Jess.


"Apa perlu kita ke rumah sakit?" kata Jess.


" Tidak perlu Honey dirumah sudah ada persediaan obat." kata Justin.


Jess pun melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Mereka membutuhkan waktu agak lama agar sampai di rumah karena beberapa kali mereka berhenti karena Justin kembali memuntahkan isi perutnya.


Sesampai di rumah Jess langsung memarkirkan mobil di garasi. Ia membangunkan Justin, saat tangannya bersentuhan dengan kulit Justin, ia merasakan bahwa Justin terasa panas.


"Ah...demamnya tinggi sekali.." kata Jess saat menyentuh dahi Justin. Ia segera mencari thermogun didashboard mobil.Karena Justin selalu membawanya kemana mana.


" Hah...39,5 ⁰C..kenapa demamnya tiba tiba tinggi sekali?" Kata Jess denagn panik.


Jess meminta tolong seorang bodyguard untuk memapah Justin ke kamar. Sesampainya di kamar, Jess meminta tolong pelayan untuk mengambilkan air hangat untuk mengompres. Ia segera menghubungi Alexa.


" Kak..kakak ada dimana?" kata Jess


" Aku sedang bersama Vino Jess, ada apa?" tanya Alexa.


" Kak kemarilah aku sedang di rumah kak Justin, dia demam tinggi, tadi sempat muntah juga.." kata Jess.


"Iya aku segera kesana, tunggu 15 menit lagi aku sampai." kata Alexa di seberang.


" Iya kak..cepetan." kata Jess. Ia pun menutup teleponnya.


15 menit kemudian, Alexa dan Vino sampai di rumah Justin. Ia segera memeriksa keadaan Justin yang sedang demam tinggi.


"Bagaimana Kak..." kata Jess.


"Kalau dilihat dari gejalanya, sepertinya Justin mengalami infeksi saluran cerna. Apa dia punya persediaan cairan infus laktat" tanya Alexa.


" Punya kak...sebentar aku ambilkan." Jess menuju ruang obat obatan untuk mengambil cairan infus beserta gantungannya.


Alexa segera memasukkan jarum infus ke intravena Justin agar ia tidak sampai mengalami dehidrasi. Justin sedikit meringis saat Alexa memasukkan jarum infusnya. Jess yang disamping Justin terus mengenggam tangannya.


"Aku sudah menyuntikkan paracetamol untuk menurunkan demamnya. Besok pagi ia sudah bisa bangun dengan segar." kata Alexa.


"Ck...ternyata dokter bisa sakit juga..." kata Vino meledek Justin yang sedang teler.


" Sialan kau kakak Ipar...dokter juga manusia tahu..!" jawab Justin dengan suara lemah.


Justin yang dalam pengaruh obat langsung tertidur. Jess,Alexa dan Vino memutuskan untuk menginap di rumah Justin karena Mike sedang di rumah sakit menjaga Kakek Oscar. Tak lupa Jess memberitahu Freddy dan Karina agar mereka tidak cemas.

__ADS_1


__ADS_2