
Keesokan harinya, Jess dan Justin melanjutkan perjalanan bulan madu mereka, karena masih ada waktu seminggu lagi untuk libur. Sesuai rencana dua sejoli yang sedang menikmati hidup baru itu, melanjutkan liburan mereka ke Lombok Nusa Tenggara Barat. Bukan tanpa alasan mereka kesana, sebenarnya selain untuk berbulan madu, Justin berencana untuk survey lokasi pembangunan rumah sakit kecil di daerah terpencil di sana.
Mereka berangkat menggunakan pesawat komersil karena Jess yang menginginkannya. Ia lebih suka berbaur dengan penumpang penoang yang lain dari pada menggunakan jet pribadu. Kecuali memang untuk perjalanan bisnis.
Perjalanan yang akan mereka tempuh sekitar 2 jam. Jess yang masih lelah perjalanan kemarin langsung tertidur saat pesawat lepas landas. Baru saja ia memejamkan mata, ada suara gaduh di kabin belakang. Karena mereka penasaran, Justin pun bertanya pada salah satu pramugari.
"Maaf Tuan, dibelakang ada seorang wanita yang sepertinya akan melahirkan di pesawat." kata pramugari itu.
Jiwa dokter Justin seakan meronta ingin membantu sebisa mungkin walaupun dia bukan dokter kandungan. Tapi sedikit banyak paham. Ia memebangunkan Jess.
"Ada apa By...?" kata Jess dengan suara parau.
" Honey..maaf membangunkanmu, tapi ada orang yang akan melahirkan. Aku butuh bantuanmu." kata justin.
"Apa..?? Kenapa kakak tidak bilang dari tadi? Di mana orangnya?" tanya Jess yang langsubg terbangun.
"Di belakang..ayo kita segera ke sana." ajak Justin. Mereka pun segera menghampiri wanita itu di belakang.
Seorang wanita cantik berusia sekitar 35 an tahun sedang berteriak kesakitan. Laki laki yang sepertinya suami dari wanita itu terlihat sangat cemas. Ia tak henti hentinya menenangkan istrinya.
"Mohon maaf...bisa minggir sebentar..saya seorang dokter.Ibu ini harus segera mendapat penanganan.Siapa yang mendampingi ibu ini?" kata Justin.
"Sa- saya dok...saya suaminya.."jawab pria itu.
Mereka membawa wanita itu ke sebuah ruang kecil di pesawat. Justin menginstruksikan Jess dan pramugari untuk menyiapakan alat alat yang digunakan dan mensterilkannya. Sedangkan Justin memeriksa organ vital ibu hamil itu.
"Pak...sudah berapa minggu kehamilan istri anda?" tanya Justin.
__ADS_1
"Minggu ini masuk 33 minggu dok.." Jawab wanita itu lemah.
"Ibu akan melahirkan secara prematur. Sekarang saya mau cek bukaannya dulu ya bu..?" tanya Justin.
Justin memasukkan tangannya yang sudah berbalut sarung tangan bedah dan sudah steril ke bawah tubuh wanita itu. Ia terpaksa melakukan sendiri karena memang tidak ada bidan atau tenaga medis lain di pesawat.Justin memeriksa dengan seksama. Sedangkan Jess yang baru pertama melihat orang yang akan melahirkan sedikit ngeri.
" Ya Tuhaan....apa aku akan merasakannya?" batin Jess.
"Ma...apa mama dulu juga mengalami penderitaan seperti itu saat melahirkanku?" lanjut Jess dalam hati. Ia sampai menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Seda
"Sudah bukaan sembilan ya....tunggu aba aba dari saya. Ibu jangan kebanyakan teriak. Lebih baik atur nafas ya bu...ambil nafas dalam dalam lalu keluarkan lewat mulut..simpan tenaga ibu untuk ketemu baby nya ya..." jelas Justin dengan sabar. Hingga beberapa pramugari tampak senyum senyum melihat aksi Justin.
Justin pun menginstruksikan wanita itu untuk mengejan, sambil menggunting perineum wanita itu. Setelah 3 kali mengejan, akhirnya, bayi laki laki dengan berat sekitar 2 kilogram berhasil lahir. Justin sengaja tidak memotong tali pusat bayi tersebut sebelum sampai di rumah sakit. Setelah bayi itu dibersihkan, Justin melakukan perawatan darurat pada perempuan itu.
Justin dan Jess memutuskan terus mendampingi wanita tersebut sampai di rumah sakit. Ia meminta awak kabin untuk menghubungi rumah sakit cabang milik Ganendra di lombok. Dan saat mereka tiba, sudah ada ambulance yang menyambut di lapangan pacu pesawat. Jess dan Justin ikutvdi dalam ambulance.
"Kalau tak ada istri hebat sepertimu, aku bukanlah apa apa Honey.." kata Justin.
"Dokter..terimakasih..atas pertolongan dokter..entah apa yang terjadi dengan istri saya kalau tidak ada pak Dokter tadi.." kata suami dari wanita yang melahirkan tadi.
"Sama sama Pak..sebagai manusia kita harusnya memang saling menolong mungkin secara kebetulan saya yang berada disana tadi...sudah tugas saya sebagai dokter memberi pertolongan kepada yang membutuhkan.." jawab Justin.
"Kalau boleh tahu, kenapa bapak nekat melakukan penerbangan di usia kandungan ibu yang sudah masuk trimester 3? itu sangat beresiko Pak..." kata Justin.
"Sebenarnya saya sudah melarang istri saya untuk ikut, tapi mungkin karena hormon kehamilannya, membuat ia sangat sensitif. Dia harus selalu di dekat saya, jika saya meninggalkannya, ia akan jatuh sakit..berbeda dengan putera kami yang pertama dulu. ibunya selalu benci bila berdekatan dengan saya..." kata laki laki itu entah mengapa Justin menangkap kesedihan yang mendalam di mata pria itu saat menceritakan putera pertamanya.
"Ohh...begitu rupanya..yang penting kalian berdua selamat. saya sendiri yang akan mendampingi semua prosedure yang akan dijalani oleh istri dan anak bapak." kata Justin.
__ADS_1
"Terimakasih Dok..terimakasih banyak...." kata pria itu berkaca kaca. Ia mengelus kepala istrinya yang tak sadarkan diri setelan melahirkan tadi.
" Oh..ya kenalkan dok.. nama saya Johni dan istri saya ini bernama Ella." kata Pria itu mengenalkan dirinya.
"Saya Justin dan ini istri saya Jesslyn." Kata Justin. Johni sedikit terperanjat saat mendengar Justin menyebutka namanya. Lagi lagi ada kesedihan yang terlihat dari matanya.
" Maaf Tuan..apa Anda baik baik saja..?" tanya Justin.
"Oh maaf dokter..saya hanya kaget, karena nama dokter sama dengan nama putra saya." kata Johni.
"Kalau boleh tahu, dimana putera Anda?" tanya Justin.
"Ia terpisah dengan saya sejak setahun yang lalu. Entah dimana ia sekarang. Karena suatu hal kami bertiga harus terpisah. " Jawab Johni.
" Maaf...kalau saya membuat anda jadi sedih." kata justin.
" Ah..tidak apa dokter..."
setelah perjalanan sekitar 30 menit, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sakit yang terletak di pinggiran kota. Mereka langsung membawa pasien dan bayinya menuju IGD untuk mendapat perawatan intensif, karena ibu bayi tidak sadarkan diri setelah melahirkan. Sedangkan si bayi mendapat perawatan intensif di ruang NICU karena lahir prematur.
Jess sedari tadi hanya terdiam. Entah mengapa ia merasa jika sekilas orang yang baru dikenalnya itu mirip sekali dengan seseorang.
"Honey..ayo kita ke ruanganku." kata Justin sambil menarik tangan Jess dengan lembut.
"Oh ya aku hampir lupa kalau berada di rumah sakit cabang." kata Jess.
"Kenapa kamu diam sejak tadi..apa kamu memikirkan sesuatu..?"tanya Justin.
__ADS_1
"Kak...semoga apa yang kupikirkan benar..."