My Surgeon My Hubby

My Surgeon My Hubby
Kecemasan


__ADS_3

Jess yang baru bangun tidur di pagi hari mencari keberadaan suaminya yang sudah tak berada di sampingnya lagi. Semalam ia tidak ikut makan malam bersama keluarga, karena ia sangat lelah, dan Karina melarang Justin untuk memebangunkan Jess yang sudah tidur lebih dulu.


Ding. Ponsel Jess berbunyi.


Justin.


(Honey...aku sudah di rumah sakit, maaf tidak membangunkanmu.Ada operasi penting, jam makan siang aku sudah dirumah.)


Jess.


(Iya...jangan terlalu lelah..kamu baru saja keluar dari rumah sakit By...)


Justin.


(Iya..Oh ya..lihatlah kamar bayi bayi kita, semalam Jeje yang mendekornya. Tapi jangan terburu buru ya...)


Jess langsung bergegas ke kamar yang kelak menjadi kamar anak anaknya.Sesampainya di kamar, Jess menganga melihat dekorasi kamar bayi bayi mereka, ia tak menyangka akan seindah itu. Ada tiga baby box yang berjajar disana. 2 warna merah muda dan satu lagi warna biru.Sedangkan pada dinding sudah dipasang wallpaper dengan tema kartun yang berwarna lembut.


Disudut ruangan ada Kursi empuk yang nyaman yang dipergunakan untuk menyusui Jess menghampirinya, dan mendudukkan dirinya disana sambil berselfie ria, lalu ia mengirimkannya kepada Justin.


Karena merasa lapar, Jess memutuskan untuk turun dengan hati hati.


"Huft capek...sepertinya lebih baik aku pasang lift saja biar lebih nyaman...nanti saja aku bicarakan dengan papa Freddy dan Kak Justin.." gumam Jess.


"Ada yang bisa saya bantu Nyonya?" tanya pelayan yang tak sengaja melihat Jess kesulitan untuk turun.


"Eh iya mbak...tolong bantu saya turun..tadi naiknya gampang sekarang jadi susah kalau turun.."jawab Jess sambil terkekeh.


"Iya nyonya...mungkin kalau saya boleh saran,mending dipasang lift saja nyonya biar gampang kalau naik turun...nyonya kan tidak boleh kecapekan.."kata pelayan itu sambil memapah Jess.


"Saya pikir juga begitu..nanti akan aku bicarakan dengan suamiku dan papa Freddy."jawab Jess.


...----------------...

__ADS_1


Sesuai permintaan Jess,akhirnya seminggu kemudian Lift sudah terpasang di mansion itu. Bersamaan dengan itu, berbagai peralatan medis yang dikirim langsung dari luar negeri pun juga berdatangan ke rumah itu. Sebuah meja operasi lengkap dengan lampu besarnya,dan beberapa peralatan penunjang hidup di persiapkan Michael. Michael dan Justin sendiri yang mengawasi pengiriman alat alat itu. Jess bergidik sendiri melihat alat alat medis yang berdatangan. Sejenak ia merasa takut.


Alexa yang saat ini berada di samping Jess langsung menenangkannya. Ia mengusap bahu Jess. Ia tahu saat ini psikologis Jess sangatlah labil.


"Kak...aku takut melihat itu..."kata jess.


"Dek..jangan takut..bukannya kamu juga calon dokter..kamu akan terbiasa nanti..." kata Alexa menenangkan.


"Tapi kan alat alat itu untukku..."kata Jess.


"Ada kakak..ada suamimu dan ada Om Michael sendiri yang mengawasi kelahiran triplets nanti...kamu tak usah takut...tidak akan terjadi apa apa..kami sudah memperkecil resikonya. Kamu tenang ya Dek...semangat...! banyak banyaklah berdoa."kata Alexa.


Alexa sudah menghubungi Bank Darah untuk mempersiapkan kantung kantung darah yang diperlukan nanti.Ia mempersiapkan segala resiko dan kemungkinan yang terjadi. Karena ia sudah bisa memprediksi Jess akan mengalami pendarahan yang cukup parah saat melahirkan nantinya. Alexa juga sudah mempersiapkan obat obatan terbaik sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Justin dan dokter Lisa.


Semua alat alat itu, di masukkan ke sebuah kamar yang cukup besar, dan ditata sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah ruang bedah. Di sebelah kamar itu, juga sudah di rombak menjadi ruang rawat yang lengkap dan terhubung dengan ruang bedah.


"Semangat sayang...demi anak anak kita..."kata Justin sambil mengusap lembut perut buncit Jess. Kemudian ia pun mengecup kening istrinya sedikit lama.


Pov Justin


Ayah yang biasanya menjadi orang paling humoris diantara kami, juga terlihat sesekali mengusap sudut matanya yang terlihat sembab, namun ia mencoba untuk tetap tersenyum dihadapan kami.


Saat ini semua usaha sudah aku lakukan untuk meminimalisir resiko yang dihadapi istriku nanti. Tuhan..jika aku boleh berharap..izinkan aku untuk membahagiakan istriku hingga tua nanti..


Pov Author.


"Son..dokter Helena akan tiba disini besok siang. Ia akan terus memantau kondisi Jess sampai ia melahirkan nanti. Jadi ayah memintanya untuk tinggal disini."kata Mike.


"Iya ayah akan kuminta pelayan untuk menyiapkan kamar untuk Dokter Helena."jawab Justin.


"Susullah istrimu ke kamar, ia sedang tidak baik baik saja, ia butuh dirimu. Mulai sekarang kamu tak perlu lagi ke rumah sakit, semua jadwal operasi yang harus kamu lakukan sudah ayah alihkan ke dokter lain.Kamu harus jadi suami siaga mulai sekarang. Ayah hanya tak ingin anak anakmu bernasib sepertimu." kata Mike dengan mata yang sembab.


Justin dan Michael pun berpelukan,tak ada kata kata yang terucap di antara ayah dan anak itu. Yang terdengar hanya suara isakan di antara dua lelaki itu.

__ADS_1


"Sudah..sudah...segera cuci mukamu..kamu terlihat jelek kalau menangis seperti ini Son..." kata Mike sambil menepuk bahu Justin.


"Ayah pulang dulu..."Kata Michael seraya meninggalkan rumah itu.


"iya Yah..hati hato di jalan." kata Justin.


Karina terlihat membawa nampan berisi minuman dari dapur tapi Michael tidak ada lagi berada di ruang tengah.


"Justin..dimana ayahmu Nak.."Tanya Karina.


"Sudah pulang Bun..."jawab Justin.


"Ini Bunda tadi buat kopi untuk ayahmu, tapi orangnya sudah hilang..."kata Karina terkekeh.


"Mungkin kembali ke kantor Bun.."kata Justin.


"Hm...Kata Papa Freddy nanti sepulang dari kantor akan kesini untuk membahas merger G unity da Gunawan Group yang diminta Jess kemarin."kata Karina memberitahukan pada Justin.


"iya Bun..nanti biar Justin kasih tahu Jess..." jawab Justin.


"Just...kamu baru nangis Nak...?"tanya Karina seraya menghampiri Justin yang duduk di meja makan.


"Hehe..maaf Bun...."kata Justin terkekeh untuk menyembunyikan kesedihannya.


"Jangan seperti itu Nak..Bunda tahu perasaanmu...Suami mana yang tega melihat nyawa istrinya berada di ujung tanduk..tapi kamu harus kuat...ingat puteriku membutuhkanmu saat ini...jadi kamu juga harus bersemangat anakku..terus berdoa untuk keselamatan anak dan istrimu..."kata Karina sambil mengusap rambut Justin. Wanita paruh baya itupun ikut meneteskan air mata.


"Iya Bun....Justin minta,jangan pernah tunjukkan kesedihan kita semua di hadapan istriku..kita harus tampak baik baik saja di depannya..agar ia tak merasa takut dan cemas menghadapi persalinannya nanti." kata Justin. Karina pun mengangguk.


Tak lama kemudian, Alexa turun menuju meja makan. Matanya tampak sembab.


"Mana adikmu Al..?" Tanya Bunda Karina.


"Jess baru saja tidur Bun...tadi ia sempat merasakan kontraksi palsu. Mungkin karena ia merasa cemas dengan hari persalinannya yang semakin dekat,tapi semua sudah kembali normal saat ia merasa tenang..." kata Alexa.

__ADS_1


"Syukurlah kalau ia sudah tenang kembali...setelah makan malam kita akan mengadakan doa bersama dengan seluruh anggota keluarga.... "Kata Bunda Karina. Dan diangguki oleh Justin dan Alexa.


__ADS_2