My Surgeon My Hubby

My Surgeon My Hubby
Aku menemukanmu


__ADS_3

Perlahan Jesslyn membuka matanya..Ia melihat seorang laki laki yang sedang tertidur pulas. Tampan, Wajah polosnya saat tidur benar benar sangat tampan dengan cardigan warna abu abu dipadukan dengan celana hitam panjang. Justin terlihat menggeliat, merenggangkan tubuh atletisnya. Justin yang membuka matanya, tersenyum saat menatap wajah cantik Jess yang baru bangun tidur.


"Kamu sudah bangun? apa tidurmu nyenyak?" kata Justin mendekat kepada Jess.


"Aku baru saja terbangun, dan tidurku sangat nyenyak..terimakasih telah menemaniku tadi malam. "


"Sama sama...Aku mau mandi dulu." kata Justin sambil mengambil peralatan mandinya yang tersimpan dalam lemari ruangan itu.


Sambil menunggu Justin mandi, ia membuka toples berisi kue kering coklat buatan Michael. Saat ia membuka toples itu, ada sebuah foto seorang anak kecil berusia sekitar 7 -8 tahun sedang memeluk bayi perempuan berusia 1 tahun. Jess pun tertegun sejenak.


"Ini..bukankah ini fotoku saat masih kecil?? sepertinya aku dulu juga mempunyai foto seperti ini..tapi.. siapa anak laki laki ini?" kata Jess bertanya tanya.


"Kenapa foto ini ada pada Justin? apa jangan-jangan..."kata Jesz dengan rasa penasarannya yang sekin besar.


Lima menit kemudian Justin keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Ia sudah memakai seragam jaga dokter warna biru.


"Jess aku kembali ke ruanganku sebentar untuk mengganti sendalku dengan sepatu. Apa kau tidak keberatan jika kutinggal sebentar?" tanya Justin sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecilnya.


"Justin..tunggu...apa aku boleh bertanya kepadamu?" tanya Jess.


"Memang Kamu mau tanya apa?" tanya Justin penasaran.


"Siapa anak laki- laki yang difoto itu Justin?"tanya Jess.


"Apa kamu sudah melihatnya?" tanya Justin.


"Aku menemukannya di dalam toples kue ini. Aku tahu kalau anak perempuan itu adalah aku. Tapi aku tak mengenali anak laki- laki itu." Jawab Jess sambil menunjukkan foto yang Ia temukan.


"Kalau kamu menemukan foto itu di dalam toples yang ku berikan kepadamu, menurutmu siapa anak laki- laki itu?" Tanya Justin sambil tersenyum misterius.


"Just..apakah itu kamu?" tanya Jess sambil menatap Justin dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


"Apakah kamu akan percaya jika aku menjawab, iya, anak Laki - laki itu aku?" Kata Justin.


"Apa? Jadi kamu adalah kakak yang sering diceritakan almarhum mamaku dulu?"kata Jess seperti tidak percaya.


"Aku juga punya foto seperti itu. Tapi saat ini aku tidak membawanya." Kata Jess.


"Kamu masih sangat kecil saat aku pindah ke London bersama ayah. Saat itu usiaku masih 7 tahun dan kamu baru saja bisa berjalan. Kamu sangat menggemaskan saat itu." Kata Justin menjelaskan.


" Aku masih sangat ingat, waktu itu kamu adalah seorang gadis kecil yang tidak mudah didekati oleh orang lain. Kamu selalu menolak jika akan digendong orang lain selain orang tuamu. Tapi saat aku datang kamu selalu mengejar ngejar aku."lanjut Justin.


"Tapi, bagaimana kamu bisa mengenaliku?" tanya Jess.


" Dari tatapanmu Jess. Aku sangat mengenali tatapan matamu. Apa kamu ingat saat pertemuan kita di kafe milik Dave?" kata Justin.


"Iya aku ingat sekali..waktu itu kamu menolong orang tersedak makanan dengan tindakan pompa jantung kan?" kata Jess sambil terkekeh.


"Aku serius Jess, jangan mengingatkanku soal itu!" kata Justin sedikit kesal.


"Iya..iya...kamu ini sungguh menyebalkan sekali...huuftt..." kata Justin sambil menghela nafas.


"Baiklah aku akan mendengarkan ceritamu, Kak..."kata Jess sambil tersenyum manis.


"Kakak??Apa kamu memanggilku kakak?" tanya Justin terheran.


"Iya..apa aku salah? Kalau kamu keberatan akan kuubah panggilan itu." kata Jess.


"Maksudku, aku tidak keberatan kamu memanggilku kakak. Tapi aku akan keberatan kalau kamu menganggapku sebagai kakakmu." Kata Justin.


"Maksudmu?" kata Jess tidak mengerti.


"Jess..aku sudah mencarimu kemana mana. 3 tahun lalu,aku kembali dari London. Saat aku kembali aku bertekad untuk mencarimu. Tapi waktu aku mengunjungi rumah lamamu, kamu sudah tidak ada lagi disana.Kata penjaga perumahan, kamu sudah tidak tinggal lagi disana sejak 10 tahun yang lalu. Dan mereka tak tahu kamu pindah kemana."

__ADS_1


"Lalu apakah setelah itu kamu berhenti mencariku?" tanya Jess.


"Tidak..aku tidak berhenti mencari tahu keberadaanmu. Tapi keluargamu seperti tak ingin menunjukkan keberadaannya. Aku hampir saja merasa putus asa. Dan aku merasa kamu memang sudah hilang. Tapi kejadian di kafe itu, seakan memberiku sebuah harapan."


"Aku pun mencari tahu tentangmu dengan bantuan anak buahku. Aku sangat bahagia ketika mengetahui Gadis Kecilku yang selama ini ku cari adalah kamu. Tapi aku juga sangat terpukul saat mengetahui Om Frans dan Tante Feli meninggal karena kecelakaan 3 tahun lalu. Dan kamu melewati hari hari mu yang berat."


"Harusnya aku ada disampingmu saat kamu terpuruk, harusnya aku yang menjagamu disaat kamu sendirian menghadapi kerasnya hidupmu. Harusnya aku yang melindungimu saat kamu butuh perlindungan. Tapi kenyataannya aku tidak tahu apapun yang terjadi denganmu.." kata Justin yang tak bisa lagi membendung air matanya lagi.


Sejujurnya masih sekarang ini Justin terlihat sangat lemah dihadapan seorang wanita. Tapi dia juga sangat lega sudah mengungkapkan apa yang ditahannya selama ini.Bahkan sang ayahpun tidak tahu kalau selama ini Justin terus mencari gadis kecilnya itu.


Jess pun sudah berlinangan air mata mendengar cerita dari Justin. Sepeninggal orang tuanya, Jess merasa benar benar sendirian di dunia ini. Seperti kata pepatah "Habis Manis Sepah Dibuang" . Dulu saat keluarga Jess berada di atas kesuksesannya para kerabat selalu menyanjung nyanjung mereka. Semua memasang wajah manis saat berada di depan Jess dan keluarganya. Tapi setelah kematian kedua orang tua Jess dan ia tak punya harta sepeserpun, semua seakan menghilang, tak ada yang peduli dengan Jess. Bahkan mereka takl segan mengusir Jess saat Jess meminta bantuan mereka.


Sejak saat itu, Jess memutuskan untuk tidak berhubungan dengan semua sanak kerabatnya. Jess tinggal seorang diri di rumah sederhana peninggalan neneknya. Dan berbekal ijazah SMA yang dia miliki dan sedikit uang tabungan yang Ia kumpulkan saat mendapat uang saku dari orang tuanya, Jess mulai mencari pekerjaan.


Jess yang mengingat saat saat pahit di hidupnya, terus terisak sambil memegang dadanya. Sungguh luar biasa ujian dari Tuhan yang telah ia lalui. Tapi ia selalu yakin, bahwa Tuhan tak pernah memberi ujian melebihi batas kemampuan manusia. Apa yang telah dilalui nya menjadikan Jess seseorang yang mensyukuri hal sekecil apapun dihidupnya.


Justin langsung memeluk Jess erat, ia bertekad tak akan membiarkan Gadis Kecilnya itu menghadapi kehidupan keras seorang diri lagi.


...----------------...


maaf ya gengs kalau ceritanya bertele - tele dan membosankan... author semata mata hanya ingin menyalurkan sebuah khayalan halu...


semoga kalian sukaaa.....


like, coment, vote kalian adakah dukungan yang sangat berarti untuk author, agar terus semangat untuk berkarya...


terimakasih..


salam Author


**Al Cha**

__ADS_1


__ADS_2