
Malam sudah menunjukkan pukul 23.00 Justin masih berada di ruang kerja ayahnya untuk mempelajari berkas kasus kecelakaan Frans dan Feli 3 tahun yang lalu, serta percobaan pembunuhan pada Jesslyn. Ia mengernyitkan dahi saat membaca berkas berkas itu.
"Ini memang saling berkaitan, seperti yang sudahku duga, semua buktinya memang mengarah pada satu keluarga itu. Sekarang tinggal mengatur rencana untuk membuat mereka mengakui kejahatan mereka sendiri tampa harus memaksanya." Kata Justin dalam hati.
Ia mengambil ponselnya dimeja untuk menelpon seseorang.
" Hallo..Van apa kau sudah tidur?" tanya Justin.
" Hmmm...ada apa Yang Mulia..tidak tahu apa jam berapa ini?"Jawab Revan dengan suara serak.
"Dasar..bahkan bosmu masih bekerja jam segini, kamu malah sudah tidur,ckckck" kata Justin.
"Aku sudah mempelajari semua berkasmu, dan sudah bisa kusimpulkan. Besok pagi pagi sekali kesinilah, ada yang mau aku sampaikan. Ini tugas terakhirmu sebagai asisten pribadi sekaligus sekretarisku. Jadi lakukanlah pekerjaan mu dengan baik.Agar re-signmu kusetujui.Apa kamu mengerti Revan Sanjaya?"
"Hmmmm...."Jawab Revan dengan suara mengantuk.
"Revan Sanjaya..apa seperti itu jika menjawab boss yang berbicara padamu." kata Justin dengan sok kuasa,padahal ia ingin sekali tertawa.
"Eh..iya..Yang Mu...eh...maaf Tuan saya paham." Jawab Revan tergagap.
"Hahahahhahhah....."Justin yang mendengarnya tertawa keras.dan menutup telponnya.
"Dasar boss gak ada akhlak" kata Revan kesal karena Justin sudah mengusilinya.
Revan yang sudah sangat mengantuk pun kembali merebahkan tubuh dan langsung tertidur.
__ADS_1
Kembali ke rumah Justin.
Justin yang mulai mengantuk kembali ke kamarnya. Setelah beberapa saat Justin berguling guling dikasur empuknya, ia pun tertidur pulas.
Keesokan harinya, pagi pagi sekali Revan sudah datang ke rumah Justin. Ia pun langsung masuk menuju ruang kerja Justin dan Michael di lantai atas, karena Justin memberi tahunya.
"Bagaimana?" tanya Justin begitu Revan sampai di ruang kerja itu.
"Iya seperti yang sudah aku sampaikan kemarin, Semua bukti sudah mengarah ke keluarga Felix Gunawan yang tak lain adalah adik tiri dari Almarhum Tuan Frans Gunawan. Ia begitu menginginkan seluruh aset Gunawan menjadi miliknya, padahal Ayahnya, tuan Ferro Gunawan sendiri telah memberikan perusahaan Tekstil di Singapura yanh sangat besar untuknya, tapi keserakahan membutakan nuraninya untuk menguasai seluruh aset keluarga Gunawan. Ia pun tak segan melenyapkan nyawa kakak tirinya beserta istrinya bahkan karena ketakutan jika Jesslyn merebut kembali aset milik ayahnya, ia juga berusaha untuk membunuh Jesslyn. "
Justin yang mendengar penjelasan Revan merasa sangat geram atas perbuatan paman tiri calon istrinya itu.Tapi ia berusaha untuk menahan kemarahannya. Ia berjanji pada dirinya akan mengembalikan seluruh aset Gunawan kepada Jess yang memang ia adalah pewaris tunggal aset Frans Gunawan. Entah itu aset warisan dari sang kakek maupin perusahaan yang didirikan Frans sendiri.
"Apa kau sudah punya rencana?" tanya Justin sambil mengepalkan tangannya.
"Hmmm...sudah..aku akan menggunakan beberapa kolega ku dan perusahaan milik ayah untuk menanamkan saham di perusahaan Gunawan, jadi Kami akan melakukan kerjasama dengan perusahaan G-Unity Group, sambil mencari kelemahan yang mereka sembunyikan, ketika kita sudah menemukan kelemahan itu, kita akan menjatuhkan harga saham di perusahaan mereka, dan mengakuisisikan, lalu kita akan serahkan bukti bukti kejahatan mereka ke pihak berwajib, namun kita akan menjamin Felix dan keluarganya yang terlibat dalam kasus ini seakan akan kita membebaskannya dari tuduhan, tapi tanpa mereka sadari kita akan menyerahkan mereka ke dunia bawah, sesuai dengan keinginan ayahmu." jelas Revan panjang lebar.
"Ya begitulah... " Jawab Revan.
"Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menyelesaikan tugasmu?"tanya Justin.
"1 bulan berilah aku waktu 1 bulan untuk menyelesaikan pekerjaan terakhirku, setelah itu aku bisa memulai kehidupanku yang baru." Kata Revan mantab.
"Van, hadiah apa yang bisa kuberikan padamu jika kamu berhasil membongkar kejahatan orang orang itu?" tanya Justin.
"Yang aku minta, tetaplah jadi sahabatku. Walaupun nanti kita tak akan sering bertemu." jawab Revan dengan tersenyum.
__ADS_1
"Hei..aku serius..apa yang bisa kuberikan padamu sebagai hadiah?" kata Justin sedikit meninggikan nada suaranya.
" Hei bro..aku juga serius...aku tak minta apa apa darimu selain tetaplah jadi sahabat terbaikku, orang yang mengajariku betapa berharganya sebuah waktu. Karena sudah terlalu banyak yang kamu berikan padaku selama ini. Kalau tidak ada kau mungkin aku tetaplah seorang berandal yang tak peduli berharganya sebuah waktu. Dan mungkin kalau tak ada Om Michael dan dirimu, ayahku pasti sudah...aku pasti audah jadi anak yatim piatu saat ini." kata Revan dengan mata berkaca kaca.
"Terimakasih Justin, aku tak akan melupakan betapa berartinya kau dan juga Om Michael di hidupku, selama ini kalian telah mengubahku dari seorang berandal yang tak tahu balas budi orang tua,, menjadi seorang yang bisa sedikit berguna untuk orang lain. Aku benar benar berutang budi pada kalian..." Kata Revan dengan air mata yang tak terbendung lagi.
Mereka pun saling berpelukan layaknya seorang kakak beradik. Usia Revan memang masih terbilang muda untuk mengurus sebuah perusahaan besar, Yaitu 25 tahun. Awalnya Revan yang seorang berandal(mungkin karena kurang kasih sayang dan perhatian orang tua yang sibuk mencari uang), setiap hari hanya bersenang senang dan membuat onar. Tak pernah sekalipun ia peduli akan kerja keras orang tuanya selama ini. (nanti aku tulis satu bab khusus tentang revan ya..ini hanya sekilas aja?).
"Walaupun tanpa kau meminta, akubakan tetap jadi sahabatmu, kau adalah adik kesayanganku, mengerti? sekarang biarkan aku untuk memberimu sebuah hadiah, anggap saja ini hadiah perpisahan kita sebagai bawahan dan atasan. Wajib,! Nggak boleh nolak!" kata Justin tak ingin dibantah.
"Baiklah kalau kau memaksa, berikan aku sebuah apartemen yang tak jauh dari rumah ayahku, karena aku ingin hidup mandiri. Sebenarnya aku bisa membelinya sendiri, tapi karena kau memaksa ya aku minta saja..."Jawab Revan.
" Ok..baiklah kalau hanya itu..minggu depan akan ku pastikan apartemen yang kau inginkan sudah ada." Kata Justin berjanji.
"Yess....akhirnya aku punya rumah sendiri.." kata Revan kegirangan.
""Dasar bocah.." gumam Justin.
"Berarti, hari ini aku jalankan misi pertama, yaitu mendekati Alexa, putri Felix satu satunya. Bagaimana menurutmu?" Tanya Revan meminta pendapat.
"Boleh juga...itu lebih baik, jadi kita bisa mendekatinya secara perlahan, tapi maaf aku tidak bisa terjun langsung, karena mereka sudah tahu asal usulku." kata Justin.
"Iya..biar aku saja, yang turun langsung dan bermain main dengan mereka."Jawab Revan.
Karena sudah waktunya ke kantor, Revan segera pamit meninggalkan rumah itu ,dan menuju kantor ayahnya. Karena 3 kali seminggu Revan harus hadir di kantor yang sebentar lagi akan berada dalam kepemimpinannya.
__ADS_1
VISUAL REVAN