
Malam itu, di sebuah bangunan tua 2 lantai yang terletak jauh dari pemukiman warga, mungkin lebih tepatnya di tengah hutan. Tak seorangpun warga berani mendekati bangunan itu, karena kondisinya yang tak terurus memancarkan aura menyeramkan bangunan itu. Tapi suara teriakan dan erangan memecahkan kesunyian malam itu. sepertinya anak buah Revan sedang bermain main dengan preman yang menyerang Jess dan Justin.
"Aaaaarrrrrrggghhhh...."teriak kesakitan dari salah satu preman itu.
"Siapa yang menyuruhmu?!" tanya Revan dengan tatapn yang menyeramkan
"Sampai matipun tak akan ku beritahu!Ha..ha..haa..haa..."jawab preman itu sambil tertawa keras, padahal tubuhnya sudah penuh luka.
"Oh..sepertinya kau masih mau bermain main ya...?"kata Revan.
"Siksa dia!!Jangan berhenti sampai dia mau mengaku.!" kata Revan lagi.
Para tawanan itupun langsung dibawa lagi ke ruang bawah tanah.
Terlihat Justin dan Michael sedang berada di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas. Mereka sedang membicarakan sesuatu dengan Revan.
"Om....entah apa yang diberikan pada mereka sehingga tak satupun mereka yang mengungkap dalang dari percobaan pembunuhan terhadap Jess. Aku sangat yakin mereka juga yang menjadi dalang dalam kecelakaan orang tua Jess 3 tahun yang lalu." kata Revan sambil mengacak rambutnya.
"Kalau begini terus apa kita minta bantuan agen rahasia saja..kebetulan salah satu kolega ayah ada yang bekerja disana." lanjut Revan.
"Ini memang tak mudah Van..tapi tak ada salahnya kita mencoba dulu, aku dan Justin berharap, kami sendiri yangmenangkap pelaku utama pembunuhan itu. Bukan begitu Son...?" kata Michael serius.
"Ayahku benar Revan...terlalu ringan hukuman untuk mereka, jika kita menggunakan bantuan agen rahasia. Makanya aku dan ayah sebisa mungkin menggunakan jalur bawah untuk mengungkap ini semua." kata Justin.
"Tapi sebenarnya bisa saja om..kita menggunakan menggunakan jasa agen rahasia untuk mengungkapnya, dan menggunakan jalur bawah untuk menghukum mereka. Karena banyak jalur bawah yang juga bekerja sama dengan para agen rahasia untuk mengungkap kejahatan."Kata revan memberi penjelasan.
"Baiklah kalau begitu, lebih cepat lebih baik, Om hanya ingin melihat Jess hidup tenang tanpa bayang bayang pembunuhan. Dan bisa secepatnya menikah dengan Justin, kemudian Om bisa cepat cepat menimang cucu....Iya kan Son...?" tanya Michael.
__ADS_1
"Ayah ini...bisa bisanya membicarakan hal sepenting itu saat kita membicarakan kasus Jess dan kkeluarganya? Aneh sekali ayah ini..." Kata Justin sambil mendengus kesal.
"Tapi kamu juga ingin cepat menikah kan Son....Kasian Jess nanti bisa bisa dia menikah dengan seorang pria tua..."kekeh Michael.
"Ayah mengataiku tua?kan masih lebih tua ayah..Lagipula lebih kasihan gadis muda ' yang mau menikah dengan ayah, karena ayah sudah terlalu tua..."! Kata Justin.
"kamu...,?! seenaknya aja, tua tua begini kejantanan ayah tidak diragukan lagi, kamu mau lihat...?? " kata Michael.
"Ogah ...! lihat aja sendiri!" kata Justin.
Revan yang melihat perdebatan tidak jelas itu hanya menggelengkan kepala.Dan kemudian menyuruh mereka pulang.
"Om..Justin..lebih baik kalian pulang saja ini sudah sangat larut hampir tengah malam. Udara malam tidak baik untuk jantung Om Mike, dan lagipula kasihan Jess pasti merasa sendirian di rumah kalian. Aku juga akan pulang.". kata Revan untuk mengusir kedua atasannya dengan halus.Karena sejujurnya ia sudah sangat pusing mendengar perdebatan ayah dan anak iti setiap hari.
"Baik lah kalau kamu mengusir kami...kamo paham maksudmu. ok sampai jumpa.besok kita selidiki bersama- sama lagi."kata Michael pasrah.
"Ok..ok..kalau begitu kami pulang dulu.. sampai jumpa besok."Kata Justin.
Sepanjang perjalanan, Justin dan ayahnya hanya diam, mereka seperti tenggelam dalam kegalauan nya masing- masing. Justin galau karena ia semakin khawatir akan keselamatan Jess, pasti para pembunuh itu akan semakin mengincar Jess.Sedangkan Michael galau karena ia belum tenang jika pembunuh kedua sahabat terbaiknya belum ditangkap.Ia juga khawatir akan keselamatan Jess, karena sudah dua kali mereka hampir dan kini juga hampir membunuh Jess.
"Tenanglah Justin, seburuk buruknya menyembunyikan bangkai suatu hari akan tercium juga. Ayah akan memikirkan rencana yang tepat untuk menangkap para pelaku itu."Kata Michael, yang sebenarnya ia juga berusaha menenangkan diri.
"iya ayah..akupun berharap seperti itu..."kata Justin penuh harap.
"Setelah sampai dirumah, lebih baik segera istirahai, karena besok kita akan bekerja lebih keras. Apa besok kamu ada jadwal operasi,Son?" tanya Michael.
"Sepertinya, tidak ayah..dan semoga saja tidak, hanya beberapa visit pasien pascaoperasi saja. "kat Justin.
__ADS_1
"Hmm..bagus, jika selain visit tidak ada pekerjaan penting, serahkan pekerjaanmu sementara kepada wakil direktur, kita akan menemui Revan di kantor ayahnya." Kata Michael.
"Ayah akan menjemputmu di rumah sakit."kata Michael.
"Iya ayah..aku mengerti."jawab Justin.
Setelah 1 jam perjalanan mereka sampai di rumah. Michael langsung memarkirkan mobilnya di samping mobil Justin yang sudah dibawa pengawal mereka.
Justin pun segera menuju kamar untuk beristirahat, karena ia sudah sangat lelah. Jam pun sudah menunjukkan hampir pukul 2 dini hari.
Berbeda dengan Michael, entah mengapa dia begitu gelisah, ia memilih membuat kopi sendiri dan membawanya ke balkon atas, Ia juga menyalakan sepuntung rokok. Sudah lama sebenarnya Michael tidak menyentuh rokok. tapi karena pikirannya sangat kalut, ia ingin menghirup lintingan tembakau itu.berharap pikirannya sedikit tenang.
Jess yang kehausan turun ke dapur untuk mengambil minum karena persediaan air minum di atas sudah habis. Mungkin pelayan lupa untuk mengganti galon air minumnya.Jess melihat Michael sedang menghisap rokok di balkon sambil termenung, kemudian Jess pun menghampirinya.
"Ayah..sedang apa disini? ayah merokok?"tanya Jess.
"Ayah sedang ingin menikmati malam Princess, kenapa kamu tidak tidur?.."kata Michael.
"Aku tadi haus Yah..galon air di atas habis jadi aku turun ke dapur.."
"Apa ayah baik- baik saja?Karena dulu papa selalu merokok di balkon kalau sedang banyak pikiran. Padahal papa dulu jarang sekali merokok." kata Jess.
"Ayah nggak apa apa princess...mungkin insomnia ayah kambuh karena ayah kebanyakan tidur di siang hari sejak ayah pensiun...sekarang tidurlah..besok kamu kuliah kan? " kata Michael menutupi kegundahan hatinya pada Jesslyn.
"Ya sudah Yah...aku tidur dulu..ayah lebih baik jangan merokok..tidak baik untukmu.."kata Jess sambil terrsenyum.
"Iya My Princess...ayah tahu..tapi jangan bilang- bilang Justin kalau ayah merokok ya..dia bisa tidak menganggap ayah lagi...." Kata Justin memelas.
__ADS_1
Jess hanya tertawa kecil melihat ekspresi Michael seperti anak kecil. Ia pun kembali ke kamarnya untuk tidur lagi.