My Surgeon My Hubby

My Surgeon My Hubby
Periksa


__ADS_3

Tak terasa sudah hampir enam bulan usia pernikahan Jess dan Justin. Kesibukan mereka bertambah banyak, sejak kepemimpinan Justin, semakin banyak rumah sakit cabang yang didirikan di berbagai daerah. Sedangkan Michael yang awalnya ingin pensiun dini dari rumah sakitnya, sekarang ia malah sibuk mengelola perusahaan sang ayah. Jess juga tak kalah sibuk, hampir tidak ada waktu libur untuknya. Selain mengelola perusahaan ayahnya, ia juga terus berusaha mewujudkan cita citanya menjadi seorang dokter. Tentunya dengan bimbingan penuh dari suami dan mertuanya. Perusahaan yang dikelola Jess juga berkembang sangat pesat. Baru baru ini, ia meresmikan cabang baru G Unity di negara M.


Namun walaupun ia sangat sibuk, ia tak melupakan tanggung jawabnya sebagai istri. Setiap pagi Jess selalu menyempatkan diri membuatkan bekal makan siang untuk dirinya dan suaminya.


Tentang Felix, sudah lama sejak Jhoni resmi merebut kembali tahta Red Tiger 5 bulan yang lalu dari sepupunya, Felix seperti hilang ditelan bumi. Tak ada jejak apapun yang tertinggal. Jadibtak ada yang tahu Felix masih hidup atau saat ini hanya tinggal namanya saja. Tapi baik Revan,Vino maupun Jhoni yang menutup kemungkinan sewaktu waktu ada serangan balik. Jadi mereka terus berhati hati dan memperketat pengamanan untuk Jesslyn.


Pagi ini entah mengapa Jess merasa sangat pusing. Beberapa kali ia merasakan perutnya kram. Justin yang melihat istrinya nampak pucat segera menghampirinya.


" Honey..ada apa denganmu? Apa kamu sakit?" tanya Justin.


"Entahlah By...aku merasa tidak enak badan. Perutku terasa kram jika aku berjalan terlalu cepat." kata Jess.


Justin mengernyitkan dahi. Ia segera membaringkan Jess di sofa ruang tengah dan mengambil peralatan di tas yang sudah ia siapkan.


"By...kamu mau ngapain?"tanya Jess.


"Memeriksamu Honey...apa kamu lupa suamimu seorang dokter?" kata Justin sampl memanyunkan bibir. Ia memasang stetoskop di telinganya dan mulai memeriksa Jess.Ia.menghela nafas ada sedikit raut khawatir di wajahnya.


"Kita periksa ke dokter Lisa ya Hon...agar lebih jelas.." kata Justin.


" Memang kenapa harus ke dokter Lisa By...?" tanya Jess.


"Mungkin dia yang lebih paham. Pagi ini kita langsung ke rumah sakit. Dokter Lisa tak ada praktek, tapi aku akan menyuruhnya datang ke rumah sakit." kata Justin.


"Memang aku kenapa By?"tanya Jess.


"Dokter Lisa yang lebih tahu...mulai sekarang, kamu harus benar benar menjaga pola makanmu. Aku sendiri yang akan memantaunya. Kamu juga tak boleh kelelahan.Okey.." kata Justin sambil memeluk tubuh Jess.

__ADS_1


"By...apa aku hamil?" tanya Jess dengan hati hati.


"Belum pasti..Honey...bukankah kamu baru saja menstruasi kemarin?" kata Justin.


"Iya By....bahkan nyerinya lebih parah dari sebelum sebelumnya. Padahal cuma 2 hari keluar cairannya." kata jess dengab nada sedikit kecewa.


"Tidak menutup kemungkinan kamu hamil Honey..tapi kita harus melakukan check up dulu biar lebih jelas." kata Justin.


" Sekarang bersiaplah aku menunggumu. Hari ini kamu tak usah ke kantor maupun ke kampus. Biar aku yang memberitahukan pada Eva dan dosenmu nanti." lanjut Justin.


Jess pun menurut pada Justin, karena memang beberapa hari sejak menstruasinya yang terakhir, kondisi kesehatannya sedikit menurun, ia sering merasa lemas dan berkunang kunang, dan saat ia berjalan menuruni anak tangga perutnya terasa kram.


Justin dan Jess menuju ke rumah sakit setelah mereka selesai sarapan. Jess meminta Justin untuk melajukan mobilnya dengan pelan karena perutnya terasa sakit saat mendapatkan yang sedikit keras.


Akhirnya, setelah satu jaam perjalanan mereka sampai di rumah sakit. Justi yang khawatir dengan kondisi istrinya, tidak mengizinkan Jess untuk berjalan sendiri. Ia memilih membopong istrinya sampai di ruangan dokter Lisa. Tentu mereka berdua menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di rumah sakit.


"By....aku bisa jalan..." kata Jess.


"Tidak Honey...aku tak ingin terjadi apa apa padamu..."kata Justin.


"Tapi aku malu dilihat banyak orang..." kata Jess yang semakin membenamkan ke dalam ceruk wajah Justin.


"Apa kamu malu mempunyai suami tampan sepertiku?" tanya Justin tanpa melihat Jess yang wajahnya sudah memerah.


"Hmmm.....kumat lagi.." kata Jess malas.


" Honey...bahkan aku sangat bangga dengan ketampanan yang kumiliki..tapi kenapa kamu malah malu sih...?" goda Justin.

__ADS_1


"Iya..iya...aku malu bukan karena wajah tampanmu By...tapi aku malu karena kamu memperlakukan aku seperti orang sakit.." omel Jess.


" Sudah menurut saja." kata Justin.


Jess hanya memutar bola mata dengan malas.


Ting.


Liftpun terbuka, entah kenapa perasaan Justin semakin tak karuan mendekati ruangan Dokter Lisa berada.Akhirnya Justin menurunkan Jess dan masuk ruangan itu dengan terus memapah istrinya. Hal sama juga dirasakan Jess, jantungnya berdegup kencang saat Justin menurunkannya tepat di depan ruangan itu. Ia menggenggam tangan Justin dengan sangat erat. Seakan ia belum siap dengan apapun yang terjadi.


Di ruangan itu, seorang wanita ynag hampir memasuki kepala empat, menundukkan kepalanya dengan hormat saat Justin dan Jess datang. Hari ini, dokter Lisa tidak memakai snelinya, ia hanya memakai kemeja coklat muda dengan aksen renda di depannya, dan celana satin hitam. Ia tak memakai jas kebesarannya, karena sebenarnya hari ini sedang libur. Tapi karena Justin yang memintanya, ia datang ke rumah sakit hanya untuk memeriksa Jess.


"Selamat pagi Tuan....Nyonya..apa ada keluhan?"tanya dokter Lisa dengan ramah.


"Maaf mengganggu waktu libur dokter...Istri saya mengalami kram perut dibagian bawah sejak menstruasi terakhir beberapa hari yang lalu, saya sedikit khawatir karena denyut nadinya sedikit cepat padahal baru beberapa hari kemarin ia menstruasi." kata Justin.


"Tak apa Tuan saya malah merasa sangat senang bisa dipercaya oleh pemilik rumah sakit ini.." kata Dokter lisa sambil terkekeh.


"Maaf nyonya,apakah Anda masih mengalami desminore seperti sebelumnya?"imbuh dokter Lisa.


" Iya dok, bahkan yang kemarin lebih parah dari yang sebelumnya, dan malah sampai sekarang saya merasa sering lemas dan berkunang kunang" jelas Jess tanpa ada yang ditutupi.


"Baik..silahkan anda naik ke bed biar saya periksa." kata dokter Lisa dengan sopan.


Justin membantu istrinya untuk naik ke bed yang ada di ruangan dokter Lisa dan Jess langsung berbaring. Perawat yang ada di ruangan itu mulai mengoleskan gel di perut Jess. Ia merasakan sensasi dingin di perutnya. Kemudian dokter Lisa menggerakkan transducer secara perlahan.Justin dan Jess memperhatikan layar monitor yang ada di ruangan itu.


Dokter Lisa memperlihatkan gambar yang ada di monitor itu.Justin yang mengerti, tidak dapat lagi berkata kata. Matanya mulai berkaca kaca. Jess yang tidak mengerti bingung dengan ekpresi Justin.

__ADS_1


__ADS_2