
Siang itu di gedung Rex-Corp, Revan sedang membolak balikkan berkas yang kemarin ia terima dari salah satu anak buahnya. Sosok Leni, seorang Office Girl dirumah sakit itu membuatnya sedikit penasaran, karena kecepatannya dalam menyusun berkas yang berserakan.
" Ohh..jadi ia sempat kuliah beberapa semester, tapi sejak ibunya meninggal ia berhenti kuliah dan memutuskan untuk bekerja, sungguh disayangkan.ck...!" gumam Revan sambil berdecak.
Ia pun memencet telfon yang ada di ruangannya.
"Jon...masuklah ke ruanganku."kata Revan.
"Iya Tuan."
Tak lama kemudian, Joni asistennya masuk ke dalam ruangan wakil direktur utama itu.
"Menurutmu, apakah dengan IQ 140 yang dimiliki gadis itu, ia bisa diperkerjakan di kantor kita? Walaupun tanpa embel embel gelar?" tanya Revan sambil mengelus dagunya.
"Apa Anda tertarik dengannya Tuan?" tanya John balik.
" Isshh....kau ini aku bertanya padamu malah kamu yang balik tanya. Memang aku harus tertarik padanya dulu kalau memepekerjakan dia?"
"Ya tidak juga sih Tuan..tapi kenapa Anda tiba- tiba ingin mempekerjakan gadis itu,Tuan..?apa saya sudah tidak menarik lagi?" Kata Joni memelas.
"ck....aku tak pernah tertarik padamu, aku masih normal samuraiku masih bisa berdiri.Dasar..!" kat Revan.
"Lalu kenapa boss ingin merekrut dia?"tanya Joni.
"Aku merekrut pegawai ku bukan semata mata dia lulusan apa, tapi aku juga melihat kinerja dan kecerdasannya, apa kau paham?aku ingin dia jadi sekretaris pribadiku."
"Aku yakin dia bisa mengatasi semua pekerjaan kantor dengan baik." lanjut Revan.
"Terus bagaimana dengan saya Tuan..apa Tuan akan memecatku?" tanya Joni, pria kekar tapi gemulai itu.
"Jon...kamu asisten pribadiku, dia sekretarisku di kantor kan beda urusan. Apa kau mengerti?" tanya Revan serius.
" Aku mau ke rumah sakit dulu. Ayo ikut aku." kata Revan sambil melemparkan kunci mobil ke arah Joni, Ia langsung sigap menangkapnya.
__ADS_1
Mereka berdua menuju rumah sakit Justin.Ia langsung menemui Justin di ruangannya.Revan mengernyitkan dahi melihat Justin yang hanya duduk merenung.
"Hei..Boss...ada apa denganmu?kenapa mukamu begitu ?"tanya Revan.
" Aku baru bertengkar dengan Jess."kata Justin dingin.
"Apa?" kata Revan kaget, karena yang Revan tahu, Jess sedang sakit. Bisa bisanya mereka bertengkar.
"Lebih tepatnya aku yang marah dengannya." lanjut Justin
"Tapi kenapa? bukannya Jess sedang sakit?"kata Revan.
"Sudah habis kesabaranku,sikapnya dari kemarin membuatku sangat kesal, apa kau tahu kerjasama kita dengan pihak perusahaan X-medhical,itu hampir gagal gara gara dia ngambek minta dijemput dikampusnya. Itu aku masih bisa menerima,karena setelah itu ayah yang mengatasinya. yang aku tak bisa terima dia menjadikanku seperti pria bodoh yang selalu salah." Revan terkekeh mendengar cerita sahabatnya yang sedang bucin itu.
"Cepat kau selesaikan masalahmu dengannya, lusa kalian sudah bertunangan, Jangan sampai acaramu yang sudah susah susah kususun batal gara gara kekasihmu sedang PMS." kata Revan.
"Makanya untuk saat ini aku belum tertarik dengan sebuah hubungan.Ribet."lanjut Revan.
"Kamu sepertinya perlu periksa ke dokter seksologi, aku akan memberikan beberapa rekomendasi nanti"kata Justin menggoda sahabatnya yang seperti belum tertarik dengan lawan jenis.
"Hahahahha.......eh ada apa kamu kemari?" tanya Justin.
"Aku hanya memberikan surat pengunduran diriku.Mulai minggu depan aku sudah harus memimpin perusahaaan ayah secara penuh. Dan selain itu aku meminta satu orang office girlmu untuk menjadi sekretarisku."
jawab revan sambil memberikan sebuah amplop coklat.
"Aku sepertinya benar benar kehilangan sseekretaris sepertimu..ck....tapi kenapa kamu monta office girl ku?"tanya Justin
"Ya tak apa...aku ada perhitungan dengannya, jadi aku akan jadikan dia sekretaris pribadiku."jawab Revan enteng.
"terserah kau saja,urus prosedurnya sendiri, dan pastikan dia tidak dalam paksaanmu tapi aku belum menyetujui surat pengunduran dirimi sebelum kamu selesaikan tugasmu,jadi ini hanya aku terima tapi belum kusetujui."
"Siap boss..Ya sudah aku pergi dulu..aku hari ini tanda tangan kontrak kerjasama dengan G-Unity. Nanti perkembangannya akan ku kirim kan kepadamu."kata Revan sebelum pergi.
__ADS_1
"Iya ku tunggu perkembangan kasusnya, semakin cepat semakin baik." Kata Justin.
"siap boss...!"
Revan pun melangkah pergi meninggalkan ruangan Justin. Saat berjalan keluar, Ia melihat Jess sendirian masuk ke rumah sakit. Wajahnya sangat pucat, Ia pun segera menghampiri Jess.
----------------
...Sore itu, Justin masih menunggui Jess yang sejak tadi siang belum siuman. Justin memutuskan untuk membawa Jess ke ruangannya, karena dokter Lisa mengatakan tidak ada yang serius, Jess hanya kelelahan dan stress. Setelah cairan infusnya habis, Jess boleh langsung pulang....
Justin ikut merebahkan diri di samping Jess, Ia melihat pergerakan tangan Jess,
"Sayang...kamu sudah bangun..apa mau minum?" tanya Justin ketika mata Jess sudah terbuka.
"Iya..Kak...dimana aku?" tanya Jess. sambil berusaha untuk duduk.
"Kamu di ruang kerjaku, masa kamu lupa?"jawab Justin. Sambil menyodorkan air minum untuk Jess.
"Kak maafkan aku...aku benar benar tidak berguna, aku hanya membuat kakak kesal dengan sikapku...aku benar benar bo.."
Belum selesai Jess menyelesaikan ucapannya, Justin lebih dulu menyambar bibir Jess.Bukan hanya mengecup untuk membuatnya diam, tapi juga ******* bibir menggemaskan Jess. Jess pun membalas ciuman itu, sekarang ia sudah lebih lihai dalam berciuman. Justin menangkup wajah Jess, mengabsen seluruh isi mulut Jess dengan lidahnya.
Mereka berciuman dengan durasi yang lumayan lama, Jess mulai pandai mengatur nafasnya. Pada akhirnya Jess melepas ciuman itu dengan nafas yang terengah setelah sekian lama. Tapi Justin kembali meraih tengkuk Jess dan mengulaingi adegan mereka lagi. Kali ini tangan Justin tak hanya diam, ia meraih baju rumah sakit Jess dan melepaskan tali di belakang baju satu persatu.
Jess hanya pasrah diperlakukan seperti itu oleh Justin, sentuhan sentuhan Justin membuat b****inya muncul. Ia tak menolak. Dengan perlahan, Justin melepas baju Jess yang hanya terusan. Ia melepasnya hanya sebatas dada, dan mulai mencium seluruh wajah dan leher Jess serta meninggalkan bekas disana. Jess yang merasakan kenikmatan itu, mengigit bibirnya, agar tak menimbulkan suara.
"Jangan ditahan Honey..." kata Justin lembut, sambil terus mengusap ngusap tubuh Jes bagian belakang. dan melepas Baju Jess sebatas pinggang saja.
Justin melepaskan kancing B** milik Jess, dan kini terlihat dua bukit indah Jess yang selama ini selalu ditutupinya.Justin yang sudah merasa gerah segera melepaskan kemejanya dan membuangnya sembarangan.
Ia menghampiri Jess, dan melakukan.ciuman lagi, kali ini Justin menggigitnya dan menimbulkan bengkak di bibir Jess. tangan Justin pun tak terkondisikan lagi. Erangan dan ******* Jess menghiasi ruangan itu. Tapi tiba tiba Justin teringat kalau Jess masih dalam masa menstruasi.
"Shiit..kenapa aku bisa lupa?"gumam Justin pelan.Ia pun segera memakaikan baju Jess lagi.
__ADS_1
"Honey..tunggu sebentar, aku ke kamar mandi dulu."Kata Justin sembari mengecup bibir Jess, kemudian ia langsung ke kamar mandi untuk menuntaskan pekerjaannya.
Jess hanya mengangguk, pipinya sudah sangat merona karena menahan malu.