My Surgeon My Hubby

My Surgeon My Hubby
Operasi


__ADS_3

Sudah 3 hari Jess dirawat di rumah sakit, hari ini dia harus menjalani operasi pengangkatan tumor di rahimnya. Rencananya operasi akan dilakukan pukul 10.00 maju 2 jam dari jadwal semula. Karena Justin ingin ia sendiri yang memimpin operasi Jess. Ini agak lain karena jarang Justin meminta sendiri untuk mengoperasi pasiennya. Dokter Lisa tetap bertanggung jawab tentunya.


Pagi ini Justin menemui Jess di kamarnya dan memeriksa Jess, dia sudah memakai baju jaga warna biru khas rumah sakitnya, dengan luaran snelli yang membuat ketampanannya bertambah.


"Selamat pagi, bagaimana perasaanmu?" tanya Justin.


"Aku sedikit gugup. Ini pertama kalinya aku dioperasi. Jujur aku takut."jawab Jess.


"Tenanglah..aku akan menemanimu nanti. Kamu tak perlu takut ini hanya operasi kecil." kata Jess menenangkan.


Tak berapa lama kemudian Dokter Lisa dan beberapa perawat masuk ke dalam ruangan Jess. Mereka yang melihat Justin langsung menunduk hormat. Dan dibalas anggukan oleh Justin.


Lagi lagi Jess dibuat bingung oleh orang orang disekitarnya, tapi Jess hanya diam. Pura pura tak menyadari.


"Selamat pagi Nona Jesslyn..bagaimana perasaan Anda hari ini?" tanya Dokter Lisa dengan senyum ramahnya. Perempuan berusia sekitar 35 tahun itu seperti mengerti kegugupan Jess.


"Tidak usah takut, Nona ini hanya operasi kecil."


Dokter Lisa pun menjelaskan prosedur apa saja yang akan dijalani oleh Jess. Jess pun mendengarkan dengan seksama. Dokter Lisa juga memberitahukan bahwa operasinya akan dipimpin langsung oleh Dokter Justin.


Setelah penjelasan selesai, Jess pun diminta bersiap untuk membersihkan badan dan mengganti bajunya dengan baju steril dibantu beberapa perawat.


15 menit kemudian, Justin masuk ke kamar rawat Jess. Ia datang bersama Ayahnya.


"Nak..semangat ya...kamu pasti akan baik baik saja."ucap dokter Michael dengan pakaian khas dokternya, snelli putih.


"Iya..Om.."jawab Jess. Jess baru mengetahiu kalau Michael adalah salah satu dokter senior dirumah sakit ini. Tapi dia belum tahu kalau rumah sakit ini milik Michael.

__ADS_1


"Justin , pastikan kamu mengoperasi putriku dengan baik." kata Michael mantap.Justin hanya menjawabnya dengan anggukan. Jess yang mendengarnya pun mengernyitkan dahi.


"Jess..kamu sudah ku anggap seperti putriku sendiri Nak..jadi jangan panggil saya Om lagi, karena saya bukan Om mu..panggil saya Ayah..sama seperti Justin memanggilku..apa kamu bersedia?" tanya Michael penuh harap


"i..iya..Om...eh maaf Ayah.."


"Terimakasih Nak..." ucap Micahel dengan mata berkaca kaca.


"Iya Ayah...".


Michael pun mengusap pucuk rambut putri angkatnya itu dengan sayang.


Tak berapa lama kemudian beberapa perawat masuk membawa kursi roda untuk membawa Jess ke ruang operasi.


"Jesslyn..kamu masuk duluan ya..aku akan bersiap siap. Kamu harus semangat." Kata Justin sambil menggenggam erat tangan Jess. Kemudian tak disangka -sangka Justin mengecup bibir Jess singkat.


Jess pun terpana. Pipinya merona merah. Jantungnya pun berdegup kencang. Justin segera berlalu keluar kamar Jess. Karena ia pun merasakan hal yang sama. Perawat yang melihat adegan mereka hanya tersenyum penuh arti.


Justin pun menghampirinya.


"Jesslyn..apa kamu sudah siap?" kata Justin.


Jess pun mengangguk kecil.


Setelah dibius, tak berapa lama kesadaran Jess pun hilang. Justin dibantu beberapa dokter dan perawat pun mulai mengoprasi Jess. tampak keringat dokter Justin yang bercucuran. Dia tak banyak bicara, hanya bicara seperlunya saja. Makanya operasi itu tidak memakan waktu yang lama.


Nampak pula dokter Michael memantau jalannya operasi di ruang pantau.operasi yang berjalan selama kurang lebih 1,5 jam itu lancar. Tumor yang bersarang di rahim Jess telah terangkat. Justin pun meghela nafas lega. Bagaimanapun bagi seorang dokter mengoperasi orang yg dikenal dan tidak itu rasanya berbeda. Sekalipun dia seorang dokter senior.

__ADS_1


Jess yang belum sadar pun segera dipindahkan ke ruang observasi untuk memantau kondisinya pasca operasi.


Justin yang selesai membersihkan diri, langsung menghampiri Jess yang masih dalam pengaruh obat bius. Ia menatap lekat wajah pucat gadis itu. Tangannya menggenggam erat tangan Jess,seakan tak ingin meninggalkan gadis itu sendirian.


"Dokter Justin, apakah Anda tidak makan siang terlebih dahulu?Ini sudah hampir lewat jam makan siang." Ujar salah satu perawat yang berjaga di ruangan itu.


"oh..iya..bawakan saja makan siangku ke sini. Aku akan makan bersama kalian." kata dokter Justin.


"Baik dokter.."kata perawat itu.


Perawat itu heran,karena biasanya setelah mengoperasi pasien, Justin langsung kembali ke ruangannya dan penjagaan pasiennya dilimpahkan sepenuhnya kepada para perawat yang bertugas.


Mereka tahu Jess hanyalah seorang OG yang bekerja di rumah sakit itu. Tapi entah mengapa 3 hari yang lalu, Dokter Michael mengumpulkan seluruh karyawan rumah sakit dan berpesan kepada mereka untuk memperlakukan Jesslyn dengan baik.


Mereka sempat penasaran siapa Jesslyn sebenarnya. Tapi tak ada yang berani bertanya. Karena di ruumah sakit ini dilarang mengganggu hak privasi pasien.


15 menit kemudian makanan pun datang. Justin makan dengan lahap bersama para perawat, karena dia sudah sangat lapar, tadi pagi dia hanya makan roti saja, karena buru buru ke rumah sakit. Setelah makan Justin pun menelepon kepala perawat.


"Suster, 1 jam lagi tolong pindahkan pasien bernama Jesslyn di ruang observasi pasca operasi ke kamar VVIP di lantai atas dan tempatkan beberapa perawat senior terbaik dan dokter jaga 24 jam disana agar aku lebih mudah memantaunya." kata Justin.


"Baik Tuan Muda." kata kepala perawat.


Justin pun kembali ke dalam ruangan dimana Jesslyn berada. Kebetulan hari ini dia tak mempunyai jadwal operasi lagi. Jadi dia akan menemani Jesslyn di sana.


"Jesslyn..aku tak akan membiarkanmu pergi lagi. Andai saja aku sudah mengenalimu dari awal, aku tak akan membiarkanmu hidup sekeras ini. Tapi apa mungkin kamu masih mengenaliku? Saat itu kamu masih sangat kecil."


" Apa kamu tahu tak sedetikpun aku berhenti berharap agar Tuhan mempertemukan aku denganmu lagi. Andai saja orang tuamu masih ada, mungkin saat ini kamu sudah hampir menjadi dokter seperti impianmu."

__ADS_1


"Jesslyn, aku berjanji aku akan menjadikanmu dokter yang hebat dan selalu menjagamu. Tak akan kubiarkan menderita lagi. Dan aku juga berjanji akan mengusut tuntas kecelakaan yang 3 tahun lalu merenggut ayahmu." kata Justin sambil terus menggenggam tangan mungil Jesslyn.


Satu jam berlalu Jesslyn pun dipindahkan ke ruang VVIP sesuai permintaan Justin dan Michael.


__ADS_2