My Surgeon My Hubby

My Surgeon My Hubby
Bertahanlah


__ADS_3

"Ho..honey..darah..."wajah Justin memucat saat melihat darah mengalir deras diantara kedua paha Jess.


"Hubby....sa..kit...." kata Jess dengan suara melemah.Justin segera mengangkat tubuh Jess dan mendorongnya menuju ruang operasi di rumah itu.


"Ayaaahhhh....Dokter Helenaaaa....Alexaaaa" teriak Justin dengan panik.


Wajah Jess semakin pucat,karena darah terus mengalir dari jalan lahir. Dengan perlahan, Justin meletakkan Jess di brankar ruangan itu dan dengan cepat ia mengganti pakaiannya.


"Honey..sayang....tahan sebentar ya...jangan ngantuk ya..."kata Justin yangtak bisa lagi menahan air matanya keluar.


"By......"lirih Jess.


Michael, alexa, Helena dan beberapa perawat langsung menuju ruang bersalin.Mereka begitu terkejut dengan kondisi Jess yang tiba tiba mengalami pendarahan. Alexa langsung menghampiri adiknya yang sudah tak berdaya.


"Adek sayang...ini kakak..kamu harus bertahan ya....kami akan melakukan semua yang terbaik untukmu..." kata alexa seperti tercekat saat melihat keadaan adiknya yang begitu memprihatinkan.


"Dokter Alexa, sebaiknya kita segera bersiap siap.Kondisi pasien semakin melemah.Tuan Justin,tolong anda keluar jika tak sanggup menemani Jess di sini. "kata Dokter Helena dengan tegas. Alexa segera mengganti pakaiannya dengan pakaian steril. Tak lupa ia juga mencuci tangannya dengan desinfekran khusus.


"Tidak Dokter,apapun yang terjadi, saya tetap menemani istri saya." jawab Justin dengan pasrah.


"Ayah akan selalu disampingmu Son.." kata Mike menguatkan anaknya.


Tak lama kemudian datang juga Dokter Lisa, dokter yang selama ini merawat Jess.


"Bisa bius sekarang Dokter Lexa..?" kata Dokter Helena. Alexa pun menganngguk tanda sudah siap.


Ia langsung menyuntikkan cairan berwarna putih ke intravena Jesslyn. Tak lama kemudian sepenuhnya Jesslyn kehilangan kesadarannya. Dengan sigap, Alexa langsung memasangkan selang ventilator ke mulut Jess sebagai alat bantu nafasnya. Saat nafas Jess sudah mulai stabil, ia menganggukkan kepalanya pada Dokter Helena tanda operasi sudah siap di laksanakan.


Seketika tubuh Alexa luruh ke lantai,karena ia tak sanggup lagi menahan beban tubuhnya setelah memasangkan alat bantu nafas untuk Jesslyn. Michael langsung membantunya berdiri dan duduk disebelah Jess. Ia berusaha menguasai dirinya lagi agar tidak sampai mengganggu jalannya operasi penyelamagan adik dan juga ketiga keponakannya.


"Tuhan...kami sudah berusaha sekuat tenaga kami..kali ini biarkan kami memohin sekali lagi..untuk menyelamatkan adikku Tuhan...tolong kami..."gumam Alexa.

__ADS_1


Sedangkan Justin sedari tadi hanya terduduk diam,sambil menempelkan kepalanya di kepala Jess. Ia tak lagi menangis. Ia juga tak mengucapkan sepatah katapun. Ia seperti tak mempunyai semangat apapun melihat orang yang dicintainya sedang berjuang antara hidup dan mati.


Dokter Helena melakukan pembedahan dengan sangat teliti dibantu dokter Lisa yang menjadi asisten bedahnya saat ini.


"Perawat...tolong segera siapkan kantung darah.Kita akan menghadapi kemungkinan hard bleeding setelah bayinya keluar." kata Dokter helena.


"Dokter Alexa..Tolong jaga tekanan darah pasien tetap stabil. Jaga juga saturasinya!" lanjut dokter Helena. Untuk sesaat Michael terpana dengan ketegasan dokter ahli itu.


Tak lama kemudian,


Ooooeeekkkk.......


Bayi kecil berjenis kelamin laki laki keluar dengan tangisan kencangnya.Justin terkaget saat mendengar tangisan anak pertamanya. Tapi ia masih was was. Lalu setelah itu..


Ooooeeeekkk.....


Bayi kecil berjenis kelamin perempuan juga berhasil dikeluarkan diiringi tangis kerasnya. Dan setelah itu..


Satu lagi bayi perempuan berukuran kecil dikeluarkan dari perit Jess. Para bidan dan perawat senior itu, dengan sigap langsung membersihkan ketiga bayi itu. Walaupun mereka lahir prematur, tapi keadaan ketiganya sangatlah sehat.


Untuk sesaat, hati Justin diselimuti rasa bahagia begitu melihat ketiga buah hatinya lahir dengan keadaan yang sangat sehat. Ia mengecup kening Jess yang tak sadarkan diri berkali kali.


"Terimakasih sayang..terimaksih..telah melahirkan ketiga buah hati kita...aku mencintaimu..sangat sangat mencintaimu." Kata Justin dengan berlinangan air mata bahagianya.


Namun tak berapa lama, kebahagiaan itu sirna begitu saja saat tiba tiba jantung Jess melemah dan tekanan darahnya turun drastis. Ia mengalami hard bleeding saat Dokter Helena berusaha mengeluarkan plasentanya yang sudah menempel pada dinding rahim dan menutupi jalan lahir para bayi itu.


"Suction! siapkan kantung darah lebih banyak lagi cepat!" teriak dokter Helena yang panik.


"Dokter Alexa!Suntikkan Ephineferin pada pasien! Kendalikan emosimu Alexa!" teriak Helena, saat ia melihat Alexa hampir saja tak bisa menguasai dirinya sendiri.


Justin terdiam saat semua orang di dalam panik.Michael yang tak sanggup lagi melihat itu semua memutuskan keluar dari ruang operasi. Dan menangis sekencang kencangnya di kamar mandi. Trauma saat kehilangan istrinya setelah melahirkan Justin masih melekat dalam benak laki laki paruh baya itu.

__ADS_1


Berbeda dengan ayahnya, Justi tak bergeming sedikitpun dari tempat duduknya. Seakan ia sudah tahu bahwa ini akan terjadi dan ia sudah menyiapkan mentalnya. Ia tak menangis,tapi juga tidak panik seperti yang lain. Ia hanya diam seribu bahasa dengan tatapan mata ynag kosong.


Akhirnya, setelah berhasil menyumbat titik aliran darah, pendarahan bisa dihentikan sementara. Namun plasenta yang seharusnya terlepas itu belum bisa terlepas dari dinding rahim. Dokter Helena memutuskan meminta izin pada Justin untuk melakukan Histerostomi yaitu pengangkatan rahim Jess.


"Lakukan!" kata Justin sebelum dokter meminta izin padanya.


"Aku sudah tahu."lanjut Justin dengan tatapan kosong.


"Aku akan membantu kalian melakukannya." kata Justin. Ia bergegas memakai baju kebesarannya.


"Tapi Dokter...apa anda yakin ?" tanya dokter Lisa yang sedari tadi diam membuka suaranya.


"Ayo kita segera lakukan." kata Justin.


Tanpa banyak bertanya lagi, Dokter Helena mengizinkan Justin ikut membantu operasi ini.


"Kamu harus kuat Jess....suamimu sendiri yang akan menyembuhkanmu"Gumam dokter Helena pada pasien yang sedang tak berdaya itu.


"Dokter Alexa, kita akan melakukan operasi lanjutan, .." kata Dokter Helena pada alexa. Alexa pun mengangguk dan menyuntikkan cairan obat kedalam infus.


"Jess....bertahanlah....."batin Alexa.


Justin hanya membantu operasi besar itu, karena dokter Helena tak akan mengizinkan ia yang melakukan operasi itu.


Diluar ruangan, seluruh keluarga besar sedang harap harap cemas menanti operasi yang sedang berlangsung itu. Mereka tak tahu apa yang sudah terjadi di dalam. Leni dan Revan juga tampak ikut menunggu jalannya operasi itu. Leni tak henti hentinya mengucapkan doa untuk sahabatnya yang sedang berjuang hidup dan mati .


Sesekali isak Karina terdengar di tengah ruangan itu. Walaupun bukan puteri kandungnya, Karina sangat menyayangi Jess seperti puterinya sendiri. Ia tak akan rela jika sesuatu terjadi pada ponakan kesayangannya itu. Sedangkan Vano dan Vino mereka memilih untuk berada di depan pintu ruang operasi itu. Seakan mereka ingin lebih dulu mengetahui kondisi adik kesayangan mereka itu.


Di dalam ruangan, kondisi Jess semakin menurun karena beberapa organ vitalnya tak berfungsi dengan baik pasca pendarahan yang dialaminya. Tekanan darahnya terus menurun dan detak jantungnya semakin melemah. Justin dan Helena berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan wanita yang kini tergolek tak berdaya itu.


Tapi kemudian

__ADS_1


Tttiiiiiiiittttt....................


__ADS_2