My Surgeon My Hubby

My Surgeon My Hubby
mimpi


__ADS_3

Malam ini di Ganendra Medichal Center sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Jess masih saja tidak bisa tidur. Sakit di perutnya berangsur angsur membaik. Jujur sebenarnya Jess agak merasa takut di ruangan ini sendirian. Ia memainkan ponsel untuk mengusir kejenuhannya dan mengalihkan rasa takutnya.


Saat dia memainkan ponsel,tiba tiba dia merasa ingin kekamar mandi. Jess pun turun dari ranjangnya sambil memegang tiang infus.Setelah selesai dengqn ritual buang hajatnya selesai, Jess pun berjalan kembali menuju ranjangnya. Saat membuka pintu kamar mandi, dia terkejut bukan main karena tiba tiba ada seseorang berdiri di hadapannya.


"Aaaaaaaa..."Jess berteriak.


"Hussstt..kamu bisa membangunkan semua orang kalau berteriak malam malam seperti ini.."kata Justin sambil membekap mulut Jess.


"Eemph...eemmph...lepaskan! lagian kamu datang malam malam tanpa bersuara..seperti hantu saja...!"jawab Jess kesal.


"Kamu takut?" tanya Justin.


"Nggak! cuma kaget saja..aku kan pemberani..!!"jawab Jess membela diri.


"Kalau kamu pemberani kenapa kamu berteriak seperti itu?" tanya Justin


"Aku bilang aku hanya terkejut..!" kata Jess sambil menyebikkan bibirnya.


" Apa kamu tahu cerita tentang perawat wanita yang dibunuh di gudang rumah sakit ini 15 tahun yang lalu yang kemudian pembunuhnya berusaha untuk bunuh diri?"tanya Justin dengan tatapan misterius.


"Tidak..aku tidak tahu..dan aku juga tidak mau tahu!" ujar Jess merasa kesal.


"Apa kamu tahu arwah wanita itu sering menghantui di lorong lorong rumah sakit ini..dia ingin mencari pembunuhnya dan membalaskan dendamnya. Dia datang dengan bibir pucat, rambut tergerai panjang berantakan..dan ada darah dimana mana..."


"Diam kamu..pergi sana..aku berani disini sendiri!"kata Jess


"Ok kalau begitu..kalau dia mendatangimu jangan lupa panggil namaku tiga kali.."goda Justin sambil terkekeh.

__ADS_1


"Tidak akan...!"


"Apa kamu yakin?"


"Pergiiii...!"teriak Jess sambil melempar bantal ke arah Justin.


Jess yang kesal hanya memasang ekspresi manyunnya. Dan itu membuat Justin semakin gemas.


Entah kenapa menggoda Jess dan membuatnya kesal bisa menjadi obat kebosanannya.Malam ini Justin memutuskan untuk tidak pulang ke rumah.Ia ingin menemani Jess di rumah sakit walaupun tidak di dalam kamar rawat Jess. Mungkin karena merasa kasihan, Jess tidak punya siapa2 untuk menemaninya di tempat ini.


Sudah hampir pukul 01.00 dini hari, mata Jess belum juga terpejam. Ia terus saja merasa gelisah. Perawat sudah mengganti infus Jess dengan yang penuh 2 jam yang lalu.


Justin memantau Jess dari kamera tersembunyi yg dia selipkan di kamar rawat Jess. Karena melihat Jess sepertinya gelisah, Justin pun segera menuju ruang rawat Jess.Dia sudah berganti kaos lengan panjang warna hitam di padukan celana jeans biru muda panjang yang disediakan di ruangannya. Dia terlihat tampan dengan pakaian casualnya.


Perlahan pintu kamar rawat Jess terbuka, Jess menoleh mencari tahu siapa yang berkunjung tengah malam. Ia pun sedikit kaget karena Justin menginjunginya malam ini tanpa memakai seragam dokternya.


"Justin..mau apa kau kemari?" tanya Jess penasaran.


"Kenapa kamu belum tidur? Besok sore jadwalmu operasi?aku hanya mau mengecek keadaanmu saja.Kau tidak boleh begadang. Kamu harus menjaga kondisimu." kata Justin sambil membenarkan aliran cairan infus Jess.


" Aku hanya tidak bisa tidur, mungkin karena siang hari aq terlalu banyak tidur.." Ucap Jess.


"Aku akan menemanimu. Apa perutmu masih sakit?"tanya Justin.


"Sudah lebih baik..mungkin pengaruh obat juga.." jawab Jess.


"Tidurlah aku di tetap disini."kata Justin.

__ADS_1


"Kamu tidak pulang?" tanya Jesz.


"Tidak.."jawab Justin singkat.


"Apa kamu sedang jaga malam?"tanya Jess polos.


"I..iya..sudah cepat tidurlah..atau operasinya aku ajukan sekarang.!"kata Justin, "mungkin dia belum tau siapa aku dan ayah.." pikir Justin.


"iya..iya..aku tidur..lagipula mana bisa jadwal operasinya diajukan?"jawab Jess.


"Bisa saja...sudah cepat tutup matamu..tidur!"kata Justin memberi peringatan.


Entah kenapa Jess merasa begitu nyaman ketika Justin datang. perlahan rasa kantuknya pun datang. Tidak sampai 15 menit kedatangan Justin, Jess pun sudah terlelap. Justin yang melihat Jess sudah tertidur tersenyum tipis penuh arti sambil mengusap lembut pucuk kepala Jess.


Justin memutuskan untuk tidur di ruang rawat Jess. Karena khawatir kalau Jess butuh sesuatu. Dan benar saja belum sampai satu jam..


"Tidak!!..Mama..papa..jangan tinggalkan Jess..Maa...paaa...."


Jess menangis dalam mimpinya.Justin yang baru saja menutup mata reflek berlari mendekat dan memeluk Jess yang tubuhnya basah oleh keringat.


"Apa kamu mimpi buruk?" tanya Justin sambil mengusap rambut Jess.Jess pun mengangguk. Justin memberikan segelas air putih yang tersedia di nakas kamar itu.


"Aku selalu bermimpi, Mama dan Papa diseret oleh orang misterius. Seakan Mama dan Papa dibunuh oleh orang itu.."kata Jess sambil terisak.


"Sudah tenanglah..aku disini..tidurlah lagi.."


Jess pun perlahan tertidur lagi. Ia benar benar merasa nyaman saat Justin berada di dekatnya. Setelah beberapa saat, Justin meletakkan kepala Jess lagi di bantalnya. Dan ia tidur di sofa lagi.

__ADS_1


Merekapun terlelap sampai pagi.


__ADS_2