My Surgeon My Hubby

My Surgeon My Hubby
Depresi (2)


__ADS_3

Sudah 5 hari keadaan psikologi Jess tak berubah, saat ini ia sudah kembali ke rumah Michael. Jess hanya mau makan jika Justin yang menyuapi, itupun sangat sedikit. Michael, Justin dan Alexa mendatangkan beberapa psikiater terbaik untuk Jess, tapi hasilnya tetaplah sama. Jess masih tenggelam dalam rasa dukanya. Selama 3 tahun ia memendam dukanya seorang diri, tanpa ada seseorang yang mendampingi, dan dengan tiba tiba ia mengetahui kenyataan bahwa kedua orang tua Jess sengaja dibunuh oleh orang terdekatnya. Ibarat sebuah balon yang tiba tiba terisi penuh dan meledak, mental Jess pun langsung terguncang.


Hari ini adalah hari pernikahan Revan dan Leni, Justin harus menghadirinya tanpa didampingi Jess, karena Kondisi psikologis Jess yang buruk. Sebenarnya ia sangat berat menghadiri pesta itu, tapi bagaimanapun Revan adalah sahabat sekaligus adik untuk Justin. Ia tidak mungkin mengabaikan acara penting Revan. Sedangkan Alexa memilih untuk menjaga Jess, walaupun sebenarnya Leni memintanya untuk hadir. Ia pun menelpon Leni.


"Hallo Leni ..maaf Kakak tidak bisa hadir di pesta pernikahanmu."kata Alexa.


"Tidak apa apa kak..Aku mengerti,kondisi Jess lebih penting.."kata Leni di seberang.


" Ngomong ngomong selamat ya..atas pernikahanmu..Hadiahnya nanti ku titipkan dokter Justin."kata Alexa.


" Iya kak..terimakasih..."


Setelah mengobrol beberapa saat, Alexa pun menutup telepon Leni dan masuk kembali ke kamar Jess.


" Jesslyn..kakak merindukanmu Dek..kapan kamu bisa seperti dulu lagi..?" Kata Alexa,air matanya kembali menetes ketika melihat Jess yang masih diam seribu bahasa dengan tatapan mata kosong.


" Jess kamu nggak kasian sama dokter Justin, ia ke pesta pernikahan sendirian lhow..kamu nggak cemburu kalau nanti kekasihmu digoda cewek lain..Kakak nggak tau ya..kalau ada cewek yang menggoda calon suamimu." kata alexa berusaha menggoda Jess walaupun dengan air mata yang terus menetes.


" Dek..kakak iri banget lhow sama kamu...punya calon suami yang benar benar bisa menjagamu..tapi kakak juga bahagia kalau adik kakak yang super bawel ini bahagia..." kata Alexa sambil memeluk Jess.


Air mata Jess pun menetes, Alexa yang melihat Jess menangis merasa sangat kaget. Karena baru sekarang Jess menanggapi seseorang walaupun hanya dengan air mata. Alexa menganggap kondisi Jess seperti pasien yang sedang koma, tapi dengan fisik yang sangat baik. Jika ia bisa merespon ucapan, berarti ada sedikit perkembangan.


"Dek..kamu bisa menanggapi kakak...?"tanya Alexa.


Jess tersenyum walaupun tatapannya masih kosong.


POV Jess.


Aku merasa inilah titik terendah dalam hidupku, awalnya aku kematian orang tuaku adalah murni kecelakaan,aku berusaha untuk ikhlas walaupun itu sangat berat. Memang tak ada yang bisa mengubah takdir Tuhan. Jodoh,rejeki, maut hanya Tuhan lah yang tahu. Kesulitan hidup yang kualami setelah kematian papa dan mama masih bisa kuterima,aku bisa bekerja apapun, asal aku bisa makan dan terus melanjutkan hidup. Aku memendam sendiri, rasa kehilangan orang tua,dikucilkan oleh semua keluarga, terakhir ternyata ada penyakit yang bersarang ditubuhku. Disaat aku mulai menerima kepergian orangtuaku aku baru tahu ternyata mereka sengaja dibunuh. Aku seperti tak bisa menerima semua ini. Aku masih tidak percaya jika pamanku sendiri yang membunuh kedua orangtuaku. Apa salah papa dan mama? mengapa Om Felix dan Tante Dianka tega melakukannya?Aku benar benar merasakan sendirian saat ini... merasa hanya hidup sebatang kara...


POV AUTHOR

__ADS_1


"Aaaaarrrrrgggghhhhhhh........." teriakan Jess membuat Alexa yan sedang di kamar mandi sangat terkejut, ia segera keluar dan mendapati Jess sedang histeris. Ia melempar barang barang yang ada di kamarnya.Ia seperti orang yang ketakutan.


"Pergi kalian!! pergiiiiiii...!!!Jangan bunuh aku..! tooloooooongg.....!!Aku takut..hiks...hiks...pergiiiii....!"teriak Jess sambil meringkuk di atas ranjangnya.


"Jess kakak disini dek...kamu sudah aman..kamu tenang ya...mereka semua sudah dihukum..mereka tidak bisa menyakiti Jess lagi..Jess tenang ya.."kata Alexa sambil menepuk nepuk punggung Jess agar tenang.


"Aku takut Kak..mereka akan membunuhku..hiks.." kata Jess sambil menangis sesunggukan di pelukan Alexa.


"Iya kakak tahu...mereka sudah diberi hukuman setimpal, tidaj ada yang akan melukaimu,kakak disini..Jess jangan takut ya.." kata Alexa sambil tersenyum.


Sudah beberapa kali Jess seperti itu. Ia sering mengalaminya saat tidur,jika saja tidak ada yang menjaganya, ia bisa melukai dirinya sendiri tanpa sengaja.


Malam itu, Justin dan Michael baru saja pulang dari pesta pernikahan Revan dan Leni. Mereka berdua langsung pergi ke kamar Jess, dan mendapati Jess sedang menangis di pelukan Alexa.


" Ada apa ini? Apa yang sudah terjadi?" tanya Justin khawatir.


"Jess mimpi buruk lagi dan histeris..tapi tenang saja dia sudah bisa tenang tanpa suntikan obat penenang. Asal ada yang disampingnya saat mimpi buruk itu datang." kata alexa.


"Dokter Justin...bisa kita bicara diluar.."pinta Alexa.


Mereka pun segera keluar dan menyuruh perawat untuk menjaga Jess.


"Dokter Justin menurut saya,sepertinya keputusan untuk membawa Jesslyn ke rumah sakit jiwa bukanlah keputusan yang tepat. Karena yang dia butuhkan adalah pendampingan, sedangkan yang bisa menyembuhkan hanya dirinya sendiri." jelas Alexa.


Justin memang sempat berfikir untuk membawa Jess ke rumah sakit jiwa tapi ia tidak mau gegabah. Beberapa kali Jess histeris tak terkendali, karena saat ia histeris memang tidak ada yang ada disampingnya.


"Kau benar dokter Alexa, kita memang harus bisa bersabar dengan kondisi Jess. Aku menyesal sempat berfikir membawanya kerumah sakit jiwa."kata Justin.


"Saya yakin Jess akan segera pulih jika kita terus mendukung dan memberinya semangat.."kata alexa.


"Dokter Justin, karena hari sudah malam, saya pamit pulabg, saya sudah tenang jika sudah ada kalian yang mendampingi Jess." pamit Alexa.

__ADS_1


"Baik,dokter Alexa, terimakasih sudah menjaga Jess hari ini. berhati hatilah."kata Justin.


Alexa pu berpamitan juga kepada Michael yang sedang berada di balkon lantai atas rumahnya. Ia seperti memikirkan sesuatu untuk kesembuhan psikis calon menantunya itu.


Sepeninggal Alexa, Justin kembali masuk ke kamar Jess dan duduk di samping tubuh Jess. Ia mengelus kepala Jess yang sedang tidur nyenyak. Ia menghapus sisa air mata yang ada si sudut mata Jess. Ia merasa sangat damai saat melihat Jess tertidur tenang. Tapi ia juga sangat merindukan suara tawa lepasnya, Ia sangat rindu kala berdebat dengan Jess.


"Ah..aku begitu merindukanmu, padahal kamu tak pernah jauh dariku, kembalilah sayang..aku menunggumu." kata Justin sembari mengecup bibir indah Jess. Ia melihat Jess yang tersenyum dalam tidurnya.


"Semoga mimpi indah Honey.." kata Justin. Ia pun merebahkan diri di samping Jess.


Belum sampai 10 menit Justin merebahkan tubuhnya, Michael datang dab masuk ke kamar Jess.


"Kamu tidur di sini,Son?"tanya Michael.


"Iya ayah..aku berjaga kalau Jess mimpi buruk malam ini. Ia selalu histeris ketika mimpinya datang." kata Justin.


"Iya..tidak apa apa tapi jangan sampai macam macam..kalian belum menikah, lagipula Jess sedang depresi, tidak baik memaksakan kehendak." kata Michael dengan senyum devilnya.


"Ayah..keadaan begini masih saja bercanda. Ada apa ayah kemari?"tanya Justin.


"Sepertinya ayah sudah menemukan ide untuk mengembalikan keadaan Jess seperti semula, semoga ini berhasil."kata Michael.


"Apa itu ayah?" tanya Justin.


...----------------...


Author nulis Bab ini jujur karena pernah benar benar berada di titik terendah dalam hidup, kedua orang tua saya meninggal dalam waktu yang hampir bersamaan dan ada suatu hal yang membuat author merasa terpuruk. Jujur itu membuat saya terkadang seperti sulit untuk menerima kenyataan. Saya adalah tipe orang yang introvert gak mudah untuk sharing masalah dengan yang lain, akhirnya apa yang saya pendam itu seperti ibarat balon yang diisi udara terus menerus akhirnya meledak. (itu nggak baik..jangan ditiru ya..) saya sempat depresi dan mencoba suicide,tapi berkat dukungan dari orang orang tercinta saya bisa bangkit. Dan memberanikan diri menulis untuk mencurahkan apa yang ada di pikiran saya,.dan saya merasa di zona ternyaman saat saya bisa menulis, akhirnya saya mencoba nulis novel ini (jadi ada sebagian pengalaman saya di novel ini)..


Saat aku nulis bab si Jesslyn depresi, tanganku rasanya udah gemeteran, jujur aku nyelesain bab ini butuh waktu satu hari, bukan karena mikir mau nulis apa tapi mencoba menguatkan hati untuk menulis(lebay banget ya.😅..).


#pesanku jangan kalian menyimpan dan mengumpulkan hal yang membebani kalian karena itu bisa seperti bom yang sewaktu waktu bisa meledak.

__ADS_1


Maaf kepanjangan


tolong tinggalkan jejak untuk author biar tambah semangat....💪💪💪semoga kalian suka...


__ADS_2