
Lanjutan
David dan kedua sahabat Kara, menghampiri kearah suara teriakan Kara.
"Bughhh.... bughh...! David langsung memukuli Reyhan dengan penuh amarah. Matanya merah, dia merapatkan giginya dan tangannya mengepal kuat. Dia tidak tahan melihat tindakan memalukan Reyhan yang mengkhianati adik kesayangannya. Terlebih dia tidak tahan melihat adiknya menangis histeris. Hatinya serasa tersayat-sayat melihatnya.
"Dasar b******n! Aaaaa... Shit!" teriaknya.
"Heh! Memangnya kenapa, huh?" sahut Reyhan menyeringai.
"Silahkan marah David! Silahkan! Tidak ada yang melarang mu. Kamu marah pun tidak ada gunanya lagi. Aku sudah menahannya selama ini. Aku sabar agar tujuanku tercapai, dan akhirnya aku memang mendapatkannya. Aku sudah menang. Aku tidak membutuhkan adikmu lagi untuk menjadi pacarku sebagai jalan menuju kemenangan ku. Dan asal kamu tau David....? Aku tidak pernah menyukainya apalagi mencintainya. Cih, aku hanya memperalatnya saja, hahaha!" ucapnya sembari tertawa dengan keras.
"Beraninya kamu Reyhan b******n! Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja. Bahkan jika harus mempertaruhkan nyawaku, aku akan melakukannya demi adikku. Aku akan membalasmu Reyhan! Kamu tunggu saja.." ucapnya gemetar mendengar perkataan Reyhan yang hanya memperalat adik kesayangannya.
"Hahaha... Adikmu saja yang terlalu mencintaiku. Dan kamu hanyalah seorang kakak yang bodoh, tidak berguna! Tidak bisa melindungi perusahaan sendiri, apalagi adikmu, hahaha...! Aku hanya berakting selama ini. Tetapi kamu tidak pernah mencurigai ku. Aku benar-benar bangga pada diriku sendiri. Asal kalian tau saja bahwa cintaku hanya untuk Rani-ku seorang, huh!" Ucapnya sambil tertawa menyeringai.
Kara mengepalkan kedua tangannya. Dia memang tidak terima dengan pengkhianatan Reyhan, tetapi dia lebih tidak terima melihat kakaknya dihina olehnya.
Dia langsung maju dan mendaratkan sebuah tamparan ke wajah arogan Reyhan.
Plakkk! Tamparan penuh amarah, yang membuat kedua sahabatnya terbelalak! Mereka terkejut melihat perubahan sikap Kara. Kara yang tadinya memiliki sifat yang lembut, tiba-tiba berubah seperti monster yang menggila.
"Jangan berani-beraninya kamu menghina kakak ku! Aku bisa menahan ketika melihat mu berkhianat bersama si j****g ini!" Ucapnya sambil menunjuk ke wajah Rani. "Tapi aku tidak akan bisa menahan dan akan membalas siapapun yang berani menghina kakak ku!" Sambungnya lagi dengan tegas.
Rani langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Kara. Sebelumnya dia sudah berpakaian lengkap, meskipun sedikit berantakan.
"Siapa maksudmu j****g, huh? Kamu yang j****g! Dan juga... berani-beraninya kamu menampar Reyhan! Sebaiknya kamu sadar, kamu tidak pernah dan tidak akan pernah ada dihatinya. Reyhan mendekati kamu, hanya karna kamu kaya saja.. dan dia gak mungkin tertarik dengan wajah polos sok suci mu ini. Mimpi sana!" Sahut Rani menghinanya.
"Rani gak akan bisa dibandingkan dengan kamu yang pura-pura sok suci ini, heh" lanjut Reyhan menyeringai.
"Memang benar. Aku tidak akan bisa dibandingkan dengannya. Karna aku tidak seperti dia... bermuka malaikat tapi berhati iblis. Dan rela memberikan tubuhnya untuk seorang b******n sepertimu ini, demi tujuan yang sama. Sama-sama serakah. Aku memang tidak akan pernah melakukannya, walaupun aku hidup miskin, walaupun aku tidak punya apa-apa nantinya. Seorang j****g sepertinya memang pantas untuk seorang b******n sepertimu. Pantas saja kalian berdua selalu sibuk, ternyata sibuk memuaskan nafsu masing-masing. Akhirnya, aku mengetahui sifat asli busukmu ini. Pantas saja Dimas begitu membencimu. Ternyata... karna kamu adalah wanita murahan, heh" balas Kara menyeringai.
"Coba kamu katakan sekali lagi. Akan ku robek mulut mu" sahut Rani dengan nada penuh amarah.
"Semoga saja hubungan kalian langgeng terus. Dan kamu harus banyak-banyak berdoa agar Reyhan tidak meninggalkan mu kelak. Kasian kan, habis manis sempah dibuang...! Apa jadinya dirimu yang berhati busuk ini nanti..?" sarkasnya tegas.
"Kamuu...." sahut Rani merapatkan giginya!
"Maafin gue, Ra. Sebenarnya gue udah tau dari awal. Tapi gue gak berani bilang ke lo, karna gue takut lo gak bakal percaya, dan malah me.. membenci gue" ucap Dimas lirih.
" Apaaa?" teriak Airi.
"Lo tega banget sih Dim..! Gue gak nyangka lo bakal nyembunyiin ini dari kita. Itu sama aja lo nyakitin Kara secara gak sengaja. Apa lo gak pernah mikirin perasaan Kara?" teriaknya lagi.
"Udah Ri.. Sebenarnya gue dari awal juga udah curiga... kenapa Dimas tiba-tiba benci sama Rani? Tapi gue lebih milih untuk percaya sama wanita keji ini dan gak mencari tau lebih jauh lagi. Gue yang bodoh!" lirihnya.
"Kara.. Kara..! Lo emang lemah. Bahkan sahabat kesayangan mu membohongi dirimu. Kamu emang pantes ngedapatin itu semua" ledek Rani.
"Gue salah apa sama lo Ran? Kenapa lo ngelakuin ini? Salah gue apa?" teriaknya.
"Itu semua karna hidup lo lebih baik dari gue, lebih disayang semua orang, lebih disukai banyak orang, dan lebih pintar dari gue. Gue emang iri sama lo. Dan gue bakal merebut semuanya satu persatu bahkan pacarmu sekalipun, hahaha!" Teriaknya masih tertawa menyeringai.
"Lo emang berhati bejat ya Ran...! Gue juga gak bakal ngampunin lo" sahut Airi.
Rani dan juga Reyhan tertawa menyeringai sementara Kara, kakaknya dan juga sahabatnya menatap geram ingin menghabisinya.
__ADS_1
Flashback off
Pada hari kematian orang tua Kara, tepatnya 4 bulan yang lalu.
"Kara pasti sedih banget dan merasa terpukul! Gue harus kesana. Oh ya Reyhan kan pacarnya Kara? Mending gue perginya barengan sama dia. Biar Kara dihibur Reyhan, juga supaya dia gak terlalu terpuruk" batin Dimas.
Dia berjalan menyusuri koridor sekolah. Pada saat itu, sekolah sudah sepi. Karna memang waktu pulang sekolah sudah lama berlalu dan para siswa sudah berpulangan.. kecuali Dimas, Reyhan, Rani dan teman-temannya yang lain ikut ekskul seni. Sebenarnya Kara juga mengikuti ekstra tersebut. Tapi karna dia harus pulang untuk memberangkatkan orang tuanya yang akan pergi ke Prancis, jadi dia tidak mengikuti ekskul hari ini.
"Rey.. Rani, gue ada kabar bu....." ucapannya terhenti, matanya terbelalak melihat sepasang pria dan wanita tengah berciuman dipojok ruangan. Dan tangan silelaki tengah menyosor kesana kemari. Itu adalah Reyhan dan Rani.
"Apa yang kalian lakukan, huh?" teriak Dimas.
"Lo benar-benar tega ya Rey..! Lo tega hianatin kara...? Kurang baik apalagi Kara sama lo, huh?
Kenapa harus sekarang? Disaat Kara terpuruk.. disaat Kara kehilangan kedua orang tuanya! Lo juga Ran.. gue gak nyangka sama lo, lo tega Ran lo tega. Selama ini Kara memperlakukan Lo seperti kakaknya sendiri. Kenapa lo ngelakuin ini, kenapa????" teriaknya lagi.
"Lo udah ngeliat semuanya. Gadak lagi yang perlu ditutupin! Gue sayangnya sama Rani doang. Masalah gue sama Kara.. lo gak usah ikut campur. Atau gue bakalan benar-benar menghancurkan Kara bahkan dihari dukanya ini, dimana dia kehilangan orang tuanya" ucapnya datar.
"Jadi lo udah tau kalau orang tua kara meninggal..? Tapi lo tetap gak peduli, benar begitu?" teriak Dimas dengan nada tinggi.
"Betul sekali. Udah kita pergi dulu ya" ledek Reyhan.
"Sayang... kamu gak bakalan kesana kan..? Temanin aku dong sayang, ya? Masa kamu tega ninggalin aku sendirian.." ucap Rani manja.
" Iya sayang. Aku bakalan nemanin kamu kok, aku gak akan pergi kesana. Jangan marah dong! Kita jalan-jalan yuk" ucapnya.
"Yuk, sayang!" balasnya.
"Cih... sungguh pasangan yang memuakkan! Si a****g dan si j****g"ucap Dimas kesal.
"Aaaaaa... gue bakalan membalas perbuatan kalian hari ini. Reyhan b******n, Rani j****g kalian tunggu saja!" ucapnya geram.
Tentu saja dia sangat marah. Mereka berani mengkhianati sahabat karibnya dan juga orang yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri, karna dia merupakan anak tunggal. Dia menyayangi Kara layaknya sebagai adik. Siapapun yang berani menyakiti Kara, dia yang akan lebih dulu menghadapinya. Sejujurnya, dia ingin memberitahu kara tentang kejadian hari ini. "Tapi kara dalam keadaan terpuruk sekarang! Gue gak boleh nambahin beban dia dan membuatnya stress" batinnya. Dia tidak akan sanggup melihatnya.
Flashback on
"Ketika orang tuaku meninggal, kalian gak benar-benar ada urusan kan? Kalian pasti menghabiskan waktu berduaan, iya kan?" teriak Kara.
"Ternyata kamu tidak bodoh Kara. Itu benar sekali, heh!" sahut Rani menyeringai.
"Bahkan dihari.. dimana aku kehilangan orang tuaku.. dihari aku merasa terpuruk?" tanyanya lagi. Tak terasa air matanya telah berlinang.
"Benar" sahut Rani dan Reyhan bersamaan.
"Hahaha.." Dia tertawa dengan paksa.
"Aku ngerti sekarang" sahut Kara merasa geram.
"Oh ya.. satu lagi, kalian sudah harus pergi.. pergi tinggalkan kediaman Sebastian sekarang juga karna itu sudah jadi milikku. Dan juga perusahaan mu telah diakuisisi oleh ayahku. Jadi kalian tidak punya hak apa-apa lagi untuk memilikinya. Kalian ingin berontak? Berontak saja...! Toh Kalian sudah jadi gembel sekarang, hahaha!" sahut Reyhan sembari tertawa.
"Apa.. apa maksudmu?" teriak David.
"Kamu ingat tidak.. perjamuan malam itu?" tanya Reyhan senang.
Malam itu, aku juga ada disana, kamu mabuk dan sudah menandatangani kontrak. Jadi jika kamu ingin menuntut.. Mimpi saja!" Dia berbisik ke telinga David.
__ADS_1
Kemudian, David mengingat-ingat kembali kejadian malam itu.
Malam itu, dia minum alkohol yang sudah diberi obat tidur oleh ayah Reyhan tanpa diketahui oleh David. Sebelum dia tertidur, Samsul yang merupakan wakil presiden kepercayaan keluarga Sebastian dan juga merupakan ayah Reyhan menyerahkan sebuah kontrak yang harus ditandatangani olehnya.
"Pak.. ini kontrak yang harus Anda tanda tangan, mengenai proyek pembangunan mall yang akan kita jalankan" ucapnya.
Tanpa pikir panjang, David menandatanganinya karna sudah merasa lelah dan mengantuk. Dan juga dia percaya kepada pak Samsul, wakil presiden tersebut.
"Gimana pa?"tanya Reyhan.
"Beres" Sahutnya, yang tak lain adalah ayahnya Reyhan.
"Hahaha.. akhirnya, Reyhan gak perlu pura-pura lagi jadi pacar adiknya. Capek tau pa? Mau ketemu Rani harus sembunyi-sembunyi dulu, huh" gerutunya.
"Sekarang kan tidak lagi. Kamu bebas!" sahut ayahnya senang.
"Tidak sia-sia perjuangan kita selama ini hahaha" ucap mereka bersamaan.
Isi perjanjian
Dengan ini saya David Evano Sebastian sebagai pihak 1 bersedia dengan sukarela menyerahkan seluruh kekayaan milik keluarga Sebastian termasuk perusahaan, rumah, vila beserta aset-aset lainnya kepada saudara Samsul Adinata sebagai pihak ke-2(penerima). Dan saya tidak berhak menariknya kembali. Jika saya David Evano Sebastian menginginkan kembali harta yang telah saya berikan, maka saya akan menyerahkan adik saya Charamell Alexa Sebastian untuk menjadi budak keluarga Adinata selama-lamanya.
Setelah menandatangani surat perjanjian ini, maka tidak dapat diganggu gugat lagi oleh pihak yang bersangkutan.
Saya yang bertanda tangan dibawah ini.
(....................) (....................)
David Samsul
Pihak 1 Pihak 2
Flashback on
Reyhan menunjukkan surat tersebut kepada kedua kakak beradik tersebut.
Mata mereka terbelalak. Kara menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sementara David merasa bersalah dan frustasi.
"Gak mungkin! Ini gak mungkin! Kak... ini pasti gak bener kan, kak? Itu semua hasil jeri payah mama papa semasa hidupnya! Kenapa dirampas begitu saja" ucapnya tidak percaya.
David langsung memeluknya.
"Maafin kakak dek. Ini salah kakak, yang bersikap ceroboh. Kalau saja kakak menuruti permintaanmu waktu itu untuk tidak pergi.. ini gak akan terjadi. Maafin kakak dek" ucapnya lirih.
Ya. Sebelumnya Kara memang melarangnya untuk menghadiri perjamuan pada malam itu. Dia memiliki firasat buruk, tetapi David bersikeras untuk tetap pergi.
Menyesal pun tidak ada gunanya. Nasi sudah menjadi bubur.
Dia teringat kembali dengan nasihat orang tuanya. Apapun yang terjadi.. Kalian harus melaluinya bersama!
Dia pun bertekad..
"Aku gak boleh nyalahin kak David terus, kakak juga dijebak saat itu. Siapa yang tau akan terjadi hal semacam itu. Aku harus balas dendam!" Ia mengepalkan tangannya. "Ma..Pa.. Kara janji akan merebut kembali semua milik kita dulu dan mengembalikannya seperti semula" batinnya.
TBC
__ADS_1