My Sweet Heart

My Sweet Heart
Bab 62: Terimakasih Tuhan


__ADS_3

Kara menutup mulutnya dengan tangannya seraya menggeleng tidak percaya. Ia lalu berlari kecil menghampiri Jojo.


"Apa, apa yang terjadi?" Sahutnya tampak khawatir. Kara meraba setiap inci wajah tampan prianya itu.


"Kamu... kenapa kamu ada di sini?" Tanya Jojo balik.


"Aku.. aku minta maaf! Aku tidak memberitahu mu.. kalau aku, aku melakukan shooting disini selama sebulan kedepan!" Sahutnya terbata seraya menundukkan kepalanya. Jojo hanya sedikit mendengus mendengarnya.


"Aku.. minta maaf! Aku hanya tidak ingin kamu merasa terganggu!" Lanjutnya lagi dengan wajah memelasnya.


"Emm.. aku mengerti! Jangan salahkan dirimu!" Sahut Jojo sembari tersenyum tipis. Ia memegang kedua tangan mungil Kara. Sesekali ia menciumnya dengan penuh kasih. Hal itu, membuat Tuan Alfred sedikit menyerngit.


"Apa gadis ini kekasihnya?" Gumamnya dalam hati.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Dan lagi.. pakaian ini? Apa yang terjadi padamu? Apa kamu sakit? Mengapa tidak memberitahu ku?" Kara tak henti-hentinya menanyai dirinya. Terlihat jelas diwajah cantiknya, bahwa ia sangat khawatir.


"Aku baik-baik saja! Jangan khawatir!" Timpal Jojo seraya tersenyum lebar. Ia tidak ingin membuat Kara khawatir dan merasa bersalah karna hal itu.


"Bagaimana mungkin?" Ucapnya sudah terisak.


Tiba-tiba seorang perawat lelaki datang menghampiri mereka.


"Silahkan masuk! Operasinya akan segera dimulai!" Ucapnya ramah, sembari mempersilakan Jojo dan ayahnya untuk masuk ke salah satu ruangan yang tak jauh dari pandangan mereka. Keduanya hanya mengangguk pelan.


"Sebenarnya.. apa yang terjadi? Tolong beritahu aku!" Sahut Kara sedikit berteriak. Ia menangis dan sudah duduk berlutut dilantai, tepat dihadapan Jojo. Jojo kembali meraih tangannya dan mengusapnya perlahan.


"Aku tidak apa-apa, sayang! Aku akan segera sembuh! Jangan menangis, atau aku tidak akan tenang!" Ucapnya menyemangati, dan langsung mendekap tubuh mungil Kara kedalam pelukannya. Lagi-lagi ayahnya dipenuhi dengan rasa haru.


"Ternyata, putraku dikelilingi oleh banyak orang baik! Tampaknya.. gadis ini juga sangat mencintainya!" Gumamnya dalam hati.


Ia kembali tersenyum dan memegang pundak Kara dengan lembut.


"Kamu tenang saja! Jojo akan baik-baik saja! Dia pasti sembuh! Jangan khawatir" Sahutnya berusaha menenangkan Kara. Mendengar perkataannya, Kara memalingkan wajahnya menatap lekat wajah berkerut pria tampan itu, yang tengah berdiri tak jauh dari sampingnya. Ia sedikit menyerngit dan banyak pertanyaan yang muncul dibenak nya.


"Siapa dia? Bukankah ayah Jojo tidak pernah peduli padanya? Lalu, mengapa..?" Tanyanya dalam hati.


"Aku ayah kandungnya!" Sahut Tuan Alfred menjelaskan. Ia sudah mengerti arti tatapan aneh gadis disampingnya itu.


"Hah? Ayah kandung?" Tanya Kara sedikit bingung.


"Benar! Aku pasti akan menjelaskannya padamu, setelah aku sembuh!" Sambung Jojo. Kara hanya mengangguk kecil.


"Jojo terkena penyakit Leukimia. Tapi, kamu tidak perlu khawatir, aku pasti akan membantunya. Aku tidak akan pernah membiarkan putraku hidup sengsara lagi!" Lanjut Tuan Alfred menjelaskan.

__ADS_1


"Leukimia?" Kagetnya.


"Ya! Tapi, ayah akan mendonorkan sumsum tulang belakangnya padaku! Jadi sekarang, kamu tidak perlu khawatir lagi! Mengerti?" Timpal Jojo dengan nada lembut.


"Aku mengerti! Kamu harus sembuh!" Sahut Kara pelan, dan kembali memeluknya dengan erat. Namun tangisnya, tak juga berhenti. Jojo mengangguk pelan sembari membalas pelukannya dengan hangat.


Lama keduanya berpelukan, kini pasangan ayah dan anak itu beserta perawat tadi bergegas masuk ke ruang operasi berlangsung. Kara hanya diam terpaku menatap kepergian mereka hingga pintu ruangan ditutup dengan rapat.


"Mengapa aku baru mengetahuinya? Apa dia takut membuatku khawatir? Tapi bagaimanapun.. situasi saat ini lebih menyakitkan daripada dia memberitahuku di awal!" Gumamnya dalam hati.


"Ini tidak sepenuhnya salahnya! Aku juga bersalah! Dasar Kara bodoh! Kamu memang bodoh! Untuk apa menyalahkannya?" Ucapnya lagi mengutuki dirinya sendiri, sembari memukul-mukul dadanya.


Cukup lama ia berdiri di sana, ia lalu mendudukkan tubuhnya di kursi ruang tunggu. Dan mengusap wajahnya perlahan sembari menyeka air matanya.


"Bagaimanapun... ini sudah terjadi! Tidak ada gunanya saling menyalahkan! Yang terpenting sekarang adalah... berdoa untuk kesembuhannya!" Gumamnya menyemangati dirinya sendiri.


Operasi berlangsung selama 3 jam lamanya. Kara bolak-balik berjalan kesana-kemari. Ia tidak tenang, hatinya gusar, dipenuhi oleh rasa khawatir.


"Semoga semuanya berjalan dengan lancar!" Ucapnya penuh harap.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Ceklek! Dua orang pria berjubah putih berjalan keluar didampingi oleh beberapa perawat lainnya. Kara segera bergegas menghampirinya mereka.


"Dokter.. bagaimana keadaan mereka (dalam bahasa Prancis)" Tanyanya penuh harap.


Kara menangis bahagia mendengarnya. Lalu, ia mengusap wajahnya perlahan.


"Terimakasih Tuhan! Engkau mengabulkan doa ku!" Ucapnya penuh rasa syukur.


Para dokter beserta yang lainnya ikut terharu melihatnya.


"Mereka akan tersadar besok pagi (dalam bahasa Prancis)" Sahut seorang dokter dengan ramah.


"Bolehkah aku melihatnya (dalam bahasa Prancis)" Tanya Kara lagi.


"Tentu saja boleh! Tapi, jangan terlalu mengganggu mereka dulu (dalam bahasa Prancis)" Timpalnya sambil tersenyum tipis.


Kara mengangguk setuju.


"Baiklah! Terimakasih dokter! Terimakasih semuanya!" Ucapnya tersenyum bahagia lalu segera melangkah masuk ke dalam.


"Di ruang perawatan"


Kara yang baru saja masuk segera menghampiri Jojo. Ia memegang erat kedua tangan kekar prianya itu.

__ADS_1


"Sekarang.. kamu baik-baik saja, sayang!" Ucapnya lembut. Lalu, kembali memeluk tubuh Jojo. Kara menangis di dada bidangnya.


Berselang beberapa menit, ia melepas pelukannya. Perlahan, diusapnya wajahnya yang masih terus dibanjiri oleh air mata bahagianya. Lalu, matanya beralih menoleh kesamping, kearah seorang pria paruh baya berbaring. Ia berjalan pelan mendekati nya.


"Terimakasih paman!" Ucapnya lembut.


" Melihatmu.. mengingatkanku dengan mendiang ayahku!" Lanjutnya lagi. Ia memejamkan matanya, seolah membayangkan kehadiran Tuan Rayn disisinya.


Cukup lama ia berdiri diantara kedua pria tampan itu, tiba-tiba suara deringan ponselnya menyadarkannya.


Ia merogoh tas kecilnya dan mengambil benda pipih tersebut. Hah? Ia terkejut. Hampir saja ia melupakan kondisi Mi-Rea.


"Halo? Apa kamu baik-baik saja? Aku.. minta maaf!" Ucapnya pelan.


"Hemm... sekarang aku baik-baik saja! Jangan khawatir!" Sahut Mi-Rea dari seberang telpon.


"Baguslah! Aku lega mendengarnya!" Sahut Kara merasa lega.


"Kamu.. habis menangis?" Tanya Mi-Rea lagi. Nada suaranya terdengar khawatir.


"Tidak! Aku tidak!" Sahut Kara berbohong. Ia tidak ingin semakin membebani Mi-Rea. Apalagi.. dia sedang sakit, pikirnya.


"Aku tahu! Tidak perlu menutupinya dariku!" Sahut Mi-Rea pelan. Kara hanya terdiam tak bergeming.


"Baiklah! Aku tutup dulu. Sampai jumpa!" Sambungnya lagi.


"Emm.. beristirahatlah dengan baik! Semoga kamu cepat sembuh!"


"Aku mengerti! Kamu juga, tenangkan dirimu dulu. Masalah pekerjaan.. aku akan meminta cuti kita lebih awal. Jangan khawatir!" Timpal Mi-Rea antusias.


"Baiklah! Terimakasih!" Sahut Kara seraya tersenyum tipis. Ia lalu mematikan ponselnya dan kembali menatap kedua pria disampingnya.


"Tuhan begitu baik padaku.. semuanya jadi mudah sekarang! Tidak ada yang perlu ku khawatirkan lagi! Semuanya baik-baik saja!" Gumamnya pelan.


Kara mendudukkan tubuhnya di kursi samping Jojo berbaring. Sudut bibirnya melengkung, hingga membentuk senyuman yang begitu menawan di wajah cantiknya. Ia mengelus-elus jari-jemari pria itu. Sesekali mengecupnya dengan penuh kasih.


Tak lama kemudian, ia pun tertidur. Tak kuasa menahan kantuk dan rasa lelahnya lagi. Karna sedari tadi, ia sibuk menunggu dan menangis tanpa henti.


TBC


Halo semuanya:)


Jangan lupa tinggalkan jejak say๐Ÿ’—

__ADS_1


I lovyu all๐Ÿค—๐Ÿ˜


__ADS_2