
Jadi, pada bab ini.. akan menceritakan tentang kehidupan pemeran utama pria ya guys....! Alasan dia kembali dan juga mengapa dia harus ke negara M.
Setelah pertemuan singkat di bandara, Kara langsung berangkat ke negara K bersama kedua orang suruhan kakaknya. Dan pria asing tersebut, kembali kerumah orang tuanya.
Flashback off
"Negara M"
Pada siang hari di negara M.
Pria tersebut baru saja selesai rapat untuk membahas masalah pembangunan hotel nan mewah di negara tersebut. Dia akan membangun hotel dengan nama ibunya, untuk mengingat mendiang ibunya.
"Aku akan selalu membuatmu bahagia..
Tidak akan merasakan tersakiti lagi...
Dimana ku bisa menemukan..(suara dering ponsel)
"Ya, halo!" sahutnya.
"Tuan muda... Tuan besar meminta anda untuk segera pulang. Beliau sedang sakit tuan. Mohon tuan mempertimbangkannya" sahut sekretaris ayahnya.
"Sakit, heh? Apa dia tidak diurus oleh wanita rubah itu? Seperti nyamuk saja" ucapnya menyeringai.
Dia langsung mematikan ponselnya.
"Zack.." Dia memanggil asisten pribadinya.
"Ya, tuan!"
"Menurut mu apa yang harus ku lakukan sekarang? Haruskah aku pulang untuk menjenguknya? Atau sebaiknya tidak.. Apakah ini juga merupakan jebakan si wanita rubah itu?" tanyanya.
" Sebaiknya, tuan pulang saja! Siapa tahu itu memang sungguhan tuan, dan bukan hanya alasan nyonya saja. Tapi, jika itu hanya tipuan nyonya besar, saya juga akan membantu Anda untuk mengatasinya, tuan!" ucapnya ragu.
"Baiklah! Beritahu staf di bagian penerbangan, agar kita berangkat 1 jam lagi" ucapnya.
"Baik, tuan!
Setelah beberapa saat, mereka segera meluncur dari negara M menuju negara kelahirannya melalui pesawat jet pribadi miliknya.
Setelah melalui perjalanan yang panjang, mereka tiba pada malam hari tepatnya di bandara internasional ibukota. Dan tiba-tiba...
"Bugh.. seorang wanita berparas cantik menabraknya.
"To.. tolong saya, tuan! Saya mohon!"
__ADS_1
Flashback on
Di dalam mobil....
"Tuan.. apa kita langsung saja ke kediaman lama tuan besar?" tanyanya.
"Tidak! Kita pergi ke makam ibuku dulu" ucapnya masih dengan mata terpejam.
"Baik, tuan!"
"Di pemakaman"
Pria gagah tersebut langsung turun dari mobil dengan membawa seikat bunga, sebelumnya di beli oleh asistennya dalam perjalanan menuju tempat pemakaman dimana ibunya di makamkan.
Dia berjalan menuju sebuah nisan yang sudah lama tidak di bersihkan. Dia meletakkan seikat bunga yang dibawanya di atas makam ibunya.
"Ibu, ini aku...! Putra kesayangan mu pulang! Apa ibu merindukan ku? Aku sangat-sangat merindukan ibu! Maafkan aku ibu.. karna sudah lama tidak datang menjenguk mu! Tapi, ibu tenang saja.. aku bukannya melupakan ibu. Tapi ada satu hal yang sangat penting yang harus ku urus di negara M" ucapnya lirih.
Air matanya mengalir di wajah tampannya.
Dia mencoba melihat ke atas untuk menahan air matanya, tetapi dia tak kuasa menahannya. Air matanya terus mengalir, dia menangis tersedu-sedu. Ternyata... orang yang dingin, gila kerja, arogan sepertinya memiliki titik
kelemahan juga. Dia terus menangis.
"Aku merindukan mu ibu... sungguh! Aku rindu kehangatan mu yang tidak akan bisa kudapatkan dari siapapun sekarang!" ucapnya lirih.
Dia juga sedih melihat keponakannya itu begitu menderita, setelah kepergian ibunya yang juga adalah bibinya. Semenjak kepergian ibunya, dia menjadi pria dingin tanpa ekspresi. Ia juga menjadi seorang yang gila kerja untuk menghilangkan rasa sedihnya juga berusaha untuk menghilangkan kebenciannya terhadap ibu tirinya. Itulah alasan mengapa dia pergi jauh-jauh ke negara M untuk menghindari ibu tirinya.
Sementara pria dingin itu, tengah sibuk membersihkan makam ibunya itu.
Setelah selesai, mereka kembali ke dalam mobil.
"Ibu... Aku akan lebih sering datang untuk menjenguk mu! Sekarang, aku pulang dulu ya Bu...! Ibu beristirahatlah dengan tenang! Serahkan semuanya padaku!" ucapnya.
Mencium nisan ibunya dan melangkahkan kaki beranjak dari sana.
Mobil telah melaju dengan kecepatan sedang menuju ke rumah ayahnya.
Setelah tiba dirumah ayahnya, ia langsung bergegas masuk dan disambut oleh para pelayan.
"Selamat datang kembali, tuan!" ucap pelayan bahagia.
Dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Dimana ayah?" tanyanya kepada kepala pelayan.
__ADS_1
"Tuan besar dan nyonya besar ada di ruang keluarga, tuan" jawabnya.
Dia mengepalkan tangannya.
"Ternyata, memang tidak terjadi apa-apa! Ini hanya alasan rubah itu agar aku bisa pulang dan menjebak ku" batinnya.
Dia terus melangkah menuju kamarnya. Melewati ruang keluarga, yang disana telah duduk pria paruh baya dan wanita setengah baya. Tetapi dia menghiraukan keduanya, membuat ayahnya marah.. berbeda dengan ibu tirinya malah terlihat senang.
"Berhenti!" mendengar teriakan ini, langkahnya terhenti.
"Dasar anak tidak tau diri kamu! Pulang.. tidak memberi salam, langsung masuk begitu saja. Dimana sopan santun mu? Apa kau merasa hebat, setelah hidup begitu lama di negara M? Kamu memang anak s****n! B******k!" cemoohnya.
Dia langsung berbalik.
"Ternyata Tuan Besar William yang terhormat, begitu sehat ya? Bukankah anda sedang sakit? Jangan berteriak seperti itu, nanti penyakit anda kambuh lagi! Anda jangan salah paham dulu! Sebenarnya, saya buru-buru keatas hendak ke kamarmu untuk menjenguk mu . Sekretaris anda mengatakan bahwa anda kurang sehat, jadi saya khawatir dan tidak mempedulikan sekitar. Setelah saya melihat anda baik-baik saja sekarang.... saya menyadari kepulangan ku hanya untuk ibuku seorang. Maafkan saya tuan!" ucapnya sembari membungkukkan badan dan meluruskannya kembali.
Sontak ayahnya kaget, dan melirik istrinya meminta penjelasan.
Wanita setengah baya itu mengepalkan tangannya!
"Anak s****n ini pasti sengaja ingin menyalahkan ku di depan ayahnya. Tidak.. ini tidak akan ku biarkan" batinnya.
Dia langsung merangkul lengan suaminya.
"Maafkan aku sayang.. aku tidak bermaksud buruk! Aku hanya rindu dengan anakku. Bagaimanapun sekarang aku ini istrimu, yang berarti dia juga anakku kan? Aku tau aku salah.. tapi jika aku mengatakan yang sebenarnya bahwa aku merindukannya, dia tidak akan percaya dan tidak akan bersedia pulang. Jadi, aku membohonginya, dan mengatakan kamu sakit! Agar aku bisa melihatnya. Maafkan aku hiks.. hiks.." ucapnya dengan nada menyedihkan dan sudah mengeluarkan air mata buayanya yang merupakan jurus andalannya untuk mengendalikan Tuan William. Sebaliknya, tuan muda William sudah mengetahui bahwa wanita itu hanya berpura-pura saja.
"Kamu lihat ibumu. Dia begitu peduli padamu dan sudah menganggap mu sebagai putranya sendiri! Mengapa kau tega dan begitu keras kepala, huh? Aku tidak melarang mu untuk mengunjungi ibu kandung mu. Tetapi, sekarang dia adalah istriku yang berarti adalah ibumu juga. Jadi, kau harus memanggilnya ibu! Kamu mengerti?" teriaknya.
"Ibuku telah lama tiada! Dan aku hanya punya satu ibu saja, yaitu wanita yang melahirkan ku! Dan anda harus ingat bahwa...
Dia memang istrimu sekarang, tapi dia bukanlah ibuku. Sampai kapanpun, tidak ada seorang wanita manapun yang bisa menggantikan ibuku! Anda harus ingat ini baik-baik! Dan tolong ajari istrimu, untuk tidak mencampuri urusan pribadiku! Karna saya tidak akan tinggal diam." ucapnya tegas.
Dia kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
"Mau kemana kau anak s****n! Beraninya kau mengatai ibumu begitu... Aku belum selesai bicara! Dasar b******k! Anak tidak tau di untung!" teriaknya.
Wanita setengah baya itu, memeluknya erat pura-pura menangis lagi.
"Sudahlah sayang. Kamu jangan memarahinya, bagaimanapun ini semua salahku karna telah membohonginya. Aku hanya terlalu rindu karna tidak melihatnya selama 3 tahun terakhir ini" ucapnya lirih.
Dia mengepalkan tangannya.
"Kau lihat saja anak s****n aku pasti akan membalasmu. Kau sama saja dengan ibumu itu. Sama-sama menyebalkan. Sekarang, ayahmu berpihak kepada ku dan selanjutnya, dia hanya akan mempercayai ku, heh.. apa yang bisa kau lakukan..?" batinnya.
"Lihatlah, dirimu sayang! Kau sangat murah hati dan juga pengertian. Itulah mengapa aku begitu mencintaimu!" ucap suaminya sembari mencium istrinya itu.
__ADS_1
TBC